
Dengan wajah masam dan menggerutu Britney duduk dihadapan Evan. Sang kakak hanya menatap adiknya yang begitu kesal dan Evan hanya tersenyum.
Dengan penasaran, Evan bertanya "Terus?"
"Terus apanya, kita pulang." jawab Britney yang merasa kesal.
Tiktuk.. Tiktuk... Jari Britney dari tadi tidak henti mengetuk-ngetuk meja Evan.
Evan mendengar hal itu, matanya menatap tajam dan kedua tangannya menyatu untuk menyangga dagunya. Kemudian bertanya "Apa kamu masih memikirkan Bram?"
"Tidak, bukan begitu. Abang tidak mengerti situasinya." jawab Britney.
Britney menceritakan dengan detail kepada Evan. Saat bertemu Bram di lobby hotel. Britney sangat malas bertemu dengan Bram. Perasaan Britney sangat tidak nyaman. Apalagi Bram bersama seorang wanita yang dikenalnya.
Apa tidak ada hotel lain, pikir Britney saat itu.
Awalnya Pras dan Britney ke resepsionis untuk melakukan check in. Melihat Britney sepertinya tidak nyaman, akhirnya Pras mengurungkan niatnya. Pras juga berfikir, saat melihat istrinya yang begitu gelisah. Akhirnya Pras langsung mengajaknya untuk pulang.
"Uuhhh... Abang juga sih. Kenapa kasih hadiah enggak bilang dulu." ketus Britney, yang tampak geram menyalahkan Evan.
"Abang juga spontan, abang tanya suami kamu. Hubungan kalian sampai dimana. Setelah itu, abang hubungi teman abang yang kerja disana. Abang juga enggak tahu jadinya begini. Abang hanya ingin kamu dan suami kamu lebih erat hubungannya." jelas Evan.
Britney merasa malu, kedua tangannya menutup wajahnya. Lalu berkata kepada Evan "Lain kali abang bilang dulu sama aku. Mending sekalian, ke Bali atau ke luar negeri. Kalau cuma begitu, enggak perlu di hotel juga bisa."
Yuuuhuyy
Evan mulai tersenyum, sepertinya memang Britney sudah merasa jatuh cinta kepada Pras. Evan lalu mengatakan kalau dia akan memberikan hadiah yang lain. Evan jadi merindukan calon istrinya yang masih di luar negeri.
"Gara-gara kamu, aku jadi kangen Ghea." ucap Evan.
"Hoooh... Ghea buruan suruh pulang, biar abang enggak ngatur hidup aku lagi." ucap gemas Britney.
Britney dengan wajah lesu akhirnya kembali ke ruangannya. Tania masuk ke ruangan Britney, dengan membawa sebuah kotak berwarna maroon dan terikat pita organza.
"Ini dari siapa??" tanya Britney kepada Tania.
"Tadi kurir yang mengantar." jawab Tania, lalu kembali ke tempatnya bekerja.
Britney penasaran, siapa yang mengirim bingkisan ini, dari luar tampak manis. Perlahan melepas ikatan pita itu, lalu membukanya.
Ada sebuah boneka teddy bear berbulu putih. Ada satu kotak coklat almond dan satu bingkai foto dirinya, serta ada sebuah kartu ucapan.
"Tulisan yang cantik dan sangat manis." ucap Britney setelah membaca pesan itu.
[Dear thank you, I like this.
I love you my husband π.]
Pras membaca pesan itu dengan tersenyum lalu membalasnya.
[Aku juga mencintaimu istriku. Selamat bekerja, sampai bertemu nanti π.]
Britney memeluk boneka itu, dan meletakan foto dirinya diatas meja kerjanya. Foto itu dimana dirinya waktu di taman bersama Pras, waktu mereka sedang galau karena sang mantan. Foto yang harusnya bisa dimanfaatkan oleh Pras, tapi Pras menyimpan foto itu untuk dirinya sendiri.
__ADS_1
Waktu itu Pras masih bingung, akhirnya memindahkan ke folder laptopnya, Pras juga berkata kalau Britney sangat cantik, pasti yang mendapatkannya akan bahagia.
Pras juga mendoakan agar Britney mendapat suami yang baik, tidak seperti Bram. Doa Pras dikabulkan, sosok suami yang baik itu adalah dirinya sendiri.
Jam siang
Tok.. Tok.. Tok...
"Masuk..." ucap Britney, mendengar suara pintu ruangannya dan dirinya masih sibuk dengan pekerjaannya.
"Hemms... Kamu sibuk, abang mau ajak kamu makan di luar." ucap Evan.
"Tumben." Britney hanya melirik Evan dan masih memegang file ditangan kanannya lalu menatap layar yang ada di depannya.
"Ghea yang ngajakin. Dia sudah di Jakarta." ucap Evan.
Britney mendongak ke wajah tampan Evan "Abang serius? Ok, tunggu sebentar abang."
Britney dengan cepat merapikan meja kerjanya.
"Ayo" ajak Britney yang sudah siap, sambil menjinjing tasnya.
Mereka berdua keluar ruangan dan tangan Britney memegang lengan tangan Evan, banyak yang melihat mereka karena ini jam istirahat, karyawan juga hendak ke mushola dan juga ke kantin.
Pras sudah di parkiran bersiap untuk ke lokasi yang dituju. Evan sudah mengirim alamat restoran kepada Pras. Evan sangat tahu bagaimana Pras dan Britney saat di kantor. Ferdi juga tahu hal itu, awalnya Ferdi tidak setuju dengan tindakan mereka berdua, apalagi ini perusahaan kakeknya sendiri, tidak masalah. Tapi Pras merasa harus menjaga privasi istrinya.
Ssseeeet....
Pras lebih dulu sampai ke tempat itu. Masuk sendirian mencari meja yang sudah dipesan calon istri Evan. Ada seorang gadis cantik berambut panjang sudah duduk disana.
"Iya.. Kamu pasti suami Britney, mari silahkan duduk." ucap Ghea.
"Iya, saya Prasetya suami Britney." ucap Pras.
"Saya Ghea." balas Ghea.
Mereka berjabat tangan untuk memperkenalkan diri dan Ghea tersenyum manis.
"Evan sudah banyak cerita soal kamu. Selamat untuk pernikahan kalian. Kamu harus menjaga Britney dengan baik." ucap Ghea.
"Iya." ucap Pras.
Ghea lalu memberikan daftar menu makanan kepada Pras untuk memilih makanan. Karena baru beberapa yang dipesan Ghea, itupun juga sesuai selera Evan dan juga Britney.
Tidak berselang lama Britney dan Evan datang.
"Sayang, gimana kabar kamu?" Tanya Ghea saat memeluk Evan, mereka berdua dalam kerinduan.
"Eheems.. Terusin ajah. Sahabatnya enggak dianggap." ketus Britney.
"Iya... Iya... Aku juga sangat merindukanmu. Selamat untuk pernikahan kamu." ucap Ghea sembari memeluk Britney dengan erat dan mencium pipinya Britney.
Britney lalu mengadahkan tangan kanannya "Cuma ucapan saja. Mana kadonya??"
__ADS_1
"Bukannya semalam sudah dapat kado." jawab Ghea.
"Sayang, kita duduk dulu." ajak Evan, mereka semua duduk.
Pras masih di mushola dan Britney belum melihat suaminya.
"Suami kamu disini. Dia lagi sholat." ucap Ghea dan Britney tanpa berkata langsung menuju ke mushola.
Evan tampak tersenyum melihat tingkah Britney dan Ghea memegang tangan calon suaminya "Sayang, apa Britney masih begitu saja?"
"Yuupss.. Rencana kita gagal, ternyata ada Bram disana dan juga teman kalian." ucap Evan.
Evan kemudian menceritakan masalah Britney dan Ghea tampak kesal. Apa yang sudah dirinya rencanakan untuk sahabatnya malah rusak.
"Mas..." panggil Britney.
"Kamu sudah datang." ucap Pras.
"Tungguin aku, aku baru mau sholat."
Pras mengangguk dan duduk di teras depan mushola.
Evan masih berbincang dengan calon istrinya dan makanan semua sudah tersaji diatas meja.
Ghea Adeeva adalah sahabat Britney dari SMP dan dia mencintai Evan. Awalnya Evan sangat cuek, dulu Evan juga sempat berpacaran dengan gadis lain tapi kandas, hanya bertahan lima bulan.
Britney selalu berusaha agar Evan jatuh cinta pada sahabatnya itu. Akhirnya dua tahun yang lalu, Britney berhasil menyatukan mereka berdua. Tapi Ghea harus ke luar negeri, meneruskan pendidikan masternya.
Tangan Britney dalam genggaman tangan kiri Pras. Mereka berjalan ke meja itu, Ghea tampak memperhatikan mereka berdua.
"Kalian sangat membuat aku iri." ketus Ghea.
"Bang Evan, itu ada yang pengen dimanja." ucap Britney.
"Sayang, aku mau sholat dulu." ucap Evan dan pergi meninggalkan Ghea, dan tidak lupa Evan memberikan kecupan diatas kening Ghea.
"Ghea, apa persiapannya sudah selesai?" tanya Britney.
"Sudah, mama sudah atur semuanya. Bahkan tanggalnya dipercepat. Makanya aku segera pulang." ucap Ghea.
"Emss.... Abang tidak bilang dan yang lain tidak bilang." Britney penasaran.
Ghea menceritakan kepada Britney nanti acara resepsinya bersamaan dengan adiknya, karena adiknya tidak bisa diatur, jadi kedua orangtuanya berfikir acara pernikahannya jadi satu. Hanya beda tanggal akad nikahnya.
Waktu tadi bicara dengan Evan, malah Evan berfikir untuk segera akad nikah. Lagian calon istrinya juga sudah kembali, lebih cepat lebih baik, pikirnya Evan.
Pras tampak tersenyum mendengar hal itu, ternyata istrinya memiliki sabahat yang baik. Mereka berdua bahkan akan segera menjadi saudara ipar.
Tuhan tidak pernah keliru memberikan anugerah cinta kepada hamba-Nya, karena sebuah cinta yang datang itu pasti ada makna dan alasannya. Dulu aku hanya tahu dirimu dari sahabatmu, tapi saat ini aku lebih mengenal dirimu, daripada aku mengenal diriku sendiri. *Evan Fahreza
πΈπΈπΈπΈ
__ADS_1
Mohon maaf kalau masih ada beberapa typo dalam penulisan ceritanya. Semoga para pembaca tidak bosan. π€