PANGGIL AKU MAS!

PANGGIL AKU MAS!
Kelahiran Bayi Mungil


__ADS_3

Suatu pagi dengan mentari bersinar cerah, seorang gadis duduk dan tampak sedang berjemur.


"Hemms. Kamu tumben, ikut Kakak berjemur." Ujar Britney, saat melihat Vava yang sudah duduk di kursi santai, dan menikmati sinar mentari pagi.


"Pengen ngerasain aja, gimana rasanya berjemur dipagi hari." Ucap Vava.


Britney sudah mengambil cuti. Usia kandungan Britney sudah mendekati HPL, kurang dari dua minggu.


"Kakak perutnya sudah besar, Vava harus awasin Kakak." Ucap Vava.


"Tapi kamu harus sekolah. Kenapa hari ini nggak sekolah? Malah duduk disini. Kakak udah biasa sendiri. Lagian di rumah ada bibi, yang terus mondar-mandir ngelihatin Kakak." Ujar Britney.


"Hari ini Vava mau nemani Kakak aja. Biarin bolos sehari, asal Vava bisa temani Kakak." Ucap Vava.


Britney tidak melanjutkan perkataannya. Cukup melihat kesayangannya memegang tangannya.


"Kakak, setelah melahirkan tinggal disini aja. Vava biar ada temannya." Pinta Vava.


"Emms. Soal itu Kakak nggak bisa jawab. Gimana nanti Mas Pras. Disini ada Kak Ghea dan Bang Evan, yang temani kamu sayang." Ucap Britney.


"Tapi Vava, juga mau Kakak disini aja. Vava mohon." Ucap Vava dengan cemberut.


Britney mengelus rambut adiknya, dan berkata "Gadis yang manja. Kakak, tahu kenapa kamu begini. Kamu, mau apa? Shopping? Jalan-jalan?" Tanya Britney.


Vava yang masih cemberut berkata "Aku cuma mau Kakak tinggal disini. Titik."


"Tapi kamu tahu sendiri gimana Mas Pras. Dia udah bolak-balik ke Depok sendirian. Setelah melahirkan nanti, Kakak harus pulang." Ucap Britney.


Vava dengan menatap Kakak yang dia sayang "Tapi nanti sering kesini lagi kan? Nanti kayak waktu itu. Lama banget, baru kesini. Giliran Vava yang kesana, kadang Kakak pergi, nggak ada di rumah." Ucap Vava.


"Habisnya, kadang kamu nggak bilang dulu kalau mau datang. Kakak nggak tahu, jadinya Kakak jalan sama Mas Pras, apalagi kalau minggu, enak buat jalan-jalan." Ucap Britney.


Kedua saudara perempuan itu, dalam satu ikatan cinta. Vava sangat menyayangi Kakaknya, dan juga Britney sangat mencintai adiknya.


Bulan terakhir kehamilan Britney.


Waktu terasa begitu cepat, kehamilan Britney semakin besar, kakinya sudah bengkak, badannya semakin gemuk. Betuk lekuk tubuhnya semakin terlihat montok. Ibu hamil memang membuat orang yang melihatnya, akan terpesona. Semakin sexy dan sanagt menarik.


Britney dan Pras sedang melakukan sesi pemotretan, di rumah Kakek Restu.


"Britney, mesem yo." Ujar Rendy.


(Britney, senyum ya.)


Cekreek!!


Britney dengan tersenyum dan sedikit menahan sesuatu, tadinya ingin tertawa, saat Rendy baru memotretnya. Entah, apa yang dia tertawakan.


"Mas, lihat Rendy deh." Ujar Britney.


"Apaan?" Tanya Pras dengan berbisik.


"Itu leher dia." Jawab Britney.


Pras tersenyum dan berkata "Hems, perempuan sama nakalnya. Kamu juga begitu, kenapa harus menertawakan saudaramu."


"Iya, nggak. Aku nggak nyangka aja, kalau Alemeera juga agresif." Ucap Britney.


"Namanya juga orang bercinta, walaupun sadar tetap saja kebablasan." Bisik Pras.


Britney tidak kuat mendengar itu. Sudah berganti pose, dan sekitar 20 jepretan Rendy memotret mereka berdua.


"Kapan iki dadine?" Tanya Pras.


(Kapan ini jadinya?)


"Sesuk dadi. Langsung tak terke rene." Jawab Rendy.


(Besok jadi. Langsung aku antar kesini)


"Iyo, kudu cepet. Ojo ngasi disik lahire bayiku, lagi mbok terke rene." Ucap Pras.


(Iya, harus cepat. Jangan sampai duluan lahirnya bayoku, baru kamu antar kesini.)


HPL tinggal satu minggu lagi. Pras sudah sangat tidak sabar, begitu juga dengan Britney. Sangat gemas, dan ingin sekali rasanya mendekap erat sang bayi nantinya. Rasanya benar-benar tidak sabar.


Pemotretan dengan gaya klasik, Pras mengenakan jas putih dan Britney juga mengenakan gaun putih. Begitu menawan, dan sangat mempesona.


Sudah malam, Britney duduk disebuah kursi santai di balkon kamarnya. Menatap langit malam ini, tangan kanannya memusar perut endutnya, dan tersenyum manis. Raut wajah Britney tampak bahagia, tersirat senyuman manis dari bibir sensualnya.


Britney semakin cantik, walaupun sudah jarang melakukan perawatan. Entah kenapa, dirinya semakin memancarkan aura yang sangat cantik.


"Sayang, kamu masih disini. Ayo, masuk. Angin malam nggak bagus buat kamu sayang." Ujar Pras saat mendekati sang istri.


Sudah lebih dari jam 8 malam. Britney dari selesai sholat isya' keasyikan di balkon kamarnya, tidak hanya menatap langit malam ini. Britney juga cukup bercerita kepada bayinya yang ada dalam kandungannya. Britney bercerita, tentang bulan dan bintang-bintang. Dari usia kehamilan 4 bulan, Britney selalu mendongeng untuk bayinya. Entah itu soal kesehariannya, ataupun tentang sang Papa.

__ADS_1


"Iya, Mas." Ucap Britney, dan Pras mulai menuntun istrinya itu. Berjalan sangat berat rasanya, perut Britney sangat besar.


Di kamar, Britney mulai bersandar di tempat tidur. Pras mengelus perut istrinya, dengan tersenyum.


"Dedek utunnya Papa lagi apa?? Semakin aktif nendang ya." Ujar Pras.


Setiap malam sebelum istrinya tidur, Pras membaca Surat Yusuf dan Surat Maryam.


"Kamu pintar sayang. Kamu dengar suara Papa?" Tanya Pras dan mencoba mendekat ke perut Britney.


"Mas, anak kamu sepertinya sangat cocok sama kamu. Setiap Mas ajak ngobrol, semakin kencang nendangnya." Ucap Britney.


Pras semakin mendekatkan wajahnya ke perut istrinya dan bercerita. Perut Britney semakin meliuk dan menonjol. Pras tersenyum gemas, sang bayi yang ada dalam perut sang Mama, sepertinya ingin segera bermain dengan Papa.


"Sayang, sabar ya. Kasian Mama, kamu bobok ya. Papa ada disini, mmmuuaccch!" Ucap Pras.


Pras tidak henti mencium perut itu, dan perlahan mulai diam, tidak terlihat menonjol ke kanan atau ke kiri. Tangan kanan Britney, mengelus perutnya dengan rasa sayang.


"Sayang, kamu bobok ya. Mama, sayang banget sama kamu." Ucap Britney.


Pras mulai memeluk istrinya dan bertanya "Papa dedek utun disayang juga nggak?"


Tangan Britney beralih ke wajah suaminya, dan mengelus pipi sang suami lalu berkata "Sayang Mas, sangat banget. Aku cinta sama kamu mas."


"Aku juga sangat mencintai istriku. I Love You Britney." Ucap Pras.


"I Love You too Mas Pras. Aku tresno karo bojoku." Balas Britney.


Pras mendekapnya erat-erat, entah kenapa rasa dadanya berdebar kencang. Rasa cinta yang semakin hari semakin bertambah. Tidak sangka kalau dirinya sudah lebih dari 9 bulan bersama, memadu kasih dengan sang istri tercinta.


Sungguh suasana manis, dan cukup baper bagi Pras saat ini. Yang dulu tidak mengenal, dan bahkan tidak tahu kalau akan berjodoh dengan Britney. Rasa cinta dan kasih sayang yang dia berikan, rasanya masih belum cukup.


"Sayang, setelah kamu melahirkan nanti. Aku berencana untuk membeli rumah." Ucap Pras.


"Mas, aku masih nyaman di puri anggrek. Aku rindu ibu-ibu komplek. Aku malah pengen, kita membeli rumah disana aja. Minggu lalu Bu RT bilang, depan rumah Pak Hendra itu, ada yang dijual." Ucap Britney.


"Kamu mau disana saja? Aksa juga bilang sama aku, waktu kamu ngobrol sama Bu RT." Ucap Pras.


Yuupss!


Walaupun Pras dan Britney sudah tinggal di Pondok Indah, tapi setiap hari sabtu, Britney meminta suaminya, untuk berkunjung ke rumah.


"Aku cukup nyaman disana Mas, tapi Vava." Ujar Britney.


"Iya, dia sering merengek. Agar aku tinggal disini saja. Padahal ada Bang Evan dan Ghea. Tapi, dia selalu bilang, nggak mau jauh dari aku." Jawab Britney.


"Tapi kita harus bisa tinggal di rumah kita sendiri. Aku minta kamu tinggal disini, soalnya setiap aku kerja kamu nggak ada teman di rumah. Kalau disini ada Tante Vanesa, dan yang lainnya, buat jagain kamu." Ucap Pras.


"Iya, aku tahu Mas." Balas Britney dengan tersenyum.


Obrolan panjang dan sudah larut. Tidak terasa sangat membawa suasana bagi keduanya. Mengingat moment, dikala bersama di rumah kontrakannya.


Malam dengan rasa bahagia untuk keduanya. Mata terpejam dan bunga tidur mereka sudah menghampiri. Pras masih memenggang erat tangan istrinya.


Sudah jam 2 pagi, Britney tampak mengeluarkan banyak keringat, dan mulai meremas tangan sang suami.


"Sayang, kamu kenapa?" Tanya Pras yang panik dan mencoba membangunkan Britney.


"Mas." Lirih Britney.


Pras mencoba mendekapnnya, dan menenangkan sang istri.


"Sayang, apa perut kamu sakit?? Kamu mau melahirkan?" Tanya Pras yang semakin panik.


Britney tak bisa menjawabnya, tatapan matanya samakin pilu, entah apa yang dirinya rasakan. Britney hanya mengangguk dan tanpa berucap.


Pras bergegas ke kamar sebelah, dan mengetuk pintu kamar Evan.


Tok Tok Tok


Suara ketukan begitu kencang.


"Sayang, ada yang mengetuk pintu kamar kita." Ucap Ghea.


Evan mulai membuka matanya, dan masih terasa berat. Perlahan beranjak dari tidurnya, dan berjalan ke arah pintu. Lalu membuka pintu kamar itu.


"Pras, kamu." Ucap Evan dan masih mengucek matanya.


"Bang, Britney sepertinya mau melahirkan." Ucap Pras dan Evan terkaget. Seketika ngantuknya menghilang.


"Aku cuci muka dulu. Kita segera bawa ke rumah sakit." Ucap Evan.


Pras kembali ke kamarnya. Britney masih berbaring dan meremas selimutnya.


"Sayang, tahan ya. Kamu harus kuat." Ucap Pras, dan langsung memakai celana panjangnya.

__ADS_1


Britney semakin merasakan ngilu, sejuta rasa menjadi satu. Sakit dan sangat sakit, itu yang menghampirinya, pinggulnya semakin terasa nyeri.


Satu jam kemudian.


Belum ada tanda-tanda pembukaan, dari hasil pemerikasaan. Britney semakin pucat, rasanya tidak tertahan dan semakin mencengkeram.


"Sepertinya, istri anda harus segera menjalani operasi caesar. Karena dari tadi hanya pembukaan 2." Ucap dokter paruh baya.


"Baik dokter, lalukan yang terbaik untuk istri dan anak saya." Ucap Pras dengan gugup.


Britney sudah konsultasi dengan dokter dua minggu yang lalu, tidak ada masalah apapun, dalam kandungannya. Bahkan semua bisa berjalan dengan normal, dari tubuhnya juga sehat, sudah tidak merasakan pusing, atau mual. Sangat sehat dan tampak segar.


Britney juga melakukan senam hamil dan cukup rutin, menjaga pola makan yang baik dan sangat teratur. Apalagi setelah kehamilan usia 6 bulan, Britney sering merasa lapar, dan cukup banyak dia makan makan yang bergizi. Tidak lupa, buah, sayur dan juga susu hamil.


"Mas." Lirih Britney dan Pras memenggang tangannya.


"Iya sayang, aku ada disini. Kamu harus kuat, kamu harus semangat." Ucap Pras, yang setia menjaganya.


Pras berdiri di samping ranjangnya, Britney sudah mendapatkan penanganan. Telapak tangannya sudah tertempel jarum infus. Cairan infus yang menggantung di sisi kiri dan untuk menambah tenaganya.


"Aku akan selalu di samping kamu sayang." Ucap Pras.


Britney hanya tersenyum dan memegang erat tangan suaminya. Britney sama sekali tidak mengeluh, walaupun sangat sakit, dia cukup menahannya.


Bbeezzhh!


"Mas!" Teriaknya dan suster yang ada di dekatnya panik.


Seorang bidan lalu melihat kondisi Britney, ternyata sudah terjadi pembukaan 8 dan air ketuban sudah merembes. Britney masih di ruangan bidan, belum dibawa ke ruang operasi. Tapi, ada tanda-tanda melahirkan normal.


"Bu, tolong atur napasnya." Ucap seorang bidan.


Seorang suster, tadi bergegas memanggil dokter, Evan yang di luar bersama Tante Vanesa dan Vava tampak cemas. Setelah melihat suster yang berlari.


"Sayang, kamu harus kuat." Ucap Pras, dan mencium kening istrinya.


Pras sangat menyayangi istrinya, tangannya juga bergetar, perpaduan rasa gelisah dan perasaan sayangnya menjadi satu. Kecemasan seorang suami. Perasaannya ingin menggantikan posisi istrinya, dan merasakan kesakitan istrinya itu.


"Ya Allah, hamba mohon. Kuatkan istriku dan berikan kelancarkan untuk persalinan istriku. Aku ingin melihat anakku lahir ke dunia ini dengan selamat." Batin Pras yang tidak henti memohon dan berdo'a.


"Bunda, tolong atur nafasnya." Ucap dokter, dan Britney cukup mengerti.


Britney yang berpengang pada pada sisi ranjang dan suami. Britney sudah mulai tenang. Rasa sakit yang dia rasakan tadi, sudah tergantikan, seolah dirinya ingin mengejan. Sensasi yang tidak dimengerti, tapi inilah yang dia rasakan saat ini.


"Bunda, harus mengejan sesuai intruksi saya." Ucap dokter itu.


Mata Britney tampak berkaca-kaca, dan mengikuti instruksi dari sang dokter.


Sebuah rasa yang cukup dia rasakan, untuk buah hatinya. Rasa cinta seorang Mama, yang dia berikan untuk sang buah hatinya.


Ooowee... Oweeeek... Ooweekk!


Suara nyaring dari bayi yang baru lahir, tampak lilitan tali pusar mengitari bayi mungil itu. Kulitnya yang kemerahan, dan rambutnya cukup halus dan tidak terlalu lebat. Hidungnya yang mancung, dan bibirnya yang imut, ketika menangis bibir imut itu terbuka lebar, dan suaranya begitu nyaring.


"Sayang." Ucap Pras dengan air matanya yang tidak tertahan.


"Mas." lirihnya setelah berhasil melahirkan buah hatinya.


Rasa yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Rona bahagia tampak dari wajah pucatnya. Bayi yang dia lahirnya secara normal, dan tampak sehat dan lincah, kakinya sudah menendang-nendang.


"Sayang, aku mencintaimu." Suara Pras terdengar sendu, saat mendekap erat sosok istrinya tercinta, dan dengan deraian air matanya.


Seorang wanita yang berjuang dengan rasa cinta untuk buah hatinya. Seorang suami, dengan rasa cinta untuk istri dan buah hatinya.


"Terima kasih telah memberiku cinta ini. Sayang, aku sangat mencintaimu." Ucap Pras dengan rasa cinta yang tidak bisa terhitung jumlahnya.


Sosok cantik yang dia dekap perhalan meneteskan air matanya.


"Aku mencintaimu istriku."



Hallo semuanya,


Hemz.. Othor semakin berdebar. Mendekati, ending nanti. Entah, kenapa semakin mengharu biru saat menulisnya.


Semoga kalian suka.


Jangan lupa jempolnya.


Rasa cinta bisa datang dan pergi begitu saja. Tapi sebuah cinta yang tidak disangka-sangka datangnya, ternyata membuat perasaan semakin menyentuh.


Mungkin itu yang Mas Pras rasakan saat ini, cinta untuk istri dan buah hatinya. Mas Pras juga bisa merasakan cinta dari istrinya tercinta. 🤗😘


Terima kasih 🤗😘

__ADS_1


__ADS_2