PANGGIL AKU MAS!

PANGGIL AKU MAS!
Kepergian Orang Terdekat


__ADS_3

Malam yang hujan dan udara menusuk, Pras terbangun dari tidurnya. Hanya mimpi buruk. Keringatnya mengalir dari sudut dahi dan melewati pelipisnya.


"Mas. Kamu kenapa? Kamu keringetan."


Britney mengusap keringat Pras dengan lembut. Padahal AC kamar menyala, udara di luar juga sangat dingin. Tapi Pras begitu berkeringat, atau mungkin pengaruh dari obat yang Pras minum. Setelah pulang dari kantor tadi, Pras di antar Britney ke dokter.


Kata dokter, Pras hanya demam biasa, dan bukan penyakit yang serius, Pras hanya butuh istirahat saja, dan sore itu Pras kehujanan.


"Mas kenapa? Kenapa diam saja?!"


"Aku nggak apa-apa."


Pras menarik nafas panjang, menghembuskan nafasnya. Tapi masih merasakan sesak, dalam dadanya yang berdebar cepat.


"Mas kamu istirahat ya. Aku ambilin minum."


"Sayang, aku sendiri yang akan ambil minum. Kamu tidur saja."


Britney melihat raut wajah yang aneh dari suaminya. Tidak biasanya suaminya begini.


"Mas kamu kenapa? Apa, Mas Pras mimpi buruk? Badannya sudah tidak panas, tapi kenapa sorot matanya jadi aneh." Batin Britney dengan rasa gelisah, dan menyikap selimutnya. Lalu turun dari tempat tidurnya.


"Mas, kamu kenapa? Apa kamu mimpi buruk?" Tanya Britney.


Britney menghampiri suaminya yang duduk di sofa. Pras termenung, tangan kanannya masih memenggang cangkir.


"Sayang, aku tidak apa-apa." Jawab Pras.


Meletakan cangkir putih itu di atas meja, yang ada di hadapannya.


"Mas, kamu cerita sama aku. Jangan buat aku cemas." Ucap Britney dan masih menatap suaminya dengan rasa gelisah.


"Sayang, aku kangen sama kamu." Ucap Pras dengan suara pelan, tapi sangat penuh perasaan.


Pras menarik bahu istrinya, dan memeluk dalam dekapannya. Pras merasakan kegelisahan dalam hatinya, entah kenapa dia merasakan akan ada yang hilang dari kehidupannya.


"Aku akan menjaga kamu dan anak kita."


"Iya Mas, kamu sudah jagain aku sama anak kita."


"He'em sayang, kamu benar. Tapi aku akan terus menjaga kamu, dan juga dedek utunnya Papa."


Britney masih tidak tenang, dan masih bertanya kepada suaminya. "Mas, Mas ada masalah apa? Cerita sama aku. Apa tadi ada sesuatu di kantor. Mas, Abah memang bilang apa aja sama kamu?"


"Nggak ada masalah apa- apa. Aku cuma tidak enak badan. Jadi tidurku tidak nyaman." Jawab Pras dengan tenang.


Pras masih memeluk istrinya, entah apa yang dia simpan. Sepertinya bunga tidurnya malam ini tampak tidak sedap. Pras jadi terbangun dari tidurnya, dan membuat sang istri jadi gelisah.


"Mas, aku tahu apa yang kamu pikirkan. Kalau soal pekerjaan itu, dan Mas tidak nyaman. Aku bisa bicara sama Kakek atau Abah." Ujar Britney dengan serius.


"Bukan masalah itu. Aku tidak kepikiran soal itu. Aku hanya tidak enak badan. Aku jadi bermimpi tidak enak." Jawab Pras.


"Mas, memangnya kamu mimpi apa?" Tanyanya dengan rasa amat penasaran.


"Tidak apa- apa. Itu hanya bunga tidur. Mungkin tadi aku lupa berdo'a sayang, aku jadi mimpi buruk. Tadi habis minum obat, aku langsung tertidur." Jawab Pras dengan tenang dan tidak ingin membuat istrinya cemas.


Pras tidur jam 8 malam dan jam 9 Britney mulai tidur.


Pras menyimpan apa yang ia ingat, saat bermimpi tadi. Dengan tersenyum menciumi wajah istrinya, yang sudah kusut. Britney sangat penasaran, jadi dia masih kepo.


"Mmh. Mas gitu, nggak mau cerita sama aku." Ujarnya dengan bibir cemberut.


"Memang nggak ada apa-apa sayang. Kamu terlalu drama." Balas Pras dengan senyum.


"Bukan drama Mas. Habisnya Mas tadi bangun bengong aja. Aku jadi cemas." Ketus Britney yang menjadi.


"Kamu cemas? Secemas itu wajah kamu?!" Tanya Pras dengan menggoda.


Britney mulai mengingat hal lalu, saat mobilnya menabrak motor, yang tidak lain adalah Prasetya Wardana.


"Huft. Iya, aku ingat waktu kita kecelakaan. Aku nabrak kamu Mas. Kamu chat aku begitu, terus nggak dijawab, aku jadi cemas. Aku orang yang nabrak kamu, jadi aku kepikiran terus sama kamu."


"Iya, aku tahu sayang. Aku masih menyimpan semua chat kamu, itu lucu banget, aku suka. Gemas banget malah."


"Menyimpan? Sampai sekarang?"


"Iya, kamu kirim emoticon banyak, lucu-lucu. Aku jadi suka isi chat itu, ternyata bos aku kalau di diemin ternyata galau berat. Kamu langsung spam emoticon. Waktu aku buka, aku senyum- senyum sendiri."


"Uuuhh. Jadi Mas waktu itu sengaja? Buat panik bosnya. Padahal itu aku cemas banget."


"Bukan sengaja, waktu itu aku di teras sama Rendy, Anton, ngobrol-ngobrol, aku lupa kalau aku sudah chat, dan cari perhatian sama kamu. Terus ponsel di kamar, di atas meja. Aku buka dan aku baca, aku ngakak dalam hati, tapi kamu udah datang ke kost'an. Ya udah, aku godain kamu, waktu itu wajah kamu muram, pake pegang- pegang lengan aku, tanya keadaan aku. Aku juga baper, terus kamu pulang aku screenshot chatnya buat kenang-kenangan. Tapi aku sadar diri, aku ini siapa, yang nabrak siapa. Hemmss"


"Aaahh. Mas gitu. Aku jadi malu. Sekarang sadar dirinya ilang nggak?" tanya Britney senyum manja.


"Sekarang aku sadarnya kebangetan. Bukan sadar diri lagi kalau ini, kamu istri aku sayang, aku cinta sama kamu."

__ADS_1


"Tapi waktu itu aku....."


Britney tidak melanjutkan perkataannya.


Pras mencubit pipi istrinya dengan gemas, dan bertanya "Waktu itu apa? Hayo? Apa...Hemm?".


Pras menggoda istrinya, dan Britney menutup wajahnya.


"Aku mau lihat wajah istriku yang malu." Ujar Pras.


Pras membuka tangan istrinya dan Britney tampak salah tingkah, sedikit menggigit bibir bawahnya.


"Mas, aku juga tidak tahu kenapa pagi itu deg- degan waktu chat kamu. Rasanya aku gegana, kamu nggak balas chat aku. Biasanya, kalau hari minggu aku itu malas keluar rumah, kecuali sembahyang sama Kakek, sama Vava. Tapi gara-gara kamu nggak jawab chat aku, aku pagi- pagi udah mandi. Sampai Kakek juga Tante Vanesa anggap aku aneh. Mereka ngegodain aku, tumben hari minggu pagi- pagi udah cantik, di gituin. Terus aku bilang aja, ada urusan penting."


Pras tersenyum dan semakin gemas sama istrinya.


"Kalau aku berdebar pertama kali, waktu di rumah Abah, kamu ke ruang mushola pakai salwar. Aku tidak bisa berkata apapun, selain mengagumi ciptaan Tuhan. Kamu cantik sayang, aku terpana, aku sadar semua yang kita lalui begitu unik. Dulu aku hanya kagum, sama bos muda yang cantik. Tapi bos muda itu sekarang sangat manja, tapi aku suka istriku yang manja ini."


Sudah jam 00.20 WIB.


Malam semakin larut, obrolan panjang dari kedua insan ini tidak mengingat waktu. Mereka tampak asyik saat mengingat moment mereka berdua.


Cinta tidak tahu akan meminta balasan, tapi rasa itu ada bukan karena balasan, melainkan sebuah jawaban dari apa yang ia harapkan ketika berdoa.


Wiu..Wiu..Wiu...


Suara mobil sirene ambulan terdengar kencang.


"Mas, suara ambulan." Ujar Britney.


"Iya, sayang. Apa tetangga kita ada yang sakit?" Tanya Pras.


"Entah Mas. Coba kita lihat ke luar. Semakin dekat suaranya." Jawab Britney dengan rasa berdebar.


Britney mengikuti suaminya, dan Pras berjalan lebih dulu, lalu membuka pintu rumahnya.


Wiu Wiu Wiu Wiu


Suara nyaring dari ambulan dan lampu ambulan yang menyala merah. Mobil ambulan itu tepat berhenti di depan rumah mereka.


Greet!!


Pras membuka pagar rumahnya, dan ternyata rumah Bagas sudah banyak orang.


"Nggak tahu sayang, ayo kita kesana." Jawab Pras.


Mereka berjalan mendekat, dan beberapa warga terdekat juga tampak berdatangan.


Hooo... Hooo....Aaaaa.... Mas Bagas.


"Mas. Mas Bagas kenapa ninggalin aku Mas??Mas Bagas. Bangun Mas!!!" Teriak Bella yang histeris, saat beberapa orang mengangkat jenazah dari mobil ambulan.


Istri Bagas hanya berdiam dengan cucuran air matanya yang mengalir, pandangan kosong menatap jenazah sang suami tercinta.


"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un" ucap Pras dan Britney bersamaan.


"Mas, Mas Ba-gas me-ninggal." ucap Britney yang terbata, lalu menoleh ke wajah suaminya.


Pras hanya menatap jenazah, yang ada di dalam ruang tamu. Kerabat membuka peti jenazah itu, dan warga sekitar rumah semakin berdatangan.


Britney yang larut dalam suasana, memegang erat tangan suaminya. Malam yang mencengangkan, ada di hadapan Pras.


"Pak RT."


"Mas Pras, tolong bantu saya angkat kursi-kursi ini keluar."


Pras membantu Pak RT, karena hanya dia yang tadi ikut masuk ke dalam ruang tamu itu. Britney mencoba menenangkan Bella, yang tidak henti menangisi kakaknya.


"Kak, Mas Bagas. Mas Bagas udah meninggal." ucap Bella, dan masih dalam tangisannya. Britney juga menangis, memeluk Bella. Britney juga merasakan kesedihan Bella.


"Bilqis, sini sayang sama tante." Tangan Britney meraih Bilqis, dan memangku Bilqis kecil. Britney memeluknya erat.


Istri Bagas menangis histeris, saat mendekati suaminya yang telah tiada, dan semua seperti mimpi baginya. Rasanya tidak tertahan dan semakin lemas, akhirnya pingsan di pelukan pembantunya, para kerabat mengangkatnya ke kamar.


"Bil-qis, Bilqis sayang." Isak tangis Bella semakin menjadi dan sangat pilu, saat memegang tangan Bilqis yang duduk di pangkuan Britney.


Gadis kecil yang mengantuk di tengah malam. Tidak tahu apa yang sedang terjadi dengan Papanya. Britney mengelus rambut gadis kecil itu, dengan rasa sedih dalam hatinya. Perlahan Bilqis tidur dipangkuan Britney.


"Bobok ya sayang." Britney membaringkan Bilqis dalam pangkuannya.


"Kak, Mas Ba-gas u-dah ning-galin ki-ta." suara Bella tersendat sendat. "Bil-qis ma-sih kecil."


Tangis Bella yang tidak terhenti dan semakin menjadi.


Air matanya sudah tidak terbendung lagi, butiran air bening itu semakin mengalir deras, dari sudut matanya. Malam yang sunyi, terdengar suara raungan menyayat hati. Rasa sedih, dan sesak di dalam dada tidak terhindarkan. Tangisnya semakin menjadi, Bella perlahan lemas dan pingsan.

__ADS_1


Seseorang kerabat dari istri Bagas, membawa Bella ke kamar, dan berusaha membuat Bella siuman.


Britney yang masih memangku Bilqis, juga tidak kuat menahan dirinya, melihat wajah mungil Bilqis mengingatkan dirinya dulu, di saat ayahnya pergi. Britney mengusap lembut rambut Bilqis, yang tidur dalam pangkuannya.


"Anak manis. Tante sayang kamu. Semoga kelak kamu jadi anak sholehah, dan kamu harus jadi anak kebanggaan Papa kamu ya sayang." batin Britney.


Pras di luar dengan beberapa bapak-bapak warga puri anggrek. Ada saudara dan teman kerja Bagas yang cerita tentang kepergian Bagas.


"Iya Pak RT, tadi pagi sebelum saya berangkat kerja, masih sempat bertemu Mas Bagas. Malah dia bilang, kalau saya harus jaga kesehatan. Tapi malah dia sudah pergi meninggalkan kita semua."


"Iya Mas Pras, kalau dengar kata temannya itu tadi. Di kantor tadi sore sudah lemas. Memang kalau serangan jantung sangat cepat. Waktu itu saudara saya juga begini." ujar Pak RT.


Flashback


Pagi jam setengah 8.


"Pras, tumben pakai sweater."


"Aku enggak enak badan Mas. Ini juga baru mau berangkat."


Saat itu Bagas sedang mengelap mobilnya, dan melihat Pras, berjalan menghampiri Pras. Dari kemarin Bagas tidak bertemu Pras. Sama-sama sibuk. Tidak bisa mabar lagi, karena kerjaan Pras yang menumpuk.


"Jaga kesehatan kamu Pras. Istri kamu lagi hamil, jangan sampai istri kamu nanti, dijagain sama orang lain." ucap Bagas dengan menggoda Pras.


Pagi tadi Pras terlihat pucat, kurang bersemangat. Bagas sudah cukup akrab, sering menggoda Pras dan membuat lelucon.


"Mas Bagas bisa saja. Aku cuma masuk angin, besok juga bisa mabar lagi."


"Iya, kemarin aku telfon kamu, tapi kamu sudah tidur. Britney yang angkat telfonnya."


"Kemarin istriku bilang, Mas kamu dicariin teman kencan." "Siapa?" "Siapa lagi kalau bukan Papanya Bilqis."


Bagas ketawa ngakak mendengar ketengilan Pras.


"Aku lagi banyak kerjaan Mas. Mungkin gara- gara ini juga, aku jadi kurang tidur. Aku jadi masuk angin." Lanjut Pras.


"Hemms. Bener itu, jangan maksain diri. Rezeki, sudah ada yang mengatur, jangan di paksa kalau memang lagi capek."


"Mas Bagas juga lembur terus."


"Pras, aku tidak lembur, mana bisa aku hidup begini ini. Kamu tahu sendiri lah, aku gimana."


"Iya, tadi bilangnya rezeki ada yang mengatur, tapi kalau kesehatan kita tidak dijaga, ya sama saja, ujung-ujungnya duitnya buat ke dokter."


Pras jadi tertawa dan Bagas senang melihat Pras yang kembali bersemangat. Memang benar, kalau ada yang sakit, ada yang mengemati pasti akan bersemangat lagi. Tadinya Pras sangat loyo, dan tidak bergairah, karena lelucon mereka itu, Pras jadi bersemangat.


"Kamu benar Pras, tapi aku juga nggak bisa kalau diam diri di rumah. Kalau di rumah juga pasti main game sama kamu."


Britney membuka kaca mobil dan memanggil Pras. "Mas. Ayo berangkat."


"Mas Bagas, istriku sudah nungguin. Aku berangkat dulu Mas."


"Ya udah sana berangkat. Hati-hati, jangan ngebut."


"Santai Mas Bagas, aku tinggal duduk manis. itu Nyonya Pras yang nyetir."


Pras dengan suara tengil dan cukup bercanda.


Bagas yang tertawa, masih menatap Pras yang masuk ke dalam mobil. Tadi Britney sudah di dalam mobil, sedang telfonan sama Ghea.


Pras yang tadinya menutup pintu pagar, jadi asyik mengobrol dengan Bagas.


Rezeki, jodoh dan kematian, semua itu sudah di atur. Manusia hanya berusaha, tapi takdir yang menentukan.


Bagas meninggal di usia 32 tahun. Meninggalkan istri dan anaknya yang masih balita. Takdir yang tidak bisa terhindarkan. Semua sudah di atur atas kehendak-Nya.


Pras dan Britney kembali ke rumah, setelah tadi jenazah Bagas di bawa keluarganya. Orang tua kandung Bagas meminta saudaranya, dan istri Bagas. Agar jenazah sang putra, dimakamkan di kampung halamannya.


"Mas,..." Panggil Britney.


"Iya sayang, ada apa?"


"Mas, jangan jauh-jauh."


"Aku disini sayang."


Pras memeluk istrinya, dengan rasa sesak di dadanya. Apa yang Pras rasakan dalam mimpi, adalah kepergian sahabatnya, walaupun belum lama mengenalnya, tapi Pras memiliki kenangan manis.


Bagas juga orang yang baik, sangat ramah dan rajin beribadah.


Pras mengingat perkataan Bagas, kalau Bagas pulang kerja lebih cepat, selalu menyempatkan, untuk sholat berjama'ah di Mushola.


Selamat jalan Mas Bagas. *AuthorMengingat kenangan lama. 😢


__ADS_1


__ADS_2