
"Pakde, niki dicobi riyin." Ucap Pras, sambil menyerahkan jaket kulit warna coklat tua.
(Pakde, ini dicoba dulu.)
Tidak lama Pakde Woko sudah bercermin dan bergaya, kedua tangannya bekacak pinggang, dengan senyuman dan masih menatap dirinya.
"Apik iki Pras." Ucap Pakde Woko sudah mencoba mengenakan jaket kulit itu dan bercermin, lalu berkata "Wah, jebule aku isih ganteng."
(Apik iki Pras.) (Wah, ternyata aku masih tampan.)
Britney juga sibuk mengurus Bu'e dan Budhe Woko, yang mencoba jilbab di toko muslimah. Bapak, Pamela dan Pandu juga ada di toko lain mencari sepatu.
"Pripun Pakde? Pakde remen mboten?" Tanya Pras dengan tersenyum.
(Bagaimana Pakde? Pakde suka tidak?)
"Mathuk iki. Aku gelem iki, aku urung duwe jaket kulit." Ujar Pakde Woko, lalu melepas jaket itu.
(Cocok ini. Aku mau ini, aku belum punya jaket kulit.)
Pras mengambil jaket itu, lalu menuju ke kasir. Pakde mengikuti Pras sambil melihat-lihat jaket yang masih bergantungan di sisi kanan kirinya. Pakde juga menatap manekin berkacamata.
"Pakde, niki diagem mawon." Ucap Pras setelah melepas hangtaq yang terpasang di jaket itu, dengan nama brand ternama.
(Pakde, ini dipakai saja.)
"Oleh dinggo saiki??" Tanya Pakde, dengan senyum wajah yang sumringah (bahagia)
(Boleh dipakai sekarang??)
"Angsal Pakde, sampun dibayar." Jawab Pras.
(Boleh Pakde, sudah dibayar.)
Pakde Woko langsung memakainya. Pakde Woko bukan tipe orang yang basa sasi. Bergaya dengan nyentrik, Pras malah menawarkan sekalian untuk membeli kacamata dan jam tangan.
"Aku ora seneng jam tangan. Tapi kocomoto aku yo gelem." Ucap Pakde sambil berjalan.
(Aku tidak suka jam tangan. Tapi kacamata aku juga mau.)
Yuuuhhhuuu!!
Keluarga Pak Heru sore ini sedang berjalan- jalan, dan berbelanja di salah satu Mall yang ada di kota Semarang.
Pras berjalan ke toko lain, dan Britney juga sudah selesai dari toko jilbab. Mereka bertemu, semua jadi menatap Pakde Woko yang sudah nyentrik dan keren bak aktor film laga.
"Pak, aku ngasi pangling." Ucap Budhe Woko.
(Pak, aku sampai tidak mengenali.)
"Bu'ne, piye?? Aku isih ganteng opo ora??" Tanya Pakde Woko
(Bu'ne, gimana?? Aku masih tampan apa tidak??)
~Bu'ne Istilah panggilan Ibu dari anak-anakku.
Britney dan Bu'e hanya tersenyum.
"Isih ganteng. Tapi koyo cah enom ngono."Jawab Budhe Woko.
(Masih tampan. Tapi seperti anak muda begitu.)
"Ora opo- opo. Mumpung aku isih sehat. Tak enggo nek mlaku-mlaku." Balas Pakde Woko
(Tidak apa- apa. Selagi aku masih sehat. Buat dipakai kalau jalan-jalan.)
"Budhe, niki wau Pras sing milih, mboten Pakde." Ucap Pras menyela karena terguran dari Budhe.
(Budhe, ini tadi Pras yang milih, bukan Pakde.)
Budhe Woko lalu mendekati suaminya "Mengko nek piknik, aku dijak to pak??"
(Nanti kalau rekreasi, aku diajak kan Pak??)
"Yo mesti tak ajak. Sopo meneh sing arep takjak nek ora bojoku sing ayu dewe." Jawab Pakde Woko dengan tersenyum.
(Iya pasti tak ajak. Siapa lagi yang mau aku ajak kalau bukan istriku yang cantik sendiri.)
Semua yang mendengar itu jadi tersenyum manis.
So Sweet Pakde!!! *Author
Britney hanya mengerti sedikit kata sing ayu dewe. Lalu mendekati suaminya dan bertanya "Mas, apa kita nanti seperti Pakde dan Budhe??"
"Kita akan lebih dari Pakde dan Budhe." Bisik Pras dan Bu'e tersenyum saat Pras menarik pinggang istrinya itu.
Setelah berbelanja mereka semua sudah duduk di restaurant, yang sangat terkenal dengan jenis roti khas Italia.
"Mas, sampeyan doyan opo ora?" Tanya Pak Heru kepada Pakde Woko.
(Mas, kamu suka apa tidak?)
"Aku doyan. Gendhis mbiyen angger bali soko kuliah goyo koyo ngene iki." Ucap Pakde Woko.
__ADS_1
(Aku suka. Gendhis dulu setiap pulang dari kuliah bawa seperti begini ini.)
Gendhis itu anaknya Pakde Woko yang paling kecil, dia sudah menikah setelah lulus kuliah tahun lalu, dan sekarang tinggal di luar pulau jawa untuk mengikuti suaminya yang bertugas.
"Syukur nek doyan, nek ora doyan ganti liyane." Ucap Pak Heru yang duduk di sebelahnya.
(Syuku kalau suka, kalau tidak suka ganti lainnya.)
Pras memilih restaurant itu, karena Pamela sudah lama tidak kesana, selagi ada Pras di rumah, ingin di traktir kakaknya ditempat itu.
"Budhe mau yang mana?? Biar Britney ambilin." Tanya Britney karena Budhe Woko baru mengambil satu slice dengan topping sayuran.
"Budhe yang itu depan Pandu." Ucap Budhe, karena tempat Pandu paling ujung.
Pras berdiri mengambilkannya. Pandu sambil makan dan berkata kepada Budhenya "Joss Budhe... Rasane enak."
"Pras, iki jengenge opo??" Tanya Budhe yang penasaran, karena Pandu memesan banyak jenis makanan ditempat itu.
(Pras, ini namanya apa??)
"Niku namine Lasagna Budhe." Jawab Pras.
(Itu namanya Lasagna Budhe.)
"Jenenge angel eram. Sokben nek aku rene meneh arep pesen iki piye?" Tanya Budhe.
(Namanya sulit sekali. Nantin kalau aku kesini lagi mau pesan ini gimana?)
"Budhe, ini ada bukunya. Kalau Budhe bingung tinggal nunjuk gambarnya saja." Jawab Britney, membuka daftar menu dan memperlihatkan ke Budhe Woko.
"Bu'e yo dadi penasaran karo rasane." Ucap Bu'e, dan menyendok Lasagna yang di depan Budhe Woko itu.
(Ibu juga jadi penasaran sama rasanya.)
"Bu'e, Budhe Woko, Lasagna ala Britney mantul." Ucap Pras sambil memberikan jempolnya.
(Ibu, Budhe Woko, Lasagna ala Britney mantul."
Bu'e jadi lebih penasaran, dan bertanya "Kowe pernah digawekke ngene kie??"
(Kamu pernah dibuatkan begini ini??)
"Nggeh Bu'e, masakanne mantune Bu'e eunaak!!." Jawab Pras.
(Iya Ibu, masakan menatunya Ibu eunaak!!)
"Bapak yo gelem digawekke ngono kui." Ujar Pak Heru, dan juga yang lainnya.
Britney bingung, padahal dia baru belajar itu juga nyontek dari channel masak yang ada di Youtube.
"Besok Britney akan buatin buat semuanya." Ucap Britney dengan tersenyum.
Semua makan dengan nikmat, kalau Pakde Woko cukup menikmati Pizza dengan topping sosis juga daging cincang, dan cukup menyukai Zuppa soup.
Pamela merasa senang, cukup makan banyak. Pamela berbisik "Mas Pras, tasku urung entok."
(Mas Pras, tasku belum dapat.)
"Iyo, mengko bar maem, tuku tas." Ucap Pras, lalu mengusap rambut adiknya yang duduk disebelah kanannya.
(Iya, nanti setelah makan, beli tas.)
Britney masih menikmati salad buah, ternyata Budhe juga suka salad buah yang diambilkan Britney. Kalau Bu'e dan Bapak memilih makan spaghetti dan kentang pangang.
Britney menatap cermin di toilet dan merapikan lipstiknya sambil menunggu Bu'e dan Budhe yang masih di dalam toilet. Tidak lupa untuk touch-up sedikit, setelah itu mengecapkan bibirnya ke tisue.
"Mas Pras tidak disini. Aku kecupkan saja sama tisue. Tapi kalau ada dia, mana boleh aku begini." Gumamnya dan masih menatap cermin.
Bu'e dan Budhe sudah keluar dari toilet. Mendekati Britney, karena selesai touch-up dan memakai body lotion juga parfum. Britney jadi lebih harum dan terlihat segar.
"Britney minyak wangi kamu apa?" Tanya Budhe.
Britney mengeluarkan parfumnya dalam tasnya. Parfum brand ternama berbentuk seperti apel dan berwarna ungu. Botol kaca yang tebal dan isinya sudah tinggal setengah.
"Ini Budhe." Jawab Britney yang menunjukan parfum itu dan bertanya "Budhe mau pakai?"
"Coba semprotkan ke baju Budhe." Ucap Budhe dan Britney menyemprotkan parfum itu.
Kalau Bu'e sudah punya parfum favoritenya yang di oles- oles ke leher, seperti minyak aromaterapy. Parfum Bu'e lebih khas aromanya dan terasa sejuk bila dipakai.
Britney dan kedua perempuan hebat itu berjalan keluar dari toilet. Pras mendekati istrinya dan berbisik "Kenapa lama?"
"Emss.. Coba Mas lihat." Jawab Istrinya.
"Kenapa harus memakai itu tanpa aku. Kamu kecupin dimana??" Tanya Pras.
"Tenang Mas, aku simpan." Jawab Britney.
Suaminya sekarang semakin disiplin. Bekas lipstik saja tidak boleh dibuang sembarang.
Pras bersama keluarga sudah selesai berbelanja. Mereka semua pulang, Pakde dan Budhe ikut mobil Britney dan Pras. Sedangkan Bapak, Bu'e dan Pamela bersama Pandu.
Pakde dan Budhe juga sangat romantis, cinta tak mengenal usia. Budhe juga orangnya biasa saja, tidak pandai berdandan juga memadu padankan pakaiannya. Tapi suaminya sangat mencintainya, dan kemanapun perginya selalu berdua.
__ADS_1
Britney menoleh ke Pakde dan bertanya "Pakde besok ingin jalan-jalan kemana?"
"Besok Pakde mau di rumah saja. Ternyata capek juga setelah punya acara." Jawab Pakde.
"Iya.. Kalau nanti Budhe sama Pakde mau jalan- jalan bilang sama Mas Pras." Ucap Britney.
Pras hanya tersenyum, tidak lama mereka sudah tiba di rumah. Pandu lebih dulu, dan membuka pintu garasi. Mobil putih itu yang masuk garasi, mobil Bapaknya terparkir disamping truk.
Pandu tampak senang memamerkan sepatu dari Bapaknya, Pras berkata "Kowe kui seneng mipik, tapi dikon nyambut gawe wegahan."
(Kamu itu sukanya membeli, tapi disuruh untuk kerja malesan.)
"Yoben, Bapakku sing nukokke." Ucap Pandu.
(Biarin, Bapakku yang beliin.)
Bapaknya masuk dengan beberapa kantong plastik yang dijinjingnya, menghampiri Pras, kemudian berkata "Nyoh, kanggo kowe kerjo."
(Ini, buat kamu kerja.)
"Bapak niki nopo??" Tanya Pras.
(Bapak ini apa??)
"Buka kono. Nek kowe emoh. Tak balekke tokone." Ucap Bapaknya.
(Buka sana. Kalau kamu tidak mau. Di kembalikan ke tokonya.)
"Mas Pras emoh, dinggo Pamela wae." Sahut Pamela dengan menggoda centil.
(Mas Pras tidak mau, dipakai Pamela saja.)
Pras duduk di ruang tengah dan membuka kantong plastik tebal itu, di dalamnya ada kardus kotak. Sebuah laptop yang sangat mahal dan lebih mahal dari ponselnya Pandu.
Padahal Pras juga punya niat untuk membeli laptop baru, tapi nanti setelah dapat pelunasan dari kliennya.
Pras mulai tersenyum, sebenarnya Bapaknya tanya sama Britney sebelum tadi berangkat ke Mall. Apa keperluan Pras yang belum terpenuhi, atau Pras punya keinginan membeli apa. Akhinya Britney cerita tentang pekerjaan sambilan Pras. Pandu memilihkan spek laptop yang paling memadai dan cocok untuk kakaknya itu.
"Bapak, matur nuwun." Ucap Pras dan memeluk Bapaknya, Bapaknya pura-pura saja. Sebenarnya Bapaknya sangat menyayangi Pras.
(Bapak, terima kasih.)
"Mas, aku delok. Mau Mas Pandu sing milihke." Ucap Pamela yang menerobos dan mendekati kakaknya itu.
(Mas, aku lihat. Tadi Mas Pandu yang memilih.)
"Iyo dek, buka kono isine opo wae." Ucap Pras.
(Iya dek, buka situ isinya apa saja.)
Pandu mendekati dan Pras menatapnya "Kok kowe ora omong aku??"
(Kenapa kamu tidak bilang aku??)
"Surprise!!! Tapi kuwi cocok kanggo kowe Mas." Ucap Pandu.
(Kejutan!!! Tapi itu cocok buat kamu Mas.)
"Untung pilihan warnane ora nyeleneh. Nek nyeleneh tak kon balekke kowe." Ujar Pras.
(Untung pilihan warnanya tidak aneh. Kalau aneh aku suruh balikin kamu.)
"Ngene-ngene aku iki merhatekke kowe Mas. Senenganmu opo, aku yo reti." Balas Pandu.
(Begini-begini aku ini memperhatikan kamu Mas. Kesukaanmu apa, aku juga tahu.)
Pras menyungging bibirnya dan mendekati adiknya, tapi Pandu takut dengan tatapan juga senyuman Pras itu, malah Pandu kabur duluan. Padahal mau memeluknya, Pras jadi tertawa.
Pamela dan Britney membuka laptop canggih itu, Budhe dan Pakde yang sudah berganti baju, ikut melihat hadiah apa yang diterima Pras.
Bu'e yang dikamar tersenyum saat Bapaknya bercerita waktu tadi membeli laptop. Pandu juga ingin laptop baru, tapi kemarin Pandu baru membeli ponsel, Pamela lalu berkata kepada Pandu, jadi orang jangan banyak permintaan.
πΌπΌπΌπΌπΌ
Semoga kalian semua suka cerita di bab ini.
Salam manis dari author. Terima kasih.ππ₯°
πΌπΌπΌπΌπΌ
Bila dari kalian semua, ada yang suka novel komedi romantis, kalian bisa mampir ke novel karya sahabat author dibawah ini π€π€©π π
__ADS_1