
Sabtu siang di Stasiun yang ada di Kota Semarang. Kakinya perlahan melangkah menuruni kereta dan ini untuk pertama kalinya Pras membawa seorang wanita pulang ke kotanya.
Tangan halus itu dalam genggaman tangan Pras. Sesuatu yang tak bisa diungkapan dengan kata, rasanya sangat berdebar saat dia menoleh dan berkata "Mas, aku gugup."
"Sama, aku juga." Ucap Pras.
Dari sepanjang malam mereka masih seperti orang asing, Britney yang tidur ditempat tidur dan Pras tidur dikasur lipat.
Awalnya Britney bingung bagaimana nanti suaminya tidur, sedangkan tempat tidur itu hanya berukuran single size. Lalu Pras mengatakan masih ada kasur lipat, biasanya Rendy menginap di kostnya.
Britney masih merasa canggung, sepanjang malam Pras memikirkan bagaimana nanti pendapat kedua orang tuanya. Apalagi ibunya yang waktu ditelfon tidak mendengar dengan jelas, karena ibunya sedang di acara hajatan tetangga.
Rendy berjalan lebih dulu, sepanjang perjalanan Rendy sangat gelisah, dia tidak habis pikir tentang Pras dan Britney. Bagaimana sahabatnya menikah begitu cepat, apalagi ini Britney dan bukan orang biasa. Lalu apakah nanti Pras akan bahagia, karena Pras hanya karyawan biasa, sedangkan Britney dari golongan kelas atas.
Tak.. Tak.. Tak..
Langkah mereka mendekat ke pintu Stasiun dan sudah ada yang menjemput mereka.
Dug!
"Mas...." Sapa Pandu.
Pandu Pradipta adalah adiknya Pras, Pandu juga sangat tampan dan dia masih kuliah di Universitas Swasta Semarang dan usianya baru 21 tahun.
Pandu yang menatap Britney sampai tidak berkedip, dia penasaran. Siapa wanita yang digandeng kakaknya.
"Pandu.. kowe digawakke mbakyu." Ucap Rendy.
(Pandu kamu dibawakan kakak perempuan.)
"Mbakyu?" Tanya Pandu.
(Kakak perempuan?)
"Iyo, bojone masmu." Ucap Rendy yang masih sensitif.
(Iya, istrinya kakakmu.)
Pras hanya menyuruh Pandu untuk berjabat tangan dengan Britney, dan nanti akan menjelaskan di rumah.
Rendy ingin pulang naik ojek, tapi Pras mau mengantarkan dia dulu. Lagian juga satu arah, untuk apa Rendy harus naik ojek.
Rendy masih tidak nyaman karena Britney, dan mereka tidak banyak bicara. Britney cenderung diam dan hanya menatap jalan.
"Britney, sebentar lagi kita sampai rumah Bapak." Ucap Pras yang duduk disebelahnya.
Pandu yang menyetir juga jadi gelisah.
Rendy sudah tiba di rumah orang tuanya dan meminta Britney untuk mampir, tapi Pras yang menjawabnya, nanti akan main kesana kalau sudah bertemu Bapak sama Ibu.
Britney tersenyum dan Rendy masih melambaikan tangan ke arah mobil itu.
Dag Dig Dug!!!
Britney tidak tahu nanti apa yang akan terjadi, tangannya dingin dan Pras merasakan kecemasan Britney saat ini.
"Kamu tidak perlu cemas." Ucap Pras yang memegang tangan kanan Britney.
Sett.... Mobil silver itu berhenti di pekarangan rumah, rumah yang tampak besar dengan cat warna cream dan dikelilingi pagar rumah berwarna coklat muda.
Halaman depan yang berpaving dan ada dua pohon mangga yang tidak begitu besar, lalu ada sebuah truk putih dengan tulisan doa ibu terparkir disisi kanan halaman itu.
"Britney kita sudah sampai." Ucap Pras yang mengajak Britney turun dari mobil.
Pandu masih terdiam dan tidak hendak turun dari mobil. Dia masih bingung dan mencoba mencerca apa yang terjadi saat ini.
__ADS_1
Seerrr....
Pras sangat berdebar ketika memasuki rumah orang tuanya. Rasanya tidak karuan, masih mending kalau nanti dimarahi, tapi kalau tidak dianggap anak lagi bagaimana... *Author bingung~
Sosok Ibu yang mengenakan daster batik lengan panjang dan dipadukan jibab bergo warna biru, mendekati dengan rasa penasaran, mata teduh itu hanya menatap sosok gadis berambut panjang dan cantik itu.
"Assalamu'alaikum Bu'e....." Sudah dua kali Pras mengucap salam tapi Ibunya masih membeku.
.
.
"Wa'alaikumsalam..." Ibunya memeluk dengan air mata membasahi wajahnya yang teduh, walaupun sudah muncul kerutan diwajah sang Ibu, tapi Ibunya tetap cantik dan sederhana tanpa polesan bedak ataupun gincu.
Pras memeluknya dengan rasa berdebar dan Britney memandangi suaminya dan Ibu mertuanya, dalam hati Britney dia bersyukur ternyata suaminya sangat menyayangi Ibunya.
Pras mengenalkan Britney, Ibunya menerima tangan halus itu dan Britney mencium tangan sang Ibu dengan rasa syahdu. Baru kali pertama Britney bertemu, tapi Britney merasa ketulusan dari Ibu mertuanya.
"Iki sopo Pras?" Tanya Ibu yang belum tahu.
(Ini siapa Pras?)
Pras hanya mengatakan, nanti akan menjelaskan kalau semua sudah berkumpul.
Ibunya menyuruh Britney masuk ke dalam rumah dan mengajaknya masuk ke sebuah ruangan.
Pras masuk ke kamarnya dan meletakan koper juga tas ranselnya.
Pandu masuk kedalam rumah, dan melihat ibunya sedang bersama kakak iparnya.
.
.
. Tikttok... Tikttok...
Pras memegang tangan Britney "Tidak perlu cemas, aku yang akan mengatakan sama Bapak Ibu."
Bapaknya Pras sudah mendapat gelagat Pras, yang begitu memperhatikan gadis cantik itu.
Pandu yang sudah tahu hanya diam tanpa kata.
Putri menatap dan hanya menganggut, dia berfikir kalau Britney pacar Pras yang sekarang.
Pamela hanya menatap kagum. Dia seperti melihat artis.
_______________________
Heru Utomo adalah Bapak Pras, Bapaknya PNS dan bertugas di kantor kecamatan.
Setyoningsih adalah Ibunya Pras, dia memiliki toko beras di pasar yang tidak jauh dari rumahnya.
Putri Maharani adalah kakak perempuan Pras dan dia juga sudah PNS, bekerja di SMP sebagai guru biologi.
Pamela Hapsari adalah adik Pras dia masih SMA dan baru berusia 16 tahun.
______________________
Pras mulai mengatakan kalau Britney adalah istrinya dan mereka baru menikah kemarin, tapi keluarganya dengan santai dan mengatakan kalau Pras bercanda.
"Ojo guyon... Pras." Ucap Bapaknya Pras dengan tersenyum, padahal Pras sudah mengatakan dengan serius.
(Jangan bercanda... Pras.)
Britney menunduk dan hanya diam.
__ADS_1
"Britney, apa yang kamu lihat dari adikku?" Tanya Putri.
Tuing!!
"Britney juga belum lama mengenal mas Pras. Tapi mas Pras orangnya baik." Ucapnya dengan pelan.
"Pras, opo kowe khilaf??" Sang Ibu sudah khawatir.
(Pras, apa kamu khilaf??)
"Mboten Bu'e."
(Tidak Ibu.)
Pras akhirnya mulai menceritakan dari awal waktu dia tabrakan sama Britney dan masalah kemarin mereka menikah.
"Bu'e lego nek ngono ceritane." Ibunya mulai tersenyum.
(Ibu lega kalau begitu ceritanya.)
"Yowis, sesok gari syukuran. Bapak sak iki wis nduwe mantu." Ucap Bapaknya dengan ekspresi gembira, karena bapaknya tahu kalau Pras pernah ditolak gadis.
(Ya sudah, besok tinggal syukuran. Bapak sekarang sudah punya menantu.)
"Aku mulih gur arep jagong, ora syukuran." Ucap Pras yang selalu santai dengan bapaknya berbeda ketika dengan sang Ibu yang selalu sopan.
(Aku pulang cuma mau kondangan, bukan syukuran.)
"Nek perlu sak iki opo mengko bengi." Ucap Bapaknya Pras dan lanjut berbicara "Pandu ndang pesen neng restoran. Bapak gari ngundang wong sak RT." Ucapnya yang tidak basa-basi.
(Kalau perlu sekarang atau nanti malam)
(Pandu segera pesan ke restoran. Bapak tinggal mengundang warga satu RT.)
"Wis rasah ngono barang. Britney yo kesel. Sokben wae nek acara mbak Putri." Ucap Pras yang tidak ingin ada acara apapun.
(Tidak usah seperti itu juga. Britney juga capek. Nanti saja kalau acara kak Putri.)
"Bapak, mengke mawon.... Britney nembe dugi, nopo malih Britney nembe kenal Prasetya." Ucap Putri.
(Bapak, nanti saja.... Britney baru datang, apalagi Britney baru mengenal Prasetya.)
"Nak Britney, cinta sama anak Ibu?" Tanya Ibunya Pras, karena ucapan Putri.
"Kalau saat ini, saya sendiri belum tahu. Inshaallah perlahan saya akan mencintai mas Pras." Ucap Britney yang masih canggung.
"Nak Britney, anak bapak yang satu ini, kalau sama bapaknya suka ngeyel. Tapi kalau sama Ibunya sangat menurut. Nanti jangan kaget sama sifatnya Pras." Ucap Bapak Pras.
"Iya pak, Britney mengerti." Ucap Britney.
.
.
Pras mengerutkan dahi saat beberapa pertanyaan mengarah kepada Britney, ia menatap wajah cantik istrinya "Kamu tidak perlu khawatir lagi. Keluargaku sudah menerima kamu."
"Iya Mas.. Aku tahu." Ucap Britney dengan tersenyum manis.
__ADS_1