
Berjalan beriringan dan sambil menggenggam tangan. Britney tahu apa yang dirasakan dalam hati Vava, saat berjalan menuju ke rumah Pak RT, yang tidak lain adalah orang tua Aksa. Pemuda manis yang telah di tabrak Vava, di pagi yang cerah itu.
"Kakak, Vava takut." Bisik Vava yang sangat cemas. Bila nanti kedua orang tua Aksa, tidak memaafkan bagaimana, apa nanti Vava akan dilaporkan ke kantor polisi. Pikiran gadis belia itu, sepertinya sedang di ujung kecemasan.
"Tidak apa-apa Vava, kita hanya memberitahu, kalau motor Aksa harus dibawa ke bengkel, kamu juga tidak sengaja waktu menabrak Aksa. Itu juga kecelakaan. Kamu tidak usah takut, kakak yang akan minta maaf sama Pak RT dan Bu RT. Vava, kakak selalu disamping kamu." Ujar Britney
"Kakak jangan jauh-jauh. Tadi Bang Pras udah marahin Vava." Ucap Vava dan seraya mengadu kepada kakaknya yang tersayang.
"Memangnya Mas Pras marahin kamu? Kakak tidak tahu." Ucap Britney.
"Iya, tadi di depan kamar mandi. Dia bilang Vava nggak usah lagi bawa mobil. Mending naik taxi atau minta antar Pak Sakir aja. Vava kecelakaan emangnya sengaja apa. Vava tadi itu lupa, mana jalan masuk ke rumah kakak, Vava tadi memang lihat ke kiri. Tiba-tiba Aksa lewat, Vava kaget. Bukannya injak rem eeh malah Vava ngegas. Emang Vava salah. Kadang juga Vava begitu, makanya tadi Bang Pras marahin Vava." Ungkap Vava dengan bibir tipisnya yang manyong manis.
"Hemm. Mas Pras begitu karena peduli sama kamu sayang. Kakak juga khawatir, nanti biar Pak Sakir kesini jemput kamu." Ujar Britney.
Vava tampak diam, dan tidak lama mereka berdua sudah di depan rumah berpagar hitam. Tampak rumah bercat biru muda. Model rumah bangunan sudah modern setelah di renovasi. Rumah dua lantai yang cukup sejuk. Depan rumah terdapat sebuah taman minimalis dan ada kolam ikan mas yang sangat unik, bahkan suara gemercik air dari pot-pot air mancur minimalis itu, cukup nyaman di dengarkan saat ada di dekatnya.
"Assalamu'alaikum..." Salam Britney sambil mengetuk pintu rumah.
"Wa'alaikumsalam...." Terdengar suara nyaring dari dalam rumah.
Membuka pintu dan mereka bertatap muka. Tersirat senyuman lembut dari wajah Bu RT, dan Britney juga tersenyum. Vava tampak menunduk dan belum melihat ke wajah Bu RT.
"Assalamu'alaikum Bu RT." Ucap Britney sembari mengulurkan tangan kanannya.
"Wa'alaikumsalam Bu Britney." Balas Bu RT. Mereka saling memeluk dan Vava masih terdiam.
Vava perlahan mendekat, mencium tangan Bu RT dan kembali memegang tangan Britney.
"Mari silahkan masuk Bu Britney." Ajak Bu RT.
Bu RT yang hanya mengenakan daster batik merah marun, dengan kerudung bergo warna abu-abu tua. Bu RT mengajak mereka duduk di ruang tamu. Ruang tamu yang cukup besar di banding tempat tinggal Pras dan Britney. Walaupun di perumahan yang sama, tapi luas tanah dan type rumah Pak RT ini sangat berbeda, dari tempat tinggal Pras. Apalagi setelah di renovasi, tampak longgar dan sangat modern.
"Bu Britney tumben, pagi-pagi sudah kesini. Ada perlu apa?" Tanya Bu RT.
"Saya kesini untuk memberitahu Bu RT, soal Aksa." Jawab Britney.
Wajah Bu RT seketika berubah, dan tampak kaget. Tidak biasanya Aksa dekat dengan tetangga, dan Britney datang mengajak gadis muda. Pikiran Bu RT susah kepikiran ke gadis muda itu, dan mata Bu RT malah menatap Vava dengan tanya. Apalagi melihat Vava yang dari tadi tampak menunduk. Perasaan seorang ibu, pasti was-was kalau sudah mendengar tentang nama putranya.
"Ada apa Bu Britney? Apa yang Aksa lalukan?" Tanya Bu RT.
"Begini Bu RT, ini adik saya Vava. Barusan, mobil adik saya ini menabrak motor Aksa di jalan depan, sebelah minimarket." Ucap Britney.
Bu RT tertegun dan bertanya "Lalu anak saya gimana keadaannya Bu Britney?"
Wajah Bu RT cemas dan rasanya sangat khawatir. Tampak tangan Bu RT meremas daster yang dia kenakan, dan tampak berkaca-kaca.
"Aksa baik-baik saja Bu RT. Sekarang sedang di bengkel motor sama Mas Pras. Saya kesini mau minta maaf atas nama adik saya." Ucap Britney dan Vava masih memegang tangan Britney.
"Jadi Aksa tidak terluka? Apa benar Aksa baik- baik saja Bu Britney??" Dengan suara yang tegang dan sangat gelisah.
"Benar Bu RT, Bu RT bisa menelfon Aksa." Ucap Britney.
Bu RT langsung mengambil ponselnya, dan menekan nomor Aksa sang putra pertamanya.
π²π²π²
"Hallo Bunda."
__ADS_1
"Aksa, syukurlah. Bunda masih mendengar suara kamu sayang."
"Bunda kenapa? Aksa lagi di bengkel ini."
"Ini Bu Britney kesini, katanya kamu di tabrak adiknya Bu Britney."
"Hemms... Ngapain Tante Britney kesana. Tadi aku udah bilang nggak apa-apa juga." Batin Aksa.
"Aksa baik-baik aja. Aksa cuma lecet di tangan. Tapi Aksa nggak sakit, Bunda tenang aja. Emang tadi Aksa juga marah-marah sama Vava. Dia udah minta maaf, Tante Britney sama Om Pras juga tanggung jawab. Makanya ini Aksa di bengkel, ada Om Pras. Kalau Bunda masih cemas, ini bisa tanya sama Om Pras." Ucap Aksa dengan jelas.
"Tidak, tidak usah. Bunda cukup tenang dengar suara kamu sayang. Kamu tidak terluka, bunda udah tenang. Kamu tadi juga, bunda udah larang kamu pergi, masih nekat pergi. Ya sudah, nanti cepat pulang." Ujar Bu RT.
"Iya, iya, Bunda nggak perlu cemas. Aksa nanti cepat pulang." Balasnya dengan santai.
"Ya sudah, Bunda mau ngobrol lagi sama Bu Britney. Hati-hati, jangan ngebut." Ujar Bunda.
"Siap Bunda, oke." Balas Aksa.
Setelah itu Bu RT menutup panggilannya, kembali ke ruang tamu. Vava masih saja menunduk, dan tidak berani menatap wajah Bu RT.
"Maaf Bu Britney, tadi saya panik." Ucap Bu RT, seraya duduk kembali di kursi ukir yang berwarna coklat tua.
"Saya yang minta maaf Bu RT. Makanya saya ajak adik saya kemari. Karena tadi Aksa dan Vava juga sempat berdebat, dan Aksa hendak melaporkan ke kantor polisi, adik saya jadi ketakutan. Tapi tadi di rumah, Aksa dan Vava sudah cukup tenang. Saya juga tidak tahu kalau adik saya jauh- jauh datang ke rumah saya. Ini tadi, kita juga sudah menasehati adik saya. Memang keluarga saya sangat memanjakan adik saya. Saya mendengar kajadian itu juga kaget, tapi saya juga bersyukur Aksa baik-baik saja. Saya khawatir kalau Aksa terluka. Saya bilang sama Mas Pras kalau dari bengkel, saya memintanya agar membawa Aksa ke dokter. Bagaimanapun Aksa tertabrak, jadi harus di lihat kondisinya. Bu RT, saya mohon maaf atas nama adik saya." Ucap Britney.
"Iya Bu Britney saya tidak apa-apa. Mendengar suara Aksa tadi saya sudah tenang. Tadi pagi saya juga melarang Aksa pergi, tidak ada kuliah kenapa pergi, katanya mau nonton acara futsal." Ucap Bu RT.
Perlahan Vava melihat ke arah Bu RT dan berkata "Tante, maafin Vava. Tante Vava yang salah. Tadi Vava kaget, bukannya ngerem malah ngenggas, jadi Vava menabrak Aksa."
Bu RT menatap Vava dan tersenyum "Iya, Tante tidak apa-apa. Siapa nama kamu?"
Bu RT tampak melihat hal yang berbeda, wajah Britney seperti artis bollywood dan wajah Vava seperti artis drama korea yang tayang di pagi ini.
Bu RT tadi sedang melipat dan menyusun kardus snack untuk pesanan nanti malam. Bu RT punya usaha kecil di rumah, menerima pesanan kue basah dan juga makanan kardus untuk acara arisan, tasyakuran dan acara pertemuan lainnya. Di dapur juga ada yang membantu Bu RT, mereka sedang meracik bahan-bahan yang diperlukan.
"Bu Britney, saya baru tahu kalau Bu Britney mempunyai adik yang masih sekolah." Ucap Bu RT, yang melihat Vava masih memakai seragam sekolah.
"Iya Bu RT, yang masih sekolah tinggal Vava, dan yang lainnya sudah menikah." Balas Britney yang masih mengusap tangan Vava.
Vava masih saja memegang tangan kakaknya itu, dan tidak melepaskannya. Seseorang dari dapur membawakan teh hangat dan juga kue bolu.
"Mari silahkan di minum Bu Britney, nak Vava ayo diminum dulu. Itu cicipin bolu buatan Tante." Ucap Bu RT.
Britney mengambil cangkir coklat di atas tatakan. "Sayang, minum dulu."
Vava menerima cangkir itu, dan Britney mengambil lagi cangkir yang satunya.
"Kita jadi merepotkan Bu RT." Ujar Britney, setelah meminum teh manis dan tangannya masih memegang cangkir itu.
Britney selalu elegan, di manapun tempat dan suasananya, pasti selalu tampak anggun dan menawan. Istilah kata orang Jawa, MIYAYENI seseorang yang berperilaku, dan memancarkan aura, layaknya keturunan bangsawan.
"Tidak merepotkan malah saya senang ada yang mau berkunjung ke rumah saya. Silahkan Bu Britney itu cicipi kue bolunya. Saya tadi di ruang tengah baru merapikan kardus snack, dan sambil menonton drama korea yang Bu Mirna ceritakan, makanya saya kaget juga melihat nak Vava, yang mirip artis korea yang barusan saya tonton." Ucap Bu RT.
"Owh itu, iya saya kemarin juga melihat itu sama Bella. Vava memang oriental, soalnya Mama dan Papanya Vava memang oriental, kalau saya sudah banyak campuran." Ucap Britney.
Britney mulai mengerti, kenapa dari tadi Bu RT tampak memperhatikan wajah Vava. Britney dengan tersenyum dan kembali berkata "Vava ini adik sepupu saya Bu RT, dia anaknya Tante. Tapi dulu kita tinggal satu rumah di Pondok Indah, dan setelah saya menikah, saya mengikuti Mas Pras. Akhirnya kita tinggal di perumahan ini."
Britney tidak banyak membicarakan tentang siapa dirinya, apa perkerjaannya dan dari mana asalnya. Karena warga perumahan puri anggrek, terutama ibu ibu itu hanya fokus dan sangat kepo terhadap Prasetya yang tidak lain adalah suami Britney Rhiannon. Karena itu Bu RT juga belum banyak tahu tentang Britney.
__ADS_1
"Emm. Iya Bu Britney, saya paham. Maaf, dari tadi saya melihat nak Vava memang seperti artis di drama tadi, jadinya saya penasaran." Ucap Bu RT dan Britney tersenyum. Vava hanya memainkan kuku jarinya dan masih menunduk.
"Nak Vava, ayo dimakan bolunya." Ucap Bu RT yang menyodorkan piring oval berwarna putih.
Bolu pandan yang cukup menggoda, sangat harum dan masih hangat.
Vava mulai mengambil satu potong, mengambil tisue yang ada di depannya, perlahan dia makan dengan tersenyum, lalu berkata "Kue buatan Tante enak. Vava suka."
Mantuulll Va?? π
Britney tadi juga mengambil satu potong kue itu, dan Bu RT cukup senang melihat Vava yang baru mencicipi kue buatannya.
"Bunda." Suara nyaring Aksa dari luar. Tidak ada suara apapun, tahu-tahu sudah nongol di depan pintu.
"Kamu sudah pulang sayang." Ucap Bu RT dan memeluk putra pertamanya itu.
"Malu lah, ada Tante Britney juga. Aksa baik-baik aja Bunda. Bunda lihat, Aksa nggak ada yang luka." Ucap Aksa yang di peluk dan di ciumi wajahnya.
Bu RT sangat bersyukur, ternyata sang putra memang baik-baik saja. Bu RT juga sangat menyayangi kedua putranya, adiknya Aksa itu laki-laki, masih di bangku SMP dan Aksa juga kuliah baru semester lima.
"Bunda cemas, kamu ini kebiasaan." Ucap Bu RT pelan.
"Ya nggak enak aja, ada tamu cium-ciumin Aksa. Aksa bukan anak-anak lagi." Balasnya pelan, dan berjalan meletakan helmnya ke atas rak khusus tempat helm.
Britney dan Vava melihat Aksa yang tidak nyaman saat di sayang-sayang bundanya.
"Bu RT, pasti sangat senang, putra Bu RT sudah besar-besar dan cukup dekat." Ucap Britney.
"Iya Bu Britney tapi ya begitu tadi Aksa, semenjak kuliah, pergi terus jarang di rumah. Kadang saya juga melarangnya pergi, tapi kalau di larang ya begitu tetap saja pergi. Kalau Deta malah dia anteng di rumah saja, hobbynya main game di laptop sama baca komik. Katanya bikin konten di youtube, atau apa gitu. Saya kadang cuma lihat, kamu ngobrol sama siapa, kok teriak-teriak. Kata Deta ada teman di game online. Tapi saya juga cemas Bu Britney, kalau nanti Deta kecanduan game itu. Kalau Aksa bilang, biarkan saja. Nanti juga bosan sendiri. Ketika ayahnya di rumah juga mengawasinya." Ucap Bu RT.
Britney jadi mengerti dan merasakan kalau seorang ibu itu pasti punya banyak kekwatiran tentang anak-anak mereka. Pantas saja, ibu mertuanya selalu menelfon menantunya, untuk menanyakan kabar Pras. Semenjak Pras menikah, Bu'e sering telfon ke Britney dari pada Pras.
"Tante Britney, Om Pras udah pulang. Motor Aksa di tinggal di bengkel, nanti hari minggu baru bisa di ambil." Ucap Aksa setelah ikut duduk di ruang tamu.
"Terus tadi kamu udah ke dokter?" Tanya Britney.
"Nggak Tante Britney, Aksa baik-baik aja. Nggak nyeri, nggak pusing. Kalau sakit, pasti Aksa tadi nggak mungkin bisa bentak-bentak Vava." Jawab Aksa.
"Aksa, kamu bentak anak gadis?" Tanya Bu RT.
"Habisnya di ngeles aja tadi. Udah tahu salah masih aja ngelak. Ya udah, Aksa bilang aja mau lapor ke Polisi, eh dia takut. Baru dia minta maaf. Bunda nggak tahu aja, dia galaknya minta ampun." Ucap Aksa.
Vava menunduk diam dan penuh kekesalan dalam hatinya "Untung di rumah loe, ada bundanya lagi. Kalau di luar, gue tabok itu mulut."
πΌπΌπΌπΌ
Haii.. Haii...
Maaf telat, soalnya mingguan dulu, (maunya)
π βπ
Bab Ini tidak ada Mas Pras ya, othor lagi kesel sama Mas Pras. Biarlah, besok lagi ya. Mas Pras biar bobok dulu. Masih sakit dia, gara-gara Vava datang, tapi malah membawa masalah. Mas Pras jadi tertanggu istirahatnya.
Jangan Lupa Like, Komentar dan Vote ya, Othor butuh semangat dari kalian semua hehe π€ππ
__ADS_1