Pelarian

Pelarian
Dikhianati


__ADS_3

Matanya basah menatap kertas warna putih beramplop biru langit , ada guncangan besar di dadanya, ia tak menyangka ternyata pria yang selama ini ia cintai, ia banggakan dan ia pertahankan mati-matian di depan orang tuanya tega berpaling darinya. Niah, gadis cantik bermata indah, berambut hitam lurus dengan panjang sebahu. Hidungnya mancung berbibir imut wajahnya nyaris tanpa cela. Terpuruk dalam tangis penyesalan, ia masih menatap kertas yang di pegangnya.


"Selain rasa cinta, tak ada yang dapat aku pertahankan darimu" dibacanya berulang-ulang surat bertuliskan tinta merah itu. “sepengecut itu kah dia...? Harus mengirimkan surat untuk memutuskan hubungan yang telah empat tahun kami rajut...? “Bukankah dia bisa menelpon atau menemuiku langsung....?” gerutunya dalam hati.


Ia kembali larut dalam tangis ,teringat olehnya saat dimana ia  membanggakan kekasihnya itu di hadapan teman- temannya, saat di mana dia bertengkar dengan mamanya karena  melihat tagihan kartu kreditnya melonjak untuk membiayai kuliah  dan membelikan semua keperluan kekasihnya itu. Sekarang dengan entengnya dia mengatakan selain rasa cinta tidak ada yang dapat kekasihnya itu pertahankan darinya. “Sebegitu tidak berharganyakah aku di matanya...? Sebegitu hinanyakah aku baginya... ?”. Dia masih terus merancau tak jelas di sela tangisnya, semua barang yang ada di dekatnya jadi sasaran kekecewaannya, haisan-hiasan kamarnya berserakan di lantai akibat ulahnya melempar semua barang- barang yang ada di dekatnya. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya, air matanya menganak sungai di sela jemarinya yang halus membayangkan semua yang telah ia lakukan bersama kekasihnya itu.


 


Dia  telah memberikan segalanya ,termasuk hal yang paling berharga dalam dirinya . Tiba- tiba ia merasa jijik dengan dirinya sendiri. ia lemas tak berdaya ,tubuhnya yang tinggi semampai  seakan goyah, dia berjalan sempoyongan ,tiba-tiba kepalanya pening, matanya berkunang- kunang semua terasa gelap dan ia terjatuh ke lantai tak sadarkan diri.


Mamanya sedari tadi bolak-balik dengan gelisah di depan pintu kamar anak kesayangannya, dia khawatir terjadi sesuatu dengan anak gadisnya karena dari tadi Niah mengurung diri dalam kamar.


“tok..tok..tok....!” ia mencoba mengetuk pintu kamar putrinya, kekhawatirannya semakin bertambah  karena tidak ada sahutan ataupun suara apapun dari dalam kamar seperti sebelumnya. Akhirnya ia memanggil tukang kebunnya untuk mendobrak pintu kamar putrinya itu, dan alangkah terkejutnya saat menyaksikan tubuh putrinya tergeletak di lantai dekat ranjangnya dengan keadaan yang kacau. Kamar berukuran 5x6 meter itu terlihat berantakan, hiasan- hiasan mahal yang biasanya tertata rapi kini tak pada tempatnya. Dia segera meminta pertolongan tukang kebunnya untuk mengangkat tubuh Niah ke ranjangnya.


Niah merasakan tangan lembut membelai kepalanya, ada suara isakan terdengar samar di telinganya, kepalanya masih sakit, perlahan Niah membuka kedua matanya ,sekilas dia melihat tatapan mata mamanya terlihat sayu. 


Ibu Ratih menahan tangis melihat keadaan putrinya. Niah anak semata wayangnya yang sangat beliau manjakan kini terbaring dengan keadaan yang menyedihkan. Niah menatap  wajah mamanya, wajah yang selalu cantik di matanya . Kulit putihnya pasti turunan dari mamanya, diusianya yang menginjak kepala lima tidak mengurangi keanggunan wanita itu. Rambutnya yang ikal menjuntai sampai ke bahu , hidung mancung dan bibirnya yang imut mirip sekali dengan putrinya, mereka seperti kakak adik.


 


" Nia, kamu tidak apa-apa kan nak ? " Ucapan ibu Ratih membuyarakan lamunan Niah.


Niah hanya menggeleng, air matanya kembali mengalir, hatinya kembali tercabik saat mengingat surat yang baru saja di bacanya . Ibu Ratih  kembali mengusap rambut putrinya , perasaannya perih menyaksikan putrinya terlihat kacau, tak sepatah katapunn ia katakan namun kekawatiran tergambar jelas di wajahnya.


 


" Sudahlah nak...lupakan dia , dia tidak pantas untuk kamu tangisi...kamu cantik...kamu anak mama yang paling cantik...akan banyak pemuda yang baik yang akan mencintaimu dengan tulus...." ucap ibu Ratih sambil menyeka air mata putrinya. 


Niah merasakan sesal  yang sangat dalam di hatinya, teringat olehnya pertengkarannya dengan mamanya baru-baru ini ketika mamanya  melihat tagihan kartu kreditnya mencapai 20 juta dalam sebulan itu. mamanya memang tidak pernah setuju hubungannya  dengan Reza. namun ia tak pernah perduli bahkan marahnya meledak saat mamanya mengatakan bahwa Reza hanya memanfaatkannya.


 B

__ADS_1


erat baginya untuk menerima kenyataan pahit ini . Bagaimana mungkin hubungan yang sudah terjalin empat tahun selesai begitu saja bersamaan dengan selesainya kuliahnya bersama  dengan Reza. “Apakah dia benar-benar hanya memanfaatkan ku?”. Dadanya kembali sesak mengingat semua itu , ia kembali menangis tersedu .


Tiba-tiba ia mersakan sakit di perutnya, kepalanya pusing dan penglihatannya kembali gelap.  Ibu Ratih panik menyaksikan keadaan putrinya yang kembali tak sadarkan diri, ia menangis menelpon suaminya menyuruhnya segera pulang.


Pak Adi Pratama seorang pengusaha sukses bergerak di bidang furniture itu langsung tancap gas mendengar putri kesayangannya tak sadarkan diri, dia meninggalkan rapat penting dengan kliennya dan segera pulang. Ia tidak mau terjadi sesuatu pada putri satu-satunya itu yang menjadi tumpuan harapannya. Putri semata wayangnya yang kelak akan mewarisi perusahaannya yang saat ini sedang jaya-jayanya.


Sampai di rumahnya dia segera membawa putrinya ke rumah sakit karena keadaannya tak kunjung membaik. Rumah sakit hanya berjarak dua kilo meter dari rumahnya , dia melajukan Range rover berwarna hitamnya dengan kecepatan tinggi.


Sesampai di rumah sakit Niah segera di rawat dan di cek kesehatannya mama dan papanya menunggu hasilnya dengan cemas. Ibu Ratih dan pak Adi melihat dokter keluar dari ruangan perawatan, dengan wajah cemas pak Adi menanyakan keadaan anaknya “ bagaimana keadaan anak saya dok?” tanyanya setelah dokter itu menghampirinya. “ maaf pak...aku tidak tau apakah ini berita baik atau buruk bagi bapak tapi bagaimanapun aku harus sampaikan... ” dokter itu berhenti sejenak. “memangnya ada apa dengan anak saya dok?’’ Tanya ibu Ratih tak kalah cemasnya. “ anak ibu hamil....!” Sontak ibu Ratih dan Pak Adi terkejut. Ibu Ratih menutup mulutnya yang terbuka karena shock , sementara Wajah Pak Adi merah padam menahan amarah. Ada kekecewaan yang amat dalam yang dirasakan oleh mereka berdua . Niah adalah anaknya satu-satunya , harapan mereka satu-satunya tapi mereka harus menelan pil pahit kekecewaan karena perbuatan anaknya itu.


Pak Adi terduduk di kursi panjang depan ruang perawatan, dia merasakan detak jantungnya berpacu lebih cepat sementara mulutnya tak dapat mengucapkan sepatah katapun, pikirannnya kosong, apa yang harus dia lakukan pada putrinya itu?. Sementara Ibu Ratih hanya bisa tertunduk menangis di samping suaminya.


 


Dalam ruang perawatan Niah mulai sadar ia membuka matanya perlahan , aroma rumah sakit yang sangat dia benci sekarang bersarang di hidungnya. ia sekarang terbaring di bangsal perawatan denga piyamah biru khas rumah sakit. Ia mencoba mencari-cari keberadaan kedua orang tuanya namun tak di jumpainya. Seorang perawat muda mendekatinya dan tersenyum padanya. “ Nona istirahat saja dulu sampai perasaannya enakan”. Niah  mengangguk menanggapi ucapan perawat cantik itu. Perawat dengan postur tubuh langsing berkulit putih bersih dengan pakaian serba putih memeriksa selang infus yang menempel di tangannya, rasanya nyeri saat ia menggerakkannya. Niah tak mengerti sakit apa yang dideritanya sehingga harus di rawat seperti itu, namun ia urungkan niatnya bertanya pada perawat itu.


 


Ibu Ratih dan Pak Adi masuk ke ruang perawatan tempat Niah berbaring. Niah memperhatikan wajah tegang mama dan papanya. Mereka tak menyapa anak kesayangannya itu. Yang ada hanyalah wajah merah menahan amarah serta mata Ibu Ratih yang kelihatan sembab karena terlalu banyak menangis.


 


 


“Pa.. papa kenapa sih” sahut Niah mencoba bermanja , namun papanya sama sekali tak perduli. Pak Adi keluar dari ruang perawatan di susul istrinya dengan marah yang tertahan, ingin rasanya ia melepaskan amarahnya pada putrinya itu tapi ia malu jika orang-orang di rumah sakit tau atas kejadian ini, bagaimanapun ia adalah pengusaha yang banyak di kenal publik, dia tak ingin membuat kekacauan di rumah sakit ini sehingga para wartawan punya berita segar untuk koran besok. Peristiwa ini benar-benar membuat semua harapan dan mimpinya sirna.


Pak Adi dan istrinya pulang ke rumahnya setelah mengurus administrasi rumah sakit, ia memesankan taksi untuk putrinya pulang, hatinya terlalu kecewa untuk sekedar mengantarnya pulang "biarkan dia menanggung sendiri akibat dari perbuatannya" katanya saat istrinya protes ia tidak mau mengantar putrinya sendiri untuk pulang.


Jam dinding menunjukkan pukul empat sore, waktunya untuk pulang, perawat membantu Niah naik ke kursi roda, ia telah mengganti piyamah rumah sakit berwarna biru langit yang seharian diapakainya, air matanya berderai merasa di acuhkan .‘”Nona sudah bisa pulang sekarang, semua urusan administrasi telah diselesaikan, dan papa anda sudah memesankan Taksi untuk pulang” penjelasan perawat itu membuat Niah terperangah, ia terus bertanya dalam hati apa yang sebenarnya terjadi pada ke dua orang tuanya, mengapa mereka bersikap sangat aneh. Jangankan untuk mengantar pulang, menemaninya di rumah sakit saja mereka tidak.


Perawat itu dengan setia menemani Niah bersiap untuk pulang. Sepanjang lorong rumah sakit perawat itu membantunya mendorong kursi rodanya, Niah menangis tersedu meratap merasa di acuhkan oleh  orang tuanya, belum lagi luka hatinya sembuh dintinggalkan Reza , sekarang ke dua orang tuanya sama sekali tidak peduli.

__ADS_1


 


Niah memegang erat tas merah muda miliknya dengan tangan gemetar,sesekali ia menyibak rambutnya yang tergerai menutupi wajahnya karena tertiup angin. Kesedihannya semakin menjadi-jadi, dia hanya bisa menangis di sepanjang lorong rumah sakit .


 


Sampai di lobi rumah sakit taksi sudah siap membawanya pulang. Perawat itu membantunya masuk ke dalam taksi yang akan mengantarnya pulang. Sepanjang jalan pikirannya kacau, sedih dan kecewa yang ia rasakan namun ia berusaha untuk menghentikan tangisnya karena supir taksi itu selalu melirik ke arahnya melaui kaca depan.


 


Depan pagar rumahnya  taksi berhenti, rumah mewah dengan pagar hitam yang tinggi bercorak gold mengelilingi bangunan bercat warna putih besih itu. Rumah berlantai dua berpekarangan sangat luas  itu tampak legang. 


Supir taksi kemudian turun membukakan pintu mobil untuk Niah.


Niah berjalan tertatih memasuki area rumahnya kepalanya masih agak pusing, ia melihat pintu rumah terbuka tapi tak ada wajah mama dan papanya menyambutnya, Niah langsung masuk menuju ruang keluarga yang di hiasi lampu Kristal warna warni menggantung di plafon ruangan itu, namun cahanya agak remang.


Niah merasa aneh dengan situasi itu. Sementara Ibu Ratih dan suaminya duduk di sofa menunggu putrinya itu masuk.


"Plak " sebuah tamparan keras dari ayahnya ayahnya mendarat di pipinya tak lama setelah ia berada di hadapan ayahnya, Niah terkejut,   sementara Ibu Ratih hanya bisa menangis tersedu menyaksikan putri yang sangat di sayanginya di tampar oleh suaminya.


 


"Ada apa pah...? Kenapa papa memukulku!!" sahut Niah tergugu memegangi pipinya yang memerah. Air matanya berderai, untuk pertama kalinya dalam hidupnya papanya  menamparnya.  Tak ada jawaban dari dari laki-laki paruh baya itu , ia benar-benar dikuasai amarah. Belum hilang rasa terkejut Niah tiba-tiba papanya menyeretnya dengan kasar masuk ke kamar mandi.


"Dasar anak tidak tau di untung...! teganya kamu mempermalukan keluarga kita....!" Pak Adi benar- benar tidak bisa menahan emosinya.


 "


Sudah pah…!, sudah!… , kumohon!" teriak ibu Ratih histeris melihat perlakuan suaminya terhadap putri semata wayangnya. Hatinya perih menyaksikan anak yan begitu ia manjakan sekarang harus menerima perlakuan kasar dari papanya sendiri. Namun ia tak berdaya untuk membela, kesalahan Niah begitu besar,dia telah membawa aib bagi keluarga besarnya.


Pak adi tidak memperdulikan teriakan histeris istrinya,  ia seperti orang yang kesetanan,dia mendorong tubuh anaknya masuk kamar mandi kemudian menyiraminya dengan air . Niah hanya bisa berteriak  histeris dan tak mengerti apa yang terjadi, bagiamana mungkin papanya yang selama ini sangat memanjakannya tiba- tiba bersikap sangat kasar.

__ADS_1


 


"Ampun pah!!....ampun!!" Niah berteriak memohon ampunan, namun pak Adi tidak peduli, amarahnya sudah sampai di ubun-ubun dia terus menyirami kepala putrinya itu dengan air dingin. Kemudian melangkah pergi meninggalkannya tanpa memberi penjelasan apa-apa pada putrinya.


__ADS_2