Pelarian

Pelarian
Ketahuan


__ADS_3

Ketahuan


Semula, Kian berpikir, mengecup Nadine mampu menghentikan hasratnya. Namun ternyata hasratnya makin menggebu-gebu. Maka sekali lagi, Kian mempertemukan bibirnya dengan bibir Nadine. Kali kedua ini, Kian tak hanya mengecup, namun menyusuri bibir Nadine. Entah bagaimana, tangan Kian pun mulai menjamah tubuh Nadine. Ia jelajahi punggung Nadine dengan sentuhan lembut. Ya, Kian semakin hanyut.


Kini tangan Kian mulai menyusup masuk dalam tank top Nadine. Ia usap kulit punggung Nadine begitu lembut amat lembut. Puas mengelus punggung, selanjutnya tangan Kian beralih ke perut Nadine. Jemarinya seketika bermain di sana.


Tak lama, tangan Kian mulai menjalari bagian atas perut Nadine. Terus, terus, hingga bertemu dengan sesuatu. Sesuatu yang membuat Kian melepaskan ciumannya. Pantas saja, belahan itu terlihat jelas, karena ternyata dua benda yang membuat belahan itu, ukurannya melebihi telapak tangannya, pikir Kian.


Kian menelan salivanya, berkali-kali. Sengaja, ia melakukan itu, agar kesadarannya pulih, agar ia dapat berpikir, agar ia dapat memutuskan mau lanjut atau stop. Jika berhenti, tentu akan menyakiti dirinya sendiri. Namun jika ia lanjut, sudah pasti akan membuatnya bahagia, karena bisa memiliki Nadine seutuhnya.


Lagi, Kian menelan salivanya. Ini adalah yang terakhir. Karena selanjutnya Kian beranjak ke kamar mandi. Ia akan mandi air hangat saja untuk menekan hasratnya.


Ya, Kian memilih untuk berhenti. Ia tak sanggup membayangkan risiko yang akan ia terima jika Kian mengajak Nadine melakukan hubungan suami istri tanpa mematuhi kesepakatan yang sudah mereka buat berdua.


Kian juga tak berani menanggung risiko Nadine akan semakin menganggap bahwa ia benar-benar laki-laki ********. Padahal belakangan ini, Nadine sudah mulai bersikap hangat padanya. Kian tidak ingin itu semua terjadi.


Kian menuang air panas ke dalam ember besar yang ada di kamar mandi. Ia nyalakan kran lalu ia cek kondisi air. Saat terasa hangat, kian mematikan kran air. Guyuran air hangat dini hari, berhasil meluruhkan gairah Kian.


Selesai mandi, Kian balik ke kamar namun tak hendak tidur di samping Nadine. Kian memilih tidur di bawah beralaskan sajadah. Kian takut kembali tergoda melihat kemolekan tubuh Nadine.


**


Pagi hari, setelah sarapan, Kian membersihkan sekalian memanasi mesin mobil Ayah. Selain bentuk baktinya kepada mertua, ia ingin mengambil hati mertuanya juga. Ya meskipun ayah sudah suka dengan Kian sejak sebelum menikahi Nadine, namun Kian merasa tetap harus berbuat baik pada mertua sampai hayat tidak dikandung badan.


Setelah mengucapkan terima kasih pada Kian, ayah lalu melajukan mobilnya. Selang beberapa menit, Dika yang pamit berangkat sekolah pada Kian. Tinggallah Kian laki-laki satu satunya di rumah mertuanya. Seraya menunggu Nadine selesai membantu Ibu, Kian mempersiapkan kendaraannya sendiri.


Sementara itu, Nadine sudah selesai membantu ibu. Namun Nadine belum mau pulang ke rumah. Karena Nadine ingin tahu apa yang ingin dikatakan ibu padanya. Sebelum sarapan tadi, Ibu mengatakan ada sesuatu yang mau beliau tanyakan penting dan bersifat rahasia.


"Nad, sebelumnya maaf ya, ibu tanya gini sama sekali nggak ada maksud ibu untuk mencampuri rumah tangga kamu. Tapi ibu cuma ingin sekedar berbagi pengalaman ibu selama menjalin rumah tangga dengan ayahmu"

__ADS_1


"Serius, nih, kayaknya" kata Nadine. Ia mengambil posisi duduk di dekat ibu dan menyerahkan kopi hitam yang ia buat untuk Ibu.


"Serius lah, ini juga menyangkut masa depan rumah tangga kamu dan Kian" ujar Ibu. Ia menyeruput kopi hitam yang ada di depannya.


"Tadi malam, waktu ibu mau ke kamar mandi, nggak sengaja lihat suami kamu keluar dari kamar mandi sambil bawa panci..."


"Lah, ngapain bawa panci segala ke kamar mandi?" Pungkas Nadine.


"Dengerin ibu dulu!" Perintah ibunya. Nadine mengangguk.


"Bisa jadi panci itu berisi air panas. Lalu air panasnya Kian gunakan untuk mandi. Ya, tho?" Nadine kembali mengangguk menanggapi.


"Ibu yakin, suamimu itu abis mandi, karena rambutnya basah, kaos yang dikenakannya juga nampak bercak-bercak basah" Ibu menjeda.


"Ibu pikir, ah mungkin kalian abis ibadah, jadi Kian mandi besar malam-malam" ibu mengatakan rangkaian analisisnya.


"Sampai sini kamu sudah pahamkan ke arah mana pembicaraan kita ini?" Tanya Ibu. Nadine menggeleng. Ibu menepuk dahinya.


"Ya ampun, ternyata, kamu sepolos ini?" Kata ibu. Nadine mengernyitkan alisnya. Ia benar-benar belum paham arah pembicaraan ibunya ini.


"Kian tadi malam mandi pakai keramas, dan kamu pagi ini mandi tapi nggak keramas. Jadi tidak terjadi apa-apa dengan kalian tadi malam. Lalu, karena suamimu itu, mungkin beneran mandi pakai air hangat tadi malam, berarti dia tengah menekan hasratnya"


"Dih, ibu"


"Loh iya, bener itu, coba deh kamu baca-baca"


"Ibu pernah baca, katanya, salah satu cara untuk menekan hasrat bercinta adalah dengan mandi air hangat" ibu kembali menyeruput kopinya.


"Ibu cuma ingin mengingatkan kamu, jangan lama-lama membiarkan suamimu seperti itu. Cobalah buka hatimu untuknya lalu segeralah penuhi kewajibanmu sebagai seorang istri. Meskipun Kian tidak meminta, tapi bersegeralah. Kasihan suamimu, Nad" Ibu menatap Nadine lekat. Nadine tertunduk.

__ADS_1


"Trus katanya sakit lho, Nad, menekan-nekan hasrat gitu dan bahaya juga buat kesehatan jiwa maupun raga" ibu mulai menambahi bumbu penyedap diucapannya. Berharap, pikiran dan hati Nadine terbuka.


"Kalau nggak percaya, kamu bisa cari tahu sendiri soal benar atau tidaknya apa yang ibu katakan tadi"


Ibu ingat betul, Nadine menikah karena terpaksa. Ditambah lagi laki-laki yang menjadi suaminya adalah bukan orang yang Nadine suka. Jadi, dengan 2 hal dasar ini, bagi Ibu, bisa menjadi pemicu perpisahan diantara mereka. Ibu tidak menginginkan hal itu terjadi. Oleh sebab itu, selain dengan do'a, ibu akan mengikhtiari pernikahan Nadine dan Kian agar langgeng, semampunya dan sebatas posisinya sebagai orangtua.


Nadine terdiam. Ia mencoba mencerna apa yang diucapkan ibunya. Benarkah begitu?


***


Hai, Readers.


Makasih banyak sudah berkunjung ke sini. Mohon bantuan like, komen, dan rate-nya yak. Kalau berkenan, nge-vote juga boleh, senang sekali.


Buat Authors,


makasih juga kunjungannya yak.


please, tinggalkan jejak agar aku bisa mengunjungimu kembali.


salam terlove,


dari aku.


😊


Nb:


Penelitian menunjukkan bahwa meningkatkan suhu testis dengan kegiatan yang menghasilkan panas di sekitar skrotum — seperti berendam air panas, memakai celana dalam/pakaian ketat, sauna, atau bersepeda — dapat menyebabkan penurunan kualitas dan jumlah produksi ******, bahkan mortilitas. Hal ini dapat mengurangi kesuburan pria. Sumber hallosehat(dot)com.

__ADS_1


__ADS_2