Pelarian

Pelarian
Bertemu Anita


__ADS_3

 


Niah menangis histeris menyaksikan tubuh Reza yang berlumuran darah, ia panik berteriak-teriak minta tolong sambil mengangkat kepala Reza yang penuh darah dan luka sekitaran wajahnya.


“Tolong, telepon ambulans …dia harus di bawa ke rumah sakit.” Teriakan Niah membuat orang disekitanya segera menelpon ambulans. Niah bersimpuh memeluk kepala Reza yang berlumuran darah, tangannya gemetar menyaksikan wajah Reza yang hampir tak dapat dikenali karena tertutup oleh lumuran darah segar yang terus mengalir dari lukanya. Ia merasakan genggaman tangan reza mengendur dari pegangannya, tubuhnya lunglai tak berdaya sepertinya banyak anggota tubuhnya yang mengalami patah tulang.


Tak berapa lama ambulans segera datang, Reza sudah tak sadarkan diri tak terdengar lagi erangan kesakitan seperti yang Niah saksikan saat pertama kali memeluk kepalanya. Niah ikut masuk dalam ambulans yang membawa Reza, mulutnya komat –kamit berdoa untuk keselamatn Reza, untuk pertama kalinya Niah menyebut nama agung itu “Allahu akbar” ucapnya dengan bibir bergetar.


Sampai di ruang UGD Reza segera ditangani, sementara Niah menunggu di luar dalam keadaan cemas dan bingung, entah apa yang harus dilakukannnya tak ada sepeser uang pun yang dia punya, bagaimana ia bisa membayar tagihan rumah sakit untuk Reza?. Niah merenung memikirkan cara untuk itu , dari jauh enam pasang mata terus mengawasinya tanpa ia sadari.


Hampir dua jam Niah menunggu dengan perasaan cemas campur bingung, seorang dokter pria menghampirinya, Niah ingat dokter itu yang merawat anaknya Bintang  sebelum meninggal.


“Mba, yang sabar yah…nyawa suami mba tak bisa tertolong , tulang rusuk kirinya  patah dan patahnnya bengkok menembus paru-parunya, kami sudah berusaha dengan maksimal” . sejenak Niah terdiam mendengar penjelasan dokter berwajah oriental itu. Ada gemuruh di dadanya hendak menabrak dinding pertahanan tubuhnya, rasanya baru saja ia punya harapan untuk bebas dari derita namun kembali ia mengalami sakit yang luar biasa, Ia tidak bergeming dari posisinya hingga dokter itu menegurnya, “Mba…anda tidak apa-apa?” ucap dokter itu sedikit mengerutkan dahinya melihat wajah Niah yang memucat.


“Eh, nggak kok dok, terimakasih”. Dokter muda itupun berlalu dari hadapan Niah yang masih berdiri kaku tak bereaksi. Dadanya sesak nyaris tak mampu bernafas, ingin rasanya ia mengakhiri hidupnya agar penderitaanya segera berakhir hingga seseorang menghampirinya tanpa ia sadari. “Niah…!”, pekik wanita cantik berhijab menatapnya dengan ragu.

__ADS_1


“Anita…”! , teriak Niah setelah menyadari kehadiran wanita cantik itu. Mereka berpelukan lama seakan ada rindu menggunung kemudian luruh dalam satu pertemuan.


“Ya allah Niah…siapa yang sakit? Tanya Anita agak heran melihat penampilan Niah yang jauh dari kebiasaannya, wajahnya juga kusut, matanya sembab  karena menangis terus menerus, dan lebih mengherankan lagi ,tangan dan baju Niah masih  penuh dengan bercak darah bekas luka Reza. Niah tidak menjawab, Ia hanya tertunduk lemas dan menangis sesunggukan tak ada yang mampu ia ceritakan sekarang, isi kepalanya seakan blank dan kosong.


Perlahan  Anita mengelus pundak Niah yang tertunduk menangis sambil mempermainkan kaki telanjangnya. Ada rasa penasaran yang memenuhi pikirannya melihat keadaan sahabatnya saat di bangku SMA itu. Dia bukan lagi Niah yan dikenalnya dulu, yang selalu berpenampilan tomboy dan santai . Niah yang dikenalnya dulu adalah anak pengusaha furniture yang cukup terkenal di negeri ini , anak yang selalu dimanjakan oleh ke dua orang tuanya.


Tapi sekarang keadaannya kacau , rambutnya kusut dengan makeup tebal yang sudah cemong kemana-mana, bajunya sempit memperlihatkan semua lekuk tubuhnya , dressnya biru langit pendek sebatas paha yang bertolak belakang dengan gaya busananya dulu. Anita membiarkan Niah larut dalam tangisnya , ia memeluk sahabatnya itu dengan mata berkaca, membiarkannya melepaskan semua perasaannya.


“Sebenarnya apa yang terjadi Niah?” , Tanya Anita setelah agak lama larut dalam diam menyaksikan keadaan sahabatnya itu.


“ kamu jangan khawatir Niah, bukankan ada aku sahabatmu? Kita sudah seperti saudara kan? , sejak pulang dari jerman aku mencarimu ke ruamahmu tapi kata ibumu kamu pergi dari rumah, ternyata kita bertemu di tempat ini” ucap Anita sambil membelai rambut sahabatnya yang telah basah oleh keringat dan air mata.


“Sudahlah, kita pulang ke rumahku dulu yah? , tadinya aku ke sini mau bertemu kakakku tapi katanya ada jadwal operasi darurat ,  nyatanya kita bertemu di sini” sambung Niah.


“Bagaimana dengan jenazah temanku? Dia tadi kecelakaan dan aku tidak memiliki nomer keluarganya” ucap Niah sedih. “aku akan menelpon pihak kakakku untuk mmenghubungi pihak rumah sakit agar jenazahnya dapat di urus dan di laporkan ke kepolisian untuk mencari keluarganya, kamu tenang yah” ucap Anita mencoba menenangkan sahabatnya itu.

__ADS_1


“Nit…aku minta nomer ponselmu yah…kalau-kalau ada perlu aku menghubungimu” ucap Niah tiba-tiba.


“hahaha…tentu saja, tapi bukankah kita akan kerumahku dulu?” Tanya Anita heran melihat tingkah sahabatnya itu. Niah tidak menjawab, ia mengeluarkan ponsel bututnya yang tak memiliki kamera. Ia segera menyimpan nomer Anita.


“Nit…hanya kamu yang kupunya saat ini, aku tidak tau bagaimana hidupku jika kita tidak bertemu di sini” ucap Niah kembali memeluk tubuh Anita.


“Sudahlah …sekarang kita pulang yah….!” Sahut Anita.


“Tapi aku harus ke toilet dulu…aku risih…lihat pakaian dan tanganku, masih penuh dengan noda darah” kata Niah sambil menunjuk tangan dan bajunya.


“Oke…aku tunggu di sini yah” jawab Anita.


Niah beranjak meninggalkan Anita menuju toilet , ia tidak sadar di salah satu sudut rumah sakit tiga orang pemuda terus mengawasinya dan bersiap menangkapnya.


Niah berusaha meronta melepasakan diri dari cengkraman tiga pemuda itu, hingga mengundang perhatian beberapa orang, Niah segera berlari saat cengkraman mereka melemah akibat di dekati oleh oramg-orang itu, Niah berlari sepanjang koridor rumah sakit ,karena panik ia tak menemukan Anita yang sejak tagi menunggunya di depan ruang UGD.

__ADS_1


Niah akhirnya berlari keluar rumah sakit, ketiga pemuda itu terus mengikutinya, mereka tak langsung menangkap Niah karena takut menimbulkan kecurigaan dari orang-orang sekitar rumah sakit.


__ADS_2