Pelarian

Pelarian
Lelah


__ADS_3

Lelah


Nadine pulang kekosannya. Ia lalu membuka kado dari Kian yang diberikan lewat perantara Heru.


Ia mulai membuka perlahan bungkus kado berwarna merah muda itu. Penuh dengan kehati-hatian. Begitu bungkus kado sudah terbuka sempurna, Nadine melihat sebuah kotak kecil. Ia membuka kotak tersebut lalu terpampang lah sebuah jam tangan dengan desain yang begitu unik juga cantik. Ah Kian selalu tahu seleranya, pikir Nadine.


Nadine mengenakan jam tangan tersebut di tangan kanannya. Sungguh nampak begitu serasi dengan warna kulitnya. Nadine menyukai jam tangan tersebut. Ia berjanji akan menjaga jam tangan tersebut sebaik mungkin dengan cara mengembalikan jam tangan tersebut ke posisinya semula. Ya, Nadine memutuskan untuk menyimpan jam tangan tersebut.


Setelah menyimpan jam tangan pemberian Kian dengan baik. Nadine merebahkan tubuhnya di atas ranjang kecil di kamar kosnya. Akhir-akhir ini ia merasa mudah lelah. Nadine berpikir mungkin karena apa yang ia alami, perpisahannya dengan Kian yang memporak-porandakan hati, tak hanya membuatnya lelah secara psikis, melainkan juga lelah fisik.


Nadine memejamkan matanya. Seiring dengan itu, air mata mengaliri kedua pipinya. Ya, Nadine menangis entah untuk yang keberapa kalinya.


***


Keesokan harinya, Nadine menagih janji Riani yang mengatakan akan mengembalikan surat perceraiannya yang dibawa Riani. Entah untuk apa, Nadine sendiri malas menaruh curiga.


Ia teringat dengan quote dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Katanya, menjadi lebih tenang saat tidak mengurusi yang bukan urusannya.


Ya, sejak urusannya dengan Riani selesai yang berarti masa depan Kian sudah selamat, Nadine memutuskan untuk menghadirkan tenang dalam hidupnya. Ia tak ingin terjebak masalah yang membuatnya merasakan sakit hati teramat parah. Ia berharap dengan melakukan ini juga, ia bisa move on dari Kian.


Nadine membuang jauh harapannya yang ingin bersama Kian setelah mendengar ucapan Riani. Sebelum mendengar peringatan dari Riani, memang Nadine sempat menaruh harap ingin mereka panjang jodoh alias bersatu kembali, jika tidak dalam waktu dekat, mungkin di waktu yang lain. Ia benar benar ingin tenang.


Nadine gagal menghubungi Riani. Nomor telfon yang biasanya Riani gunakan untuk meneror Nadine pun tidak aktif. Nadine menaruh keyakinan, Riani sudah memusnahkan nomor yang ia pakai untuk bertindak kriminal.


Tak menyerah, Nadine menghubungi Heru. Ia tahu Heru juga teman Riani. Maka Nadine pun akhirnya mendapatkan nomor Riani.

__ADS_1


Ia menghubungi Riani untuk menagih janjinya. Namun, rupanya, Riani memundurkan hari pengembalian surat cerainya dengan Kian. Ia berjanji lagi, akan mengembalikannya setelah urusannya selesai. Entah urusan apa? Nadine lagi-lagi memilih tak ambil pusing.


"Baiklah, gue beri waktu 3 hari lagi" kata Nadine di sambungan telfonnya dengan Riani. Riani setuju. Mereka pun mengakhiri perbincangan.


Jadwal aktivitas hari ini amat padat. Dari pagi hingga malam, Nadine akan menghabiskan waktu di luar rumah. Ia membayangkan pasti akan melelahkan. Tapi, bagi Nadine, mending lelah badan daripada lelah hati.


Nadine memulai aktivitasnya dengan mendatangi beberapa kliennya. Siang harinya, ia pergi menyambangi komunitas sosialnya. Ia merindukan ekspresi ekspresi menyenangkan para anak jalanan yang diajak bermain atau belajar bersama para relawan komunitas sosial. Bagi Nadine, melihat anak-anak jalanan tersebut, memaksanya untuk berhenti mengeluh, lalu memperbanyak syukur. Bahwa apa yang ia alami tak lebih mudah dari apa yang dialami para anak jalanan. Namun, meskipun mereka diterpa kesulitan terutama kesulitan ekonomi, mereka tetap ceria.


Di sana, Nadine bertemu dengan sahabatnya Windi. Mereka berbincang, mengobrol ngalor ngidul. Karena merasa belum puas berbincang, Windi mengajak Nadine datang ke kosnya.


Mengenai Nadine yang sudah bercerai dengan Kian, Windi baru saja mengetahuinya dari mulut Nadine sendiri. Nadine mengatakan perceraian mereka karena ketidakcocokan.


Tapi, bukan Windi namanya kalau tidak ingin mengetahui secara detail perpisahan mereka. Karena Windi merasa aneh. Tidak mungkin rasanya jika Kian menyetujui perpisahan mereka mengingat laki-laki itu mencintai Nadine sejak lama. Windi ingin tahu sebenarnya apa yang terjadi.


Oleh sebab itu, ia menawarkan Nadine datang ke kosannya, kali aja ia bisa sedikit mengorek informasi lebih dalam akurat, terpercaya, dan tajam setajam silet. Namun, tentu saja ia tak mengatakan niatnya tersebut pada Nadine. Karena apa? Bisa kabur tuh Nadine. Jadi Windi beralasan ingin mengajaknya nonton drama Korea agar Nadine terhibur.


Mereka akhirnya tiba di kos Windi. Mereka pun melanjutkan perbincangan yang sempat terpotong. Windi menceritakan kisah cintanya yang kembali kandas. Nadine serius mendengarkan cerita sahabatnya itu. Namun, di tengah cerita, tiba-tiba Nadine merasakan pusing yang hebat dan dalam hitungan detik pandangannya menggelap. Nadine pingsan.


Melihat Nadine pingsan sontak membuat Windi terkejut. Ia pun mencoba menyadarkan Nadine.


Ia perbaiki posisi Nadine. Ia telentangkan lalu meninggikan posisi kaki Nadine sekitar 30 cm dengan cara mengganjalnya dengan bantal. Kemudian Windi melonggarkan pakaian Nadine. Selama melakukan aksi tersebut, Windi tak henti memanggil-manggil nama Nadine sembari menepuk-nepuk area pipi atau bahu Nadine. Namun karena Nadine belum juga merespon akhirnya Windi mengambil minyak kayu putih. Ia sentuhkan sedikit minyak kayu putih di hidung Nadine. Dan berhasil, Nadine akhirnya sadar dari pingsannya.


"Win..gue...gue kenapa?" Tanya Nadine yang merasa aneh dengan posisinya. Seingatnya ia tadi duduk di kamar Windi sambil mendengarkan cerita gadis itu. Nadine lalu mencoba bangun dari posisi tidurnya. Namun, dilarang oleh Windi.


"Tunggu dulu, jangan buru-buru bangun, tunggu sebentar barang 10 menit saja" pinta Windi. Dan Nadine mengangguk.

__ADS_1


"Gue bikin teh manis dulu, ingat jangan buru-buru bangun" kata Windi, Nadine mengangguk.


Tak lama, Windi datang dengan membawa teh manis nan hangat. Nadine pun diizinkan untuk mengambil posisi duduk. Kemudian ia meminum teh buatan Windi.


"Ke dokter yuk, gue anterin" ajak Windi.


"Ayo, deh, gue juga ngerasa belakangan ini badan gue nggak enak, gampang lelah" Nadine mau.


"Oke, motor Lo titipin di sini aja, gue pesan taksi online dulu."


Diperjalanan menuju klinik dokter langganan Windi, Nadine masih nampak lemas. Kepalanya masih terasa pusing. Bahkan untuk berjalan ke ruang periksa pun Nadine dipapah Windi.


Tadi, sebelum berangkat ke klinik, Nadine menghubungi ibunya. Windi sempat protes, karena baginya ia harus menghubungi Kian juga. Namun, bagi Nadine mereka sudah tidak memiliki hubungan apa-apa jadi tak perlu menghubungi Kian. Windi pun pasrah mengiyakan.


Selang beberapa menit kedatangan Nadine dan Windi di klinik, ibu Nadine dengan ekspresi khawatir menghampiri anaknya yang masih antri periksa. Ibu juga merasa ada yang aneh karena ia tidak melihat kehadiran Kian di sana.


"Kian mana?" Tanya Ibu.


"Nadine pingsan di kos Windi, Bu, jadi ya sama Windi ke sini"


"Bukan begitu mak.." ibu urung melanjutkan kalimatnya karena tiba saatnya Nadine diperiksa.


Hasil pemeriksaan fisik seperti tekanan darah dan nadi didapatkan hasil yang kurang normal. Sehingga Nadine disarankan oleh dokter untuk menginap di klinik selama 24 jam saja. Untuk memantau kondisi tubuh Nadine dan menunggu hasil tes darah.


Nadine mengikuti saran dokter karena memang ia merasa tubuhnya sedang tidak baik-baik saja. Sementara itu, Windi juga Ibu masih setia menunggui Nadine yang kemudian terlelap nyenyak di ranjang pasien.

__ADS_1


Menjelang 24 jam, Nadine merasa kondisinya mulai membaik. Ia sudah tidak merasa lemas lagi. Hasil pemeriksaan fisik ulang juga sudah normal.


"Jaga kesehatan ya, Bu, untuk sementara ini jangan capek-capek. Ini sudah saya resepkan penambah darah dan suplemen makanan untuk ibu hamil" kata Dokter.


__ADS_2