Pelarian

Pelarian
Rindu


__ADS_3

Rindu


Sejak Nadine angkat kaki dari rumah, Kian jarang sekali berada di sana. Ia lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah, seperti di kampus, di kantor organisasi, dan di jalanan. Karena jika pulang, hampa akan merajai perasaannya.


Bagaimana tidak merasa hampa? Setiap hari, ia bersama Nadine. Tawanya, juteknya, diamnya, bawelnya, melekat di setiap sudut rumah. Jadi daripada berkalung sedih karena ditinggal istri, Kian memilih menghabiskan waktu sehari-hari di luar rumah.


Salah satunya, sebelum surat cerainya dan Nadine diserahkan Heru pada Nadine. Saat itu, berhari-hari Kian berada di luar rumah hanya untuk mencari 2 alat yang sangat kecil untuk merekam dan mengetahui posisi seseorang alias GPS. Pencariannya dimulai di pusat elektronik, hingga temannya yang bekerja di BIN.


Setelah berhari-hari mencari akhirnya Kian berhasil mendapatkan 2 alat sesuai dengan keinginannya. Untuk alat perekam, Kian menggunakan Spy Cam dengan ukuran sebesar kancing baju bayi baru lahir dan amat tipis. Demikian juga dengan GPS, Kian juga mendapatkan ukuran yang kecil. 2 alat tersebut bukanlah barang yang murah. Namun, tak masalah bagi Kian asalkan tujuannya tercapai.


Satu GPS ia letakkan di dalam jam tangan yang akan ia berikan sebagai hadiah untuk Nadine. Soal peletakan GPS ini ia serahkan pengerjaannya pada sang ahli jam tangan. Kian sengaja memasang GPS pada jam tangan yang akan ia berikan pada Nadine untuk mendeteksi keberadaan wanita itu. Ia kesulitan mencari keberadaan Nadine. Nadine memang pandai menyembunyikan Diri.


Kian sempat mengikuti Nadine untuk mengetahui tempat tinggal wanita itu setelah angkat kaki dari rumah. Namun, sayangnya, Kian kehilangan jejaknya sebab mengikuti orang yang ternyata juga membututi Nadine.


Kemudian satu GPS lagi ia masukkan ke dalam bagian Map yang berbahan kulit sintetis. Ia juga memasukkan alat Spy Cam ke dalam Map tersebut.


Kian melepas logo Map lalu membuat sedikit robekan. Ia memasukkan GPS juga Spy Cam. Setelah itu, Kian menutup robekan tersebut dengan logo Map yang ia lepas sebelumnya. Map ini nantinya akan menjadi wadah surat cerainya.


Sehari sebelum Heru memberikan surat cerai tersebut pada Nadine, benda-benda yang sudah berisi dua alat tersebut, sudah siap digunakan. Kian senang sekali. Ia optimis, rencananya membongkar kejahatan Riani akan berhasil.


Iya, Kian memang tengah mengumpulkan bukti kejahatan yang dilakukan Riani. Ia sudah memiliki 2 bukti namun baginya itu belum cukup. Untuk 'melumpuhkan' Riani, Kian memerlukan beberapa bukti.


Kian lalu memberikan benda-benda tersebut pada Heru. Tugas Heru menyerahkan pada Nadine.


Sebenarnya, Kian berniat ingin memberikan sendiri benda-benda tersebut pada Nadine. Namun, Nadine seakan menutup semua lini komunikasi dengannya


Kalau boleh jujur, tingkah Nadine yang seperti itu, yang benar-benar menunjukkan keinginan menjauh darinya membuat Kian takut kehilangan Nadine. Tingkah Nadine seakan-akan menunjukkan ia tengah berusaha untuk move on darinya. Kian tidak ingin hal itu terjadi. Oleh sebab itu, ia akan bergegas bekerja keras membongkar kejahatan Riani yang sudah berhasil memporak-porandakan pernikahannya dengan Nadine.

__ADS_1


"Nih, gue minta tolong banget ke elo, serahkan benda-benda ini pada Nadine"


"Elo serahkan sendiri, kan bisa" Heru menolak.


"Masalahnya, Nadine yang nggak mau ketemu gue" kata Kian. Ia meraup wajahnya.


"Wah dia benar-benar berniat menjauh dari elo" Heru berniat menggoda Kian. Dan berhasil Heru mendapati ekspresi wajah Kian seketika sendu.


"Please, bantu gue" kata Kian lagi.


"Oke, gue bantu elo" Heru setuju.


Awalnya, Heru sempat senang melihat perlakuan Nadine pada Kian. Namun, saat Heru melihat ekspresi Kian yang nampak amat kehilangan, Heru menjadi iba.


"Sama satu lagi, gue butuh bantuan elo, untuk melakukan ini, elo gue bayar" ucap Kian. Ia tahu betul, Heru butuh uang untuk menstabilkan ekonominya yang hancur setelah berpisah dengan Ria.


"Gue tahu elo butuh uang, kalau elo berhasil melakukan apa yang gue rencanakan, gue anggap lunas hutang elo 20 jutaan ke gue. Kalau masih kurang, elo bisa nambah lagi asal masuk akal" ucap Kian.


"Beneran?" Heru memastikan. Ia sumringah mendengar ucapan Kian.


"Iya"


"Duit elo koq banyak, sih? Elo ngepet, ya" selidik Heru. Ia heran, uang Kian begitu banyak, padahal pekerjaan yang dilakukan sama seperti dirinya.


"Iya, ngepet di usaha laundry gue yang sudah punya cabang banyak. Gue dapet duit dari situ" jelas Kian. Heru menganggukkan kepalanya. Baru kali ini, Heru tahu bahwa Kian punya usaha sampingan.


"Kita obrolin rencana gue malam ini juga, karena besok jadwa elo ketemu Nadine, bukan?" Tanya Kian. Heru mengangguk lagi.

__ADS_1


Setelah itu, Kian mengatakan jobdesk Heru untuk membantunya membongkar kejahatan Riani.


Pagi tiba, Kian hendak pulang ke rumahnya barang sejenak. Namun, saat hendak pulang, ia bertemu dengan Nadine, wanita yang amat ia rindukan. Rindu setengah mati.


Kian ingin sekali menghambur dan memeluk Nadine se-erat mungkin agar ia tidak terlepas lagi. Nyatanya, keinginannya itu hanya seperti angin.


Ini ia lakukan demi membuat citra bahwa ia dan Nadine benar-benar berpisah. Lalu orang yang mengikuti Nadine akan menghubungi orang yang menyuruhnya dan mengatakan bawa ia benar-benar bercerai.


Kian menguji alat tersebut di dalam mobilnya yang ia parkir cukup jauh dari rumah Kian. Ya, setelah bertemu Nadine, Kian melajukan mobilnya lalu parkir di tempat yang tidak terlihat oleh Nadine dan tidak jauh dari rumah Heru. Hari ini, Kian berencana mengikuti Nadine bertemu dengan Riani.


Ia senang, alatnya berfungsi dengan baik. Saking baiknya ia bisa mendengar jelas Heru yang mengatakan ingin menjalin hubungan lagi dengan Nadine.


"Semprul tu orang" kata Kian. Kian tahu Heru masih menyukai Nadine. Namun ia tak menyangka bahwa Heru akan sefrontal itu mengungkapkan keinginannya.


Kian melajukan mobilnya perlahan dan mengikuti motor Nadine hingga sampai pada lokasi pertemuannya dengan Riani.


Pertemuan Nadine dan Riani tak lama. Namun, Kian sempat gusar saat melihat wajah Nadine yang menunjukkan raut penuh kesedihan. Lagi-lagi, ia ingin mendekap wanita yang amat ia cintai itu dan mengecup pucuk kepala Nadine, sambil berucap, " Tenang, Mas di sini, kamu nggak perlu bersedih hati"


Setelah Nadine meninggalkan lokasi, Kian berfokus pada Riani yang juga meninggalkan lokasi pertemuannya dengan Nadine beberapa menit setelah Nadine pergi. Riani nampak tergesa-gesa. Ia berkali-kali menelfon sebelum akhirnya masuk ke dalam mobilnya sendiri. Kian mengikuti Riani.


Riani masih melajukan mobilnya padahal sudah masuk ke kabupaten baru. Ia penasaran mau pergi kemana Riani. Mengingat arah yang ia tuju bukan rumahnya ataupun kantor partai yang diikutinya.


Cukup lama dan bahkan masuk ke daerah yang masih minim penduduk, akhirnya Riani berhenti di sebuah rumah makan.


Riani memarkir mobilnya. Ia bergegas. Ia juga nampak celingukan seperti tengah mencari seseorang. Dan benar saja, Kian melihat Riani bertemu dengan seseorang yang juga ia kenal.


***

__ADS_1


__ADS_2