
75
Pulang
Nadine memperlambat laju motornya saat mulai memasuki gerbang perumahan lokasi rumahnya dan Kian. Sengaja, karena ia ingin menenangkan jantungnya yang berdetak kencang tak karuan.
Layaknya sedang kasmaran, rasanya Nadine senang hendak bertemu Kian. Senyum sumringah terpancar di wajahnya. Ia rindu, rindu sekali pada suaminya itu.
Iya, Nadine memang sudah menaruh rasa cinta pada Kian di hatinya. Nadine semakin sadar akan rasanya itu saat ia mendapati Kian bersama Riani. Sakit, bukan kepalang. Seandainya Nadine tak memiliki rasa, tentu ia tidak akan merasa sesakit itu saat melihat Kian dan Riani dalam posisi tidur bersama.
Nadine sempat berusaha menghilangkan rasa cintanya pada Kian saat itu. Karena ia merasa dikhianati. Namun, memusnahkan rasa cintanya pada Kian tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Usaha itu tak berlangsung lama. Nadine memutuskan untuk berhenti berusaha menghentikan cintanya pada Kian setelah ia bertemu dengan Riani. Saat itu juga, Nadine membenarkan perkataan Kian bahwa ia tidak berkhianat melainkan ia dijebak oleh Riani.
Akhirnya, Nadine hampir tiba di rumah. Dari jauh ia sudah melihat suaminya berdiri di depan rumah mereka. Lalu, begitu sudah dekat, Nadine menghentikan laju motornya. Ia parkir di pinggir lalu berjalan menghampiri Kian. Kian, berjalan cepat kemudian memeluk tubuh Nadine erat.
"Honey..." Kata Kian di telinga Nadine. Kian menempelkan wajahnya di leher Nadine sembari mengecupi leher Nadine yang mulus.
"Masuk dulu, Mas, nggak enak dilihat orang"
"Biarin, kan kita suami istri." Respon Kian.
"Ya udah, kamu di sini, aku masuk" Nadine melepaskan pelukan Kian. Ia beranjak masuk meninggalkan suaminya itu.
Kian gemas melihat tingkah istrinya itu. Jutek jutek bikin rindu. Kian pun memarkir motor Nadine di garasi rumah mereka. Bersanding dengan mobil Kian seperti biasa waktu belum terjadi apa-apa.
__ADS_1
Tiba di dalam, Kian kembali merangsek Nadine. Ia memeluk istrinya itu dengan erat. Ia ciumi leher dan telinga Nadine. Nadine yang kegelian mendorong-dorong tubuh Kian. Ia berusaha melepaskan diri dari serangan dadakan Kian.
"Mas, ada yang mau aku omongin, berhenti dulu"
"Nggak mau, mas mau begini saja, jangan bicara apa-apa" pinta Kian. Ia tahu apa yang akan dibicarakan Nadine.
Namun, dasar Nadine keras kepala, ia tetap berusaha melepaskan diri dari Kian dan berhasil. Saat sudah terlepas, Nadine menuntun Kian untuk duduk di ruang tamu.
"Kamu apa kabar, Mas?"
"Kabar Mas sedang tidak baik-baik saja, Sayang, Mas kangen kamu, kangen banget. Kamu kemana aja? Mas hubungi hp kamu nggak aktif terus"
"Aku? Di rumah Mama" jawab Nadine tersenyum manis.
"Tau gitu aku samperin ke sana, nggak terpikir kamu di sana, Mas pikir kamu menghilang."
"Maksud kamu?"
"Aku mau kita pisah, Mas, dan aku mau kamu menandatangi surat perceraian kita nanti"
"Mas pikir kamu pulang karena sudah memaafkan Mas, tapi kamu ternyata masih marah, malah minta pisah" respon Kian. Ia berpura-pura tidak tahu bahwa Nadine sudah tahu ia dijebak Riani. Kian sendiri sudah tahu alasan sebenarnya Nadine ingin pisah darinya.
"Nggak mau, Mas nggak mau kita pisah, Mas sudah punya bukti bahwa mas tidak melakukan apa apa dengan Riani. Mas benar-benar dijebak" kata Kian.
"Aku sudah terlanjur kecewa sama kamu, Mas, dan rasanya sakit sekali" Nadine berbohong.
__ADS_1
"Setiap kali melihat kamu, aku ingat pengkhianatan kamu" lanjutnya.
"Tunggu, Mas tunjukkan buktinya ke kamu, sebentar" Kian beranjak ke kamar. Ia mengambil alat perekam yang berisi pernyataan ketua panitia acara. Ya, setelah Kian tahu alat perekamnya mati. Ia bergegas mencharger alat itu. Setelah alat itu penuh terisi baterai, Kian kembali ke rumah ketua panitia acara untuk meminta keterangannya kembali. Bersyukur, ketua panitia tersebut mau membuat pernyataan lagi. Dan kali itu, pernyataan ketua panitia acara berhasil direkam oleh Kian. Ketua panitia tersebut juga menunjukkan room chat-nya dengan Nadine.
Nah, pernyataan ketua panitia acara itu serta bukti room chat tersebut menunjukkan tingkah Riani yang tidak seperti biasanya. Yang biasanya cuek soal organisasi, tiba-tiba mau merogoh koceknya untuk membiayai acara, mau repot mencari lokasi acara, hingga memilih menu hidangan yang tersaji di sana. Riani nampak mengatur sebuah strategi.
Selain bukti berupa pernyataan ketua panitia, Kian juga mendapatkan kesaksian beberapa peserta yang melihat Riani yang berusaha membuat Kian berdiri dari posisi tidurnya lalu memapah Kian ke kamarnya. Riani hanya melakukan itu pada Kian, dan tidak pada yang lainnya.
Bukti terakhir adalah pernyataan dari Dokter yang menyatakan minuman beralkohol membuat susah ereksi. Orang yang mabuk karena alkohol tidak bisa melakukan hubungan intim. Ini berarti Kian tidak melakukan apa-apa saat bersama Riani.
Nadine memperhatikan bukti yang ditunjukkan Kian padanya. Bukti bahwa suaminya itu tidak mengkhianatinya. Dan Nadine pun sudah tahu akan hal itu. Tapi, ia berpura-pura tidak tahu fakta yang sebenarnya.
"Sudah aku bilang, aku terlanjur kecewa sama kamu, Mas, jadi lebih baik kita pisah daripada aku terus menerus tersiksa dengan rasa kecewa" Nadine ngotot.
"Aku pikir, ini yang terbaik untuk kita berdua, Mas" lanjut Nadine.
Lalu hening. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Nadine hanya bisa menundukkan kepalanya. Ia tak berani menatap Kian. Berbicara begini saja, sudah membuat hatinya deg-deg an. Apalagi sampai menatap mata Kian yang selalu menatapnya lekat-lekat terasa hangat.
"Baiklah, Mas mau mengikuti apa mau kamu, tapi dengan 1 syarat" Kian memecah keheningan diantara mereka.
"Apa syaratnya, Mas?"
"Mas mau kita honeymoon sebelum benar-benar berpisah"
***
__ADS_1
Update ngebut wut, demi bisa segera menamatkan novel ini.
Mohon dukungannya ya, matur nuwun.