
Nadine sudah memindahkan semua barang-barangnya yang ada di kos lama ke kos yang baru. Dibantu oleh Windi, Oci, Lia dan beberapa anak kos, proses boyongan Nadine pun terbilang cepat. Nadine berharap di kosnya yang baru ini, ia bisa meraih suasana baru di hidupnya. Ia ingin fokus mengembangkan passionnya di dunia fotografi. Syukur-syukur bisa mendapatkan pekerjaan di bidang fotografi. Lalu bagaimana dengan soal cinta? Ah, itu bukan prioritas Nadine.
Selesai merapikan barang-barangnya, Nadine lalu berangkat pulang ke rumahnya. Adiknya telfon dan mengatakan ayah mereka meminta Nadine segera pulang.
"Ada apa an sih, dek? Koq tumben ayah meminta mbak pulang cepet?" Tanya Nadine pada Adiknya Via gawai.
"Nggak tahu, mbak." Jawab adiknya.
Nadine pun makin penasaran dengan maksud ayahnya yang memintanya segera pulang.
"Jangan-jangan disuruh kerja di kantor, duh aku nggak mau, jiwaku nggak disitu." Batin Nadine.
Iya, Nadine tidak menyukai bekerja di kantor. Ia paham betul dengan karakternya sendiri yang tidak cocok bekerja kantoran. Ia cenderung mudah bosan. Ia senang melakukan pekerjaan yang tidak membuatnya bosan, pekerjaan-pekerjaan yang memicu kreativitasnya. Dan Nadine pun sudah menemukannya. Apalagi kalau bukan bekerja di dunia fotografi.
Tiba di rumah, Nadine mendapati ayah dan ibunya sedang duduk di ruang tengah. Wajah mereka nampak tegang. Tak ada raut wajah hangat di sana. Seketika itu, perasaan Nadine menjadi tidak enak.
"Ada apa ya, Yah, Bu?" Nadine mencium tangan kedua orangtuanya lalu mengambil posisi duduk di sebelah ibunya.
"Ayah KECEWA sama kamu?" Kata ayah Nadine, penekanan diberikan pada kata kecewa.
"Maks..."
"Ayah nggak nyangka, bisa-bisanya kamu menjadi pengganggu rumah tangga orang lain, kenapa kamu lakukan itu? Kenapa? Jawab!" Seru Ayah Nadine. Nadine terkejut dengan suara lantang ayahnya. Ayah Nadine tidak pernah berlaku seperti ini padanya. Beliau memang tegas namun tidak pernah mengeluarkan suara keras saat sedang marah sekalipun.
__ADS_1
"Yah, percaya Nadine yah, Nadine tidak melakukan itu,"
"Tunjukkan, Bu, tunjukkan foto-foto itu," suruh ayah Nadine pada ibunya. Ibu pun menunjukkan foto-foto yang sedari tadi dipegang ibu.
Nadine melihat foto yang berjumlah 5 lembar tersebut, satu persatu. Ia ingat, foto-foto itu adalah foto kemarin, saat ia menemui Heru untuk terakhir kalinya. Siapa yang melakukan ini? Kian? Ria? Atau Heru?
Ah nggak mungkin Heru. Pikir Nadine.
"Nadine cuma berteman, Yah, tidak lebih." Jelas Nadine.
"Bu, percaya sama Nadine, selama ini Nadine tidak pernah melakukan hal-hal di luar batas, kan? Jadi Nadine tidak mungkin melakukan ini, percaya sama Nadine, Bu." Nadine memohon. Ibunya menganggukkan kepalanya. Iya, ibu Nadine percaya bahwa anaknya tidak mungkin melakukan hal tersebut. Ia kenal betul karakter anaknya.
"Yah,..." Nadine menatap ayahnya, berharap Nadine bisa menemukan rasa percaya di netra sang ayah.
"Yah, nggak bisa gitu, Yah, Nadine selesaikan ini sendiri yah, Nadine akan memikirkan solusi lainnya, selain pernikahan, Nadine yakin pasti ada solusinya,"
"Ayah tidak meminta pendapatmu, apa yang ayah ucapkan tadi soal pernikahanmu, adalah tidak untuk dibantah. Melainkan untuk diiyakan, dan dilakukan," jelas ayahnya.
"Yah, ...." Ucapan Nadine menggantung.
"Istirahatlah, kamu besok harus bangun pagi, agar bisa bersiap-siap sebelum orang dan keluarga yang akan melamarmu datang. Ya sudah," Ayah Nadine beranjak pergi. Tinggal Nadine juga ibunya.
"Bu, gimana iniiiii? Tolong bilang ke ayah, tolong bujuk ayah agar mau membatalkan keputusannya, Bu, tolong Bu." Nadine meminta bantuan ibunya.
__ADS_1
"Ibu percaya kamu, Ibu yakin kamu tidak melakukan hal itu, yang mungkin melakukan itu adalah suami wanita yang ke sini tadi," jelas ibu Nadine.
"Wanita? Siapa, Bu?" Tanya Nadine penasaran.
'apakah Ria?' batin Nadine.
"Ibu tidak kenal, tapi ibu ingat sama laki-laki di foto ini, ini mantan kamu, kan?" Lanjut ibu, Nadine mengangguk.
'Ah benar saja, Ria' gumam Nadine.
"Nadine sama sekali tidak ada maksud untuk merebut suami wanita itu, Nadine cuma berteman, tidak lebih"
"Sayangnya, laki-laki ini menganggap lebih, ia sampai menceraikan wanita itu, demi bisa sama-sama kamu lagi, begitu kata wanita itu," ungkap ibunya. Sontak Nadine menutup mulutnya. Ia tidak menyangka, Heru benar-benar mewujudkan ucapannya pada Nadine bahwa ia akan menceraikan istrinya. Ya ampuuunn.
"Wanita itu mengancam, kalau kamu tidak menjauh dari suaminya, ia akan menyebarkan hal ini pada orang-orang, dan ayahmu, juga ibu, tidak ingin hal ini terjadi, maka ayahmu memutuskan solusi dari masalah ini adalah dengan menikahkan kamu secepat mungkin, dengan laki-laki yang menurut ayahmu insyaAllah baik untuk kamu, Nad"
"Jadi, maaf ya, Nad. Ibu tidak bisa membantu, kali ini ibu setuju dengan keputusan ayahmu. InsyaAllah itu yang terbaik untuk kamu"
"Tapi Bu.."
"Sudahlah, ibu mau menyiapkan sajian untuk orang beserta keluarganya yang mau melamarmu besok,"
"Bu...."
__ADS_1
Nadine melepas kepergian ibunya. Ia lalu beranjak ke kamarnya, menghempaskan tubuhnya di tempat tidur, kemudian menutup matanya. Setetes air mata, jatuh membasahi pipinya. Ya, Nadine tengah menangis. Menangisi alur hidupnya.