Pelarian

Pelarian
Satu Permintaan Tak Boleh Ditolak


__ADS_3

Nadine sudah selesai melakukan pemotretan produk UKM milik teman Windi, sahabatnya. Ia pun segera berbenah peralatan yang ia gunakan selama pemotretan. Sesekali matanya menatap gawainya. Nadine lalu mengambil gawai miliknya tersebut saat sebuah nama tertera di layar gawai Nadine. Nama itu adalah "Bang Kian".


N: Halo, Bang Kian.


K: Nad, aku mau ke lokasi pemotretan kamu, tapi aku nyasar. Hehe.


N: Ya ampun, koq bisa sih Bang Kian, sekarang posisi Bang Kian dimana nih? Share lokasi ya, biar Nadine yang ke sana.


K: Oke aku share lokasi bentar.


N: Bang Kian jangan kemana-mana, tunggu Nadine. Nadine segera ke sana.


Nadine lalu mematikan gawainya. Ia mempercepat aktivitasnya membereskan peralatannya lalu meminta izin pulang duluan pada pemilik UKM.


Dengan ojek online, Nadine menuju lokasi Kian. Tak lama, Nadine menemukan Kian tengah bersandar di pintu mobilnya. Seperti biasa Kian menggunakan kaos oblong dan jeans belel. Melihat penampilan Kian yang seperti itu membuat Nadine teringat akan teman-teman kosnya yang bilang bahwa Kian ganteng.


'Ganteng dari mananya, dari Hongkong' pikir Nadine.


"Kenapa nggak nunggu Nadine di kos aja sih, Bang Kian?" sapa Nadine sembari menghampiri Kian.


"Pengin jemput kamu" jawab Kian terus terang. Kian menyunggingkan senyum. Ia senang sekali bisa bertemu Nadine. Rindu? tentu saja. Kian tetap rindu dengan Nadine meskipun Nadine bersikap dingin dengannya.


"Kamu sudah makan, Nad?" tanya Kian.


"Belum,"


"Kita makan dulu aja yuk, setelah itu aku antar kamu pulang"


"Nggak usah Bang, Nadine cuma mau ngomong sebentar koq sama Bang Kian."


"Iya, kita ngobrolnya sambil makan, ayo, aku sudah lapar sekali" Kian membukakan pintu mobil untuk Nadine. Nadine akhirnya mengikuti kehendak Kian. Mereka lalu menuju rumah makan pilihan Nadine.


Tiba di sana, Nadine mengajak Kian duduk di dekat kolam ikan. Kian mengekor Nadine. Tak ada protes dari mulutnya karena Ia tengah menikmati kebersamaannya dengan Nadine.

__ADS_1


"Kamu pesan apa, Bang Kian?"


"Sama seperti kamu aja" kata Kian. Nadine lalu pergi memesan makanan. Setelah itu kembali ke tempat duduknya.


"Gimana tugas akhirmu, Nad? Lancar?"


"Alhamdulillah, tinggal nyelesaikan bab 5 dan 6, Bang Kian"


"Oh alhamdulillah, aku ikut senang, rencana setelah lulus apa nih, Nad?"


"Kerjalah, Bang Kian. Btw sambil nunggu makanannya datang, ada yang mau Nadine katakan ke Bang Kian"


"Kita makan dulu, ya, itu makanannya sudah dibawa kesini" kata Kian dan disetujui Nadine. Mereka lalu menikmati makanan masing-masing. Saat makan, sesekali Kian mencuri pandang ke arah Nadine yang khusyuk makan.


'Lapar gitu, pakai nolak diajak makan' batin Kian. Ia tersenyum melihat Nadine.


Setelah mereka selesai makan, Nadine lalu memulai pembicaraan.


"Kemarin Mas Heru ke kos Nadine, Bang Kian, dia mengajukan 2 pilihan, memberinya kesempatan kedua atau memutuskan hubungan dengan kamu. Dan Nadine pilih yang kedua, karena nggak mungkinkan Nadine pilih yang pertama. Toh juga kita nggak benar-benar pacaran" Jelas Nadine.


"Itu kan mau kamu, Nadine? Nggak mau" tegas Nadine. Kian mengangguk. Ia mengacungkan jempolnya.


"Jadi, Bang Kian, setelah ini, Nadine mau kita kembali seperti dulu, Nadine nggak kenal Bang Kian, Bang Kian nggak kenal Nadine," kata Nadine jelas.


"Nad, Aku sudah pernah bilang, aku nggak akan berhenti mendekati kamu, meskipun kamu larang, bagaimanapun kamu menghindar, aku akan tetap mendekati kamu, mengejar kamu, sampai aku lelah mungkin, dan sekarang aku belum lelah, ini belum apa-apa, Nad"


"Please, Nadine mohon, Nadine ingin hidup tenang, Nadine ingin fokus mengerjakan tugas akhir."


Iya, Nadine memang ingin fokus pada tugas akhir. Kalaupun ada yang menggagalkan fokusnya, cukup saja Heru. Jangan ditambah lagi. Nadine merasa Ia tak mampu menghadapi Heru juga Kian. Jadi Nadine ingin Kian berhenti. Ya, Kian saja. Karena, bagi Nadine, Kian bukan siapa-siapa.


"Heru bagaimana? Kamu masih mengizinkan Heru dekat-dekat kamu, kan? Kenapa ke aku nggak boleh? Bahkan ngasih kesempatan ke aku pun, nggak."


Nadine hening. Ia memainkan sedotan minumannya.

__ADS_1


"Kenapa sih, Nad? Kamu tetap memilih yang jelas-jelas sudah meninggalkan kamu untuk menikah dengan perempuan lain, kenapa? Setahuku, seseorang yang ditinggal nikah kekasihnya pasti merasa sakit hati dan pasti berusaha melupakannya. Nah, kamu, aku amati, malah tetap dekat dengan Heru" ungkap Kian panjang lebar. Kian menghela nafas. Ia pandangi Nadine yang sibuk memainkan sedotan minumannya.


"Atau ini karena saking cintanya kamu sama Heru? Benar begitu?" Lanjut Kian. Ia menghela nafas. Namun di hati Kian, berharap, Nadine menjawab dengan kata tidak.


"Nadine emang nggak benci sama Mas Heru meskipun sudah ninggalin Nadine nikah. Nadine salut malah sama Mas Heru yang rela mengesampingkan perasaannya ke Nadine demi untuk berbakti kepada orangtuanya." Jelas Nadine.


"Maksud kamu?" Kian mengerutkan alisnya. Ia tak paham dengan penjelasan Nadine.


"Mas Heru menerima perjodohan orangtuanya sebagai bentuk baktinya dia ke orangtuanya, itu yang bikin Nadine salut dan nggak benci dengan Mas Heru."


Hening. Tak ada respon dari Kian. Ia masih mencerna penjelasan dari Nadine mengenai Heru yang menikah karena dijodohkan.


"Jadi Nadine mohon Bang Kian, Nadine mau fokus sama tugas akhir, dan..."


"Heru" tukas Kian.


"Nad, aku mau tau dulu, darimana kamu tahu Heru dijodohkan?"


"Mas Heru sendiri."


"Nad, kamu dibohongi Heru, Heru nggak nikah karena dijodohkan, Heru menikah atas inisiatifnya sendiri, dan istrinya itu adalah teman kerja Heru."


Nadine cukup terkejut mendengar perkataan Kian. Ia sama sekali tidak terpikir bahwa Heru tidak berbicara jujur padanya. Ia begitu mempercayai Heru.


"Nadine nggak percaya Bang Kian, karena waktu masih pacaran, Mas Heru nggak pernah bohong sama Nadine."


"Ya, aku tahu kamu pasti nggak percaya sama aku dan memilih tetap percaya sama Heru. Saranku, untuk membuktikan apa yang aku katakan ini, kamu cari saja kebenarannya di kampus tempat aku dan Heru bekerja. Kamu cari tahu bagaimana hubungan Heru dan istrinya di kampus sebelum mereka menikah,"


Nadine tak bergeming. Di satu sisi ia tidak percaya Kian karena ia merasa tidak mengenal Kian jadi untuk apa mempercayai orang yang tidak ia kenal dengan baik. Di sisi lain ia penasaran dengan informasi yang disampaikan Kian. Tapi, ia menyembunyikan rasa penasarannya tersebut dari Kian.


"Terlepas dari itu, Nadine tetap mau kita berhenti Bang." Nadine ngotot. Kian menatap Nadine yang tengah menatapnya. Ekspresi Nadine menggambarkan keseriusan diwajahnya.


"Baiklah, aku akan berhenti. Tapi aku punya 1 permintaan sebelum menyerah dari kamu dan kamu harus menepatinya."

__ADS_1


"Baik, asal jangan yang aneh-aneh." Nadine setuju saja demi bisa membuat Kian berhenti.


"Nggak aneh, Aku cuma mau menemui orangtua kamu."


__ADS_2