Pelarian

Pelarian
Berbeda


__ADS_3

Berbeda


Bukan karena Kian ketahuan ke kamar mandi bawa panci atau karena ibu yang menaruh curiga bahwa ia tengah menekan hasrat bercintanya, adalah penyebab Kian menjaga jarak dengan Nadine. Melainkan karena ia sudah merasakan betapa manisnya bibir Nadine dan lembutnya kulit punggung, perut dan d*d* Nadine. Sejak tahu hal itu, Kian merasa ada yang bergejolak di dalam dirinya setiap kali melihat Nadine.


"Sudah mau berangkat, Mas? Sebentar lagi nasi goreng ikan asinnya jadi, nih" kata Nadine waktu ia mendapati Kian tengah mengenakan sepatu kerja.


"Waduh maaf, ya, Sayang, hari ini jadwal Mas ngajar jam pertama, jadi nggak bisa sarapan" respon Kian tanpa melihat Nadine.


"Dibawa aja, Mas, nanti dimakan di kampus kalau waktu luang" saran Nadine.


"Bentar, jangan berangkat dulu, aku siapin bekal buat kamu, Mas" Nadine bergegas meletakkan nasi goreng ke dalam wadah bekalware. Tak lupa ia juga mengisi botolware dengan air. Setelah itu, Nadine meletakkannya di meja yang ada di samping Kian.


"Mas berangkat, ya, kalau kamu butuh apa-apa, pakai ini dulu" Kian berdiri dari duduknya lalu ia menyerahkan kartu ATM pada Nadine.


Nadine menerima kartu dari Kian. Ia lalu mengambil tangan kanan Kian, dan menciumnya. Kian terkesiap dengan apa yang dilakukan Nadine. Karena sebelumnya, Nadine tidak pernah mencium tangannya. Kian sendiri juga tak hendak memberlakukan hal itu. Dan sekarang, Nadine malah yang berinisiatif lebih dulu. Kian senang, tentu saja. Hubungan mereka berkembang signifikan.


Saking terkejut dengan sikap Nadine, Kian sampai tak bisa berkata apa-apa. Ia hanya mengangguk lalu beranjak ke motornya. Kian pun berkendara.


Sementara itu, Nadine mengerutkan alisnya. Ia sedikit heran dengan tingkah Kian. Biasanya, kalau Kian bangun tidur lebih dulu, Kian selalu membangunkan Nadine untuk sholat subuh. Namun, hari ini, Kian tidak melakukannya. Nadine mendapati Kian tengah asyik di depan laptopnya meski ia bangun lebih dulu.


Hal aneh kedua, biasanya, Kian selalu membuatkan Nadine sarapan dan Nadine akan membantu Kian menyiapkan sarapan untuk mereka. Namun, kali ini, Kian lagi-lagi asyik di depan laptopnya.


"Aneh" gumam Nadine.


"Ah, mungkin mas Kian sedang banyak kerjaan" Prasangka Nadine. Ya, berprasangka seperti ini lebih baik dari pada memikirkan yang tidak-tidak.


Nadine kembali ke dalam rumah. Ia bergegas menyelesaikan pekerjaan rumah tangganya. Karena hari ini, ada banyak aktivitas yang akan ia lakukan.


***


Kian sudah selesai mengajar. Bekal yang dibawakan Nadine untuk ia sarapan, baru ia buka di saat makan siang.


"Nggak basi" kata Kian. Ia lalu menyantap nasi goreng ikan asin buatan Nadine.


Kian makan dengan lahap. Nasi goreng buatan Nadine terasa enak dilidahnya, pedas pedas gurih bikin nagih seperti yang memasaknya. Bikin nagih terus ingin menjamah, pikir Kian. Namun, buru-buru ia menggelengkan kepalanya agar pikirannya tentang Nadine itu tak hinggap lama-lama dipikirannya.


"Woy, makan sendirian, gue mau?" Tanya Heru yang dengan cepat menggambil sendok makan Kian dan mulai menyuap nasi bekal Kian.


"Masakan Nadine, ya?"


"Iya" jawab Kian singkat. Heru semakin cepat melahap.


"Yaelah, jangan diabisin" pinta Kian. Heru tak menggubris. Ia malah mengambil alih kotak bekal Kian lalu menyantap habis isi yang ada di dalam kotak bekal.

__ADS_1


"Maaf, ya, kangen gue sama masakan Nadine" kata Heru. Ia kembali meletakkan kotak bekal Kian yang sudah kosong.


"Gue boleh..."


"Nggak boleh"


"Belum juga ngomong"


"Gue tahu elo mau ngomong apa, elo mau minta izin makan di rumah gue dan nggak bakal gue izinin"


"Pelit Lo" cibir Heru. Kian tak peduli. Ia mengemasi kotak bekalware.


"Ada perlu apa Lo kemari?"


"Gue mau pinjem duit ke elo, buat bayar sisa hutang gue ke Ria" jawab Heru terus terang.


"Berapa?"


"20 juta, ada?"


"Ada, mau Lo ambil sekarang?"


"Lusa jatuh temponya. Jadi besok aja nggak apa-apa"


"Besok sekalian gue bawain surat-surat mobil gue buat jaminan"


"Terserah elo" kata Kian.


"Thanks, sebenernya gue udah nawarin mobil gue ke orang-orang, ke medsos juga udah, tapi belum laku-laku juga, sementara Ria udah nagih gue terus, sumpek gue" cerita Heru.


"Daripada elo sumpek, mending elo bantuin gue ngerjain proyek penelitian. Gue punya 3 penelitian. Dan sekarang gue kewalahan jadi gue butuh bantuan Elo" kata Kian beralasan. Ia sebenarnya tidak kewalahan, toh memang yang ia teliti merupakan hal yang sudah ia kuasai. Namun, Kian tahu kawan yang dulunya rasa lawan itu, kini tengah kesusahan.


Beredar kabar burung di kampus, bahwa Heru sudah menjual rumahnya untuk membayar hutangnya pada Ria, mantan istrinya. Begitu surat cerai Heru dan Ria keluar, sejak itulah Heru harus mengganti uang Ria yang dulu Ria keluarkan untuk membayar hutang keluarga Heru. Sekedar mengingatkan, Heru menikahi Ria karena Ria mau membayar hutang keluarga Heru yang segambreng.


"Entar kita bagi dua. Lumayan, duitnya bisa buat elo DP rumah, jadi elo nggak ngekos lagi" kata Kian lagi.


"Boleh, deh. Nanti gue ke rumah elo, ya. Elo jelasin gambaran umum penelitian Lo."


"Jangan, kita ketemu di angkringan biasanya"


"Segitu takutnya gue ketemu Nadine, nggak nggak, gue nggak bakal merebut Nadine dari Elo, tobat gue" ungkap Heru. Ya, sejak Heru ke rumah Kian dan memberitahukan semua hal tentang Nadine, sejak itulah Heru bertekad untuk merelakan Nadine pada Kian.


"Atau jangan-jangan elo takut Nadine kepincut gue" tebak Heru. Kian bergeming.

__ADS_1


"Jadi cinta elo belum berbalas juga, ka..si..haaaannn" Heru tersenyum lebar. Kian tersenyum kecut.


"Sabar, ya, Nadine emang gitu, susah jatuh cinta. Tapi kalau sudah jatuh cinta, ia bakal setia" jelas Heru.


"Saran gue, elo pakai jurus Petrus jakandor deh, pepet terus jangan kendor, beri dia surprise kejutan kejutan kecil, lama-lama pasti klepek-klepek juga" saran Heru.


"Gue aja perlu waktu hampir 2 tahun deketin dia, tapi karena elo baik banget ke gue, gue doain semoga nggak selama itu" kata Heru. Ia lalu beranjak meninggalkan ruangan Kian.


Kian menerima saran Heru. Ia akan berusaha membuat Nadine jatuh cinta padanya dengan usaha yang lebih gigih lagi.


Diam-diam, Kian membayangkan andai saja apa yang dikatakan Heru itu benar. Bahwa perlu waktu hampir 2 tahun bagi Heru untuk mendapatkan hati Nadine.


"Waduh, kalau selama itu, kasihan donk, pusaka gue" gumam Kian memelas.


***


Malam tiba, Kian bersiap-siap menuju angkringan. Ia mendapatkan pesan dari Heru yang mengatakan Heru sudah berada di sana.


"Mau kemana, Mas?" Tanya Nadine sembari melepas ikat rambutnya lalu merapikan rambutnya dengan jemarinya.


Kian yang melihat tingkah Nadine, seketika meremang. Terlebih saat itu, Nadine tengah mengenakan baju tidur terusan berbahan satin yang panjangnya hanya 5 cm di atas lutut. Dan baju tidur itu pun semakin memendek saat Nadine kembali mengikat rambut panjangnya. Paha Nadine yang putih mulus pun terpampang nyata. Kian seketika meneguk salivanya. Ia tergoda.


"Mas?"


Panggilan Nadine, membuyarkan pikiran Kian.


"Oh, Mas mau ketemu Heru" ungkap Kian. Tersirat ekspresi penuh tanda tangan di wajah Nadine .


"Mas minta bantuan Heru menyelesaikan proyek penelitian dosen"


"Oooo..." Nadine ber-O ria.


Sadar akan hasratnya yang makin membuncah, Kian memutuskan untuk segera berpamitan kepada Nadine. Jika tidak, ia khawatir akan berubah wujud menjadi singa lapar, lapar belaian.


"Tunggu, Mas." Pinta Nadine. Kian menghentikan langkahnya dan menunggu Nadine.


"Nih, jaketnya, jangan lupa dipakai, di luar dingin, angin malam nggak baik untuk tubuh" Nadine memegang tangan Kian. Ia lalu meletakkan jaket pada tangan Kian.


Bagi Nadine, pegang memegang suatu hal yang biasa, toh hanya sekedar memegang tangan dan itu pun hanya sebentar. Namun, itu tidak berlaku bagi Kian, lagi-lagi Kian merasakan ada gelenyar aneh di tubuhnya.


"Kunci rumah dibawa aja, Mas. Aku mau tidur, ngantuk. Jadi nggak bisa nunggu kamu pulang" kata Nadine. Kian mengangguk lalu pergi keluar rumah.


Nadine lega, karena dugaannya benar. Bahwa perbedaan tingkah Kian belakangan ini karena Kian tengah banyak pekerjaan.

__ADS_1


__ADS_2