
Tiba hari H Nadine mencari buku ditemani Kian. Seperti biasa, tepat pukul 10 Kian sudah berada di depan kos Nadine.
"Bang Kian, bentar ya, Nadine mandi dulu. Bang Kian tunggu Nadine di teras aja" kata Nadine menghampiri Kian.
"Boleh?" Tanya Kian. Nadine mengangguk lalu Kian mengikuti langkah Nadine menuju teras kos Nadine.
Sembari menunggu, Kian mengambil sebatang rokok. Namun ia tidak mendapati asbak di sana. Jadi Kian urung menyulut batang rokoknya dan memilih untuk mengambil gawainya.
Sementara itu, di dalam kos Nadine, Windi dan Oci serta Lia juga penghuni kos di sana sedang asyik mengintip Kian dibalik tirai jendela kamar yang berada di dekat teras. Rasa penasaran mereka akan Kian terobati sudah.
"Cakep gitu mbak Nadine nggak mau" kata salah satu peserta intip-intip Kian.
"Iya ih, buat aku aja, kenalin ke aku Win, kenalin, aku siap menampung" kata peserta intip-intip Kian lainnya.
"Hush, kalian tu, ni kalian ambil nomor antrian setelah Oci dan Lia, mereka juga mau sama Bang Kian" kata Windi. Oci dan Lia nyengir.
"Heh kalian pada ngapain?" Ucap Nadine sambil mengeringkan wajahnya dengan handuk. Nadine penasaran melihat kerumunan penghuni Kos.
"Hehe..kita ngomongin Bang Kian" ujar Oci.
"Oooo...." Nadine lalu beranjak pergi. Para peserta intip-intip Kian pun saling pandang. Heran dengan respon Nadine.
"Win, beneran ya, kalau Nadine nggak mau Kian, kenalin ke gue aja, gue mau, mau banget, kapan lagi ketemu cowok ganteng, mapan, baik lagi" pinta salah satu peserta intip-intip Kian yang disambut dengan serbuan toyoran dari Windi dan Oci juga Lia. Sementara peserta lainnya, menahan tawa jangan sampai ada suara.
"Semuanya, gue pergi dulu ya." pamit Nadine. Ia lalu pergi menghampiri Kian.
"Ayo Bang Kian." ajak Nadine.
"Oh, oke" Kian mengikuti langkah Nadine.
"Sudah siap?" Tanya Kian memastikan. Nadine mengangguk. Lalu Kian pun melajukan mobilnya.
"Kita kemana?"
__ADS_1
"Ke toko buku ya, Bang. Yang paling dekat dari sini aja dulu. Nih peta lokasinya" Nadine menunjukkan google map pada Kian.
"Kamu yang mantau ya, aku belum hafal betul daerah sini"
"Iya, Bang" jawab Nadine.
"Ngomong-ngomong maaf, Nadine ngerepotin Bang Kian lagi"
"Nggak apa-apa Nad, sekalian aku cari buku bacaan juga"
"Eh data penelitian abang yang kemarin gimana? Udah beres?"
"Oh itu, udah, udah valid, ini sekarang tinggal menyempurnakan laporan, cek typho, cek PUEBI, turnitin segala macem" jelas Kian.
"Perlu bantuan Nadine?" Tawar Nadine. Kian menoleh sembari menyunggingkan senyum. Namun hanya ekspresi wajah datar Nadine yang Kian dapati. Kian tidak terkejut dengan ekspresi Nadine seperti itu. Karena memang ekspresi itu yang senantiasa Nadine tunjukkan saat bersama Kian.
"Makasih ya, tapi kamu fokus aja ke skripsimu dulu, biar cepet kelar" kata Kian. Ia senang karena Nadine menunjukkan kepeduliannya pada Kian.
"Maksimal jam 1 siang ya, Bang Kian. Nggak apa-apa, kan?"
"Nggak apa-apa."
Kian dan Nadine berjalan ke arah berlawanan. Mereka mencari buku masing-masing.
Sebenarnya, Kian ingin sekali membantu Nadine. Namun gadis itu menolak bahkan sebelum Kian menawarkan diri. Kian sendiri adalah bukan tipe orang yang suka memaksakan kehendak, terlebih Nadine adalah orang lain.
Makin ke sini, Kian sadar bahwa usahanya mendekati harus lebih keras lagi karena rupanya Heru berhasil mempengaruhi Nadine.
"Entah apa yang dikatakan Heru ke Nadine tentang aku, hal yang jelek pastinya, sampai Nadine dingin begini."
Jam 1 siang sudah. Tak terasa bagi Nadine, karena ia belum juga menemukan semua buku yang ia butuhkan. Ia pun masih terus berusaha mencari dan lupa akan janjinya pada Kian.
Sementara itu, Kian sudah menunggu Nadine di tempat semula, 30 menit sebelumnya. Namun karena Nadine belum juga muncul, akhirnya Kian memutuskan untuk mencari Nadine.
__ADS_1
"Gimana Nad? Belum ketemu?" Tanya Kian saat sudah menemukan Nadine di antara celah rak buku. Ia sedang duduk di lantai sambil membolak-balikkan halaman buku.
"Kurang 1, Bang Kian. Dari tadi Nadine nyari belum ketemu-ketemu." Kata Nadine. Ia menggigit bibir bawahnya.
"Bang Kian mau pulang, ya?" Tanya Nadine dengan pandangan yang tidak beralih dari buku yang ia pegang.
"Nggak juga, aku bantu gimana?" Kian menawarkan diri.
"Nggak apa-apa Bang Kian?"
"Nggak apa-apalah, sini mau cari buku tentang apa? Kasih tahu aku" kata Kian. Nadine lalu menunjukkan list buku yang mau ia beli.
Setelah tahu, Kian bergegas mencari buku yang dimaksud. Ia mengawalinya dengan mencari di katalog. Lalu menelusuri rak-rak buku dan terakhir ke pegawai toko buku tersebut.
"Nad, buku yang tema ini kosong ternyata, tapi kalau mau kamu bisa pesan di sini, DPnya 50%, tapi waktunya maksimal 2 mingguan, gimana?" Jelas Kian. Nadine mematung, karena ia butuh buku itu sesegera mungkin. Kian menyadari hal itu, maka ia menawarkan solusi lain ke Nadine.
"Atau aku carikan dulu di tempatku, kalau nggak ada baru pesan disini, gimana?" Lanjut Kian.
"Nggak apa-apa, kalau Nadine minta tolong carikan buku sana Bang Kian?" Tanya Nadine.
"Nggak apa-apa, santai aja, kalau bisa bantu pasti aku bantu kamu" ujar Kian sembari tersenyum. Melihat ketulusan Kian, Nadi spontan memegang tangan Kian sembari berucap.
"Makasih banyak ya, Bang Kian" kata Nadine. Lalu ia melepaskan genggaman tangannya. Sementara itu, Kian yang kaget dengan perlakuan Nadine, nampak syok sebentar lalu mengalihkan wajahnya yang menunjukkan ekspresi senang bukan kepalang.
"Ya sudah bang, Nadine bayar buku dulu ya, Bang Kian tunggu Nadine di mobil." Tanpa menoleh, Kian mengikuti instruksi Nadine. Ia menuju mobilnya dan menunggu Nadine didalamnya.
"Mimpi apa aku tadi malam" gumam Kian sembari senyum-senyum bahagia.
Setelah itu, Kian mengajak Nadine untuk makan siang. Sayangnya, Nadine menolak. Ia beralasan lelah mencari buku berjam-jam dan ingin segera rebahan. Kian pun segera mengantarkan Nadine ke kosnya. Ia menghalau rasa laparnya karena sedari pagi belum makan apapun.
Setelah mengantar Nadine, Kian menuju warung terdekat guna mengakhiri rasa laparnya.
***
__ADS_1