Pelarian

Pelarian
Ganti Baju


__ADS_3

Nadine masih dengan riasan dan pakaian lengkap menikmati makan siangnya. Ia belum sempat mengganti pakaian dan membersihkan make up di wajahnya karena ia sudah sangat lapar. Tadi, waktunya terpakai untuk membuat kesepakatan pernikahan dengan Kian. Begitu selesai membuat kesepakatan, Nadine langsung meluncur ke ruang makan. Sementara itu, Kian yang lebih dulu duduk di ruang makan nampak memperhatikan Nadine dengan seksama.


"Lihatin terus aja, keselek sendok tau rasa" ketus Nadine. Ia risih dipandangi Kian dalam-dalam. Kian tersenyum lebar mendengar ucapan Nadine. Lalu ia kembali melanjutkan makannya.


Kian lebih dulu selesai makan. Ia lalu beranjak ke dapur untuk mencuci piring. Setelah selesai ia pun melangkahkan kakinya menuju kamar Nadine.


"Tunggu dulu, jangan ke kamar" kata Nadine. Ia lalu menghentikan makannya, mencuci piring, dan minum sekenanya.


"Aku mau ganti baju, jangan masuk kamar dulu, tunggu di sini" Nadine menuju kamarnya dengan langkah kaki dipercepat. Kian manut. Ia kembali duduk di meja makan. Namun karena ia merasa bosan, ia melangkahkan kakinya keluar rumah, mengamati ibu dan ayah mertuanya yang masih menjamu tamu undangan.


Kian berkali kali menutup mulutnya. Ia mengantuk. Ia pun memutuskan untuk menuju kamar Nadine. Sapa tahu Nadine sudah selesai berganti baju, pikir Kian.


Kian mengetuk pintu. Sekali, dua kali.


"Bentar, belum selesai" ucap Nadine dari dalam kamarnya. Kian mengurungkan kembali keinginannya untuk istirahat sejenak di kamar Nadine. Ia begitu mengantuk. Tadi malam ia susah tidur karena terserang nervous Ijab Qabul.


Karena kantuk sudah tak tertahankan, akhirnya kian memutuskan untuk merebahkan badannya di sebuah kursi yang terletak di ruang tamu rumah Nadine. Tak butuh waktu lama, Kian terlelap dengan sempurna.


Sementara itu, Nadine sudah berganti baju, namun ia masih berkutat membersihkan make up di wajahnya. Ia lupa dengan Kian yang menunggu izin darinya untuk masuk ke dalam kamarnya. Sedang asyik menggunakan micellar, tiba-tiba terdengar suara pintu dibuka.


"Nad, koq suamimu tidur di luar. Suruh masuk, gih. Nggak enak dilihat orang" kata Ibu Nadine.


"Tadi Nadine suruh nunggu di luar, soalnya Nadine mau ganti baju, Bu" jelas Nadine dengan tangan yang masih memoles area wajahnya.


"Lah, kenapa juga suamimu suruh nunggu di luar, kan kalian sudah suami istri? Atau jangan-jangan kamu malu, ya?" Tebak Ibu Nadine.

__ADS_1


"Nggaaakkkk, ih siapa yang maluuu" bantah Nadine.


"Kamu yang malu, udaaahh nggak usah malu-malu, lama-lama juga nanti biasa. Ibu dulu, gitu, awalnya malu-malu, lama-lama malah nggak punya malu, di kamar seliweran nggak pakai baju" Cerita Ibu Nadine yang diakhiri dengan ekspresi mesam-mesem.


"Itu, kan, Ibu. Bukan Nadine"


"Ya, kan, kamu anak Ibu, pasti nurun juga yang begitu begitu."


"Nggak, aku nggak mau nurun yang begitu"


"Ish, kamu ini, justru itu salah satu jurus bikin rumah tangga langgeng. Ah kamu, Nad, udah ah, kamu bangunin Kian, biar tidur di kamar" kata Ibu Nadine. Ia menyerah berdebat dengan anaknya yang keras kepala itu.


"Ih, cepetan, koq"


"Iya iya, Bu" kata Nadine. Ia lalu menuju ke ruang tamu untuk membangunkan Kian. Tanpa ia sadari, ibunya mengikuti langkahnya.


"Mas, gitu loh, Nad, atau yang, masa' manggilnya Bang, emangnya Kang Ojek" saran Ibu Nadine. Nadine menghela nafas berat. Ia mulai kewalahan menghadapi ibunya yang cerewetnya ampun-ampunan.


"Mas, Mas Kian, bangun" Nadine mengikuti saran ibunya. Ia kembali menggoyang-goyangkan tubuh Kian.


"Nah, gitu donk. Ibu ke dapur dulu, ya. Ingat, panggil Mas, bukan Bang bang bang Tut. Awas kalau manggil bang lagi, ibu slepet celana tau rasa kamu, Nad"


"Iya, iya....."


Setelah mendengar jawaban Nadine, ibu pun akhirnya benar-benar beranjak pergi.

__ADS_1


Nadine kembali membangunkan Kian. Namun lagi-lagi hasilnya nihil. Kian bergeming. Lalu terpikir oleh Nadine menggunakan cara lain. Nadine yakin, cara ini ampuh bikin Kian bangun dari tidur.


"Mas, mas Kian" ucap Nadine. Ia menggelitik Kian. Dan bimsalabin, Kian terbangun seketika.


"Tidur di kamar, ayo, cepet" kata Nadine. Kian sudah dalam posisi duduk sempurna. Ia mencoba mengumpulkan kesadarannya. Setelah itu, ia bangkit mengikuti langkah Nadine.


Tiba di kamar, Kian segera merebahkan badannya dan lalu terlelap lagi secepat kilat. Nadine yang mengamati Kian, hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia takjub betapa cepatnya Kian terlelap.


Setelah merapikan alat make up nya, Nadine keluar kamar lalu menuju kamar adiknya. Nadine memilih mengistirahatkan tubuhnya di kamar sang adik satu-satunya.


Nadine berusaha terlelap. Namun sayang itu tidak bisa ia lakukan. Pikirannya malah dipenuhi dengan teman-teman komunitas sosialnya. Nadine khawatir, teman-temannya itu marah atau bahkan memusuhinya karena ia telah melepaskan tanggung jawab sebagai ketua panitia di Hari H acara pertunjukkan seni anak-anak kaum marjinal. Ia pun menyesal. Seharusnya, ia berusaha membuat ayahnya mengizinkannya pergi ke acara pertunjukkan tersebut, bukan malah menyerah seperti kemarin. Namun penyesalan hanya tinggal penyesalan.


***


Hai, Readers.


Makasih banyak sudah berkunjung ke sini. Mohon bantuan like, komen, dan rate-nya yak. Kalau berkenan, nge-vote juga boleh, senang sekali.


buat Authors,


makasih juga kunjungannya yak.


please, tinggalkan jejak agar aku bisa mengunjungimu kembali.


salam terlove,

__ADS_1


dari aku.


😊


__ADS_2