
Full Power Seharian
"Jadi kalau Mas minta kamu sekarang, boleh nggak?"
Nadine terkesiap. Ia tidak menyangka Kian akan meminta dirinya secepat itu.
"Kamu kan lagi sakit, Mas" Nadine mencari alasan. Karena ia belum siap atau lebih tepatnya menyiapkan diri untuk melakukan apa yang Kian mau.
"Nggak, udah sembuh ini, ayolah" kata Kian.
Kian begitu antusias. Ia pun mulai mendekatkan wajahnya pada Nadine. Nadine yang ingin menjauh seketika tidak bisa bergerak. Karena tangan Kian berhasil menahan tubuhnya. Tubuh Nadine pun terkunci dengan sempurna.
Kian mengecup bibir Nadine. Lalu Kecupan kecupan kecil itu pun berubah menjadi ciuman. Nadine terbelalak dengan perlakuan Kian padanya yang tiba-tiba.
Namun, lama-lama, ia mulai memejamkan mata. Nadine seakan terbius dengan kelembutan bibir Kian. Ia biarkan bibir Kian menyusuri setiap garis bibirnya, bagian atas juga bagian bawah.
Nafas Kian makin menderu melihat Nadine menutup matanya. Kian beranikan diri mencium bibir Nadine lebih dalam. Kian tak lagi hanya mencium, kini ia mulai *******, dan mengulum. Layaknya permen, bahkan Kian menghisap-hisap bibir Nadine. Saking kerasnya hisapan Kian, bibir Nadine terbuka. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, dengan sigap Kian membawa lidahnya masuk ke dalam mulut Nadine.
Sementara itu, tangan Kian tak lagi diam. Ia mulai menelusup kan jemarinya lalu menjamahi punggung bagian bawah Nadine. Perlahan jemari Kian tiba di pengait bra Nadine. Saat hendak membukanya, Nadine mendorong tubuh Kian hingga membuat ciuman mereka terlepas.
"Jangan sekarang!" Pinta Nadine dengan nafas yang masih terengah-engah.
Nadine menatap mata Kian yang nampak berkabut. Ia tahu suaminya sudah begitu berhasrat dengannya. Tapi bagaimanapun, Nadine tidak bisa menuruti kehendak Kian.
"Aku lagi datang bulan, Mas"
***
Setelah berpamitan kepada Mama juga Dini, adik Kian, mereka pun pulang ke rumah. Saat tiba di rumah, Kian lalu bersiap-siap untuk berangkat kerja. Nggak pakai mandi, Kian cepat bersiap dengan kemeja biru dan celana hitam. Sebuah kacamata nangkring di hidungnya yang mancung.
__ADS_1
Kondisi tubuh Kian yang sudah pulih membuatnya siap beraksi menjalani hari-hari di kampus maupun di organisasi. Ya, hari ini, jadwal aktivitas Kian cukup padat. Setelah mengajar, ia harus ke Disnaker untuk membantu kasus kawan-kawan buruh.
Nadine mengamati penampilan suaminya. Entah bagaimana kali ini ia merasa Kian amat tampan. Padahal dulu, Nadien merasa Kian bukan laki-laki tampan tapi biasa saja. Baginya, dulu, tampang Kian standart-standart saja.
"Ah, mungkin ini efek samping jatuh cinta, yang dulunya kelihatan jelek begitu punya rasa malah jadi ganteng" gumam Nadine dalam hati.
Nadine memang sudah menyukai Kian. Entah sejak kapan ia mulai memiliki rasa pada suaminya. Tapi seingat Nadine, ia mulai menoleh sejak Kian mengatakan ia akan mendukung mimpi dan cita cita Nadine. Wanita mana yang tidak akan berbunga-bunga manakala mimpi-mimpinya mendapat dukungan. Apalagi Kian sudah membuktikan bahwa ia tidak hanya mendukung melainkan juga membantu Nadine mewujudkan mimpi-mimpinya. Idaman, bukan?
Sadar akan perasaannya pada Kian, tak ayal, belakangan ini, membuat Nadine deg-deg an saat menatap suaminya itu.
"Mas nanti mungkin akan pulang agak sore, nggak apa-apa, ya?" Tanya Kian sembari mengenakan sepatunya. Nadine mengangguk.
"Ah, bakal kangen, nih, mas sama kamu"
"Dih, gombal"
"Loh, beneran"
Kian lalu berdiri. Ia menarik tangan Nadine. Sontak Nadine yang tadinya berdiri di samping tempat duduk Kian kini menjadi menempel pada Kian.
"Sini, cium dulu, biar semangat" Kian memajukan bibirnya yang kemudian disambut oleh bibir Nadine. Nadine cepat-cepat menghentikan ciumannya dengan mendorong halus tubuh suaminya.
"Nanti malam, udah bisa, kan?" Tanya Kian sembari mengerling jenaka.
"Ya belum bisa, Mas, baru juga kemarin aku haidhnya" Nadine mencebik.
"Dipercepat, gitu, bisa nggak?" Pinta Kian yang seketika mendapat lirikan tajam dari Nadine. Andai Nadine manusia super mungkin tatapan matanya sudah disertai dengan halilintar petir menyambar-nyambar. Kian merapatkan bibirnya lalu mesam mesam.
"Sudah, sana berangkat Mas, assalamu'alaikum" ucap Nadine. Sengaja, ia mengucapkan salam duluan, demi suaminya segera berangkat.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam" jawab Kian. Akhirnya ia pun berangkat juga.
Tiba di kampus. Kian tak henti mengumbar senyum. Ekspresinya seperti orang yang menang undian duit semilyar. Bahagia sekali.
"Lo kesambet?" Heru menghampiri Kian.
"Iya, kesambet cinta"
"Waduh, udah jadi bucin mode on, nih"
"Nggak apa-apa donk, bucin sama istri sendiri. Jomblo mana tahuuuuu" seru Kian. Sontak Heru menoyor bahu Kian.
"Mulai sekarang, gue nggak perlu mencari PELARIAN lagi, menyibukkan diri, begadang, sampai ngebut ngerjain proyek penelitian, nggak perlu begitu lagi, perasaan gue sudah berbalas, yeaahh" ungkap Kian senang. Senyumnya pun nggak hanya sisi kali sisi, melainkan panjang kali lebar.
Ya, sejak Kian mencium dan meraba Nadine diam-diam, Kian mulai mencari PELARIAN. Ini ia lakukan demi bisa menekan hasratnya yang begitu mendamba Nadine. Pelarian yang Kian pilih mulai dari menjaga jarak dari Nadine, hingga menyibukkan diri. Pelarian yang ia pilih ini berhasil membuat hasratnya tertidur. Namun, malah membuat tubuhnya kelelahan hingga akhirnya jatuh sakit.
"Ya udah, ini bagian gue, tinggal elo cek, gue pergi dulu, entar gue kemari lagi kalau kesambet elo udah ilang" Heru meletakkan hasil kerjanya di meja kerja Kian. Ia lalu beranjak meninggalkan Kian yang masih berseri-seri.
Setelah Heru pergi, Kian mulai mengendalikan rasa bahagianya untuk kembali fokus bekerja. Ia mengerjakan laporan penelitiannya lalu mengecek laporan penelitian yang dibuat oleh Heru. Sesekali ia berhenti, untuk mengintip gawainya. Berharap ada pesan dari Nadine. Namun, ternyata nihil. Istrinya itu, memang super cuek. Kian sempat berpikir, setelah memiliki rasa yang sama, Nadine akan mem-bucin seperti dirinya. Nyatanya, Kian bucin sendirian. Kasihan.
Perlahan, matahari bergulir. Tak lagi pas di tengah. Kian melihat jam tangannya. Waktu menunjukkan pukul 2 siang yang berarti waktunya Kian pergi ke Disnaker.
Ajaib, Kian merasa hari ini energinya benar-benar full. Rasanya semangat terus anti kendor apalagi loyo. Ia pun memanfaatkan semangatnya yang full power ini untuk membantu teman-teman buruh mendapatkan hak-haknya.
Berbekal peraturan perundang-undangan tenaga kerja yang berlaku tentang penentuan besaran pesangon yang diterima oleh buruh yang terkena PHK sepihak, serta beberapa bukti terkait absensi, slip gaji, keterangan lama bekerja, pengambilan cuti hingga lembur bekerja teman-teman buruh yang ter-PHK sepihak, akhirnya, Kian berhasil membantu teman-teman buruhnya untuk mendapatkan hak mereka. Senang, tentu saja. Kian senang bisa membantu mereka.
Ah, Kian benar-benar tidak menyangka, hanya ciuman Nadine di pagi hari, membuatnya sebahagia ini seharian.
"Dapet ciuman pagi saja bisa bikin full power gini, apalagi kalau lebih dari ciuman, bakalan sakti mandraguna nih gue" pikir Kian.
__ADS_1
Ia lalu melajukan mobilnya pulang. Tak sabar ingin segera bertemu dengan istrinya tersayang.
***