Pelarian

Pelarian
Niat Melamar? Bohong atau Sungguhan?


__ADS_3

Kian menyunggingkan senyuman yang ia tujukan pada Nadine. Sayangnya, Nadine menatap ke arah lain. Ia mendapati sosok yang begitu ia kenal tengah memandangnya.


Heru.


Heru, tengah memandang Nadine, lekat-lekat. Tak lama, ia berjalan mendekati Nadine.


"Nad, kamu ngapain di sini?" Tanya Heru lembut lalu memegang tangan Nadine. Namun genggaman tangan Heru segera dilepas Nadine, kasar. Sontak Heru terkejut dengan respon Nadine.


"Aku mau ketemu bang Kian" kata Nadine.


"Jangan bilang kalau kamu..." Heru menggantungkan ucapannya.


"Iya, aku dan Bang Kian pacaran" seru Nadine. Ia lalu beranjak mendekati Kian dan menggamit tangan Kian. Sorot matanya pun sengaja ia pertegas sebagai tanda bahwa apa yang ia katakan adalah benar adanya. Sementara itu, Kian menyambut genggaman tangan Nadine. Ia tahu apa yang harus ia lakukan.


"Iya, gue sama Nadine pacaran sekarang, dan insyaAllah setelah Nadine lulus kuliah, gue segera melamar Nadine" kata Kian. Ia mempererat genggaman tangannya sembari memandang Nadine. Nadine pun menatap Kian. Alisnya mengkerut. Namun bibirnya menyunggingkan senyum. Ia tak mau kebohongannya terbaca oleh Heru. Ia juga tak mau keterkejutannya akan ucapan Kian diketahui Heru.

__ADS_1


"Jadi gue harap elo berhenti mengganggu Nadine." Lanjut Kian.


"Ayo Nad, Win, aku antar balik ke kos kalian" ajak Kian. Nadine dan Windi kompak mengangguk.


"Gue duluan" pamit Kian pada Heru yang masih mematung. Kian pun melangkahkan kakinya dengan tangan yang masih menggenggam erat tangan Nadine. Windi mengikuti langkah Kian dan Nadine. Mereka menuju ke arah parkir dosen lalu masuk ke mobil Kian. Kian mengajak mereka berhenti di sebuah rumah makan yang tak jauh dari kampus tempat Kian mengajar.


Tiba di rumah makan, Windi segera meminta izin untuk ke toilet. Sementara Kian dan Nadine duduk menunggu pesanan datang.


"Bang Kian, maaf ya, aku sudah melibatkan Bang Kian dalam masalahku sama mas Heru" Nadine membuka pembicaraan. Kian tersenyum menanggapi.


"Aku nggak bohong soal itu, Nad" ujar Kian.


"Aku serius mau melamar kamu setelah kamu lulus kuliah." lanjut Kian. Ia menatap Nadine dalam. Demikian juga Nadine. Nadine mencari tanda ketidakseriusan ucapan Kian dari ekspresi dan tatapan mata Kian. Ia tatap dalam-dalam. Nihil. Nadine malah menemukan tanda keseriusan Kian akan ucapannya.


"Tapi..."

__ADS_1


"Aku tahu posisiku saat ini, aku paham betul kalau kamu tidak ada rasa sedikitpun denganku." Kian berhenti. Ia menghela nafas.


"Nad, masa depan tidak ada yang tahu, baik kamu ataupun aku, tapi yang aku tahu pasti, aku akan berusaha mewujudkan keinginanku itu, terlepas apapun hasilnya, aku percaya itu yang terbaik dari Nya untuk kamu juga aku" tukas Kian. Nadine diam. Ia tidak tahu harus merespon apa. Bahkan kalimat yang sebelumnya ingin ia ucapkan, mendadak hilang. Ia bingung, kaget, campur aduk.


Kian terdiam setelah mengatakan isi hatinya. Ia menatap Nadine, namun yang ditatap malah memalingkan wajahnya. Sakit? Tidak. Kian tidak merasa sakit. Ia merasa sikap Nadine adalah respon yang wajar setelah mendengar ungkapan isi hatinya.


Siapa yang tidak terkejut saat mendengar seseorang yang dianggap tidak menaruh hati, ternyata mengungkapkan rasa sukanya? Siapa yang tidak terkejut saat mendengar seseorang yang bukan siapa-siapa, mengungkapkan keinginannya ingin datang melamar untuk mengajak nikah? Wajar, Kian tak masalah dengan respon Nadine.


"Tenang Nad, yang aku katakan tadi tidak berlaku mutlak padamu. Kamu memiliki hak untuk menerima atau bahkan menolak lamaranku nantinya, aku bukan tipe orang yang suka memaksakan kehendak." Jelas Kian. Ia mengatakan hal itu setelah mendapati Nadine menunjukkan ekspresi khawatir. Sementara itu, Nadine menggigit-gigit bibir bawahnya. Ia nampak fokus berpikir.


"Emmmm...Nadine sudah tahu jawaban yang mungkin akan Nadine ucapkan sekarang ataupun saat Bang Kian datang ke rumah untuk melamar Nadine." Nadine terdiam. Kian menatap Nadine.


"Aku tidak meminta jawabanmu sekarang." Kata Kian.


"Tapi Nadine mau, Nadine mau menjawab itu sekarang, ya sekarang saja, lebih cepat lebih baik bukan?" tegas Nadine.

__ADS_1


"Kalau begitu, apa jawabanmu atas lamaranku padamu?"


__ADS_2