Pelarian

Pelarian
Bonus Chapter 2


__ADS_3

"Seperti kata ibu seminggu yang lalu, 3 hari lagi, Nadine berangkat, kamu sudah yakin dengan keputusanmu?" Ibu menatap Kian lekat-lekat. Sedangkan Kian menundukkan kepalanya. Alisnya mengkerut, ia nampak sedang berpikir keras. Padahal, sebelum ia datang, ia sudah menentukan pilihan. Namun, setelah melihat Nadine, ia kembali ragu.


Ia meragukan dirinya sendiri, bisakah ia hidup tanpa Nadine?, sanggupkah ia jauh dari Nadine?. Ah membayangkannya saja rasanya sudah sakit sekali.


Kian memang masih mencintai Nadine. Malah ia merasa, cintanya pada Nadine semakin bertambah. Bagaimana tidak semakin jatuh cinta terhadap orang yang rela berkorban untuknya.


Jika Nadine mau, bisa saja Nadine bersikap tidak peduli dengan ancaman Riani dan lalu membiarkan nama baik Kian hancur. Nyatanya, Nadine memilih menerima ancaman Riani dan merelakan pernikahannya dengan laki-laki yang ia cintai. Ya, Kian tahu, Kian sadar, Nadine sudah jatuh cinta padanya.


Kian sama sekali tidak ingin pisah dengan Nadine. Ia malah ingin membawa Nadine kembali setelah ia membungkam pelaku utama, si Ria. Namun, rencana hanya tinggal rencana saat ayah Nadine memintanya untuk menentukan pilihan, Nadine atau menjadi seorang aktivis.


Bagi Kian, menjadi seorang aktivis adalah passionnya. Ada kebahagian yang membuncah manakala ia bisa sedikit memberi bantuan pada rakyat kecil. Kian merasa menjadi seseorang yang memiliki arti dengan menjadi seorang aktivis. Karena rasa inilah, Kian bersama beberapa temannya mendirikan sebuah organisasi buruh. Berkat ketekunan, kesungguhan, dan kerja keras Kian juga teman-temannya, organisasi ini pun tumbuh besar dengan anggota yang bahkan sudah mencapai ribuan.


Lalu, tiba-tiba ia diminta untuk melepaskan itu semua demi bersama dengan Nadine orang yang dicintainya. Tidak bisa, ia benar-benar tidak bisa. Ada ribuan orang yang menjadi tanggung jawabnya.


Memang, ia sudah tidak menjadi ketua lagi. Namun, Kian masih belum yakin melepaskan organisasinya tersebut. Ia butuh waktu, minimal sampai ada seseorang yang bisa ia percaya untuk melanjutkan perjuangan selanjutnya.


"Bu, saya ingin bersama Nadine, sangat amat ingin, terlebih Nadine sedang mengandung calon buah hati saya." Helaan nafas Kian terdengar jelas. Berat, rupanya.


"Kalau memang seperti itu, kembalilah pada Nadine. Ibu yakin, Nadine masih memiliki rasa sama kamu, Nak, kalau kamu memintanya untuk kembali, ibu yakin dia pasti mau. Apalagi yang kamu tunggu? Toh juga orang yang mengancam hubungan kalian sudah ditahan." kata Ibu Nadine.


"Emmm...saya masih punya tanggung jawab, Bu, ada ribuan kawan-kawan organisasi yang mempercayai saya. Saya tidak bisa mengkhianati kepercayaan mereka" kata Kian. Idealisme begitu mengakar dikepribadiannya.

__ADS_1


Gantian, kali ini, ibu yang menghela nafas. Helaannya pun nampak cukup berat.


"Ya sudah kalau memang seperti itu, Nak Kian, ibu bisa apa? Mau bagaimana lagi, kalau memang keinginanmu seperti itu, ibu dukung. Hanya saja, ibu merasa berat melihat kalian benar-benar berpisah" ungkap ibu Nadine.


"Padahal, ibu sempat yakin, kalian akan bersama lagi. Karena ibu tahu kalian masih saling mencintai" lanjut ibu.


"Baiklah, ibu...." Ibu menjeda kalimatnya begitu mendengar Kian kembali bersuara.


"Bu, sebenarnya...." Kian menggantungkan kalimatnya. Sementara Ibu nampak menunggu lanjutan kalimat Kian.


"Sebenarnya, saya punya rencana, tapi saya ragu untuk mengatakannya kepada Ibu"


"Katakan saja, jika ibu bisa, ibu akan bantu" jawab Ibu cepat.


"Tentu, tentu ibu bantu" lagi-lagi, respon ibu begitu cepat. Kali ini bahkan disertai dengan senyuman yang lebar.


"Ya ampuunn, Alhamdulillah, ibu senang sekali" seru Ibu yang berubah menjadi sumringah.


"Terima kasih banyak, Bu, atas dukungan Ibu" ucap Kian. Mata Kian nampak berkaca-kaca. Ia haru.


"Eit, tapi jangan lama-lama ya, datanglah secepat mungkin." Pinta Ibu. Kian mengangguk segera.

__ADS_1


"Saya akan berusaha sekuat tenaga, Bu, untuk mempercepat kedatangan saya pada Nadine" Jelas Kian.


Ya, Kian memang tengah berusaha untuk sesegera mungkin mewujudkan rencananya itu. Ia bahkan melepas profesinya sebagai seorang dosen. Ia ingin fokus. Karena dengan fokus pada satu hal saja, ia yakin, rencananya akan segera terwujud.


"Baguuusss, sip markosip" seru Ibu.


Untung saja, Kian mengatakan rencananya pada mantan ibu mertuanya itu. Sehingga ia pun mendapat bala bantuan yang akan menjaga Nadine selama ia berusaha melepas atribut aktivisnya dan memperkokoh bangunan organisasi buruh yang ia rintis sejak lama dan sekarang tengah berada di masa gemilangnya. Ya, Kian akhirnya memilih bersama Nadine, dan berhenti menjadi aktivis. Namun, tidak sekarang, tidak dalam waktu dekat. Karena butuh effort untuk melepaskan passionnya.


Sebelum pamit, Kian menitipkan tas ransel berisi uang hasil penjualan rumahnya pada ibu. Kian berperan agar uang tersebut digunakan untuk mewujudkan mimpi Nadine yang ingin memiliki workshop juga offline shop khusus fotografi. Namun, Kian meminta untuk tidak memberitahukan bantuan yang ia berikan ini pada Nadine. Tak lupa, Kian juga memberikan sebuah ATM pada Ibu yang mana ATM tersebut akan ia gunakan untuk mentransfer uang bulanan untuk memenuhi kebutuhan Nadine juga calon buah hatinya.


Lalu, beberapa hari kemudian, Nadine akhirnya pergi merantau ke wilayah timur pulau Jawa. Di sana, ia memulai hidup baru yakni menjadi single parent.


Nadine yang cantik, bertalenta, pandai, dan memiliki karakter yang kuat, membuat banyak pria berusaha mendekatinya. Tentu saja, pria-pria yang mendekatinya itu, bukan pria sembarangan. Semuanya kaya raya, baik hati juga tampan. Pria-pria tersebut bahkan tak peduli dengan status Nadine yang merupakan seorang janda beranak satu.


Bagaimana perjalanan hidup Nadine saat sudah menjadi seorang single parent yang pastinya penuh dengan tantangan hingga anak berduri? Siapakah pria yang akhirnya berhasil mendapatkan cinta Nadine? Salah satu dari penggemarnya atau seseorang di masa lalunya?


Jawaban semua itu ada di karya aku selanjutnya yang berjudul (mungkin) "Cinta Mama Muda".


Bakal tayang dimana? Berkat pencerahan dari Authors yang berkunjung ke karyaku ini, maka aku memutuskan untuk menayangkan karyaku selanjutnya di aplikasi ini juga, insyaAllah.


Tayang kapan? Bulan depan, mungkin. Sekarang mau bikin outline-nya dulu.

__ADS_1


So, sampai berjumpa lagi di Cinta Mama Muda. Stay safe ya, kalian semuaaa. Yuk mari daaaa..daaaaahhhhh....


😘


__ADS_2