Pelarian

Pelarian
Menolak untuk Berhenti


__ADS_3

Menolak untuk Berhenti


Akhirnya, Nadine dan Windi, tiba di jalan kecil menuju kos mereka. Rasanya mereka ingin segera menenggelamkan diri di kasur kapuk kamar mereka untuk menghilangkan rasa lelah setelah wara Wiri seharian naik transportasi umum.


Lalu demi mewujudkan keinginan tersebut, Nadine dan Windi mempercepat langkah mereka. Namun, saat hampir mendekati kos, langkah kaki Nadine dan Windi terhenti oleh seseorang.


"Hai," Sapa Kian.


"Bang Kian" kompak Nadine juga Windi.


"Iya, ada yang mau aku sampaikan ke kamu Nad, setelah itu aku akan pulang, jadi apa kamu bisa membiarkan kami berdua Win?" Pinta Kian tanpa basa basi.


"Tentu Bang, tentu, sukses ya" Windi menyemangati. Instingnya mengatakan bahwa Kian akan menyatakan perasaannya pada Nadine. Windi sendiri merupakan #TimKian. Ia mendukung Nadine bersama Kian. Agar Nadine bisa move on dari Heru sebelum Nadine berubah wujud jadi pelakor. Windi segera masuk ke dalam kos. Sementara itu, Nadine mempersilakan Kian duduk di kursi yang ada di teras kos.


"Ada apa lagi, Bang Kian? Bukannya tadi sudah amat jelas, kalau Nadine nggak mau..."


"Aku juga nggak mau, aku nggak mau berhenti mendekati kamu sampai kamu nerima lamaranku," tukas Kian.

__ADS_1


"Aku pikir, aku punya hak untuk tidak menyerah sama kamu," sambung Kian lagi. Wajahnya menunjukkan kesungguhan. Sementara itu Nadine mengerutkan alisnya. Ia nampak tengah berpikir mencari kalimat yang ampuh untuk membuat Kian menerima keputusannya


"Bang Kian, sekarang ataupun nanti, Nadine tidak akan jatuh cinta sama Bang Kian. Nadine yakin itu. Nadine yang tahu diri Nadine sendiri." Ucap Nadine. Ia menghela nafasnya berkali-kali. Kemudian ia melanjutkan kalimatnya.


"Jujur, Bang Kian bukan tipe Nadine. Dan Nadine pikir, Nadine juga bukan tipe Bang Kian." Nadine mengarahkan pandangannya pada Kian yang sedang menundukkan kepalanya.


"Jadi daripada Bang Kian nantinya merasa sakit hati, lebih baik Bang Kian pergi menjauh dari Nadine mulai saat ini." jelas Nadine. Nadine pikir apa yang telah ia katakan, akan membuat Kian menyerah. Namun nyatanya?


"Aku siap menanggung risiko itu, tidak masalah bagiku, daripada aku harus menyerah sebelum memperjuangkanmu sekuat tenaga, semaksimal mungkin kemampuanku," kata Kian sembari menatap Nadine. Sorot matanya menunjukkan keseriusan.


"Bang Kian, Nadine yakin masih ada yang jauh lebih baik dari Nadine buat Bang Kian, Nadine ini cuma apa, nggak ada yang spesial dari Nadine," Nadine mulai kehabisan ide membuat Kian menyerah.


"Nad, aku ke sini cuma mau bilang ke kamu, aku nggak akan menyerah sama kamu, mau berapa kali pun kamu menolak ku, sebanyak kali itu juga aku akan kembali memperjuangkanmu." Ucap Kian. Nadine menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kamu gila ya, Bang Kian." Kalimat itulah yang akhirnya keluar dari mulut Nadine sekaligus kalimat yang mewakili perasaannya. Iya, Nadine merasa Kian sudah gila.


"Terserah, kamu mau menilaiku seperti apa, sama seperti kamu, aku juga tahu apa yang insyaAllah terbaik untuk aku, dan itu kamu. Ya sudah, sudah malam, aku pamit pulang, kalau kamu butuh sesuatu, sampaikan saja ke aku, aku pasti akan mengusahakannya," kata Kian.

__ADS_1


"Nggak, aku nggak butuh apa-apa." Ketus Nadine.


"Baiklah, sampai jumpa lagi Nadine, salam" pamit Kian.


Kian lalu melangkahkan kakinya menjauh dari kos Nadine. Tanpa menoleh dan dengan langkah dipercepat. Sudah malam, Kian ingin segera pulang. Ia ingin segera mengistirahatkan diri setelah seharian beraktivitas ditambah dengan harus pergi ke kos Nadine yang jaraknya cukup jauh dari tempat tinggal Kian.


Lelah, tertulis tepat di dahi Kian. Meskipun begitu, ada rasa lega yang terpatri dihatinya. Lega karena sudah mengatakan keinginannya pada Nadine. Lega, karena Nadine tahu bahwa ia menginginkan Nadine untuk menjadi pendamping hidupnya.


Sementara itu, Nadine termangu melihat kepergian Kian. Ia tak habis pikir dengan tindakan Kian yang baginya serba mengejutkan hari itu. Mulai dari mengatakan ingin melamarnya, kemudian mengatakan bahwa ia tidak akan menyerah, dan yang terakhir kejutan berupa sekresek besar yang berisi camilan. Di dalam kresek tersebut terdapat secarik kertas yang bertuliskan, 'Semangat Menyelesaikan Tugas Akhir'. Nadine ingin menolak pemberian tersebut namun sayang Kian keburu melajukan mobilnya.


Nadine lalu masuk ke dalam kosnya dan menuju kamarnya. Ia bergegas membersihkan diri. Setelah itu, Nadine merebahkan diri sembari melihat gawainya. Ia mengecek kotak pesan di gawainya. Begitu ia buka, matanya langsung tertuju pada pesan dari mantan kekasihnya, Heru.


From: Mas Heru


To: Nadine


Nad, aku mau kamu putus dengan Kian. Dan tunggu aku, bersabarlah, aku akan segera kembali ke kamu.

__ADS_1


Setelah membaca itu, Nadine lalu mematikan gawainya. Ia memilih untuk segera tidur karena ia lelah, teramat lelah, jiwa juga raganya.


__ADS_2