
Pelukan
"Oiya...lupa" Kian nyengir.
"Eh...Mas punya kejutan, lho buat kamu. Tebak hayo kejutannya apa?"
"Apa? Martabak? Terang bulan? Bakso? Gado-gado? Apa Mas?" tebak Nadine. Entahlah Nadine tidak bisa berpikir jernih. Pikirannya seakan terhubung dengan kondisi perutnya yang memang tengah kelaparan.
"Kamu lapar ya, Sayang?" tanya Kian. Secepat kilat, Nadine mengangguk kalem. Kian gemas. Ingin meremasi pipi Nadine tapi tak bisa.
"Ya sudah, ayo kita makan dulu, Mas tadi beli ayam bakar madu, ayo" Kian menarik tangan Nadine. Nadine mengikuti langkah Kian. Iya, Nadine memutuskan untuk memberi Kian kesempatan untuk membuktikan bahwa ia bukan laki-laki ********. Itu dulu. Soal membuka hati, akan Nadine pikirkan lagi.
Mereka berdua begitu lahap menyantap ayam bakar madu yang Kian beli. Sambalnya yang pedas menambah cita rasa nikmat. Potongan-potongan timun segar, dan daun kemangi, menyempurnakan rasa, istimewa. Kian bahkan sampai nambah nasi 2 kali. Nadine sebenarnya mau nambah juga. Tapi apa boleh buat, jaimnya mengalahkan keinginannya untuk nambah nasi. Ya sudah, risikonya Nadine hanya bisa menggigit jari waktu Kian melahap tuntas potongan ayam terakhir.
Selesai makan, Nadine membersihkan peralatan makan yang mereka gunakan. Sebenarnya, Kian ingin mengambil alih tugas bersih-bersih ini, dan meminta Nadine untuk duduk manis saja. Ia ingin memanjakan istrinya itu. Tapi Nadine menolak, dengan sigap ia mengambil peralatan makan Kian lalu membersihkannya.
Kian masih duduk di meja mini bar. Ia memperhatikan Nadine. Ada rasa hangat yang menjalari hatinya. Biasanya, ia makan makan sendiri, cuci piring sendiri, dan sekarang ada yang menemani. Senang sekali.
"Tahu semanis ini, dari dulu saja menikah" Pikir Kian. Tapi lalu ia teringat, dulu, pasangan pun ia tak punya, jadi mau nikah sama siapa?
"Jangan dilihatin, gitu Mas." Seru Nadine.
"Kenapa? Kamu malu? Nggak usah malu, Sayang, sama suami ini" kata Kian. Nadine pasrah. Ia berusaha tak peduli dengan Kian yang tengah memandanginya.
"Ya sudah, mas ke kamar dulu, mau ambil sesuatu untuk kamu" kata Kian.
Kian lalu menuju kamar. Ia mengambil sebuah kotak berukuran sedang yang sudah dilapisi kertas kado berwarna merah muda dengan motif hati kecil-kecil berwarna putih.
"Sini, sayang, duduk sini" Kian menepuk-nepuk karpet merah yang terletak di ruang tengah dan di depan tv.
Setelah mengeringkan tangannya, Nadine menghampiri Kian.
"Dalam rangka apa nih, Mas?"
__ADS_1
"Dalam rangka Mas senang karena kamu mau nikah sama Mas"
"Gombalmu nggak mempan, Mas" Nadine melengos. Kian tertawa lebar.
"Nggak, nggak dalam rangka apa-apa, Mas pengin aja beri kamu hadiah, nih" Kian menyerahkan bingkisan tersebut kepada Nadine.
"Isinya apa, Mas?"
"Hati aku"
"Lama-lama aku muntah, lho Mas, denger gombalanmu terus" ancam Nadine.
"Iya, nggak lagi, coba buka deh, buka buka" Kian meminta Nadine segera membuka kado yang ia beri. Tangan Nadine mulai sibuk membuka sedikit demi sedikit perekat yang menempel di sana. Mata Nadine mulai berbinar manakala isi dari bingkisan tersebut terlihat sebagian. Ekspresi girang pun muncul saat Nadine tahu isi kado itu adalah sesuatu yang ia inginkan sejak lama, yakni sebuah kamera DSLR.
"Ya ampuuuunnn, ini buat aku, Mas?" Tanya Nadine tanpa melihat ke arah Kian. Nadine lekat menatap kamera DSLR dengan merk Nikon D3400.
Kian sengaja memilih Nikon D3400 untuk Nadine. Karena menurut review, kamera DSLR tipe ini sangat cocok untuk pemula. Sedangkan Nadine masuk dalam kategori pemula. Di samping itu, Nikon tipe ini juga memiliki kemampuan yang oke dalam pembuatan Video. Kian teringat Nadine mendapatkan tugas untuk membuatkan channel YouTube komunitas sosial yang ia ikuti.
"Mimpi apa aku semalam?" Gumam Nadine samar. Tapi cukup terdengar di telinga Kian.
"Mimpi in, Mas, pastinya ya?" Kian nyengir. Nadine tak berkomentar. Ia tengah hanyut dalam gelombang rasa bahagia yang menyapa hatinya. Sadar, tak ada respon dari Nadine. Kian tidak jadi nyengir.
Nadine memang ingin sekali memiliki kamera DSLR. Ia bahkan menabung dari hasil pekerjaan sampingannya sebagai fotografer produk mulai dari produk kecantikan hingga produk makanan. Namun uang yang ia kumpulkan belum juga cukup. Siapa sangka ia mendapatkannya setelah ia menikah dengan laki-laki yang ia anggap sebagai laki-laki ********.
Selama ini, Nadine menyelesaikan job fotografinya menggunakan kamera Hp bututnya. Kian pernah menanyakan soal alasan menggunakan hp butut, jawaban Nadine, meskipun hpnya butut, tapi hasil fotonya bagus-bagus.
"Makasiiiihhhhhhh...." Ucap Nadine riang. Ia lalu memeluk Kian begitu erat. Tentu saja, Kian terkejut dengan apa yang dilakukan Nadine padanya. Kian meresapi pelukan Nadine. Ia menutup matanya.
"Alhamdulillaaaahhh..." Seru Kian. Terukir senyum lebar di wajahnya. Namun seharusnya Kian tak usah bersuara. Karena setelah Kian mengucapkan itu, Nadine spontan melepaskan pelukannya. Rupanya, ia baru tersadar telah memeluk-meluk laki-laki yang baru ia beri kesempatan untuk mendapatkan hatinya. Nadine tidak menyangka, Kian akan berusaha sekuat ini untuk mendapatkan hatinya.
"Eh..maaf, Mas" ucap Nadine. Ia memundurkan posisi duduknya. Seketika tangan Kian terulur, menarik Nadine ke dalam pelukannya lagi.
"Sini, jangan menjauh dulu, sebentar lagi" kata Kian. Nadine mengikuti keinginan suaminya.
__ADS_1
"Sudah ya, jangan mencari pelarian lagi dengan menghindari Mas." Nadine mengangguk. Ia sudah tidak heran lagi dengan kemampuan Kian yang selalu bisa mengetahui apa yang ia rencanakan. Suaminya itu, mungkin memiliki bakat sebagai cenayang.
"Jangan mencari pelarian untuk menghindari kemauan Ayah juga" lanjut Kian.
"Mari kita fokus mencari cara untuk membuktikan pada ayah bahwa pilihanmu menekuni passion, bukan sesuatu yang salah atau menjadikan masa depanmu tidak gemilang." imbuhnya. Tangan Kian mulai mengelus rambut Nadine.
"Mas juga minta, selama usaha kita ini, kamu jangan bersikap frontal pada Ayah, ya Sayang" Nadine mengangguk.
"Makasih, Mas" ucap Nadine. Ia lalu melepaskan pelukan Kian.
"Mas mendukungmu, 1000 %" Kian meyakinkan Nadine. Tak lupa ia membuat simbol love ala Korea Selatan dengan ibu jari juga telunjuknya lalu menunjukkannya pada Nadine.
"Saranghae..." Kata Kian sambil tersenyum manis. Gayanya sudah mirip oppa oppa Korea tapi rasa lokal.
Nadine terkesima melihat tingkah suaminya. Sejak kapan suaminya 'kesambet' orang Korea, begitu yang ada dipikiran Nadine.
***
Hai, Readers.
Makasih banyak sudah berkunjung ke sini. Mohon bantuan like, komen, dan rate-nya yak. Kalau berkenan, nge-vote juga boleh, senang sekali.
Buat Authors,
makasih juga kunjungannya yak.
please, tinggalkan jejak agar aku bisa mengunjungimu kembali.
salam terlove,
dari aku.
😊
__ADS_1