
"Kalau...kalau kamu berhubungan denganku saja, bagaimana?" Ucap Heru memberanikan diri.
"Berhubungan denganku, saja, aku pastikan tidak akan melakukan kesalahan jika kita bersama lagi" ulang Heru lagi.
Heru kini menatap lekat Nadine. Jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya. Ia menanti respon Nadine.
Heru sempat menangkap ekspresi terkejut Nadine. Namun, tak lama, Nadine kembali berekspresi seperti biasanya datar cuek-cuek saja.
Dari perubahan ekspresi Nadine ini Heru mencoba untuk menganalisa. Sebagian dirinya merasa yakin Nadine mau dengannya, mengingat masa pacaran dengannya kala itu, Nadine nampak begitu bahagia. Ya, Heru sendiri memang menyadari bahwa ia begitu bahagia saat berpacaran dengan Nadine. Ini membuatnya susah move on dari Nadine. Nadine sudah membuat standar begitu tinggi, hingga membuatnya susah menoleh bahkan pada Ria, yang sekarang sudah menjadi mantan istrinya.
Namun, di sisi lain, Heru merasa tidak yakin Nadine mau. Mengingat kesalahan yang pernah ia buat pada Nadine. Ditambah lagi Nadine adalah tipe-tipe wanita setia. Sekali jatuh cinta pada seseorang ia tidak akan kemana-mana sampai yan
"Kamu itu, ada-ada aja, Bang, cerita kita itu udah jadi masa lalu, dan aku nggak mau menjadikan masa lalu sebagai masa depanku" respon Nadine. Ia lalu menghampiri tempat duduk yang ada di teras rumah kontrakan Heru. Kemudian mendaratkan dirinya di sana. Lelah juga kakinya berdiri lama.
"Bagiku, masa lalu itu hanyalah semacam kaca spion, yang dilihat sekali sebentar, untuk memastikan aman dalam mengambil keputusan, atau menentukan langkah menuju masa depan" imbuh Nadine.
Kali ini Heru ikut duduk di kursi samping Nadine. Ia tak lagi menatap Nadine. Tapi menatap ke arah luar.
"Dih, serius amat jawabannya, aku cuma bercanda kali, Nad" kata Heru. Nadine menoleh Heru, sejenak.
"Oh, ya syukur kalau gitu cuma bercanda, aku senang malah kalau itu cuma candaan" Ucap Nadine. Ia lalu mengeluarkan kotak bekal yang ia letakkan di tas selempangnya.
"Aku numpang makan di sini, ya, Bang." Nadine membuka kotak bekalnya. Tanpa menunggu persetujuan Heru, Nadine menikmati bekalnya dengan lahap. Sementara itu, Heru yang berada di samping Nadine, menggeleng-gelengkan kepalanya. Baru kali ini, ia melihat Nadine makan selahap dan se-allout itu.
"Minum, donk Bang, aku minta, bekal minumku habis" pinta Nadine. Heru menepuk jidatnya. Meskipun begitu, ia tetap mengambilkan minuman buat Nadine.
"Makanmu banyak, ya sekarang, nggak kayak dulu, dikit banget, aku yang kebagian ngabisin"
"Iya, porsi makanku ini porsi untuk 2 orang, banyak tapi aku pasti habis" Nadine mengkonfirmasi. Heru mengangguk-angguk. Memang benar, porsi makan Nadine memang banyak, seharusnya memang untuk 2 orang.
Setelah menghabiskan bekalnya Nadine lalu berpamitan pada Heru. Ia menuju ke kantor 2 kliennya.
Selesai bekerja, Nadine memutuskan untuk pulang ke rumah orangtuanya dulu. Besok, atau lusa ia baru pulang ke kosnya.
Sementara itu, setelah kepergian Nadine. Heru berkomunikasi dengan Riani.
"Gimana, udah beres?" Tanya Heru begitu ia mendengar suara Riani di seberang sana. Riani pun memberikan jawabannya yang menyenangkan sehingga membuat Heru tersenyum sumringah.
__ADS_1
"Oke, besok kalau luang gue ke tempat elo, gue sudah punya gambaran tahapan langkah untuk mendapatkan keinginan elo" kata Heru lagi. Ia nampak antusias setelah menerima telfon dari Riani.
***
Akhirnya, Nadine tiba di rumah orangtuanya. Saat akan masuk ke rumah, ia bertemu dengan adik satu-satunya.
"Mau main futsal, ya? Mbak boleh minta tolong dulu, nggak?" Tanya Nadine. Dika yang tadinya bergegas hendak pergi, spontan menghentikan langkah kakinya.
"Minta tolong apa, Mbak? Ayo cepet, aku keburu telat, udah ditunggu temen-temen soalnya" kata Dika.
"Tolong beliin mbak siomay yang di food court depan indoapril itu, lho Ka, sama bakso trus soto yang deket situ juga, ya, cabenya dipisah semua, jangan dijadikan satu dimakanannya, mbak pengin nyobak makan semuanya, enak kayaknya kalau dijadikan satu"
"Buset, banyak bener, Mbak, mau dijadikan satu lagi" Dika memandang Nadine dengan perasaan aneh.
"Dih, nggak usah komen, deh, mbak laper tau, ini uangnya buat beli-beli itu, dan ini buat kamu beli kuota"
Setelah mendengar kata kuota, sontak senyum lebar terpatri di wajah Dika. Dika lalu mengacungkan jempolnya ke arah Nadine, menandakan ia siap melaksanakan tugas dari Nadine dengan baik.
Dika lalu menuju ke indoapril. Dia bersyukur karena food court depan indoapril tidak terlalu ramai. Ia mengedarkan pandangannya mencari penjual makanan-makanan yang diminta Nadine. Di antara 3 penjual, abang siomay yang lagi sepi pembeli. Jadi, Dika memutuskan untuk membeli siomay terlebih dahulu.
"Bang, siomay satu, campur ya, sambalnya dipisah" request Dika. Si Abang yang lagi leyeh-leyeh santai sambil kipas-kipas, lalu bergegas membuat pesanan siomay Dika.
"Ini uangnya, pak" kata Dika.
Ia melangkah ke penjual terakhir. Antriannya sedikit panjang. Jadi Dika memutuskan untuk mengisi kuotanya dulu di indoapril.
Namanya rejeki, nggak ada yang tahu, kadang datang tiba, seringkali butuh beraksi dulu untuk meraih rejeki. Namun, diantara dua itu, Dika lagi-lagi mendapatkan rejeki secara tiba-tiba. Ya, saat ia akan membayar kuota di indoapril, tiba-tiba ada yang membayarkan kuota yang ia beli.
"Udah, uangnya kamu simpan, biar mas yang bayar" kata Kian.
"Makasih, Mas" ucap Dika. Kian mengangguk.
"Kabar kamu, gimana? Lama ya, kita nggak ketemu" tanya Kian. Mereka berjalan beriringan keluar dari indoapril menuju penjual bakso yang antriannya sudah mulai berkurang.
"Baik, Mas, Mas sendiri gimana kabarnya?"
"Ya begini ini, mencoba baik-baik saja, setelah ditinggal mbakmu" jelas Kian. Dika terkejut mendengar ucapan Kian.
__ADS_1
"Maksud mas apa?"
"Emmm....berarti mbakmu belum cerita"
"Mbak cuma cerita kalau mas sedang di luar kota jadi nggak bisa menemani mbak waktu mbak dirawat di klinik" terang Dika. Kali ini Kian yang terkejut.
"Mbak dirawat? Mbak sakit apa?"
"Nah itu, aku belum sempat nanya ke mbak atau ibu"
"Tapi kayaknya cuma kecapek-an" imbuh Dika.
"Sekarang keadaan mbakmu gimana?"
"Sudah mendingan, sudah sehat juga sih kayaknya, mbak doyan makan, ini aja minta dibelikan siomay, bakso sama soto, mau dimakan bareng katanya" cerita Dika.
"Koq aneh, gitu" Kian mengerutkan alisnya. Ia benar-benar merasa ada yang aneh dari keinginan Nadine.
"Tapi apa? Atas dasar apa Nadine makan sebanyak dan seaneh itu? Ah, mungkin itu bentuk pelariannya agar tidak memikirkan soal perceraiannya" Pikir Kian.
"Nah, makanya, aneh banget" Sahut Dika.
"Ya sudah, kamu tunggu sebentar ya, mas beli makanan sama buah dulu, nanti kamu berikan ke mbak Nadine" pinta Kian. Dika mengangguk.
Tak lama, seporsi bakso pesanan Dika sudah berada ditangannya. Ia lalu melihat ke arah indoapril, nampak Kian tengah berlari kecil.
"Ini, mas titip buat mbak" kata Kian sembari menyerahkan 2 kantong belanjaan. Satu kantong berisi camilan, satunya lagi berisi buah-buahan.
"Mas langsung kasih aja ke mbak Nadine. Mbak ada di rumah koq"
"Dia nggak bakal mau ketemu sama Mas, lawong telfon mas aja nggak pernah diangkat, chat mas juga nggak pernah dibalas"
"Duh, tapi seriusan, nih, mas kalian sudah pisah?" Dika memastikan kembali. Kian menganggukkan kepala sebagai jawabannya.
"Koq bisa, sih, Mas?" Dika masih tak percaya.
"Mas yang salah..." Kian menggantungkan kalimatnya. Dika menangkap raut penyesalan di wajah Kian.
__ADS_1
***