Pelarian

Pelarian
Mempersiapkan Pernikahan


__ADS_3

Acara lamaran sudah selesai. Keluarga Kian sudah meninggalkan rumah Nadine. Sekarang, tinggalah Nadine juga adiknya dan tentu saja orangtua Nadine, bergotong royong membersihkan rumah mereka.


Sebenarnya Nadine merasa lelah. Namun rupanya ibu Nadine tidak mengizinkan putrinya untuk segera istirahat. Kata si Ibu, "Biar sekalian capeknya".


Setelah selesai menyapu ruang tamu juga teras, Nadine beranjak ke dapur. Ia hendak membantu ibunya mencuci piring.


"Nad, ibu seneng deh, kamu mau nikah sama Kian" ungkap ibunya.


"Sudah ganteng, baik, mapan lagi, kurang apa coba?"


"Nadine nggak cinta"


"Hush, kamu itu.."


"Ya kan bener Nadine nggak suka sama Bang Kian, Bu"


"Halah, ibu yakin, lama-lama kamu juga jatuh cinta sama Kian, kayak ibu sama ayahmu dulu kan gitu, ibu dulu belum suka sama ayah pas nikah, eh lama-lama jadi suka, witing tresno jalaran saka.."


"Ndak onok liyo," pungkas Nadine.


"Ngawur, gini-gini, ibu sama ayahmu banyak yang ngejar-ngejar lho, kalau nggak percaya tanya deh sama ayahmu, Yah....ayah...sini..." Panggil si Ibu. Namun dipotong oleh Nadine.


"Iya iya, Bu, Nadine percaya, udah jangan manggil ayah ke sini" pinta Nadine.


"Kenapa? Kamu masih marah sama ayah karena jodohin kamu sama Kian?" Tanya si Ibu. Nadine mengangguk.


"Sampai kapan sih, Bu, Ayah ngatur-ngatur Nadine, memaksakan kehendaknya pada Nadine? Padahal belum tentu apa yang ayah paksakan ke Nadine itu adalah yang terbaik untuk Nadine"


"Ya bagi ayahmu, yang dipilihkan ayah ya itu yang terbaik untuk kamu, Nad, nggak ada sedikitpun niat ayah untuk memilihkan yang tidak baik untuk kamu, Ibu yakin itu" bela si ibu Nadine.


"Tapi Nadine nggak suka sama pilihan-pilihan ayah"Nadine ngotot..


"SUdah-sudah, nanti coba ibu sampaikan ke ayah ya, sudah sudah"


"Oya, besok ibu nggak bisa nemenin kamu fitting baju pengantin, ibu mau cari jasa catering buat acara pernikahan kamu"


"Emangnya kapan sih hari pernikahan Nadine, Bu?"


"Loh, kamu tadi nggak denger, Nad? Ya ampuuunn, Nad, kamu nikahnya 7 hari lagi, "


Nadine menutup mulutnya. Ia terkejut dan tak percaya. Secepat itu ia harus menikah dengan Kian, laki-laki brengsek itu.


***


Keesokan harinya,


Kian menjemput Nadine. Mereka akan melakukan fitting baju pengantin di butik langganan mama Kian.


"Assalamu'alaikum, Tante" sapa Kian pada wanita yang tengah asyik memotong rumput di taman rumahnya. Wanita itu adalah Ibu Nadine.


"Eh nak Kian, Wa'alaikumsalam," jawab Ibu Nadine. Kian menghampiri Ibu Nadine, lalu menggamit tangan ibu Nadine dan mencium punggung tangan Ibu Nadine.


"Duduk sini, Tante panggil Nadine dulu ya," kata Ibu Nadine. Kian mengangguk. Ia duduk di kursi teras rumah Nadine. Ini adalah kali pertama Kian pergi bersama Nadine setelah kejadian di penginapan itu.


Kian nampak nervous. Ditandai dengan kakinya yang selalu ia hentakkan atau ia goyang-goyangkan. Untuk mengurangi rasa nervousnya, ia pun mengeluarkan gawainya sembari membaca berita-berita terupdate. Biasanya berita yang ia baca terkait dengan tenaga kerja.


"Nih camilannya di makan dulu, Nadine masih mau mandi katanya, emang tu anak, malas mandi" suruh Ibu Nadine seraya meletakkan sepiring gorengan dan teh hangat di samping Kian.

__ADS_1


"Dimakan ya, sambil nunggu Nadine, mandinya agak lama tu anak"


"Nggak apa-apa, Tante, Saya tunggu"


"Ya sudah, Tante lanjut potong rumput ya," pamit Ibu Nadine. Ia lalu beranjak meninggalkan Kian. Saat hendak mengambil alat pemotong rumput, Ibu Nadine dikejutkan dengan sebuah tangan yang terlebih dahulu memegang alat tersebut. Siapa lagi kalau bukan tangan Kian.


"Saya bantu Tante, sambil nunggu Nadine" kata Kian.


"Udah, kamu duduk aja lho nunggu Nadine,"


"Saya bantu saja, Tante" Kian ngotot.


"Ya sudah, kamu lanjutin ini ya, sampai sana, sekalian, Tante mau ke dapur, mau masak buat makan siang" kata ibu Nadine. Dengan senang hati, ia pun memberi mandat pada Kian untuk menyelesaikan separuh lebih area rumput yang harus dipotong. Sungguh perbuatan yang tidak ada sungkan-sungkannya. Tapi ya salah Kian sendiri, yang sudah mengajukan diri membantu Ibu Nadine. Puk puk Kian.


Lalu Kian pun bergegas memotong rumput. Perlahan ia mulai merasakan keringat menggelayut di dahi, ketiak, kepala, bawah hidung, punggung, dan beberapa area lainnya. Penampilan Kian yang tadinya kece, hilang sudah. Bahkan aroma parfumnya pun mulai tercium samar karena tergantikan dengan aroma matahari yang mungkin sebentar lagi akan berubah jadi aroma bau badan kecut kecut hotahayy.


Sosok yang ditunggu Kian akhirnya muncul. Nadine melihat Kian yang tengah memotong rumput. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Takjub dengan perbuatan ibunya yang nggak ada sungkan-sungkannya menyuruh Kian memotong rumput di taman rumah.


"Bentar ya, Nad, tinggal dikit lagi" pinta Kian. Ia semakin mempercepat menyelesaikan pekerjaannya. Ia mengambil sapu lidi lalu mengumpulkan rumput-rumput yang sudah terpotong tadi. Nadine menatap Kian lekat. Ia memperhatikan Kian bekerja. Nadine tak menyangka bahwa Kian begitu lihai menyelesaikan tugas yang diberikan ibunya.


"Nggak ada kaku-kakunya" gumam Nadine.


"Nah, sudah selesai, ini diletakkan dimana?" Tanya Kian pada Nadine. Nadine lalu mengambil alat pemotong rumput tersebut dari tangan Kian lalu membawanya ke dalam rumahnya. Kemudian Nadine berpamitan kepada ibunya.


"Sudah pamit Ibu?" Tanya Kian. Nadine mengangguk. Mereka berdua pun berjalan menuju mobil Kian yang terparkir di depan rumah Nadine. Tak lama, mobil Kian pun mulai melaju.


Di dalam mobil, suasana jadi hening. Nadine duduk di depan dengan arah pandang mata menatap keluar. Sementara Kian, sekali-kali mencuri pandang pada Nadine.


10 menit berlalu, tiba-tiba Kian berbelok memasuki sebuah pintu masuk sebuah perumahan.


Tiba di rumahnya, Kian langsung bergegas memarkirkan mobilnya. Kemudian membuka pintu rumahnya.


"Ayo masuk" ajak Kian


"Nggak aku di sini aja" tolak Nadine.


"Masuk aja, aku nggak bakal ngapa-ngapain kamu, aku pastikan itu"


"Nggak, aku bilang nggak ya nggak" ketus Nadine.


"Ya sudah kalau gitu" Kian lalu meninggalkan Nadine yang masih duduk di dalam mobilnya. Tak lama, Kian muncul lagi sembari membawa minuman juga setoples camilan.


"Nad, minum sama camilannya aku letakkan di sini ya, aku mandi dulu" kata Kian lagi. Nadine melengos.


"Apa peduliku?" Respon Nadine. Ia kembali menekuni gawainya.


Lama-kelamaan, Nadine merasa gerah. Ia akhirnya keluar dari mobil Kian lalu menuju tempat dimana Kian meletakkan air juga camilan untuknya. Iseng, Nadine masuk ke rumah Kian. Bagi Nadine, kondisi rumah Kian, bisa dibilang rapi. Hanya saja bau rokok begitu menyengat di hidung Nadine. Ia pun urung masuk ke dalam rumah Kian. Nadine duduk sembari minum lalu makan camilan.


"Ayo, kita berangkat" ajak Kian. Ia lalu mengunci rumahnya kemudian bergegas membukakan pintu mobil untuk Nadine.


"Biasa aja kali, besok-besok paling juga buka pintu sendiri"


"Maksudnya?"


"Cowok kan gitu, pas ada maunya manis, giliran udah dapet yang dimau, dilepaskan, dibiar-biarin."


"Ciyee curhat" goda Kian. Nadine melengos.

__ADS_1


"Kamu mau aku berlaku manis terus sama kamu? Tenang, aku kabulin, sampai aku tua juga aku bakal kaya gitu ke kamu"


"Halah, gombal gombal pacul," kata Nadine. Kian nyengir.


Kian lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Tak lama, mereka pun sampai di sebuah butik langganan mama Kian.


"Hai, Yan, aku udah nunggu kamu dari tadi lho, mana calonmu?" Sapa seorang pria yang berdandan nyaris seperti wanita pada Kian. Mereka berdua berjabat tangan.


"Hai Ira, Nih, calon istri gue" Kata Kian memperkenalkan Nadine pada Ira, laki-laki yang memiliki gaya melambai itu.


"Wow, nggak sia-sia ya kamu jomblo bertahun-tahun, dapetnya cantik begini, cuma sayang aja pendek" kata Ira. Matanya memperhatikan Nadine dari atas ke bawah.


"Jangan dengerin dia, Nad, mulutnya emang kayak ember bocor" kata Kian yang mendapati Nadine merengut setelah mendengar ucapan Ira.


"Hahaha, aku bercanda, Nad, jangan anggap serius ya, tapi itu fakta sih, seharusnya kamu nggak marah" Lanjut Ira. Kian melotot ke arahnya.


"Tapi masih cantikan yang dulu lho, Yan, siapa namanya? Rianti seingetku" kata Ira menyebut nama mantan Kian. Ia masih semangat rupanya membandingkan kekasih kian yang dulu dengan Nadine.


"Heh, ngomong yang aneh-aneh lagi, gue pergi" ancam Kian.


"Dih ngambek, aku cuma bercanda doank ini, kamu nggak marah kan, Nad? Jangan cepet marah ya Nad, biar nggak cepet tua kayak dia" Ira menunjuk Kian. Sementara Kian hendak mengambil alas kakinya. Ia berniat untuk melemparkannya pada Ira.


"Sini Nad, ikut aku, kamu di sini aja, Yan, nggak usah ikut, ini urusan wanita"


"Terserah elo" Kian malas menanggapi temannya yang gemulai itu.


Ira mengajak Nadine ke sebuah ruangan yang didalamnya berisi aneka macam baju pengantin. Nadine takjub melihatnya karena semua baju-bajunya cantik.


"Makasih ya, Nad, kamu sudah mengagumi karya aku" kata Ira.


"Eh apa?"


"Tuh kan sampai nggak fokus gitu saking takjubnya sama karya ku" kata Ira percaya diri. Nadine mengangguk. Ia memang mengagumi karya teman calon suaminya itu.


"Bagus semuanya" puji Nadine. Ira jadi tidak enak sendiri mendapat pujian dari Nadine karena ia sempat mengoloknya tadi.


"Maaf yang tadi ya, Nad, aku cuma pengin tahu ekspresi Kian saat aku membicarakan soal Rianti" ungkap Ira.


"Iya nggak apa-apa" jawab Nadine. Tak masalah bagi Nadine, toh dia memang tidak memiliki rasa pada Kian.


"Nah, ke pojok sana yuk, ada baju pengantin yang menurutku cocok banget dengan kamu"


Ira lalu beranjak ketempat yang ia maksud. Ia mengeluarkan 3 pilihan baju dari lemari bajunya.


"Kamu coba ini dulu deh, trus kamu tanya ke Kian, ya, aku tunggu di luar sama Kian".


Nadine mengiyakan. Ia lalu mencoba salah satu baju pengantin yang ia paling ia suka. Setelah itu ia pun keluar dari ruangan tersebut. Saat keluar, Nadine mendapati Kian sedang berbincang dengan seorang wanita.


***


Hai Authors, juga Para pembaca.


terima kasih sudah membaca karyaku.


Semoga berkenan di hati.


Please, mohon like, komen juga rate ceritaku yak. Terima kasih banyak. 😁

__ADS_1


__ADS_2