Pelarian

Pelarian
Pergi


__ADS_3

Di kamar mandi Niah menggigil kedinginan, ia masih bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi. Tak lama setelah itu mba Asri Art rumahnya membawakan handuk untuknya “mba… ini handuknya ! cepetan…tuan sudah pergi….!” ucap mba Asri pelan. Niah segera mengambil handuk pemberian mba Asri kemudian mengeringkan tubuhnya, perutnya sakit karena dari tadi pagi tak ada sesuatupun makanan yang masuk dalam perutnya.


Mba Asri memapahnya menuju ranjangnya, berdiripun terasa susah, tulangnya terasa remuk, ia masih menggigil. Melihat keadaan majikannya mba Asri bergerak cepat mengambilkan sepotong roti dan susu hangat untuknya. Niah melahap makanan yang dibawakan mba Asri untuknya dengan air mata berderai. “mba yang sabar yah” ucap mba Asri pelan. “sebenarnya apa salahku mba?... kenapa papa bersikap begitu padaku!!?  Niah tak dapat menahan kesedihan yang membuncah di dadanya. Dia menangis di pelukan mba Asri, perempuan  bertubuh kecil dan ringkih itu mengelus punggung majikannya  dengan perasaan iba, ia bingung harus bagaimana mengatakan kenyataan itu pada majikan yang sejak kecil ia layani, dia sudah menganggap Niah seperti anaknya sendiri, ada air bening yang menetes di pipinya, hatinya ikut terhanyut dalam kesedihan yang dirasakan oleh majikannya.


“Mba Niah beneran tidak tau apa yang terjadi?” tanyanya . “nggak mba…aku benar-benar tidak tau kenapa papa bersikap sekejam itu” ucapnya sambil menangis. “dan mama…mama sama sekali tidak membelaku….!” Ucapnya masih dalam pelukan mba Asri. “jadi mba Niah beneran  tidak tau kalau mba Niah Hamil?” Mba Asri menutup mulutnya karena keceplosan mengucapkan kata itu, sementara Niah tercengang mendengar ucapan perempuan  itu. “apa?!! , aku hamil?!! Sejenak ia tak mampu berkata apa-apa karena shock, tangisnya kemudian pecah berderai sesalpun memenuhi kepalanya, dia menangis sesunggukan sambil menepuk-nepuk dadanya menahan sakit yang mengisi rongga dadanya.


“kenapa mba…kenapa ini harus terjadi padaku….!” Teriaknya histeris, ia tak kuasa lagi menahan gelombang kesedihan yang menyesakkan hatinya. Dia terus menerus berteriak dan memukul-mukul perutnya. Mba Asri yang menyaksikan kejadian itu turut menangis dan berusaha menahan tangan majikannya itu untuk tidak menyakiti dirinya sendiri.


Malam semakin merangkak gelap, Niah masih larut dalam kesedihan yang mendalam dan Mba Asri masih menjadi teman setianya. Mereka berpelukan untuk sedikit meredam kesedihan, hingga tanpa sadar ia tertidur bersama mba Asri di kamarnya.


Sementara di kamar utama Ibu Ratih dan suaminya berdiskusi tentang apa yang harus mereka lakukan pada anaknya.


 “Pah …kita bujuk Niah saja untuk aborsi yah” ucapan ibu Ratih membuat mata suaminya terbelalak kaget, “Apa yang mama katakan ini…! apa mama sudah gila?!” bentak Pak Adi, ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya kemudian melepasnya dengan kasar sambil mendengus marah, pikirannya kalut dan buntu . “ Tapi pah…ini demi masa depan putri kita” Ibu Ratih mendekati suaminya yang duduk di tepi ranjang mewah berwarna gold dengan ukiran jepara berukuran king itu. Ia berusaha membujuk suaminya agar mau menyetujui idenya. “Bagaimana kalau dia sampai melahirkan anaknya tanpa ayah?” ucap Ibu Ratih sambil memegang pudak suaminya.

__ADS_1


 “Bagaimana ia bisa menjalani kehidupannya ke depan?, dia adalah anak kita satu-satunya pah…apakah dia akan hidup dalam aib yang selamanya akan mengikutinya !” terdengar isakan dari mulut mungil wanita itu, ia tidak tau lagi jalan apa yang harus ditempuh sementara Reza sudah menikah dengan orang lain, tak mungkin untuk meminta pertanggung jawabannya.


“Tapi mah…ah…papa pusing ! mamah saja yang urus!” sahut pak Adi kemudian dia membenamkan dirinya ke dalam selimut hangat yang berlapis bludru berwarna putih kepunyaanya. Kamar luas bak kamar hotel bintang lima itu seketika hening, masing-masing larut dalam pikirannya.


Ibu Ratih mengatur rencana untuk menggugurkan kandungan putrinya itu, apakah ia harus membawanya ke klinik kenalannya untuk melakukan itu atau memberinya jamu penggugur kandungan saja. Ia bingung, ragu dan takut. Bagaimanapun ini adalah suatu kejahatan tapi demi masa depan putrinya dia rela melakukan apapun.


Sementara di kamarnya Niah belum beranjak dari pembaringannya, ia merasa badannya tidak enak dan pusing, sepertinya ia masuk angin karena ulah papanya semalam yang menyiraminya dengan air dingin.


“Tok…tok…tok…! terdengar suara ketukan dari pintu kamarnya, ia melirik wanita yang menemaninya semalaman masih tertidur pulas. Dengan langkah gontai ia bangun untuk membuka pintu kamarnya. “mamah…!” ia menghambur ke pelukan mamanya sesaat melihat mamanya berdiri di depan pintunya. “maafin aku mah…maafin aku…hu…hu…hu….” Tubuhnya sekonyong-konyong jatuh ke kaki mamanya, ia menangis sambil mencium kaki wanita itu. Ibu Ratih berjongkok dan memeluk putri kesayangannya itu. “sudah…sudah, mama mau bicara sesuatu sama kamu” bu Ratih membimbing putrinya  ke ruang keluarga dengan air mata di pipinya.


Niah menagis sesunggukan, ia bigung harus berbuat apa , namun tekadnya sudah  bulat ia tak akan menggugurkan kandungannya itu. “kalau kamu tak mau menggugurkannya sendiri biar mama yang melakukannya” ucap bu Ratih mengancam.


“Mah…Niah mohon, jangan mah…cukup sudah dosa besar yang Niah lakukan, jangan di tambah lagi” ucap Niah dengan suara mengiba.

__ADS_1


“Pokoknya mama nggak mau tau, anak itu tak boleh lahir” bu Ratih kemudian beranjak meninggalkan Niah yang termangu dengan ancaman mamanya itu. Dengan langkah gontai ia kembali ke kamarnya. Hatinya sakit, tak ada lagi tempatnya mencurahkan isi hatinya selain pada mba Asri, namun cepat atau lambat ibunya pasti akan melaksanakan rencananya itu.


Malam itu, Niah memutuskan untuk pergi meninggalkan rumahnya, ia tak mau jika niat mamanya itu jadi kenyataan. Ia membereskan pakainnya di masukkan ke dalam tas kecil , ia membawa pakaian seadanya takut jika orang-orang rumah curiga. Jam dua belas malam saat suasana rumah sudah legang, tak ada lagi yang terjaga ia mengendap - endap keluar dari rumahnya. Ia menelpon Prasetyo teman kuliahnya dulu  untuk menjemputnya. Selang beberapa menit seorang pemuda berpostur tubuh tinggi memakai jaket hitam dengan helm menutupi wajahnya datang dengan motor besarnya. Tak ada percakapan antara mereka karena Niah sudah menjelaskannya di telpon tadi, Prasetyo melajukan motornya menuju rumah Rini sahabat Mereka.


Sesampainya di sana Niah langsung memeluk sahabatnya itu sambil menangis, Rini bingung atas sikap Niah, “ kamu kenapa Niah…malam- malam begini datang ke sini dengan keadaaan seperti ini, untung aku ada di rumah loh, aku baru saja pulang dari club” uacap Rini tanpa jeda karena tak mengerti apa yang terjadi “dan kenapa bukan Reza yang mengantarmu , kenapa Pras?!” sambungnya lagi.


“Reza ninggalin aku Rin, ia menikah dengan wanita lain”ucap Niah masih menagis memeluk Rini. “oke…oke , sekarang kamu masuk dulu yah, cerita di dalam”ajak Rini. “aku pulang dulu yah Rin” ucap lai-laki yang bernam Prasetyo itu. Rini hanya mengannguk dan segera membawa Niah masuk dalam kontrakannya.


“Aku hamil anak Reza Rin” ucap Niah setelah agak tenang. “Apa?!, ini gila Niah, bagaimana dia bisa ninggalin kamu dalam keadaan seperti ini, nggak…enggak, dia harus tanggug jawab” emosi wanita bertubuh tinggi langsing dan berpenampilan seksi itu memuncak. “Tapi dia sudah nikah Rin, lagi pula aku tak mau nikah sama penghianat seperti dia” ucap Niah tegas. “jadi bagaimana Niah, masa anakmu lahir tanpa bapak! Kamu sanggup jadi single parent?” ucap Rini lagi . “Aku akan kerja Rin, apapun itu” Rini tak berkata apa-apa mendengar penuturan sahabatnya itu, ia kenal betul bagaimana tabiat Niah yang keras kepala. “oke…baiklah kalau itu maumu, sekarang kamu istirahat ini sudah sangat larut” Rini kemudian beranjak meninggalkan Niah, ia masuk kamar mandi menyegarkan diri karena baru pulang kerja. Rini bekerja di sebuah club malam, hanya rumah Rini lah yang orang tuanya tidak tau ,karena orang tuanya selalu melarangnya bergaul dengan Rini, bagi mereka Rini adalah perempuan tidak benar karena bekerja di club.


Niah kepikiran untuk ikut bekerja dengan Rini, semalaman ia memikirkan itu, ia harus mandiri , karena jika ia menggunakan kartu kreditnya pasti orang tuanya bisa melacak keberadaannya.


 

__ADS_1


bersambung


 


__ADS_2