
Rumah Tangga dalam Keadaan Tidak Baik-baik Saja.
Nadine kaget dengan foto tersebut. Ia tak menyangka suaminya akan berbuat seperti itu. Baru saja ia membuka hati, lalu Kian dengan begitu mudahnya menyakiti.
"Brengsek tetap aja brengsek" kata Nadine.
"Menyesal sudah membuka hati buat dia" lanjut Nadine.
Nadine yang diterpa cemburu, seketika tak mampu berpikir jernih. Ia benar-benar dikuasai emosi.
Nadine menonaktifkan hpnya lalu i mengemas beberapa helai pakaiannya ke dalam ranselnya. Ia memutuskan untuk pergi ke suatu tempat.
***
Sementara itu, di hari ketiga Kian berada di luar rumah, ia berada di tempat pertemuan yang lain, bukan lagi bertemu dengan orang-orang partai tempat Riani mengabdi, melainkan Kian berkumpul dengan orang-orang yang berbeda.
Kali ini ia bersama teman-teman organisasinya. Beberapa mantan anggota organisasi juga datang seperti Heru juga Riani, mantan kekasih Kian. Ya mereka berdua, dulu pernah aktif di organisasi buruh bersama Kian. Mereka bertiga perintis organisasi tersebut. Tujuan mereka yakni membuat para buruh melek hukum yang berlaku terkait dengan ketenagakerjaan dan membantu teman-teman buruh memperjuangkan hak-hak mereka.
Namun, Heru dan Riani memutuskan untuk undur diri dan mengejar mimpi masing-masing. Tinggalah Kian dan beberapa kader baru.
"Apa kabar, Lo, Her?" Tanya Riani pada Heru yang baru bergabung.
"Lagi bokek gue" jawab Heru sekenanya.
"Ditanyain kabar, malah curhat keuangan" kata Riani. Heru tertawa.
"Lo ada job, nggak Ri, gue butuh banyak job, nih, beberapa bulan lagi mantan bini gue lahiran, gue harus nabung dari sekarang buat anak gue" cerita Heru.
Sejak ia berpisah dengan Ria, meskipun baru berpisah rumah, Heru diminta Ria untuk bertanggung jawab atas kehamilan Ria serta bertanggung jawab pada anaknya. Heru tentu paham akan hal itu. Oleh sebab itu ia bekerja keras sekuat tenaga. Beruntung hutangnya pada Ria sudah lunas berkat bantuan dari Kian.
"Elo, sih, pakai pisah segala, mbok ya ditahan aja, kali aja kelak rumah tanggamu membaik" saran Riani. Memang, rumah tangga Heru, sudah menjadi konsumsi publik baik di kampus tempat ia mengajar maupun di lingkup pergaulannya.
"Keputusan gue udah bulat, Ri, udah deh, nggak usah bahas itu. Gue tanya kerjaan, nih, ada nggak?" Heru mengulang tanya.
"Ada" jawab Riani.
__ADS_1
"Jadi tim sukses gue" lanjutnya.
"Boleh, eh bayarannya berapa dulu?"
"Entar, kalau gue menang, baru gue bayar"
"Kecut donk, nggak mau gue" tolak Heru.
"Terserah, masih banyak yang mau, koq, Lo mau kan, Yan, jadi tim sukses gue?" pinta Riani.
"Nggak" jawab Kian singkat. Heru sontak tertawa. Riani mencebik.
"Elo gimana sih, Ri, elo kan mantan pacar dia, masak nggak kenal karakter mantan pacar sendiri, wah parah Lo parah" ejek Heru.
"Yakali aja berubah, nggak idealis lagi" kata Riani sambil melirik Kian.
Kian yang jadi pusat pembicaraan hanya memperhatikan mereka berdua saja. Ia malas merespon. Pikirannya sudah berada di rumah, pada istrinya, Nadine. Dari tadi malam, nomor hp Nadine tidak bisa ia hubungi.
Kian sudah meminta adiknya untuk melihat kondisi Nadine di rumah dan si adik pun segera mengunjungi Nadine. Kata adik Kian, Nadine baik-baik saja dan tengah sibuk menyelesaikan pekerjaannya.
"Berikan hpmu ke Mbak Nadine" pinta Kian.
"Yaaahh, Mas nggak bilang, sih, kalau mau ngobrol sama Mbak Nadine, tau gitu aku telfon tadi waktu masih di sana"
"Sekarang kamu dimana?"
"Aku sudah di rumah" ucap Adik Kian. Kian menepuk keningnya.
"Ya sudah, makasih banyak, ya" kata Kian. Lalu ia mengucapkan salam sebagai tanda sambungan telfon akan ia matikan.
Perasaan Kian benar-benar tak enak. Ia ingin pulang, tapi acara yang ia ikuti belum juga selesai. Sementara ia sendiri menjadi bagian penting dalam acara tersebut.
Ia benar-benar tak sabar untuk segera bertemu dengan pagi. Agar ia bisa segera pulang ke sang istri.
Setelah melalui serangkaian rapat juga voting kandidat ketua organisasi yang baru, akhirnya tiba di acara penutup. Kian tak lagi menjadi ketua di organisasi buruh itu.
__ADS_1
Ia senang, setelah 5 tahun menjabat, akhirnya ada yang menggantikannya. Dengan begitu kaderisasi akan terus berlanjut. Kian berharap dari kaderisasi ini, akan muncul penerus-penerus pejuang buruh, pejuang rakyat.
Dia merasa cukup memantau saja. Tapi, jika butuh bantuan atau pun nasihat kepemimpinan, Kian siap sedia memberi bantuan. Seperti itulah yang diucapkan Kian dalam sambutan perpisahannya. Sebagai penutup, Kian meminta semua peserta acara untuk bersulang bersama-sama.
Riani menghampiri Kian. Lalu mengarahkan Kian untuk bergabung bersama Heru juga para mantan anggota organisasi. Mereka berbaur bercakap sesekali membicarakan masa lalu, kadang juga membahas soal masa depan, lalu membicarakan strategi gerakan untuk membantu mengembangkan organisasi.
Riani menyodorkan botol-botol minuman yang mengandung alkohol di depan mereka. Ini sudah menjadi hal yang biasa kala mereka sedang berdiskusi ria. Tentu minuman yang tersaji bukan yang berkadar alkohol tinggi sehingga tidak akan membuat mereka hilang kesadaran. Lagipula diskusi macam apa jika pesertanya mabuk semua.
Waktu semakin bergulir. Beberapa dari mereka nampak mulai hilang kesadaran bahkan sisanya sudah malah hilang kesadaran termasuk Kian. Kian sendiri termasuk laki-laki yang tidak kuat mengkonsumsi minuman beralkohol tinggi.
Ya, tanpa mereka sadari, minuman yang diberi Riani adalah minuman dengan kadar alkohol yang tinggi. Riani terpaksa mengelabui semua orang demi bisa menjebak seseorang yang bernama Kian.
***
Kian dipapah oleh Riani menuju kamar hotelnya. Ia mabuk berat. Salah Kian menerima tantangan Heru untuk menghabiskan satu botol minuman yang ternyata, tanpa ia ketahui, memiliki kadar alkohol yang tinggi.
Setelah merebahkan Kian di tempat tidur. Riani membuat Kian bertelanjang dada. Lalu ia mengeluarkan hpnya dan mulai memotret Kian.
Puas memotret, Riani mengirimkan hasil fotonya pada sebuah nomor kontak di hpnya yang bertuliskan Nadine. Tak lupa, Riani menyisipkan sebuah alamat pada pesan tersebut serta sebuah kalimat.
To: Nadine
Silakan datang ke alamat itu, dan buktikan sendiri kebenaran foto-foto itu.
Riani tersenyum sinis sembari mengirimkan pesan tersebut kepada Nadien. Ia merasa usahanya ini akan berbuah manis. Ia akan mendapatkan apa yang ia inginkan.
Tak ada sedikitpun rasa tak enak hati mampir di hati Riani. Toh, rumah tangga Kian tidak dalam keadaan baik-baik saja. Riani sudah menemukan buktinya.
"Kian lebih sering menghabiskan waktu di luar rumah. Ya, itu bisa jadi salah satu bukti Kian tak bahagia dengan istrinya" pikir Riani.
"Jadi tak masalah kalau seperti ini, bukan?" Lanjutnya.
Ya, bagi Riani, apa yang ia lakukan, adalah suatu bentuk bantuan untuk Kian. Riani pikir apa yang ia lakukan, semata, mempermudah Kian keluar dari siksaan rumah tangganya bersama istrinya.
Riani lalu menghampiri Kian. Ia mulai membuka pakaiannya satu persatu. Kemudian ia merebahkan dirinya di samping Kian. Ia pandangi Kian lekat-lekat. Ia belai lembut rahang Kian. Ia sentuh juga bibir Kian. Lama, jemari Riani mendiami bibir Kian, bermain-main di sana. Seketika muncul rasa ingin mencium bibir Kian. Ia pun mendekatkan wajahnya. Dekat, dekat, dan Riani mencium Kian. Lama, lama, hingga sebuah cahaya Blitz keluar dari hp Riani. Ia mengirimkan kembali hasil foto itu pada nomor yang sama. Puas foto-foto, Riani memeluk Kian dan lalu ia terlelap.
__ADS_1
***