Pelarian

Pelarian
Hari H Pernikahan


__ADS_3

Hari H pernikahan. Halaman rumah Nadine sudah disulap begitu cantik. Sebuah tenda besar sudah terpasang di sana. Tirai-tirai berwarna putih dan biru langit menjuntai juntai. Biru dan putih adalah warna favorit Nadine, itu yang diingat ibunya. Bunga-bunga hias yang didominasi warna putih berada di titik-titik tertentu. Kursi-kursi putih bersih yang berhiaskn pita-pita berwarna putih dan biru langit berjajar rapi menghadap ke arah yang sama manalagi kalau bukan tempat Ijab Qabul terlaksana.


Sementara itu, para undangan mulai berdatangan. Tak lama, alunan musik rebana penyambut mempelai pria mulai menggema sebagai tanda bahwa sang pengantin pria sudah tiba. Ya, Kian tengah berdiri di depan pintu masuk yang di kanan serta kirinya terdapat janur kuning yang menjuntai indah. Kian didampingi oleh Mama juga adiknya. Beberapa anggota keluarga Kian mengikuti di belakang.


Kian disambut ayah Nadine. Ayah mempersilakan Kian lalu mengantarkan ke tempat dimana Ijab Qabul dilaksanakan. Kian menyalami penghulu juga saksi nikah dari keluarga Nadine. Setelah itu, ia duduk khidmat. Tak dapat ia pungkiri, nervous sudah menghampiri dan makin menjadi-jadi. Kian mempraktekkan tip pamannya soal cara mengurangi deg-deg an saat Ijab Qabul. Kian tak henti berdzikir sembari mengatur nafas. Dan ya, ini ampuh meredakan kegugupan Kian. Buktinya, ia begitu lancar saat mengucapkan kalimat Qabul.


"Saya terima nikah dan kawinnya, Nadine Alesha Yumna binti Dul Djaenali dengan Mas Kawin tersebut dibayar tunai."


"Gimana, sah?" tanya penghulu pada saksi dan yang menghadiri.


"SAAAAHHH" jawab semua hadiri kompak.


Kian lalu sujud syukur. Dalam sujud nya, ia mengucapkan kalimat tahmid berkali kali.


"Alhamdulillah Alhamdulillah."


Kian lalu kembali ke posisi semula. Ia hapus air yang menggenang di sudut matanya. Kian menangis, menangis bahagia juga lega.


"Akhirnyaaaa..." Gumamnyaaa.


Fokus Kian beralih pada sesosok yang berjalan mendekatinya. Sosok tersebut digamit oleh ibunya dan entah siapa, Kian belum mengenalnya. Meskipun sosok itu berjalan dengan kepala menunduk, tapi tetap terlihat aura cantik yang terpancar menguar. Ya, sosok itu adalah Nadine.


Kian tidak melepaskan pandangannya sedikitpun pada Nadine. Bagaimana bisa lepas, Nadine yang sudah manis, berubah jadi manis manis cantik. Formula ini membuat Kian makin tak bisa mengalihkan pandangannya pada Nadine.


"Cantik sekali" dua kata itu lolos keluar dari mulut Kian saat Nadine sudah duduk di sampingnya.


Kian benar-benar terpana pada Nadine, ia bahkan sempat tidak mendengarkan instruksi dari pemandu acara.


"Silakan istri mencium tangan suami." Kata pemandu acara untuk yang ketiga kalinya.


"Eh..iya," ucap Kian. Ia lalu mengulurkan tangannya pada Nadine dan Nadine pun menyambut tangan Kian lalu menciumnya. Seketika Kian dirasuki bahagia tiada tara.


Kian lalu menanti instruksi selanjutnya, yakni mencium kening pengantin. Iya, seingat Kian, setiap kali ia menghadiri acara pernikahan, pasti ada moment suami diminta mencium kening istri. Namun sayang, apa yang dipikirkan Kian tidak akan terjadi. Karena rupanya Nadine sudah meminta pemandu acara untuk melewati step tersebut dengan alasan ia malu.


"Kedua mempelai menanda tangani buku nikah" pinta pemandu acara. Mereka pun melakukan hal tersebut .


"Agar pernikahan mempelai berdua langgeng bahagia sakinah mawadah warahmah, silakan menyimak nasihat pernikahan yang disampaikan oleh kyai haji Wafa." Pinta lagi pemandu acara. Nadine dan Kian pun menurut. Mereka berdua fokus mendengarkan nasihat pernikahan.


Akhirnya, rangkaian acara pun selesai. Semua undangan sudah beralih perhatian ke ranah menikmati konsumsi. Sepasang pengantin baru itu pun sudah diizinkan untuk meninggalkan lokasi acara. Mereka harus segera bersiap-siap untuk melanjutkan acara berikutnya yakni Resepsi Pernikahan.

__ADS_1


Nadine nampak kesulitan berjalan. Ia menarik sedikit ke atas kain songket yang ia kenakan. Kian menyadari hal itu. Ia pun menggamit lengan Nadine dan menuntunnya pelan. Nadine terkejut dengan tindakan Kian. Bisa-bisanya Kian memegangnya tanpa izinnya terlebih dahulu. Nadine menatap Kian tajam.


'si brengsek ini, pinter bener memanfaatkan kesempatan, awas aja' batin Nadine.


Kian tahu Nadine tengah menatapnya. Namun ia mengabaikan tatapan tersebut dan memilih fokus membantu Nadine yang sekarang sudah jadi istri sahnya berjalan menuju kamar Nadine. Setelah sampai, Nadine melepas kasar genggaman tangan Kian.


" Lepas" kata Nadine sembari menarik tangannya. Kian kemauan istrinya. Ia pun beranjak meninggalkan Nadine.


Nadine masuk ke dalam kamarnya. Ia melepas satu persatu pernik hiasan yang menempel di kepalanya. Saat Nadine hendak membuka kancing bajunya, tiba-tiba ada yang membuka pintu kamarnya. Nadine sontak terkejut lalu menutupi reflek menutupi bagian tubuhnya yang sudah terbuka.


"Eh maaf maaf, aku nggak tahu" kata Kian. Ia lalu menutup kembali pintu kamar Nadine. Ia berdiri di depan pintu kamar Nadine sembari memegang dadanya yang berdetak tak karuan.


"Kenapa, Nak Kian? Koq berdiri di sini? Pintu kamarnya di kunci sama Nadine?" Selidik ibu Nadine.


"Eh nggak koq, Bu, Nadine masih ganti baju, jadi saya menunggu di sini saja dulu" jelas Kian.


"Loalaaahh, masuk aja Nak, nggak apa-apa, lagian sudah jadi suami istri juga, tho? Nggak perlu sungkan sungkan atau malu malu" ucap Ibu Nadine.


"Baik, Bu, saya segera masuk ke dalam" kata Kian.


"Nah, ya udah ya, ibu tinggal dulu ke belakang, kalian belum makan, lho, setelah ganti baju, kalian langsung ke dapur aja, ibu sudah siapin makanan kalian di sana" terang Ibu Kian yang dibalas dengan anggukan kepala Kian. Setelah melihat respon Kian, Ibu pun berlalu meninggalkan Kian.


"Boleh aku masuk?" Tanya Kian meminta izin.


"Ya" jawab Nadine singkat. Kian lalu masuk ke kamar Nadine.


Kian mendapati Nadine tengah duduk di depan meja belajarnya. Ia nampak tengah menulis sesuatu di kertas.


"Aku numpang ganti baju, ya?" Izin Kian. Nadine menoleh sekilas. Ia mengangguk cepat lalu ia kembali fokus menulis.


Kian lalu mengambil pakaiannya di dalam tas ransel yang ia bawa. Kemudian, satu persatu, ia melepas pakaian pengantinnya. Di kamar Nadine tidak ada kamar mandi dalam apalagi walk in closet. Di sana, ya hanya ada sebuah ruang, tak ada ruang lain lagi.


Nadine sudah selesai menulis. Ia pun membalikkan tubuhnya. Seketika matanya bersirobok pada sosok di pojok kamarnya yang tengah bertelanjang dada dan menggunakan celana bokser.


"Astaga" Nadine berseru lalu membalikkan tubuhnya ke posisi semula.


"Bilang dong kalau mau ganti baju" protes Nadine.


"Kan sudah izin tadi" jawab Kian. Ia bergegas mengenakan kaos oblong dan celana harian.

__ADS_1


"Tau ah, ni baca" Nadine menyodorkan selembar kertas pada Kian. Kian menghampiri Nadine lalu mengambil kertas tersebut.


"Do and Don't ? Maksudnya apa ini?" Kian mengerutkan alisnya.


"Yang boleh dan yang nggak boleh di pernikahan ini" jelas Nadine. Kian menelusuri setiap kalimat di sana.


Tak banyak, ada 3 point yang tertulis di sana dan menurut Kian sama sekali tidak terlalu memberatkan atau bahkan mengada-ngada. Pertama, bebas melakukan aktivitas masing-masing. Kedua, tidak boleh memaksakan kehendak. Ketiga, tidak melakukan hubungan suami istri.


"Aku setuju tapi ada point yang mau aku perjelas terlebih dahulu."


"Oke, aku lihat dulu" jawab Nadine. Ia memberikan bolpoint kepada Kian. Kian nampak mulai menulis di selembar kertas tersebut.


Ada sedikit perubahan yang dibuat Kian. Pertama, bebas melakukan aktivitas masing-masing namun tetap mengerti batasan sebagai seorang istri atau suami. Kedua, tidak boleh memaksakan kehendak, sebelum dikomunikasikan terlebih dahulu. Ketiga, tidak melakukan hubungan suami istri sebelum ada rasa cinta dari kedua belah pihak.


"Nah, sudah jadi, silakan kamu baca lagi" kata Kian. Nadine membaca dengan seksama perubahan yang dibuat oleh Kian. Namun saat ia membaca di point ketiga, ia nampak mengerutkan alisnya.


"Aku keberatan dengan point ketiga, seharusnya tidak perlu menambahkan kalimat 'cinta dari kedua belah pihak', toh juga aku nggak mungkin suka sama kamu, Bang" yakin Nadine.


"Jika memang kamu yakin seperti itu, seharusnya kamu tidak mempermasalahkan penambahan kalimat tersebut. Aku hanya memperjelasnya saja." Kata Kian. Nadine mencebik.


"Oke, baiklah, aku sepakat" Nadine mengulurkan tangannya yang kemudian disambut senang oleh Kian. Kian cukup bersyukur karena tak ada kata perpisahan di aturan pernikahan yang dibuat Nadine. Kian juga bersyukur karena Nadine menyetujui penambahan aturan yang ia buat, terutama di point ketiga. Entah gimana, Kian optimis bahwa ia pasti berhasil membuat Nadine jatuh cinta padanya.


***


Hai, Readers.


Makasih banyak sudah berkunjung ke sini. Mohon bantuan like, komen, dan rate-nya yak. Kalau berkenan, nge-vote juga boleh, senang sekali.


buat Authors,


makasih juga kunjungannya yak.


please, tinggalkan jejak agar aku bisa mengunjungimu kembali.


salam terlove,


dari aku.


😊

__ADS_1


__ADS_2