
"Win, temenin gue donk, ke toko buku" pinta Nadine ke Windi.
"Nggak bisa, gue mau ketemuan sama gebetan gue."
"Siapa? Lee min ho?" Tebak Nadine.
"Gue emang halu, Nad. Tapi ya nggak sampek kayak gitu jugaaaaaa" Windi tak terima.
"Gitu deh elo ya, udah punya gebetan lupa deh ama temen" protes Nadine.
"Ya kan elo gitu juga waktu sama si Kampret" Windi membela diri.
"Eh gue gitu ya, koq gue nggak sadar?"
"Gimana mau sadar, elo mabuk cinta mulu, udah ah, gue mau mandi, trus siap-siap deh ketemuan, deeehhh" Windi melambaikan tangan lalu mengambil handuk yang ia gantungkan di balik pintu kamarnya.
Nadine lalu beranjak ke kamar Oci dan Lia, mereka sekamar.
"Ci, Ya', temenin gue yuk, ke toko buku, nggak enak gue berangkat sendiri"
Oci dan Lia saling pandang. Sepertinya mereka tengah mengeluarkan jurus telepati untuk berkomunikasi.
"Sorry, Nad. Kita berdua nggak bisa" tolak Oci yang diikuti anggukan kepala Lia.
"Nggak bisa kenapa?" Tanya Nadine kepo.
"Rahasia" jawab Oci lagi-lagi diikuti anggukan kepala Lia.
"Elo minta anter Bang Kian aja, pasti dia mau" saran Lia.
__ADS_1
"Nggak ah" sontak Nadine menolak.
"Kenapa, nggak dibolehin sama si Kampret?" Windi yang sudah selesai mandi menimpali.
"Iiiy... Eh.. apa an sih Lo nimbrung mulu."
"Eh Nad, gue ingetin lagi ya, si kampret itu sudah punya istri, jadi elo harus berhenti komunikasi sama dia, sebelum benih-benih pelakor tumbuh subur di diri elo" Windi mengingatkan.
"Iya, Nad. Setuju gue sama Windi" ujar Oci. Lia menganggukkan kepalanya.
"Nah, kan, semuanya setuju sama kata-kata gue."
"Win, Ci, Ya', gue kasih tahu lagi ya ke kalian, Gue sama Mas Heru cuma komunikasi biasa aja, cuma sekedar berbagi kabar atau cerita, sudah, gue juga nggak ada niatan mau ngerebut dia dari istrinya, sumpah" Nadine mengkonfirmasi.
"Ah elo Nad, emang dasar tanduk gu mo ong" ucap Windi lalu meninggalkan Nadine yang masih berdiri di depan kamar Oci dan Lia.
"Trus gue gimana, nih. Kalian berdua bener-bener nggak bisa nemenin gue".
Oci dan Lia mengangguk kompak.
Nadine cemberut. Ia pun beranjak dari kamar Oci dan Lia.
Di kamar, Nadine menatap gawainya. Menimbang-nimbang saran dari teman-temannya untuk meminta Kian menemaninya. Tapi, Nadine ragu.
Ia takut kalau harus keluar berdua saja dengan Kian. Ia terngiang ngiang dengan perkataan Heru mantannya bahwa Kian adalah bukan cowok baik-baik yang kalau sudah mendapatkan apa yang diinginkan maka selanjutnya ia akan pergi meninggalkan.
Tapi, mau gimana lagi, pergi sendiri juga nggak mungkin mengingat ia punya kebiasaan buruk yakni sering gagal fokus kalau berada di keramaian. Parahnya, Nadine juga pernah sampai pingsan karena diserang pusing mendadak saat berada di keramaian. Nadine juga buruk dalam hal kecerdasan visual. Ia jarang sekali bisa mengingat jalan menuju ke suatu tempat. Oleh sebab itu, Ia jadi sering nyasar.
Saat sulit begini, Nadine teringat Heru. Dulu, kalau mau kemana-mana, ia selalu ditemani Heru. Sekarang?
__ADS_1
Hhhhh...
Nadine menghela nafas sembari membuang harapannya yang ingin ditemani Heru. Nadine sadar, itu tidak mungkin dan tidak boleh. Nadine sudah membuat batasan bagi dirinya sendiri, bahwa ia dan Heru cuma boleh berkomunikasi, namun tidak untuk bertemu. Demi menghindari ia jatuh cinta pada Heru lagi. Meskipun sampai saat ini, rasa cintanya pada Heru masih ada.
From: Nadine
To: Bang Kian
Bang Kian, hari Sabtu besok ada waktu? Nadine mau minta tolong.
Itulah pesan yang Nadine kirimkan pada Kian. Sambil menunggu balasan, Nadine menyelesaikan pekerjaan sampingannya yang tertunda.
***
Sementara itu, di kantor organisasi, Kian lagi-lagi menyunggingkan senyum lebar pada gawainya. Bagaimana tidak bahagia, secara di gawai tersebut ada pesan dari pujaan hatinya. Namun sayang cintanya pada si pujaan hati bertepuk sebelah tangan.
Makjleb.
Kasihan deh, Kian.
From: Nadine
To: Bang Kian
Bang Kian, hari Sabtu besok ada waktu? Nadine mau minta tolong.
Tanpa berpikir lama, Kian segera membalas pesan Nadine. Isinya, ia bersedia membantu Nadine. Apapun akan ia usahakan demi Nadine.
Dah, belum diterima cintanya, Kian sudah jadi bucin. Kian, kian.
__ADS_1