
Jadi Model Dadakan
Hampir 1 bulan Nadine lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah. Sejak menjadi narasumber soal fotografi di kampus tempat suaminya mengajar, semakin banyak yang meminta Nadine untuk menjadi narasumber fotografi hingga menjadi tutor.
Disela-sela aktivitasnya menghadiri berbagai acara, pelatihan dan seminar, Nadine juga masih menjalani profesinya sebagai fotografer produk makanan hingga kecantikan. Nadine amat senang dengan apa yang ia lakoni, di samping menjalani apa yang menjadi passionnya, Nadine juga bisa berbagi sedikit ilmu yang ia miliki dan juga mendapatkan pundi-pundi.
Nadine sempat menghitung tabungan yang ia miliki. Namun, rupanya, tabungannya belum cukup untuk menyewa sebuah bangunan untuk ia jadikan sebagai kantor tempatnya bekerja. Ya, Nadine ingin memiliki kantor sendiri yang bergerak di dunia fotografi. Nadine juga ingin punya toko kecil yang menyediakan aneka properti dan kebutuhan di dunia fotografi. Itu mimpi Nadine.
Kadang, jika tidak sedang mengisi acara, Nadine memilih untuk ke komunitas sosial anak jalanan. Sejak ia mendapat tugas untuk mengisi dan mengembangkan channel komunitas tersebut, Nadine sudah tidak lagi turut aktif menjadi kakak pembimbing di sana. Jadi jika Nadine berada di komunitas tersebut, ia fokus mengamati kegiatan yang sedang berlangsung untuk mencari ide konten channel YouTube komunitas. Setelah outline ide ia buat, barulah ia beraksi membuat konten.
Namun, hari ini, Nadine tak ada jadwal keluar rumah. Ia hanya punya deadline menyetorkan hasil foto sebuah produk makanan.
Selain menyelesaikan pekerjaannya, rencananya, hari ini yang bertepatan dengan week end yang berarti Kian juga libur kerja, Nadine ingin membahagiakan suaminya. Sebagai ucapan terimakasih karena begitu amat mengerti dirinya. Kian selalu mendukung apa yang dilakukan Nadine bahkan jika itu harus mengurangi waktu Nadine bersamanya. Sedikitpun, sekalipun, Kian tak pernah memprotes kesibukan Nadine.
Iya, Nadine sadar, belakangan ini, ia hampir tidak pernah menghabiskan waktu bersama suaminya. Ngobrol pun hanya pada saat makan. Itu pun hanya sebentar. Karena setelah itu, Nadine kembali berkutat dengan kesibukannya. Ngobrol di tempat tidur, gimana? Dah, terakhir mereka tidur sekamar saat di rumah orang tua Nadine.
"Mas, hari ini, kamu pengin makan apa? Nanti aku masakin" tanya Nadine ke Kian yang tengah membersihkan taman kering di depan rumah mereka.
Nadine berencana ingin memasak makanan yang direquest suaminya. Selama ini, Kian selalu menerima aja apa yang dimasak Nadine.
"Apa aja, apapun mas suka" jawab Kian.
"Request aja, Mas. Nggak apa-apa, mumpung aku di rumah" kata Nadine. Kian nampak berpikir. Tak lama, ia pun menyebutkan nama sebuah makanan.
"Soto aja, gimana?" Ucap Kian. Gantian, Nadine yang tampak berpikir.
"Nggak usah dipaksain, Sayang, masak menu biasanya aja, sebisa kamu, apapun, pasti mas makan" kata Kian. Ia tak ingin merepotkan istrinya itu.
"Bisa bisa, aku cobalah" Nadine lalu meninggalkan Kian. Ia optimis pasti bisa membuat soto.
Nadine mengambil hpnya. Ia browsing resep soto. Secepat kilat, ia mendapatkan informasi resep soto yang ternyata ada banyak macamnya. Setahu Nadine, hanya ada soto Lamongan. Nyatanya, ada soto Betawi, soto kuah bening, soto kuah kuning, banyak.
Nadine dilanda kebingungan mau menggunakan resep yang mana. Akhirnya, ia memilih untuk menghubungi ibu lalu meminta resep soto dari ibu saja. Kebetulan, ibu pernah masak soto dan menurut Nadine soto buatan ibu rasanya enak. Nadine berharap Kian memiliki selera yang sama dengannya.
Setelah mendapatkan informasi resep dari ibu, Nadine bergegas ke warung sayur yang dekat rumahnya untuk membeli rempah-rempah. Tak lupa ia juga membeli beberapa bahan tambahan pelengkap soto, seperti bihun, jeruk nipis, daun seledri dan kerupuk. Untuk ayam sendiri, Nadine sudah membelinya kemarin sepulang kerja.
Tiba di rumah, Nadine mulau menyiapkan bahan seperti ayam, bihun, sambal, dan seledri. Nadine juga menggoreng kentang dan merebus telur. Ia ingin membuat soto ala ala warung, gitu.
__ADS_1
Nadine berlanjut meracik bumbu.
"Kata ibu, tadi, bumbu sotonya, bawang merah, bawang putih, jahe, kunyit, kemiri, ketumbar, batang serai" ujar Nadine.
Untungnya Nadine sudah kenal dengan rempah-rempah tersebut. Ya, meskipun Nadine membutuhkan waktu yang lama untuk memasak soto, tapi akhirnya ia bisa menyajikan soto kepada Kian.
"Gimana, Mas, rasanya? Nggak kayak jamu, kan?" Tanya Nadine. Ia duduk di depan Kian dengan penuh khidmat. Nadine menunggu respon Kian dengan perasaan deg-deg an.
"Enak" Kian kembali menyeruput kuah soto.
"Makasih, ya" ucap Kian. Nadine mengangguk.
Mereka pun fokus dengan makanan masing-masing. Obrolan di antara mereka pun berakhir.
Selesai makan, Kian membersihkan peralatan makan mereka. Entah sejak kapan berlaku peraturan, yang tidak masak, maka ia yang membersihkan peralatan makan. Ya, Nadine dan Kian seperti itu.
Kian lalu kembali ke halaman depan. Duduk-duduk di gazebo kecil sembari mengamati laptopnya. Jika boleh dibandingkan, Kian lebih sering berduaan dengan laptop daripada istrinya.
"Mas, sini deh, aku mau minta tolong?" Tiba-tiba Nadine muncul di balik pintu keluar.
"Bentar" Kian lalu men-sleep laptopnya.
"Aku minta tolong kamu jadi model foto aku, Mas" Ungkap Nadine.
"Loh, nggak bisa" Tolak Kian.
"Kenapa, Mas?"
"Mas belum mandi"
"Oooo...nggak apa-apa, nggak masalah, Mas" jawab Nadine.
"Ya, sudah" Kian pasrah.
Nadine lalu menggenggam tangan Kian lagi. Ia letakkan sebuah produk makanan di tangan Kian. Ia mengatur posisi tangan Kian.
Pada saat ini, jarak antara Nadine dan Kian amatlah dekat. Bahkan Kian bisa mencium aroma manis buah dari tubuh Nadine. Seketika, Kian menegang. Namun, dengan sekuat tenaga, Kian berhasil mengalihkan pikirannya yang mulai berpikir yang tidak-tidak.
__ADS_1
Lalu Nadine mulai mengambil gambar. Hanya beberapa kali tangkapan saja. Nadine mengatakan sudah cukup.
"Mas boleh lihat hasilnya, nggak?" Pinta Kian. Nadine mengangguk lalu menunjukkan hasil jepretannya.
"Koq tangan aja?" Tanya Kian.
"Iya, aku butuh tangan kamu aja, Mas, buat jadi model foto aku" kata Nadine nyengir .
***
Sore harinya, Kian tiba di rumah Mama. Siangnya, Mama menelfon Kian dan meminta Kian untuk pulang karena Mama tengah memasak makanan kesukaan Kian, sayur Lodeh Kikil.
"Loh, koq sendirian?" tanya Mama setelah Kian mencium tangannya.
"Ke kliennya, Ma"
"Ya udah, ayo makan, mumpung masih hangat" kata Mama.
Mereka lalu menuju ke meja makan. Di sana, hanya ada Kian dan Mama. Sedangkan adik Kian, Dini, sedang tidak berada di rumah.
"Loh, koq udahan? biasanya nambah-nambah" tanya Mama yang keheranan melihat tingkah anaknya, Kian. Biasanya, kalau makan lodeh, apalagi lodeh kikil, Kian bisa nambah nasi sampai berkali-kali.
"Maaf, ya, Ma. Kepalaku tiba-tiba sakit" kata Kian. Sontak Mama menghampiri anaknya itu lalu memegang kening Kian.
"Panas sekali, Nak"
"Mama telfon Nadine dulu"
"Jangan, Ma. Dia kerja"
"Tapi kamu sakit, Nak"
"Nggak apa-apa cuma demam gini, Ma, sebentar aja sembuh"
"Ya sudah, Mama ambil kompres dulu, kamu tiduran di kamarmu, ya" Kian mengangguk lalu berjalan menuju kamar lamanya.
Sementara itu, Mama menyiapkan peralatan untuk mengompres Kian. Dalam pikirannya, ada tanda tanya besar tentang bagaimana Nadine memperlakukan anaknya. Karena ia sendiri tahu bahwa Nadine tidak mencintai putranya.
__ADS_1
Dulu, saat pertama kali Mama menyadari bahwa Nadine tidak mencintai Kian, ia sempat kecewa dan berniat ingin menyarankan Kian untuk membatalkan pernikahannya dengan Nadine. Namun, ia urung melakukan itu. Ia memilih percaya dengan pilihan Kian bahwa Nadine adalah yang terbaik untuk Kian. Sekarang, nyatanya, Kian jadi terbengkalai. Penampilan Kian bahkan nampak tidak terurus.
Terselip keinginan Mama, untuk mendatangi menantunya itu lalu menanyakan perihal perasaanya pada Kian. Apakah Nadine sudah mencintai putranya atau tidak? Jika tidak, Mama sudah menyiapkan saran agar Nadine mau melepas Kian. Apalagi kalau bukan, perceraian.