
Fokus
Akhirnya, pembicaraan Nadine dan Heru kemarin berakhir dengan sebuah kesepakatan. Nadine masih mengingat jelas kesepakatan antara dirinya dengan Heru. Heru mengajukan dua pilihan yakni Nadine memberinya kesempatan kedua untuk bisa bersama Nadine sebagai kekasih lagi seperti dulu atau Nadine putus dari Kian. Tentu saja Nadine memilih yang kedua. Secara hubungannya dengan Kian hanya sebuah kepura-puraan.
Nadine sebenarnya sudah malas berhubungan dengan Heru sejak ia dilabrak oleh istri Heru. Terlebih lagi dari hal itu, Nadine jadi tahu bahwa Heru berbohong padanya. Beuuggghhh.
Akan tetapi, setelah Nadine memikirkan soal kebaikan-kebaikan yang Heru lakukan selama mereka berpacaran dulu, membuat hati Nadine mau memaafkan kebohongan Heru dan lalu tetap mau menjalin hubungan dengan Heru sebagai teman, tidak lebih, jika lebih dari teman maka Nadine akan pergi dari Heru lagi.
Fakta soal Heru membohonginya, secara otomatis garis move on Nadine bergerak secara cepat menuju garis finis. Tentu hal ini amat positif baginya mengingat Nadine ingin memfokuskan diri hanya pada tugas akhir. Iya, Nadine tidak ingin fokusnya akan tugas akhir terganggu dengan kehadiran Heru juga Kian. Nadine juga tidak mau Kian hadir di hidupnya. Ia ingin hidup tenang menikmati passion yang tengah ia geluti saat ini.
Setelah membuat kesepakatan tersebut, saat itu, Heru langsung beranjak pergi. Dan Nadine pun segera masuk ke dalam kosnya. Ia mau berbenah menyiapkan properti untuk pergi ke tempat UKM yang meminta jasanya untuk memfoto produk mereka untuk selanjutnya dipasarkan di berbagai lini.
"Nad, gimana? Heru?" Tanya Windi yang masih nangkring di kamar Nadine sambil tetap ngemil.
"Ah elo, akting lo keliatan palsu, gue tadi ngelihat bayangan elo di dekat pintu keluar kos" kata Nadine. Windi nyengir.
__ADS_1
"Hehe... Tapi kasihan bang Kian donk Nad. Tanggung jawab Lo udah bikin dia baper"
"Iya, gue bakal tanggung jawab koq, gue mau ketemu Bang Kian, sekalian ada yang mau gue omongin sama Bang Kian. Ah iya, mumpung gue inget, gue chat Bang Kian sekarang." Nadine mengambil gawainya. Jari-jarinya pun mulai menari di keypad.
"Eh eh ngapain Lo nemplok gue kayak cicek?" Nadine menjauhkan posisinya dari Windi yang makin merapat.
"Ngintip lah, hahaha" sahut Windi.
From: Nadine
Bang Kian, ada yang perlu Nadine bicarakan, Bang Kian ada waktu kapan?"
"Sudah ah, sana Lo, gue mau nyiapin peralatan buat foto-foto ke tempat temen elo entar sore."
"Eh perlu gue anter nggak?" Tawar Windi
__ADS_1
"Nggak rame kan di sana?"
"Nggak lah Nad. Mereka produksi dari pagi sampai siang. Sorenya ya sepi." Jelas Windi. Ia tahu betul sahabatnya itu punya kelemahan kalau berada di keramaian.
"Sip kalau gitu. Ya udah sana Lo" usir Nadine. Windi meluncur pergi sebelum disambit celana kolor patricknya Nadine.
Nadine mulai mencari peralatan yang akan ia bawa ke lokasi pengambilan foto produk. Peralatan yang Nadine bawa cukup sederhana. Tidak seperti fotografer profesional tentunya. Jadi yang Nadine bawa adalah properti seperti alas foto, lampu, tripod, juga background. Nadine memotret objek fotonya hanya menggunakan kamera gawai m Ia tengah menabung untuk membeli kamera DSLR.
Selesai bersiap, Nadine lalu membuka gawainya dan ia mendapati balasan chat Kian.
From: Kian
To: Nadine
Boleh.
__ADS_1
Nadine lalu meletakkan gawainya. Ia rebahkan badannya di atas kasur sembari memikirkan konsep foto juga Kian.