Pelarian

Pelarian
Kematian Bintang


__ADS_3

Sebulan berlalu Niah meninggalkan rumahnya, hanya membawa beberapa ratus ribu uang yang sekarang sudah mulai menipis, apalagi kebutuhan saat hamil lumayan mneguras isi dompetnya.


Akhirnya ia membujuk Rini untuk dapat bekerja di tempatnya. Namun Rini sedikit ragu karena Niah sekarang sedang megandung, pekerjaan di club cukup berat, apalagi menjadi pelayan meja club malam seperti dirinya. Hampir tiap malam Rini mendapati pelecehan dari tamu-tamu iseng. “Niah…apakah kamu sanggup bekerja di tempat seperti itu?” Tanya Rini merasa khawatir, biar bagaimanapun Niah tak pernah mersakan hidup dalam kesusahan, sejak kecil hidupnya selalu tercukupi tidak sepeti Rini yang harus berjuang sendiri sejak kehilangan  kedua orang tuanya akibat kecelakan mobil yang merenggut nyawa mereka dan itu terjadi saat Rini masih kelas satu SMA.


“Rin…aku tidak punya pilihan lain, nggak mungkin aku terus menerus jadi beban hidup kamu, menumpang dan hidup dari kerja keras kamu Rin!? Ucap Niah. “tapi kamu sedang hamil Niah, bekerja di tempatku bukanlah hal yang mudah, apalagi pekerjaanku lekat dengan image yang kurang bagus di mata masyarakat” ucap Rini ragu.


“Rin, kamu jangan khawatir…carikan saja pekerjaan yang mungkin aku bisa kerjakan di sana” rayu Niah pada sahabatnya itu. “ sebenarnya ada sih lowongan yang kosong, tapi aku ragu kamu sanggup atau tidak untuk melakukannya” ucapan Rini mmbuat kedua bola mata Niah membulat , ada binar bahagia di matanya. “ apa itu Rin?” Tanya Niah bersemangat. “ kemarin kami kekurangan cleaning servis , karena salah satu dari mereka pulang kampung untu menikah” sambung Rini. “nggak apa-apa Rin, aku bisa!” ucapnya Niah tampak lebih bersemangat. “ tapi berat Niah, kamu bekerja setelah para pengunjung club malam mulai berkurang…kadang sampai pagi, tapi pekerjaan itu yang paling aman dari godaan lelaki hidung belang” ucap Rini. “Aku sanggup Rin…!” ucap Niah meyakinkan Rini. Tidak ada yang dapat di lakukan Rini jika sahabatnya itu sudah berkeinginan dia tau betul bagiamana kerasnya watak sahabatnya itu.


Bulan ke tiga Niah bekerja diclub itu, tiap malam di temani suara musik dan bau alkohol kadang membuatnya ingin muntah, namun ia tetap berusaha untuk bertahan, apalagi ini sudah memasuki bulan ke tujuh kehamilannya ia membutuhkan tabungan untuk melahirkan nanti.


Menjelang kelahiran anaknya Niah mengambil cuti karena semakin hari semakin susah untuk bergerak, ia tak sanggup lagi untuk bekerja keras.


Pagi itu masih di kontrakan Rini , Niah merasakan sakit pada perutnya , mulanya hanya mulas biasa lama kelamaan perasaan mulas itu semakin menjadi –jadi , Rini yang melihat keaadaannya sangat khawatir, “Mungkin sudah waktunya kamu melahirkan Niah” ucapa Rini kebingungan melihat keringat bercucuran di dahi Niah. Niah hanya bisa mengerang kesakitan sudah tak mampu menjawab pertanyaann Rini. Akhirnya Rini membawanya ke bidan yang tak jauh dari kontrakannya.


Satu jam Rini dalam kegelisahan menunggu di luar ruangan bersalin, mendengarkan Niah mengerang kesakitan dan mendengarkan arahan-arahan dari bidan untuk membantunya bersalin. akhirnya terdengar suara tangis bayi dari dalam membuatnya lega, Rini tak sabar untuk melihatnya , Rini langsung masuk ke ruangan bersalin tanpa menunggu bidan mempersilahkan.

__ADS_1


“Selamat yah Niah, kamu sudah jadi seorang ibu dari seorang putra” ucap Rini sambil memeluk Niah, mereka berdua larut dalam kebahagiaan, Niah sesaat lupa akan statusnya sekarang, lupa bahwa anaknya telah lahir tanpa seorang ayah dan lupa bahwa dengan lahirnya putranya itu beban tanggung jawabnya semakin besar.


Niah menjalani hari-harinya menjadi seorang ibu baru bagi putra yang ia beri nama Bintang, ia berharap Bintang nantinya akan memberi cahaya di kegelapan hidupnya seperti namanya.


Tiga bulan berlalu masa cutinya sudah habis ia harus bekerja kembali dan tidak tau harus menitip anaknya kepada siapa? Tak mungkin juga ia membawa anaknya ke club tempatnya bekerja. Ia bingung harus bagaimana sementara biaya untuk bayi semakin membengkak. Apa iyya Bintang harus di titipkan di penitipan anak? , tapi ia bekerja di malam hari, mana mungkin ada penitipan anak buka malam hari.


Di tengah kebingungannya seorang tetangganya seorang wanita tua  yang dari segi fisik masih kuat untuk sekedar mengasuh anak umur tiga bulanan yang belum terlalu aktif menawarkan diri untuk menjaga Bintang karena kebetulan semua anaknya sudah punya rumah  sendiri dia hanya tinggal berdua bersama suaminya.


Niah pun menyetujui mengamanahkan Bintang pada wanita tua itu karena memang selama ini wanita itu cukup perhatian padanya, bahkan selama ini wanita ini sering memasak untuknya katanya karena Niah mengingatkan ia pada anaknya yang jauh.


Sore itu seperti biasanya Bintang di titipkan pada “nenek” begitu Niah memanggilnya, Niah bersiap untuk pergi bekerja, ia menciumi anaknya sebelum berangkat. Bintang yang semakin besar dan lucu kadang membuat Niah begitu berat untuk meninggalkannya pergi bekerja. Begitulah yang dirasakan Niah hari itu, ia beberapa kali meciumi Bintang,ia menatap Bintang lekat, entah kenapa ia sangat merasa berat untuk pergi meninggalkannnya. Ditatapnya kembali wajah putranya itu wajah yang sangat mirip dengan Reza ayahnya sehingga Niah tidak pernah lupa wajah orang yang telah mengkhianatinya itu, namun rasa sayangnya pada Bintang membuatnya mencoba berdamai dengan masa lalunya.


Bintang terus merangkak, anak kecil itu tidak tahu bahwa bahaya mengancamnya. Racun serangga yang berbentuk semprotan di atas meja samping ranjang nenek di raihnya dan dijadikan mainan. Anak kecil yang kebiasaannya memasukkan sesuatu di mulutya dilakukan oleh Bintang, Racun serangga dengan botol mini itu leluasa di masukkan ke mulutnya dijilat berkali-kali sehingga terminum olehnya, sementara nenek masih tertidur tidak menyadari bahwa Bintang telah meminum racun serangga miliknya .


Bintang akhirnya muntah dan menangis, nenek yang mendengar teriakan Bintang akhirnya terbangun dan alangkah terkejutnya nenek mendapati Bintang tengah muntah-muntah dan menagis histeris. “ Ya Tuhan, apa yang terjadi dengan anak ini?” dengan suara bergetar ia memanggil suaminya yang masih menonton di ruang tamunya, mereka berdua kebingungan tidak tau harus berbuat apa.

__ADS_1


Mereka berdua melarikan Bintang ke rumah sakit setelah sebelumnya menghubungi Niah. Mendengar kabar itu Niah langsung memberi tau Rini kemudian segera menyusul Bintang ke rumah sakit. Sepanjang jalan Niah menangis dan panik Niah sangat takut Bintang kenapa-kenapa hanya Bintanglah yang membuatnya bertahan, hanya Bintanglah yang membuatnya ingin tetap hidup. Sampai di Rumah sakit ia mendapati Nenek dan suaminya sedang menangis diluar ruangan UGD, Bintang masih di tangani, mereka gemetar ketakutan takut di salahkan akan kejadian yang menimpa Bintang. “Maafkan kami nak…maafkan kami…Nenek ketiduran dan tidak melihat Bintang…” Nenek tidak melanjutkan kata-katanya, wanita tua terlihat bingung dan ketakutan. Niah tidak berkata apa-apa hanya menuduk dan menangis, ia menutup ke dua wajahnya dengan kedua telapak tangannya sambil terduduk di kursi panjang. Hanya Rini yang menenangkan nenek “ nek, sudahlah kita berdoa semoga tidak terjadi sesuatu terhadap Bintang” ucap Rini sambil menyuruh wanita tua itu untuk duduk.


Selang beberapa jam seorang dokter keluar dari ruang UGD, dokter yang berperawakan tinggi , putih dan berwajah orientalis itu mendekati nenek, melihat itu Niah langsung berlari kearah dokter tampan itu “ bagaimana keadaan anak saya dok?” Tanya Niah dengan penuh kekhawatiran. Dokter terdiam sejenak kemudian “maafkan kami harus mengatakan ini…tubuh anak ibu masih terlalu muda untuk melawan racun itu, dan juga karena muntah terus menerus akhirnya anak ibu dehidrasi dan tidak dapat tertolong, kuharap ibu bisa bersabar dengan ujian ini” ucapan dokter muda itu sekonyong-konyong membuat tubuh Niah bias tak berdaya, ia seperti masuk dalam kegelapan yang pekat dan tak bisa keluar lagi , dadanya sesak dan tidak melihat apa-apa, semua gelap dam ia tidak sadarkan diri.


Rini dan nenek hanya bisa menagis menyaksikan keadaan Niah sementara kakek yang merupakan suami nenek terdiam di sudut kursi dengan wajah yang pucat pasi, beliau sangat takut jika Niah akan menuntut mereka atas kejadian ini.


Mereka mencoba menenangkan Niah yang sangat shock dengan kematian Bintang, saat Niah sadar dari pingsannya , jenazah Bintang sudah diperbolehkan dibawa pulang. Sepanjang jalan pulang Niah masih tidak berkata apa-apa , tatapannya kosong ke depan, ia terus mendekap putranya yang sudah tak bernyawa, ia tak lagi menangis hanya saja tak ada gairah hidup  lagi di matanya, ia kelihatan putus asa dan terpuruk. Rini hanya terdiam menyaksikan sahabatnya itu larut dalam kesedihan, ia tak tau harus berbuat apa untuk menghibur sahabatnya itu. Sementara nenek dan kakek tak henti-hentinya menangis dan memohon maaf. “sudahlah  nek, ini bukan salah nenek atau kakek, kami tau kalian sangat menyayangi Bintang, ini kecelakaan nek” ucap Rini berusaha menenangkan mereka.


bersambung


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2