
Seminggu sejak pristiwa itu, Niah diliputi rasa bersalah telah melukai Arya meskipun Arya dan Anita tidak mempermasalahkannya.
“Sudahlah Niah, tak usah dipikirkan…itu semua hanya kecelakaan” ucap Anita mencoba menghibur Niah, Anita tak tahan melihat Niah terus bersedih.
“Tapi Nit, gara-gara kecerobohanku aku telah melukai dokter Arya” jawab Niah dengan wajah sedih. ada sesal yang mengganjal di hatinya , bagaimana mungkin kedua kakak beradik yang begitu baik padanya terluka karenanya hanya karena kebodohan dan kecerobohannya, ia merasa benar-benar menyesal.
“Niah…sudah kukatakan semua hanya kecelakaan…lagipula kak Arya tidak apa-apa kok, sudah berangkat kerja tadi pagi” ucap Anita seraya memeluk sahabatnya itu. Niah terlihat sangat rapuh, tak ada semangat di matanya, yang ada hanya sesal yang mendalam atas garis nasib yang yang harus dijalaninya.
“ Tapi …bagaimanapun aku telah melukai kakakmu Nit, orang yang tidak seharusnya ikut terluka karena kesialan nasibku” Niah menunduk menahan air mata yang terus mendesak hendak keluar.
“Ush..tak boleh berkata seperti itu Niah! Justeru aku yakin ini cara Allah untuk membuatmu semakin dekat padaNya, jika suatu peristiwa terjadi kemudian menjadi asbab kedekatan kita padaNya maka tak layak bagi kita untuk menyebutnya kesialan, karena semua yang terjadi di dunia ada hikmah yang terkadung di dalamnya bagi orang-orang yang mau berfikir” Anita terus menasehati sahabatnya itu.
“Tapi Nit, masa depanku telah hancur, aku tak tau bagaimana harus bangkit menata hidupku kembali Nit” air bening yang sedari tadi menggantung di sudut matanya akhirnya tumpah, Niah tak dapat membayangkan kehidupan yang akan dijalaninya ke depan, masihkah ada harapan untuknya kembali jadi manusia yang diterima. Pikirannya kacau dan rancu, entah apa lagi yang harus dilakukannya sekarang.
“Aku ingin pulang Nit…tapi apakah orang tuaku mau menerimaku kembali?” ucap Niah dengan wajah pias, ia tak dapat membayangkan reaksi mama dan papanya terhadap pemberitaan tentang dirinya di luar sana.
“Nit…aku yakin tidak ada orang tua yang tak bisa memafkan anaknya, kamu tidak akan pernah tau bagaimana reaksi mereka kalau kamu tak pernah mencobanya” perkataan Anita ada benarnya menurut Niah. Ia harus mencoba meminta maaf dulu kepada mama papanya, soal bagaimana prnerimaan mereka itu soal nanti.
“Besok hari minggu Nit, pasti mama papa ada di rumah, bisakah kamu temani aku Nit?” Tanya Niah dengan wajah memelas.
“ Tentu saja sayang” ucap Anita sambil mencubit pipi sahabatnya itu , ada senyum kelegaan yang menghiasi wajah Anita melihat sahabatnya bisa sedikit tersenyum.
Keesokan harinya Niah berangkat ke rumah orang tuanya , karena libur Arya yang mengantar mereka, sepanjang jalan Anita mengenggam tangan Niah untuk menguatkan tekadnya untuk menemui orang tuanya.
Niah bertambah gugup saat tiba depan rumahnya, berat rasanya untuk melangkahkan kakinya ke dalam rumah yang telah lama di tinggalkannya itu. tak banyak yang berubah, tamannya yang luas di tumbuhi banyak pohon , dari luar tampak tukang kebun mereka yang sibuk menyiram bunga-bunga yang bermekaran , ia tak menyadari kedatangan majikannya itu karna sibuk merawat tanaman di samping rumahnya.
Dengan langkah gontai Niah yang di iringi Arya dan anita memasuki halaman rumah mewah itu, suasana tampak sangat sepi. Perlahan Niah memencet bel yang terletak di samping pintu, lama Niah menunggu hingga sosok wajah ringkih berdiri di depannya. “Mba Niah” teriak wanita paruh baya itu sambil menghambur memeluk Niah, mereka saling berpelukan dan melepaskan kerinduan yang telah lama membuncah di dada masing-masing, Arya dan Anita ikut terharu menyaksikan pertemuan yang mengharukan antara sahabatnya dan mba Asri.
__ADS_1
“Mba Niah kemana saja? Aku sudah mencari mba kemana-mana !” ucap wanita itu sambil terus memeluk Niah yang juga tak henti-hentinya menagis.
“Mama mana mba?” Tanya Niah sambil melangkah masuk, ia tak lagi ingat Anita dan Arya yang ikut menemaninya pulang. Hanya mba Asri Artnya yang mempersilahkan Arya dan Anita masuk dan duduk di ruang tamu.
Sementara Niah langsung masuk menuju kamar mamanya, langkahnya terhenti saat di depan kamar, ia menyaksikan seorang wanita yang duduk di atas kursi roda mengahadap jendela, tatapannya kosong menatap bunga mawar yag tumbuh subur di taman samping rumahnya, tubuhnya kurus dan dan ceking, jauh dari penampilannya tiga tahun lalu saat Niah meninggalkan rumah ini.
“Mama…” Niah berlari memeluk mamanya, sementara wanita itu tak memberi respon apa-apa, tatapannya masih kosong seakan tak menyadari kedatangan anaknya itu.
“Mah….maafin Niah mah” ucap Niah di iringi tangis sambil memeluk kaki mamanya, namun wanita itu masih terdiam, hanya tetesan hangat mengalir di sudut matanya yang cekung dan pucat, ia samasekali tak bergeming dari tempatnya.
“Ibu sakit mba” Niah melirik ke arah suara, di pintu tampak mba Asri berdiri dengan mata sayu.
“Sejak kapan?” Tanya Niah dengan suara serak .
“Sekitar sebulan sejak mba Niah meninggalkan rumah ini” jawab wanita itu sambil mengusap air bening yang kembali menetes di pipi tirusnya.
Ia kemudian mengusap wajah ibunya itu, wajah yang dulunya selalu cantik dan anggun, sekarang terlihat sangat pucat dan kusam.
“Maafin Niah mah…maafin anakmu yang durhaka ini” tangis Niah semakin menjadi-jadi saat menyaksikan mamanya hanya menatapnya tanpa ekspresi , hanya sesekali bulir bening menetes di sudut matanya.
Arya dan Anita mendekati Niah yang masih bersimpuh di kaki mamanya “ Niah yang sabar yah, kamu pasti bisa melewati semua ini” Anita memeluk sahabatnya itu sementara Arya ikut terhanyut dalam suasana penuh drama di kamar itu, ia tak dapat membayangkan bagaimana Niah harus menerima cobaan yang tak henti-hentinya menerpa hidupnya.
“Niah , itu suamimu?” tiba-tiba tatapan mamanya mengarah pada dokter Arya, mba Asri terperanjat kaget karena baru kali ini ia melihat majikannya itu mengeluarkan suara semenjak tiga tahun ini.
Arya terlihat kikuk , sementara Niah tak mampu berkata apa-apa. “Jadi kamu sudah menikah? Syukurlah…sini nak , dekat mama” Ibu Ratih melambaikan tangannya ke arah dokter Arya yang masih bingung harus menjawab apa.
“Ma…dia bukan…” belum selesai Niah berbicara dokter Arya mencegahnya untuk melanjutkan kata-katanya.
__ADS_1
“Iya mah…saya suaminya Niah” jawaban dokter Arya seketika membuat seisi kamar terkejut, ia mendekati ibu Ratih dan mencium punggung tangan wanita itu.
“Wah…kamu gagah sekali nak, jaga anakku baik-baik yah…mungkin kesempatanku untuk menjaganya tidak banyak lagi” ucap Ibu Ratih membuat Niah kembali memeluk tubuh kurus mamanya.
“Iya mah…aku akan menjaga Niah dengan baik, tapi mamah harus sembuh dulu yah” ucap dokter Arya berjongkok di depan kursi roda wanita itu. Ia paham betul jika ia tak menuruti kata-kata wanita itu maka itu akan berakibat fatal bagi kesehatan mentalnya, apalagi mengingat hal itu yang pertama kali yang di ucapkannya berarti itu adalah keinginan yang paling mendalam bagi wanita itu. Arya tak mau mengambil resiko jika ia menyelisihi kata-kata wanita itu maka akan membuatnya semakin terpukul dan penyakitnya akan bertambah parah dan bisa saja terjadi komplikasi penyakit lainnya. Naluri sebagai seorang dokter yang selalu mengutamakan keselamatan pasien membuatnya terpaksa berbohong.
Sementara Niah dan Anita tertegun menyaksikan kebohongan dokter Arya, mereka tak mengerti apa yang terjadi padanya.
“Mba Asri, tolong siapkan makan siang untuk mantu baru mamah ini, maaf tidak sempat memasak kesukaanmu Niah, mamah agak susah untuk berdiri” kata-kata Ibu Ratih seperti sembilu mengiris hati Niah, entah apa yang harus dikatakannya. Ia menatap dokter Arya yang mencoba berbicara pelan-pelan dengan mamanya itu. Semangat hidup terlihat kembali di wajahnya, tidak seperti saat pertama Niah menemuinya tadi.
Mereka makan siang bersama, terlihat rona bahagia di wajah ibu Ratih mebuat Niah agak sedikt lega, meskipun ia belum sepenuhnya mengerti akan sikap Arya yang berpura-pura jadi suaminya.
Setelah makan siang mereka bercengkrama di ruang tamu, mba Asri tak henti-hentinya meneteskan air mata menyaksikan majikannya sudah mau berbicara , selama tiga tahun terakhir majikannya itu hanya duduk di kursi roda dengan tatapan kosong, berbagai pengobatan telah dilakukan dari dalam sampai keluar negeri namun hasilnya nihil, itulah yang menjadi salah satu sebab sehingga mereka tak sempat mencari keberadaan Niah, mereka baru dapat melihat wajah Niah kembali saat beredar video tak senonoh di media social maupun di Tv. Awalnya pak Adi sangat terpukul dengan pemberitaan itu mengingat video itu tergambar jelas wajah putrinya bersama salah satu rekan bisnisnya dari Kalimantan. Namun setelah beberapa hari ada klarifikasi dari pihak kepolisian bahwa Niah adalah korban dari komplotan mucikari yang sengaja mengedarkan video itu karena Niah telah melarikan diri dari mereka. Pak Adi mulai mencari keberadaan Niah, ia sangat kasihan akan keadaan putrid satu-satunya itu.
“Niah…!” sebuah suara yang berasal dari pintu ruang keluarga terdengar sangat terkejut bercampur bahagia, sosok laki-laki yang sangat Niah rindukan, Niah berlari menghambur di pelukan papanya, menangis sesunggukan di dada tua ayahnya, dada yang dulu selalu jadi sandarannya saat sedih dan kecewa , namun sekarang dada itu sudah tak sekuat dulu lagi. Ia telah melemah dimakan usia dan kesedihan ditinggalkan putri semata wayangnya.
Tak ada kata yang terucap dari bibir pak Adi, ia terus memeluk putri yang sudah lama ia rindukan.
“Pah…ini suami putri kita” teriak ibu Ratih sambil memegang bahu dokter Arya, sontak pak Adi terkejut melihat istrinya telah mampu berbicara seperti biasa.
“Mamah…” tak terkira kebahagiaan pak Adi menyaksikan istrinya itu, ia langsung mendekati istrinya dan memeluknya dengan perasaan bahagia.
“Pah…putri kita telah menikah pah…”ucap Ibu Ratih dengan mata berbinar. Pak adi menatap Arya dengan bingung, tidak mungkin rasanya Niah telah menikah , bukankah baru beberapa hari ini putrinya itu selamat dari Ninis sang mucikari dan video Niah baru saja beredar.
Arya mengangguk ke arah pak Adi dan member isyarat untuk mengiyakan kata-kata istrinya, pak Adi akhirnya mengerti, bahwa itu semua hanya sandiwara.
__ADS_1