Pelarian

Pelarian
Mencari Bukti


__ADS_3

Kian di rumah sendirian. Akhirnya ia mengizinkan Nadine pergi. Kian tak berdaya menolak permintaan istrinya itu. Karena ia sadar, ini bukan salah Nadine, melainkan salahnya sendiri.


Seharusnya, malam itu, Kian tak perlu menerima tantangan Heru untuk menghabiskan minuman beralkohol itu. Gara-gara itu, Kian jadi hilang kesadaran hingga terjadilah peristiwa itu, peristiwa dimana Nadine menemukannya tengah tidur bersama Riani, mantan kekasih sekaligus mantan partner di organisasi.


Kian mencoba mengingat kejadian waktu itu. Namun, nihil ia tak mengingat apapun. Yang ia rasakan setelah bangun tidur hanyalah kepalanya yang masih sedikit pusing. Badannya pun tidak merasakan apa-apa. Lagipula, ia juga tahu betul, bahwa orang yang mabuk alkohol tidak mungkin bisa melakukan hubungan int*m. Alkohol membuat otot tubuh rileks termasuk area int*mnya. Jadi tidak mungkin int*mnya menegang.


Kalau begini, tidak ada sesuatu yang terjadi, bukan, diantara dia dan Riani? Riani hanya membuat seakan mereka tengah tidur bersama setelah melakukan hubungan int*m.


Seharusnya, Kian mengatakan fakta ini pada Nadine saat istrinya itu masih di sini. Sayangnya, ia baru bisa berpikir jernih setelah Nadine pergi. Puk puk Kian.


"Kangen kamu, Honey" kata Kian sambil mengusap foto pernikahannya dengan Nadine yang terpajang di nakas tempat tidur mereka.


Di foto itu, Kian dan Nadine tampak lucu. Di foto itu, Kian dan Nadine berdiri saling menghadap. Di foto itu, Kian menatap Nadine hangat sedangkan Nadine lekat menatap kamera. Ekspresi jutek terpancar di wajah Nadine. Kian menyunggingkan senyum melihat ekspresi Nadine.


Ah, belum sehari semalam, Kian sudah merindukan Nadine. Bagaimana tidak rindu, kalau setiap inci rumah membuatnya teringat pada Nadine, pada senyumnya, pada tawanya, pada raut wajah juteknya, rindu, Kian rindu sekali.


Kian menghela nafasnya. Ia perlu mencari bukti tambahan lalu ia akan bawa kepada istrinya sebagai bukti kalau ia tidak melakukan apa-apa dengan Riani. Ia dijebak.


Meskipun sudah masuk malam hari, Kian tetap melajukan mobilnya menuju ke lokasi tempat ia menginap kemarin. Ia merasa yakin untuk mengawali mencari bukti dari lokasi acara sekaligus tempat menginap.


Maka, begitu ia tiba di lokasi, Kian menuju ke bagian keamanan. Ia menanyakan keberadaan cctv di tempat tersebut. Kian ingin melihat bagaimana ia bisa sampai di kamar. Sayangnya, cctv hanya diletakkan di area-area umum. Sedangkan di lorong-lorong setiap lantai belum menggunakan cctv.


Belum menyerah, Kian bertanya kepada beberapa pegawai yang khusus melayani tamu di bar tempat menginap tersebut. Kian menanyakan soal minuman yang disajikan padanya dan teman-temannya malam itu. Namun, lagi-lagi, ia mendapati jalan buntu.


"Kami menyediakan minuman itu untuk semua pengunjung bar di penginapan ini, Pak".


Kian duduk di balik kemudi. Ia sandarkan tubuhnya. Ia tutup matanya menggunakan lengannya. Ia memikirkan langkah untuk mencari bukti bahwa ia tidak menduakan Nadine.


Mungkin karena Kian terlalu lelah, akhirnya ia pun terlelap di dalam mobilnya. Air mata mengendap di sudut mata Kian.


Tak jauh dari tempat parkir mobil Kian, seseorang tengah mengamati. Orang tersebut pun mengeluarkan hp dari sakunya. Ia menghubungi seseorang.


"Rencana gue sedikit lagi berhasil, Lo bisa nyiapin bayaran buat gue dari sekarang, pastikan nggak kurang seribu rupiah pun, gue bakal hitung"

__ADS_1


***


Azan subuh membangunkan tidur Kian. Ia mengerjapkan matanya. Kian merasakan badannya sakit. Mungkin karena ia tidur dalam posisi duduk. Kian mencari musholla terdekat untuk menunaikan sholat subuh.


Seusai sholat, Kian merasa pikirannya lebih jernih. Ia tahu langkah selanjutnya yang harus ia lakukan untuk mencari bukti ia dijebak Riani.


Kian lalu melajukan mobilnya dengan cepat. Ia harus bisa menghemat waktu. Karena ada beberapa lokasi yang harus ia datangi. Terlebih ini adalah hari terakhir dari jangka waktu yang diberikan Nadine padanya untuk mencari bukti.


Setelah seharian berkeliling ke beberapa tempat tinggal para panitia acara. Kian masih juga belum menemukan bukti Riani yang menjebaknya. Ia begitu gusar juga lelah. Tapi, ia tak mau menyerah demi mempertahankan rumah tangganya. Jadi Kian kembali melajukan mobilnya ke tujuan terakhir, yakni rumah ketua panitia. Kian menaruh harap ada bukti di kunjungan terakhirnya.


"Ada apa, Bang?" Tanya ketua panitia acara pada Kian.


"Elo tau nggak yang nyiapin minuman waktu acara kemarin?" Tanya Kian langsung.


"Ya penginapan itu, Bang"


"Elo sudah pastikan begitu?"


"Sudah"


"Sebenarnya bukan di situ lokasi acara, bukan pakai tempat itu, Bang. Pas H-1 acara Mbak Riani tiba-tiba menghubungiku, trus bilang mau membiayai acara organisasi dengan syarat ia yang menentukan lokasi. Jadi tempat itu pilihan mbak Riani dan juga dibayari mbak Riani. Lumayan organisasi bisa menghemat banyak" imbuhnya.


Satu bukti terungkap. Bukti yang membuat Kian sedikit terperanjat. Ia tak menyangka Riani sudah merencanakan betul untuk menjebak Kian.


"Salah gue apa? Sampai dia ngelakuin hal ini ke gue? Gue harus tanya langsung" Gumam Kian dalam hati.


Setelah berpamitan, Kian mematikan alat perekam suara yang belakangan ini sering ia bawa kemana-mana untuk mengumpulkan bukti Riani menjebaknya.


Mobil Kian hendak melaju ke rumah Riani. Namun, Kian urung melakukannya. Ia memilih untuk menerima panggilan di hpnya yang ternyata adalah Riani.


"Temui Gue di kafe xyz" kata Riani tanpa basa basi.


"Oke, kebetulan ada yang mau gue omongin ke elo"

__ADS_1


Kian mematikan hpnya. Ia lalu menuju lokasi yang dikatakan Riani.


Jarak antara posisi terakhirnya dan kafe xyz tidak terlalu jauh. Kian pun akhirnya tiba di kafe tersebut dan segera mencari sosok Riani. Yang dicari duduk di dekat jendela kafe dan urutan duduk yang paling belakang.


"Mau Lo apa jebak Gue?" Tanya Kian to the point.


"Biar elo pisah dari istri Lo" jawab Riani.


"Gue punya salah apa ke elo sampai elo menjebak gue?"


"Gue mau kita kembali seperti dulu" jawab Riani santai.


"Lagipula, gue tahu, rumah tangga Lo nggak sehat. Gue juga tahu, Istri Lo nggak cinta kan sama Lo. Pernikahan seperti ini untuk apa dipertahankan kalau hanya membuat derita salah satu dari kalian" lanjut Riani.


"Gue tahu, Lo nggak bahagia, jadi anggap saja ini bantuan dari Gue untuk mempermudah perpisahan elo dengan si Nadine itu" imbuhnya.


"Gue mau kita kembali seperti dulu, gue masih cinta sama Lo, Yan" Riani memegang tangan Kian. Namun, Kian menghempasnya kasar.


"Gue bahagia dengan pernikahan gue. Lo salah besar. Dan ingat baik-baik, gue nggak akan pisah dari istri gue" kata Kian penuh penekanan.


"Hahaha...terserah Lo. Gue pastikan elo pisah dari istri Lo dan kembali ke gue"


Kian berdiri dari duduknya. Ia beranjak dengan langkah cepat meninggalkan Riani. Ada rasa senang karena ia berhasil mendapatkan pernyataan Riani yang menunjukkan bahwa ia memang sengaja menjebaknya.


Saat sudah berada di mobil, Kian mengambil alat perekamnya. Ya, Kian menyalakan alat perekamnya saat berbicara dengan Riani. Rekaman tersebut nantinya akan ia gunakan sebagai bukti lalu ia tunjukkan pada Nadine.


Kian ingin mendengarkan kembali pernyataan Riani. Ia nyalakan tombol on/off otomatis. Namun, tak menyala.


"Sial, baterainya habis" Kian memukul kemudinya. Kesal dengan kecorobohan yang ia lakukan. Seharusnya, tadi ia mengecek terlebih dahulu kondisi baterai alat perekamnya.


"Semoga saja ada yang sempat terekam" harap Kian. Setelah itu, ia kembali melajukan mobilnya.


Sementara itu, Riani nampak menghubungi seseorang. Ia meminta orang tersebut menemuinya saat itu juga.

__ADS_1


"Temui gue di kafe XYZ, ini soal masa depan suami Lo"


***


__ADS_2