Pelarian

Pelarian
Mari Kawin Lari


__ADS_3

Pagi tiba, Nadine di kamarnya. Ia memaku diri di depan kaca meja belajar yang merangkap sebagai meja riasnya. Ia bersiap-siap menuju alun-alun kota untuk memantau persiapan pertunjukan seni komunitas sosial yang ia ikuti.


Namun, rupanya, pagi ini, pikiran Nadine masih berada di rumah Kian, tepatnya di saat Mama Kian mengungkapkan bahwa Kian sudah mengejar-ngejarnya selama 4 tahun.


"Ngejar aku dari 4 tahun lalu?, Berarti waktu aku sama Bang Heru, Bang Kian sudah suka aku?" Katanya sembari mulai memoles bedak bayi diwajahnya. Lalu ia menuang kembali bedak bayi di tangannya. Kemudian ia kembali memoles di sisi lainnya.


Nadine tidak menyangka bahwa Kian sudah menaruh hati padanya saat ia masih berstatus pacar Heru. Heru sendiri adalah sahabat Kian, sahabat rasa teman dan sekarang tengah perang dingin.


"Tapi koq nggak kelihatan suka aku? Malah kelihatan cuek banget." Ucap Nadine lagi. Ia lanjut bermonolog.


Nadine mencoba mengingat-ingat masa lalunya saat masih berpacaran dengan Heru. Iya, saat itu, saat Nadine bertemu dengan Kian, Kian sama sekali tidak menunjukkan gelagat menyukai Nadine. Kian bersikap biasa saja. Perlakuan Kian pada Nadine dan pada perempuan selain Nadine, sama saja, tidak ada bedanya.


Nadine menggeleng-gelengkan kepalanya kalau mengingat sikap Kian dulu padanya.


"Canggih bener tu orang nutupin perasaannya, selama 4 tahun, kalau aku mungkin nggak bakal bisa sesabar itu" pikir Nadine.


Nadine memastikan bedak di wajahnya rata dan rapi, lalu ia memoles bibirnya dengan lipgloss berwarna blewah. Dan yang terakhir ia menyisir rambutnya. Hari ini, sengaja ia tak mengikat rambutnya. Karen masih basah. Tak lupa ia menjadikan ikat rambutnya yang berwarna hitam sebagai gelang tangan. Kalau rambutnya sudah kering, ia akan mengikat rambutnya dengan ikat rambut tersebut.


Setelah merasa cukup, Nadine lalu berpamitan pada ibunya yang sedang memasak sarapan di dapur.


"Bu, Nadine keluar dulu" pamit Nadine.


"Loaalah Nad, baru aja mau ibu ajak kamu perawatan, biar kinclong gitu pas kamu nikah, nggak kayak sekarang, ya ampuuunn anak ibu" kata ibunya.


"Duh nggak ah, ibu aja" tolak Nadine.


"La yang mau nikah kan kamu, Nad"

__ADS_1


"Tapi yang seneng aku nikah kan, ibu sama ayah, bukan aku, aku sama sekali nggak mau, dan lebih nggak mau lagi nikah sama Bang Kian" ungkap Nadine. Ia mengambil dadar jagung yang baru diangkat dari wajan dan ditiriskan oleh ibunya. Aroma jagung goreng manis gurih, begitu semerbak, memenuhi ruang-ruang di rumah Nadine.


"Mahangkangnya bakhalin aga penikhakhan ahu, Bu" kata Nadine. Ucapannya tak jelas secara ia ngomong sambil makan dadar jagung yang masih panas. Ajaibnya, Ibu Nadine mengerti betul apa yang diucapkan Nadine meskipun tidak jelas.


"Ya nggak bisa, lawong undangan sudah nyebar, trus ibu juga sudah pesan tenda biru sama janur kuning, nanti sore sudah terpasang"


Kata Ibu Nadine.


"Udah ah, Nadine pamit keluar dulu"


"Nggak sarapan dulu, Nad?"


"Nggak ah, sengaja, biar nggak ketemu ayah" ungkap Nadine.


"Ish, kamu itu, nggak boleh ah gitu sama ayah, dosaaaaa" Ibu Nadine mengingatkan. Nadine mengangguk lemah. Nyatanya, ia memang malas bertemu dengan ayahnya yang bagi Nadine nampak bertingkah suka-suka. Ayah Nadine suka memutuskan apapun secara sepihak terutama saat berurusan dengan anaknya tanpa peduli keinginan maupun pendapat Nadine juga adiknya. Bagi ayah Nadine, keputusan yang ia buat berlaku mutlak alias harus diikuti. Bagi ayah Nadine keputusan yang selalu ia ambil adalah yang terbaik. Keteguhan ayah Nadine, selama ini, tak pernah goyah, bahkan saat melihat anaknya menangisi keputusan yang ia buat.


"Ini hari terakhir ya, Nad, besok nggak boleh keluar rumah lho, kamu, calon manten itu seharusnya nggak boleh kemana-mana udah, di rumah aja, aman, biar nggak dihampiri cobaan" terang Ibu Nadine. Namun tak digubris Nadine. Ia memilih untuk melangkahkan kakinya menuju garasi rumah.


Nadine melajukan motornya ke alun-alun kota. Begitu sebagian besar panitia sudah hadir, Ia segera melakukan koordinasi. Ia awali dengan mengecek job desk setiap anggota panitia. Nadine amat senang sekali, karena persiapan sudah mencapai 90%. Ia optimis sebelum hari H, persiapan sudah 100%.


Selesai koordinasi, semua melakukan tugas masing-masing. Yang belum ada, dilengkapi, dan yang kurang, ditambahi sampai sekiranya menjadi bagus sekali.


Nadine lalu duduk di tempat biasanya, yakni di sebuah pohon rindang yang terletak di bagian pinggir dari taman alun-alun kota. Ia menekuri buku catatan job desk tiap panitia. Saking fokusnya, ia tak sadar bahwa ada seorang pria yang duduk disampingnya.


"Hai, Nad, apa kabar?" Sapa pria tersebut. Terkejut, itu adalah respon awal Nadine. Ia kenal betul dengan suara tersebut. Ia terkejut karena sudah cukup lama tidak menjalin komunikasi hingga bertemu dengan pria itu. Terakhir bertemu, Nadine meminta laki-laki itu untuk pergi darinya, dengan alasan kehadiran laki-laki itu membuat hidup Nadine susah. Lalu, cepat-cepat, Nadine mengendalikan keterkejutannya.


"Aku Baik, Bang Heru" jawab Nadine tanpa menoleh.

__ADS_1


"Aku dengar, kamu mau menikah dengan Kian, apakah itu benar?" Tanya Heru. Ia menatap Nadine. Dalam hatinya berharap kata "tidak benar" yang keluar dari mulut Nadine.


"Iya, aku akan menikah dengan Bang Kian" jawab Nadine. Ia menghela nafas samar.


"Dan itu semua karena perbuatan istri kamu" ungkap Nadine. Ia melabuhkan matanya pada Heru. Namun bukan tatapan sendu, melainkan tatapan amarah menderu-deru.


"Benar begitu? Aku..." Heru gagal mengkonfirmasi. Nadine menukasnya.


"Aku bukan pembohong sepertimu, Bang, tentu saja itu benar, tanyakan pada istrimu sendiri" jelas Nadine.


"Aku tidak bisa menanyakan hal itu padanya, aku sudah tidak serumah dengannya, aku menolak komunikasi dengannya, dan a..aku, sudah berpisah dengannya" jawab Heru. Sontak membuat Nadine menoleh pada Heru. Tak lama, Nadine kembali memalingkan pandangannya.


"Aku sudah sendiri, Nad, aku sudah berpisah dengannya, dan sekarang aku ingin mewujudkan rencana kita dulu, dulu saat kita masih berpacaran" Heru menghela nafas, berkali-kali. Ia lalu menarik nafasnya, menghirup udara, sebanyak-banyaknya. Heru seakan tengah menghimpun kekuatan.


"Jadi jangan menikah dengan Kian" ungkap Heru. Ia menatap Nadine lekat.


"Menikahlah denganku, kalaupun orangtuamu tidak setuju, mari kita kawin lari saja, Nad" .


***


Hai


jangan lupa like, komen, rate 5 yak, biar aku makin semangat update. Kasih aku vote juga boleh, boleh banget. aku ucapkan terima kasih banyak.


salam


Nda

__ADS_1


author novel Pelarian.


__ADS_2