
Tak ingin cepat pergi, Nadine berjalan begitu lambat. Sengaja, gerakan kakinya ia slow motion sedemikian rupa. Nadine pun menutup pintu pagar. Ia mengalami kesulitan saat hendak mengunci pintu pagar rumah Kian. Dari dulu, Nadine memang selalu kesusahan saat mengunci pintu pagar. Seingat Nadine, Kian dulu sempat ingin memperbaiki pintu pagarnya. Namun, sampai saat ini, pintu pagar masih rusah juga, belum Kian perbaiki.
Sementara itu, Ayah masih setia menunggui Nadine, tak jauh dari rumah Kian. Ayah lalu membuka pintu mobilnya menggunakan remote kecil, saat melihat Nadine tengah mengunci pintu gerbang rumah Kian.
Masih fokus, Nadine berusaha mengunci pintu pagar. Ia tak hirau dengan tatapan orang kepadanya baik yang berjalan kaki hingga yang berkendara. Nadine tak peduli dengan sekitarnya. Saking fokusnya, ia tak sadar bahwa ada sebuah mobil yang melaju cepat ke arahnya.
Untungnya, ayah Nadine menyadari keanehan gerakan mobil yang posisinya tepat berada di belakangnya. Ia berlari cepat menuju Nadine dan....
BRAK
***
Kian melajukan mobilnya di atas kecepatan normal. Ia ingin segera sampai di sebuah rumah sakit XX. Ia mendapat kabar dari orang yang ia tugaskan untuk memantau Nadine. Orang itu mengatakan korban dan juga pelaku berada di rumah sakit XX.
Dalam hati Kian senantiasa melantunkan do'a, semoga Nadine dan calon anaknya baik-baik saja. Jika hal buruk menimpa dua orang kesayangannya itu. Maka sungguh Kian akan dihantui rasa bersalah seumur hidupnya.
Seharusnya, Kian tak menganggap remeh Ria. Tapi memang tak terlintas sedikitpun bahwa Ria akan melakukan tindak kriminal pada Nadine. Mengingat rekam jejak Ria selama mereka menjadi partner kerja, baik-baik saja. Ria tak menunjukkan sisi gelapnya sama sekali. Yang ada malah ia menunjukkan gaya hidup ala sosialita saja. Seingat Kian begitu.
Lalu, kenapa bisa sampai se-kriminal ini perbuatan Ria? Ria memang sudah mengatakan alasannya ingin mencelakai Nadine karena Ria merasa, Nadine yang menyebabkan rumah tangganya dengan Heru hancur dan juga Nadine yang menyebabkan kehilangan anaknya.
Ah, cinta buta juga kehilangan buat Ria senekat itu. Namun, apapun alasannya, tidak bisa dijadikan sebagai dasar untuk berbuat jahat atau melakukan tindak kriminal kepada orang lain, bukan?, pikir Kian.
Dari peristiwa ini, Kian berjanji tidak akan meremehkan rasa benci Ria pada Nadine. Kian akan menghentikan Ria. Kali ini ia tidak hanya memberikan peringatan seperti yang ia lakukan pada Riani, melainkan ia akan melaporkan perbuatan yang Ria lakukan. Kian akan mencari bukti lalu menjebloskan Ria ke dalam tahanan.
Namun, Kian merasa itu tidak akan cukup. Karena Ria bukan orang sembarangan. Ia punya banyak uang. Sedangkan di negeri ini, hukum pun bisa diperjualbelikan. Kian sangsi. Bisa saja Ria lolos dari hukuman lalu bertindak lebih jauh lagi.
Entahlah, Kian merasa Ria tidak akan berhenti sampai melihat Nadine menderita. Jadi, solusi yang tepat adalah ia akan menjadi perisai untuk Nadine.
"Ah, Nadine. Tunggu Mas, Sayang" gumam Kian.
Kian tiba di rumah sakit XX. Ia lalu menemui orang yang ia tugaskan untuk memantau Nadine di loby rumah sakit. Mereka janji bertemu di sana.
"Korban dan pelaku ada di IGD, pak" kata orang itu.
"Baiklah, tolong Bapak nanti buat kronologi kejadian serta bukti pendukung lalu kirimkan ke saya" pinta Kian. Orang itu mengangguk.
"Tugas Bapak sudah selesai. Untuk biayanya saya sudah transfer ke rekening Bapak"
"Terima kasih banyak. Jika Bapak Kian perlu bantuan saya, kabari saja. Saya pamit, Pak." Pamit orang itu lalu meninggalkan Kian.
Kian berlari kecil menuju IGD. Di sana, ia mendapati dua bed berisi pasien yang dua-duanya berjenis kelamin laki-laki.
__ADS_1
Lega, Kian merasa lega. Karena bukan seorang wanita yang ada di sana, bukan Nadine.
Ia mendekati Bed pertama nampak seorang pria yang diperban di bagian kepala, tangan juga kaki. Sebuah alat bantu bernapas menempel di hidung pria tersebut. Tak lupa di kanan kiri pria itu berdiri tiang infus. Orang itu sedang tidak sadarkan diri. Jadi tidak bisa Kian tanyai untuk menggali informasi guna tahu apakah orang itu korban atau bukan?
Langkah kakinya menuju ke bed sebelah. Pasien itu masih dikelilingi dokter dan perawat. Dokter nampak tengah memberikan pesan kepada pasien itu. Lalu tak berapa lama, dokter dan perawat meninggalkan pasien tersebut. Seketika Kian tersentak mengetahui siapa pasien yang tengah berada di bed tersebut.
"Ayah" seru Kian. Ia bergegas menghampiri ayah Nadine. Kian mengambil tangan ayah Nadine lalu mengecup punggung tangan mantan mertuanya itu.
"Ayah, bagaimana kondisi, Ayah?"
"Kamu bisa lihat sendiri, Bapak tidak apa-apa, yang parah hanya di bagian kaki kanan Bapak" kata Ayah Nadine.
Penggunaan kata Bapak, membuat Kian sedikit tersentak. Ia merasa diingatkan bahwa laki-laki paruh baya yang ada didepannya ini bukan lagi ayah mertuanya. Kian sudah dianggap orang lain. Biarlah, Kian tak masalah. Ia akan tetap menganggap laki-laki paruh baya ini sebagai ayah mertuanya.
"Tapi, nggak apa-apa, bisa sembuh koq kalau bapak disiplin terapi" imbuh ayah Nadine.
"Alhamdulillah, biar Saya..." Kian menghentikan kalimatnya begitu mendengar ayah Nadine berucap lagi.
"Hanya...hanya saja, Bapak kasihan dengan Nadine, dia..."
"Nadine? Ada apa dengan Nadine, Yah? Saya mohon, Yah, katakan apa yang terjadi dengan Nadine" mohon Kian. Wajahnya menunjukkan kekhawatiran.
Ayah Nadine menangkap ekspresi khawatir Kian. Ia tersenyum sekilas saja, dan Kian tentu saja tidak menyadari hal itu. Ayah membenarkan ucapan Nadine bahwa perpisahan mereka bukan karena orang ketiga, bukan karena Kian selingkuh di belakang Nadine. Bahkan Ayah merasa Kian masih cinta dengan putrinya.
Kian tertunduk. Ia mengutuk dirinya sendiri yang tak becus melindungi Nadine dan calon anaknya.
"Oya, kamu sudah tahu, bukan, kalau Nadine sedang hamil?" Tanya Ayah. Kian mengangguk perlahan.
"Tadi, Bapak sempat berpikir untuk tidak memberitahukan soal ini ke kamu, Nak Kian. Tapi, Bapak sadar, tidak boleh memutuskan ikatan darah antara ayah dan anaknya" kata Ayah.
"Lalu apa yang akan kamu lakukan, Nak Kian?"
Kian mengangkat kepalanya. Ia menatap manik ayah mertuanya itu sebentar, lalu menunduk lagi.
"Saya mau membawa Nadine kembali, Yah, menjadi istri dan ibu dari anak saya" kata Kian jelas. Tak ada keraguan sedikitpun di ucapannya. Ia memang begitu menginginkan Nadine kembali padanya.
"Jangan, jangan mengajak Nadine kembali lagi" ucap Ayah. Kian terkejut.
"Bapak tidak mau putri dan calon cucu Bapak terancam bahaya lagi. Bapak mau, kamu melepaskan Nadine" Kata Ayah. Ayah lalu menghela nafas berat.
"Saya berjanji, Yah, tidak mengulangi kesalahan yang sama, saya akan menjaga dan melindungi Nadine serta calon buah hati saya melebihi nyawa say sendiri, Yah" Kian menjatuhkan diri lalu memegang kaki ayah mertuanya.
__ADS_1
"Jangan, jangan..." Kata Ayah Nadine.
"Saya mohon, Yah, izinkan saya menjaga Nadine, saya tidak bisa tanpa Nadine juga calon anak saya, saya mohon, Yah" pinta Kian lagi.
Ayah bergeming. Kian mempererat pegangannya. Ia memberanikan diri menatap wajah ayah Nadine. Tak ada ekspresi marah di sana, melainkan ekspresi seperti tengah menahan sakit. Kian merasa ada yang salah. Ia mencari letak kesalahan tersebut. Ternyata, kesalahan itu terletak pada posisi tangannya yang tengah memegang erat bagian kaki ayah Nadine yang sakit. Sadar akan hal itu, Kian sontak mengangkat tangannya.
"Maaf maaf, Yah, saya nggak sengaja" kata Kian. Ayah menghela, menunjukkan kelegaan setelah lepas dari rasa sakit di bagian kakinya yang ditekan Kian.
"Boleh, ayah perbolehkan kamu kembali dengan satu syarat"
"Apa, Yah? Akan saya penuhi apapun syarat dari Ayah"
"Termasuk berhenti jadi aktivis?" Kata ayah. Lagi-lagi, Kian dibuat terkejut dengan permintaan ayah Nadine.
"Kalau kamu ingin Nadine kembali padamu juga anakmu, berhentilah menjadi seorang aktivis, fokuslah sebagai seorang pendidik, itu saja syarat dari Bapak"
Kian mematung. Ia tak mampu menjawab. Bagi Kian, menjadi seorang aktivis adalah passionnya, jiwanya, yang bahkan ada sebelum ia mencinta Nadine. Bagi Kian, Nadine juga jiwanya, hidupnya, gairahnya, semangatnya. Dua hal itu, sama sama berarti dalam hidup Kian.
"Apa jawaban kamu, Nak Kian?"
"Apakah harus sekarang, Yah?"
"Iya, jika kamu memang ingin kembali bersama Nadine, kamu pasti bisa segera memutuskan menerima atau menolak syarat dari Bapak. Tidak perlu berpikir lama" kata Ayah Nadine.
Kian bergeming. Ia tak bisa memilih.
"Baiklah, karena tidak ada jawaban, Bapak anggap kamu menolak persyaratan dari Bapak." Ucap ayah Nadine lagi.
"Ya sudah, kalau memang itu yang kamu mau, Bapak tidak memaksa." Ayah Nadine menghela nafas. Ia kini memandangi Kian lekat-lekat.
"Kalau begitu jaga diri kamu baik-baik, terima kasih karena sudah mau mendampingi anak Bapak meskipun hanya beberapa bulan saja. Mohon maaf jika selama kalian bersama, Nadine berbuat salah."
Kian menggelengkan kepalanya.
"Sekarang, silakan tinggalkan Bapak karena kita sudah tidak ada urusan lagi, begitu ya." Ayah Nadine meminta Kian pergi secara halus. Kian hendak menolak. Tapi, ia urungkan.
Kian menghapus setitik air mata di sudut matanya. Ia lalu beranjak pergi meninggalkan ayah Nadine, mantan mertuanya.
Sementara itu, ayah Nadine menghela nafas lagi, berkali-kali, demi melebur harapnya pada Kian. Ya, harapan ayah agar Kian dan Nadine bersatu kembali, terpaksa harus ia kikis tak bersisa.
Kian dan Nadine, tinggal kenangan.
__ADS_1
TAMAT