
Kian segera menuju kamar Nadine. Begitu Kian membuka pintu, ia langsung terpana akan sebuah pemandangan indah dan baru pertama kali ia lihat.
"Aaaaaakkkk..." Teriak Nadine saat mendapati Kian tengah melihat penuh ke arahnya. Sedangkan Nadine sendiri dalam keadaan hampir polos. Ia hanya memakai celana dalam dan tengah berusaha melepaskan pengait bra-nya. Begitu melihat Kian, spontan Nadine menutup dadanya dengan kedua tangannya. Iya, rupanya, Nadine lupa kalau sekarang ia telah berdua.
Teriakan Nadine berhasil menyadarkan Kian.
"Maaf maaf..." Seru Kian sembari menutup pintu kamar Nadine kembali. Kini Kian berdiri di depan pintu kamar Nadine dengan ekspresi wajah terkejut. Namun, lamat-lamat, terukir senyum di sana. Ia tatap langit-langit rumah seraya menyandarkan tubuhnya di pintu kamar Nadine. Rencananya, ia akan tetap berdiri di sini sampai sekiranya Nadine selesai mengenakan bajunya.
"Mas, mbak Nadine kenapa?" Dika, adik laki-laki Nadine, menghampiri Kian dengan tergopoh-gopoh. Teriakan Nadine memang cukup keras.
"Eh, nggak, nggak ada apa-apa, koq, Dik" jawab Kian.
"Ooo.. ya sudah kalau begitu, kirain ada apa an" kata Dika.
"Trus, kamu ngapain berdiri di sini, Mas? Koq nggak masuk ke kamar mbak Nadine?" Selidik Dika. Sepertinya ia tengah mengalami sindrom kepo tingkat rumah.
"Ini mau masuk, mas masuk dulu ya," pamit Kian. Dika mengangguk. Namun, mereka tak jua beranjak. Kian dan Dika masih diposisinya semula. Padahal Kian tak hendak masuk. Ia yakin Nadine belum mengenakan semua pakaiannya. Kian mau menunggu Dika pergi. Tapi sayang, nampaknya, Dika tak pergi-pergi.
Dika menatap Kian penuh kecurigaan. Ekspresinya menunjukkan ia penasaran dengan keanehan tingkah kakak iparnya. Kian paham dengan apa yang dipikirkan Dika. Tak ingin Dika menaruh curiga pada pernikahannya, akhirnya Kian pun masuk lagi ke dalam kamar Nadine.
Ia bergegas menutup pintu kamar, lalu menguncinya. Mendengar suara pintu, Nadine yang tengah memakai celana kulotnya, namun dengan bagian atasan yang baru memakai bra saja, seketika menoleh ke sumber suara lagi. Ia kembali hendak berteriak, saat mendapati Kian sudah masuk di dalam kamarnya. Namun sebelum Nadine berteriak lagi, dengan sigap Kian menutup mulut Nadine.
"Jangan teriak, ada Dika di luar, biar dia nggak curiga dengan hubungan kita" perintah Kian. Nadine mengangguk tanda setuju.
Kian lalu melepas tangannya dari mulut Kian. Kali ini berganti, Nadine yang menutup mata Kian.
"Merem, aku mau pakai baju" kata Nadine. Kian mengangguk. Ia menutup matanya.
Setelah memastikan Kian sudah menutup matanya dengan sempurna. Nadine melepas tangannya.
"Jangan ngintip, awas aja ngintip, ngintip tidur di luar" ancam Nadine. Kemudian ia kembali mengenakan pakaiannya secepat kilat. Meskipun sudah selesai, Nadine tak hendak mengatakannya pada Kian. Ia memilih untuk diam-diam memperhatikan laki-laki yang telah jadi suaminya itu.
"Boleh juga, ni orang" gumamnya.
"Sudah, sayang?" Tanya Kian.
"Eh, udah" ucap Nadine. Ia lalu duduk di meja belajarnya. Sedangkan Kian memilih untuk duduk di tempat tidur.
"Sepertinya kita harus bikin ruang ganti, Mas" usul Nadine.
"Kan kita cuma sebentar di sini, perkiraan Mas, 2 hari lagi rumah kita sudah selesai di renovasi" kata Kian.
"Nggak ah, nggak mau, 2 hari itu lama tau" tolak Nadine.
"Kalau kamu ganti, Mas kan tinggal tutup mata aja, Sayang" kata Kian.
"Tapi itu nggak jamin kamu nggak ngintip"
"Iya juga, sih" sahut Kian. Ia tertawa kecil. Nadine sewot.
"Aku punya ide, Mas, Kita bikin ala-ala fitting room aja, pasang tirai di sebelah sana" Nadine menunjuk pojok kamarnya.
__ADS_1
"Oke, kalau gitu sekarang mas keluar dulu, ya, mau cari besi untuk bikin fitting room" pamit Kian. Ia lalu melangkahkan kakinya keluar.
Pyuhhh
Nadine lega. Akhirnya, ia sendirian di kamar. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Nadine segera merebahkan diri di tempat tidurnya. Matanya menatap langit-langit kamar. Pikirannya mulai menapaki status barunya menjadi seorang istri.
Setelah bersama Kian dua harian ini, rasa benci Nadine pada Kian belum luntur juga. Tapi jika melihat karakter Nadine yang keras kepala, sepertinya penilaian Nadine bahwa Kian adalah laki-laki brengsek akan sulit diubah.
Nadine memikirkan masa depannya. Karena pernikahan ini, membuat langkahnya untuk mewujudkan beberapa target hidupnya harus mundur beberapa langkah. Nadine sendiri tidak tahu akan dibawa kemana pernikahannya ini. Bahkan kalaupun berakhir pada perpisahan, Nadine tak masalah. Malah itu yang ia harapkan, berpisah dari orang yang tidak ia cinta. Dengan begitu, Nadine bisa berlari cepat mengejar mimpi-mimpinya. Jika nanti mimpinya sudah diraih, baru Nadine akan memikirkan soal Rabi. Tentu menikah dengan orang yang mencintainya dan dicintainya.
Lalu sekarang harus apa? Iya, itu yang tengah dipikirkan Nadine. Apakah ia akan menjalani pernikahan ini atau ia akan berbuat sesuatu agar Kian memutuskan pergi sendiri?
***
Malam tiba, setelah seharian, akhirnya Kian selesai memasang fitting room ala ala di kamar Nadine. Nadine nampak senang dengan hasil kerja Kian. Fitting room tersebut dilengkapi kaca besar dengan tirai tebal berwarna putih. Di atasnya diberi lampu dengan wadah dari anyaman bambu berwarna senada oleh Kian sehingga menambah cantiknya fitting room tersebut.
"Asyik nih, fitting room Instagramable" batin Nadine.
"Gimana? Kamu suka?" Tanya Kian sembari mengumpulkan alat-alat pertukangan yang ia gunakan untuk memasang fitting room tersebut.
"Lumayan" kata Nadine. Tak sejalan dengan matanya yang menunjukkan takjub dengan hasil karya Kian.
Nadine dan Kian kompak menoleh ke arah pintu ketika mendengar suara pintu diketuk.
"Nad, Kian, ayo makan malam" ajak Ibu Nadine.
"Iya, Bu" jawab Nadine. Ia lalu berjalan meninggalkan Kian yang masih membersihkan sisa-sisa pekerjaannya.
"Suamimu mana, Nad?" Tanya ayahnya.
"Masih bersih-bersih, sebentar lagi juga ke sini" jawab Nadine santai. Ayah Nadine mengerutkan alisnya. Namun ia tetap melanjutkan makannya.
Tak lama, Kian tiba di meja makan, dan duduk di samping Nadine.
"Nad, ambilkan suamimu makan" suruh Ibu.
"Ambil sendiri ajalah, lawong sudah di depan mata" kata Nadine. Ayah menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Iya, Bu, Saya ambil sendiri saja, biar pas porsinya." Jelas Kian.
Mereka pun kembali fokus makan.
Tak ada obrolan lagi. Hanya ada suara denting sendok dan piring yang saling beradu.
Saat Kian merasa semuanya sudah selesai makan, Kian membuka obrolan.
"Emm..sebelumnya mohon maaf, Ayah, Ibu dan Dika, Saya juga Nadine mohon izin untuk tinggal di sini." Kata Kian.
"Oalaaah...iya, nggak apa-apa, Ibu malah seneng, ya kan, Yah?" Ibu meminta pendapat Ayah.
"Sampai kapan?" Tanya ayah.
__ADS_1
"InsyaAllah 2 hari lagi renovasinya selesai, besok saya cek lagi, Yah" jelas Kian. Ayah menganggukkan kepalanya.
"Kalau wisudamu kapan, Nad?" Fokus pembicaraan berubah.
"3 bulan lagi, Yah" jawab Nadine.
"Sambil nunggu ijazahmu keluar, kamu besok bisa mulai magang kerja di kantor Ayah"
"Yah, Nadine nggak mau kerja kantor, Nadine suk.."
"Kamu mau bilang lebih suka motret daripada kerja di kantor? Buat apa ayah sekolahin kamu tinggi-tinggi kalau akhirnya cuma kerja motret" kata Ayah. Volume suaranya mulai meninggi.
"Ayah..." Nadine mau membantah lagi, namun tangannya yang berada di bawah meja, dipegang Kian. Nadine sontak menoleh ke arah Kian.
"Mohon maaf, Yah, rencananya besok saya mengajak Nadine mulai mendekorasi interior rumah kami. Jadi besok Nadine belum bisa ke kantor Ayah. Maaf, Yah." Ungkap Kian dengan tangannya yang masih memegang tangan Nadine.
"Oya sudah kalau begitu, setelah selesai urus rumah, Nadine segera mulai kerja di kantor Ayah, ingat itu Kian" kata Ayah.
"Baik, Ayah, saya usahakan" jawab Kian tanpa melihat Nadine. Meskipun begitu, dari ekor matanya, Kian mendapati sorot tajam mata Nadine.
Persetujuan Kian, menutup obrolan di meja makan malam itu. Setelah membantu Ibu beres-beres, Nadine dan Kian segera masuk ke dalam kamar.
"Sayang, mas boleh bicara?" Kian memulai obrolannya dengan Nadine.
"Apa? Ngobrol soal Ayah? Maaf, aku malas" tolak Nadine.
"Mas cuma minta tolong kamu lebih menjaga sikapmu pada Ayah, nggak baik bersikap seperti itu, Sayang, terlebih pada orangtua" Kian mengingatkan.
"Kamu siapa aku? Suami aku, kan? Seharusnya kamu berada dipihakku, bukan bela Ayah"
"Ini bukan tentang berada di pihak mana, bela siapa, sayang, tapi ini soal etika, soal akhlak, Mas nggak ingin kamu..."
"Aku apa? Jadi orang nggak ada akhlak, gitu? Emang, aku emang nggak ada akhlak, maka dari itu, ceraikan saja aku, daripada kamu menjalin hubungan yang tidak akan bahagia dengan perempuan yang tidak ada akhlak sepertiku"
***
Hai, Readers.
Makasih banyak sudah berkunjung ke sini. Mohon bantuan like, komen, dan rate-nya yak. Kalau berkenan, nge-vote juga boleh, senang sekali.
Buat Authors,
makasih juga kunjungannya yak.
please, tinggalkan jejak agar aku bisa mengunjungimu kembali.
salam terlove,
dari aku.
😊
__ADS_1