
Resmi
Dengan kekuatan Heru, akhirnya Kian dan Nadine resmi berpisah baik secara agama maupun secara negara. Ada rasa lega waktu Nadine mendapatkan kabar tersebut dari Heru. Tapi juga ada rasa sedih yang membahana di dadanya.
"Ah, sudah pisah, ya" Gumamnya. Perlahan, air mata mengaliri pipinya. Ia memegang dadanya yang tiba-tiba terasa sakit sekali.
Rasa sakit karena berpisah dengan seseorang yang amat dicintai ternyata bisa separah ini, pikir Nadine. Dulu, waktu ia berpisah dengan Heru, ia memang sedih, tapi nggak lama dan tidak sesakit ini. Seketika Nadine ambruk, dan terduduk di ranjang kosnya.
Hari ini, Kian sudah bukan miliknya lagi. Laki-laki yang baik hati itu, yang sayang padanya, yang mendukung apapun mimpi dan cita-citanya, yang mau bersabar untuknya, yang mau menunggunya, nyatanya, tidak bersamanya lagi.
Nadine benar-benar tidak menyangka, pernikahannya senelangsa ini. Ia mengandai-andai, seharusnya ia melarang Kian pergi ke acara waktu itu, sehingga Kian tidak akan dijebak Riani. Dengan begitu mungkin pernikahan mereka sampai saat ini masih berlanjut. Tapi mau gimana lagi, sesal tiada guna.
Yang bisa Nadine lakukan hanyalah berharap semoga keputusannya ini memang terbaik untuk Kian. Nadine juga selalu mengingat untuk percaya pada skenario-Nya. Apapun skenario Allah, gembira, duka atau lara, Nadine percaya ada hikmah didalamnya, pasti kelak akan ada bahagia untuknya.
Nadine tak ingin meratapi sedih. Ia pun bergegas ke kontrakan Heru untuk mengambil akta cerai dari pengadilan agama.
Tiba di kontrakan Heru, ia disambut oleh Kian. Langkah Nadine terhenti. Demikian juga dengan Kian. Waktu pun terasa ikut berhenti.
Nadine merasa ingin segera menghambur pada Kian. Ia benar-benar merindukan laki-laki itu. Sejak Nadine keluar dari rumah, mereka tak pernah berkomunikasi lagi. Lebih tepatnya, Nadine yang menutup jalur itu. Padahal Kian entah berapa kali menghubungi Nadine namun tetap tak berbalas hingga akhirnya lama-lama Kian berhenti menghubunginya. Tujuan Nadine berbuat seperti itu hanya ingin lekas-lekas membiasakan diri tanpa Kian termasuk berkomunikasi dengannya meskipun melalu room chat. Ya, Nadine sekeras itu, memang.
"Ehem,..." Suara deheman dari Heru menggerakkan kembali waktu. Nadine tersadar, demikian juga dengan Kian. Mereka nampak sama-sama salah tingkah. Heru yang mendapati tingkah mereka hanya geleng-geleng kepala.
"Kamu...apa kabar?" Kata Kian kaku.
"A..aku..baik" jawab Nadine terbata.
"Ooo...baiklah, aku pamit kalau gitu" setelah mengucapkan salam, Kian pergi dari kontrakan Heru, meninggalkan Nadine yang masih terpaku di posisi semula.
__ADS_1
"Kasihan banget kamu, Nad, baru aja jatuh cinta, eee sudah pisah saja" Goda Heru.
"Kampret" Nadine mengumpat. Heru nyengir.
Hubungan mereka sudah layaknya sahabat. Heru tahu diri, bahwa sudah seharusnya ia mengubur rasa cintanya pada wanita itu, terlebih ia tahu Nadine mencintai Kian, saking cintanya sampai rela berkorban demi menyelamatkan Kian. Lagipula, cinta yang bertepuk sebelah tangan, rasanya bagai makan menyan, pikir Heru. Heru memilih fokus untuk memperbaiki kondisi ekonominya demi bisa menjadi ayah yang baik dan bertanggung jawab pada calon anaknya kelak, yang sekarang masih di kandungan mantan istrinya, Ria.
"Mana surat itu, Bang, sini, mau aku bawa ke Riani" kata Nadine saat mereka sudah berada di ruang tamu kontrakan Heru.
"Nih" Heru menyerahkan sebuah Map plastik yang didalamnya berisi akta cerai Nadine dan Kian. Nadine menerimanya.
"Aku temenin, ya?" Tawar Heru.
"Nggak perlu, Bang, insyaAllah aku bisa sendiri, kan cuma menunjukkan ini saja" kata Nadine.
"Oke, pokoknya kalau gelagat Riani mencurigakan, kamu hubungi aku"
"Oya, ini ada kado dari Kian buat kamu, tadi dia nitipin ke aku, mau ngasih sendiri katanya pasti kamu nggak mau ketemu dia" Nadine menerima pemberian Heru.
"Pesan Kian, dibuka setelah urusan kamu selesai" kata Heru. Nadine mengangguk. Ia pun beranjak meninggalkan rumah kontrakan Heru. Ia memacu motornya untuk menuju ke tempat yang ia tentukan untuk menunjukkan surat itu kepada Riani. Ya, sejak pagi, Riani berkali-kali menghubunginya dan memintanya untuk sesegera mungkin menemuinya.
Tiba di lokasi, Nadine menuju meja yang sudah ia pesan setelah Heru mengabari akta cerainya sudah keluar. Ya, begitu dapat informasi tersebut dan sebelum menuju ke rumah Heru. Nadine menyempatkan diri untuk melakukan reservasi sebuah tempat yang cukup private, baru kemudian menghubungi Riani.
"Hai, Nadine, jutek amat ekspresinya" goda Riani. Nadine tak peduli.
"Mana janjimu yang akan memberikan semua foto-foto waktu itu." Pinta Nadine to the point.
"Sabar, donkkk, buru-buru amat"
__ADS_1
"Gue nggak ada waktu buat ngeladenin Lo, cepet"
"Iyaaa, heran gue, koq bisa-bisanya Kian jatuh cinta sama cewek galak kayak Lo" cibir Riani. Tangannya merogoh tasnya.
"Nih, tapi tunjukkin dulu akta pisah Lo" Riani meletakkan sebuah flashdisk di atas meja makan. Dengan sigap Nadine mengambilnya. Riani terkesima dengan kecepatan tangan Nadine.
"Woy, main ambil aja, surat pisah elo mana" Riani protes. Nadine mengambil akta pisahnya dengan Kian. Ia meletakkan di depan Riani.
"Lo cek"
"Nggak perlu, gue bawa ini, besok gue kembalikan ke elo, gue janji" ucap Riani.
"Oke, tepatin janji Lo"
"Pasti, ngapain juga gue nyimpen surat cerai orang, atau Lo bawa deh KTP gue sebagai jaminan"
"Mana sini" pinta Nadine. Bagaimanapun ia belum tahu betul dengan Riani. Riani menyerahkan KTP nya pada Nadine.
"Oya, Nad, satu lagi, gue mau Lo nggak usah deket-deket Kian lagi, kalau Lo berani deketin dia lagi, Lo atau Kian bakal tau akibatnya."
"Lo ngancem gue?"
"Gue ngingetin aja, ada yang nggak suka ngelihat Lo sama Kian."
"Maksud Lo?"
"Udah, pokoknya Lo lakuin aja apa yang gue katakan tadi. Udah ya, gue pergi dulu" Pamit Riani. Sedangkan Nadine masih terpaku di tempat duduknya. Ia memikirkan apa yang dikatakan Riani.
__ADS_1
"Siapa? Siapa orang itu? Siapa yang menginginkan aku berpisah dengan Kian? Riani? Sepertinya bukan, etapi nggak menutup kemungkinan juga. Atau Heru? Ah nggak mungkin. Lalu siapa?" Nadine menerka-nerka. Saking fokus menerka ia jadi tak peka dengan kehadiran seseorang yang sedari tadi memperhatikannya.