
"Jaga kesehatan ya, Bu, untuk sementara ini jangan capek-capek. Ini sudah saya resepkan penambah darah dan suplemen makanan untuk ibu hamil" kata Dokter.
Nadine menatap langit-langit kamar nya. Karena kondisinya yang masih lemah juga sedang hamil muda, Ibu memintanya untuk pulang ke rumah. Nadine menurut, ia sadar dengan kemampuannya sendiri. Ia tidak mau juga memaksakan diri. Ini ia lakukan untuk menghindari sesuatu yang tidak enak terjadi, misalnya kehilangan calon bayi.
"Hai..." Sapa Nadine sembari mengelus perutnya yang tentu saja masih tampak rata.
"Sehat-sehat, ya" Katanya lagi.
Nadine merasa senang sekali. Seketika ia jatuh cinta pada calon bayinya. Bahkan sebelum mereka berdua bertemu. Nadine berpikir ini mungkin yang dinamakan cinta tulus, cinta antara ibu dan anak. Belum pernah bertemu bahkan belum tahu akan berbalas, rasa cinta sudah membuncah untuknya, si calon buah hati tercinta.
Takjub. Berulang kali ia mengucapkan hamdalah. Ia begitu berterima kasih kepada-Nya. Karena sudah dititipkan sebuah amanah. Sebuah amanah yang akan ia jaga dengan sepenuh jiwa dan raganya. Itu janji Nadine dalam hatinya.
"Kita berjuang berdua, ya, kita pasti bisa" katanya, masih dengan mengelus-elus perutnya yang rata.
Ya, Nadine tak memiliki niat untuk memberitahukan kehamilannya pada Kian. Ia sudah memikirkan hal ini saat ia dan Kian tengah bulan madu.
"Nad, suamimu koq belum ke sini juga, ya? Atau kamu belum ngasih kabar ke suami kamu?"
"Mas Kian kerja keluar kota, Bu, nggak bisa diganggu" kata Nadine berbohong. Bagaimanapun, ia belum siap mengabarkan perpisahannya dengan Kian pada kedua orangtuanya.
"Tapi ya, mbok ya disempatin, gitu"
"Nggak apa-apa, Bu, nanti kalau pulang Nadine kabari Mas Kian, biar sekalian surprise" kata Nadine lagi.
"Ya sudah kalau gitu, ini ibu bikinkan bubur kacang hijau, bagus buat kandungan. Dimakan, ya, ibu ke dapur dulu"
"Siap, Bu"
Ibu Nadine beranjak keluar kamar. Sementara Nadine bergegas untuk menikmati bubur kacang hijau yang masih hangat.
"Heeemmm... Enaaakk" Gumam Nadine.
Tak lama, semangkuk bubur kacang hijau habis ia lahap. Nadine pun menuju dapur. Ia ingin nambah.
"Bu, bubur kacang hijaunya, masih ada nggak?"
"Masih, kenapa?"
__ADS_1
"Mau nambah, boleh?"
"Boleh, ibu bikin banyak, koq"
Nadine girang. Ia mengisi mangkuk kosongnya dengan bubur kacang hijau lagi sampai penuh.
"Ibu jadi ingat apa kata bidan waktu hamil kamu dulu. Kacang hijau baik dikonsumsi ibu hamil. Katanya kandungan-kandungan di dalam kacang hijau bisa bikin kamu nggak anemia, kamu jadi nggak gampang dehidrasi, dan tentunya baik untuk pertumbuhan janin di kandungan kamu"
Nadine manggut-manggut, namun fokusnya masih berada bubur kacang hijau didepannya.
"Ada lagi makanan selain bubur kacang hijau yang baik untuk ibu hamil, tapi sayangnya ibu lupa, jadi kamu cari informasi sendiri ya."
"Gampang, Bu, tinggal tanya ke Google." Nadine nyengir. Ibunya menautkan dua alisnya, beliau tidak mengerti.
"Ngomong ngomong, ayah kemana, Bu?"
"Ayah kerja keluar kota. Katanya, nanti malam pulang"
"Oooo...Oya, abis ini aku mau keluar, Bu, mau ambil motor ke kos Windi, sama sekalian ada urusan yang perlu aku selesaikan, ibu mau nitip, apa?"
"Kamu udah nggak apa-apa?"
"Ya sudah, nanti ibu bawakan bekal, ya, jaga-jaga kalau nanti kamu lapar di jalan"
"Okidoki, makasih, ya, Bu" Nadine memeluk Ibunya.
"Duh, jangan nempel-nempel, gerah, sana-sana"
"Yaelah, Nadine siap-siap dulu"
Setelah selesai bersiap-siap, Nadine berangkat ke kos Windi pakai ojek online. Tiba di kos Windi, Nadine tanpa ingin berbasa basi dengan sahabatnya itu, langsung mengambil motornya.
"Oya, Wind, mumpung gue inget, gue minta tolong untuk tidak memberitahukan kehamilan gue ke Mas Kian, please"
"Kenapa gitu? Nggak bisa donk, kan Bang Kian bapaknya?" Windi menautkan kedua alisnya. Ia sempat kaget dengan permintaan aneh sahabatnya itu.
"Dosa Lo misahin anak sama bapaknya" Windi mengingatkan agar Nadine tak bertindak demikian.
__ADS_1
"Iya gue tahu"
"Nah, tu Lo tahu, trus kenapa masih mau menyembunyikan anak dari bapaknya?" Pungkas Windi. Ia benar-benar kesal dengan sahabatnya itu.
"Nanti ada waktunya mas Kian tahu, yang jelas waktu itu nggak sekarang atau dalam waktu dekat" kata Nadine.
"Nggak janji gue" tolak Windi. Ia merasa permintaan Nadine tidak masuk akal. Bagaimana bisa ia tidak memberitahukan kehamilannya pada ayah dari si calon bayi.
"Please, ini demi kebaikan Mas Kian, mau ya?" Nadine memelas.
"Nggak masuk akal, nggak mau gue"
"Please, kali ini aja" Nadine memegang erat tangan sahabatnya itu. Tak tega, Windi mengiyakan keinginan sahabatnya yang baginya amat sangat aneh.
"Yeayyy, makasih banyak, ya, Lo memang sahabat baik gue, ya udah gue pamit dulu, ya"
"Lo nggak duduk-duduk dulu? Gue punya drakor baru" tawar Windi.
"Lain kali deh, ya, gue banyak urusan" tolak Nadine. Ia lalu menyalakan mesin motornya.
"Oke, hati-hati, ya bumil kece" pesan Windi. Nadine mengangguk lalu melajukan motornya ke kontrakan Heru.
Lagi-lagi, tanpa ingin berlama-lama, Nadine memberikan sebuah kantong kecil kepada Heru berisi ATM Kian. Kian pernah memberikan Nadine sebuah ATM untuk ia gunakan memenuhi kebutuhannya juga belanja kebutuhan rumah tangga. Isi ATM itu masih banyak. Nadine hanya menggunakan seperlunya saja.
"Bang, gue nitip ini ya, tolong berikan ke Mas Kian"
"Kamu berikan sendiri kan bisa, Nad? Nggak usah pakai perantara aku"
"Nggak bisa, Bang"
"Berpisah boleh, tapi bukan berarti jadi asing" Kata Heru.
"Hubunganku...hubungan aku udah selesai dengan Mas Kian, sudah tidak ada alasan lagi untuk bertemu dengannya" kata Nadine.
Berat mengatakan hal itu. Tapi, memang itu yang sebenarnya terjadi. Tak ada lagi ikatan diantara mereka sebagai pasangan. Yang ada hanya ikatan sebagai orangtua dari anak yang sedang dikandung Nadine. Meskipun begitu, Nadine tak hendak memberitahukan kehamilannya pada Kian.
"Kalau...kalau kamu berhubungan denganku saja, bagaimana?"
__ADS_1
Entah bagaimana, kalimat tanya itu begitu saja keluar dari mulut Heru. Padahal ia sudah berusaha membunuh keinginan untuk bersama Nadine kembali. Padahal ia sudah berusah menekan rasa cintanya kuat-kuat. Padahal ia sudah berusaha sekuat tenaga memposisikan diri sebagai seorang teman Nadine. Namun, nyatanya, rasa itu kembali muncul dengan porsi yang sama besarnya seperti dulu, saat mendengar Nadine mengatakan bahwa ia sudah tidak memiliki hubungan apapun dengan Kian. Ya, Heru merasa apa yang diucapkan Nadine semacam kode peluang baginya untuk kembali mengusahakan Nadine agar mau kembali padanya.
"Berhubungan denganku, saja, aku pastikan tidak akan melakukan kesalahan jika kita bersama lagi"