
Anita dan Arya terus menenangkan Niah yang begitu terguncang, mungkin itulah puncak pelampiasan kesedihannya, ia menangis sambil berteriak-teriak tak peduli kalau ia masih di kantor polisi disaksikan oleh orang-orang seisi kantor.
Niah seakan ingin menumpahkan segala bebannya hari itu, Anita dan Arya bertambah panik menyaksikan tingkah Niah yang sudah seperti orang gila, ia mengacak-acak rambutnya , memukul-mukul dadanya dan bersimpuh di lantai. Terpakasa dokter Arya membopongnya menuju mobil , walaupun harus merasakan pukulan dan cakaran Niah dokter Arya tetap memaksanya masuk ke dalam mobil.
Sesampainya di rumahnya Arya kembali menggendongnya masuk dalam kamar Anita namun kondisinya saat ini agak tenang kemungkinan karena tenaganya telah habis karena terus berteriak-teriak sepanjang jalan.
Anita segera menyelimuti badannya yang menggigil , suhu tubuhnya sangat tinggi sepertinya ia demam.
Anita menatap wajah sahabatnya yang terlelap setelah minum obat demam . Anita berharap setelah Niah terbangun ia bisa agak tenang, di sampingnya Anita terus melantunkan ayat-ayat Al quran berharap dengan begitu Niah memperoleh ketenangan batin , cukup lama Niah tertidur sepertinya karena terlalu lelah .
__ADS_1
Menjelang sore Niah masih setia di peraduan Anita, rasa sakit yang menderanya membuatnya begitu putus asa, entah apa yang ia rasakan sekarang? Jiwanya hampa tanpa harapan , mungkin perasaan inilah yang cocok dengan pepatah “hidup enggan mati tak mau” bisik hati Niah. Dipandanginya seisi kamar mewah milik Anita “betapa beruntungnya Anita, hidup serba berkecukupan , punya kakak yang sayang padanya dan hidupnya tanpa cobaan yang berarti” Niah terus berbicara dalam hati.
Kembali ia mengenang masa lalunya saat masih bersama dengan mama dan papanya , hampir semua inginnya terkabulkan, mama papanya begitu sayang padanya, namun karena satu kesalahan yang melenakan membuat hidupnya benar-benar hancur. Air matanya kembali meleleh mebasahi pipinya yang sekarang tampak lebih tirus dan pucat. Cobaan demi cobaan datang silih berganti.
Ada rasa sesal yang teramat dalam memenuhi rongga dadanya, penyesalan karena telah begitu mudahnya menyerahkan sesuatu yang tak seharusnya ia berikan sebelum waktunya, ia tak menyangka bahwa kesenangan sementara yang ia rasakan telah membawanya pada kehancuran.
“Astaghfirullahuladzim” ia membisikkan kalimat itu dengan dada sesak seakan tak pantas baginya untuk memohon ampun pada Tuhannya setelah apa yang terjadi pada dirinya, ia merasa begitu kotor dan menjijikkan, apalagi saat mengingat semua yang telah ia lakukan di bawah pengawasan Ninis, mungkin lebih baik jika ia melakukan hal yang sama degan Rini, “bunuh diri” bisiknya.
Rasa putus asa dan perasaan hina membuatnya kacau. Tangannya sibuk membuka laci-laci di meja hias Anita, pandangannya terhenti pada gunting yang tergeletak di dalam laci , guntingnya cukup besar jika dipakai menusuk dada hingga jantung pikirnya. Tanpa pikir panjang Niah mengangkat gunting itu ke udara bersiap untuk menghujamkannya ke dadanya, bersamaan dengan itu Anita dan Arya masuk ke dalam kamar hendak memeriksa keadaan Niah.
__ADS_1
“Niaaahhh…jangannnn!!” teriak Arya dan Anita bersamaan , Niah terkejut mendengar teriakan dua kakak beradik itu dengan cepat ia melanjutkan niatnya mengakhiri hidupnya , melihat itu Arya melompat kearah Niah dan berusaha merebut gunting yang di pegangi Niah, mereka bergumul di lantai memperebutkan gunting itu tapi tanpa sengaja Niah mengayunkan gunting itu ke arah Arya dan tepat mengenai bahunya.
Darah segar mengucur menembus kemeja biru yang dikenakan dokter Arya , Anita terperangah menyaksikan kejadian yang menimpa kakaknya, ia berteriak histeris , sementara Niah panik karena tak menyangka gunting itu akan mengenai bahu dokter Arya.
“Allahu Akbar !” dokter Arya memegangi pundaknya sambil menahan sakit, ia berhasil merampas gunting yang di pegang Niah , sementara Anita segera mendekati kakaknya yag terluka dengan kaki dan tangan gemetar.
Niah hanya bisa menangis menyaksikan itu, “apa lagi ini?” pikirnya. Tanpa di minta Niah membantu mengangkat tubuh dokter Arya yang meringis menahan sakit, ia menutup darah yang mengalir dengan tangannya dan memapah dokter Arya duduk di kursi meja hias.
“Ya Tuhan…apa yang telah aku lakukan” bisik Niah.
__ADS_1
“ Maafkan aku kak…aku benar-benar tak sengaja” sementara tangannya sibuk mencari kotak P3K Niah tak henti-hentinya memohon maaf pada dokter Arya dan Anita. Dokter Arya hanya tersenyum sambil meringis menahan sakit, untung lukanya tidak terlalu parah jadi tak perlu mendapat jahitan, Niah sendiri yang membalut luka dokter Arya, sementara Anita hanya berdiri mematung, ia ternyata ia menderita hemophobia yaitu ketakutan ekstrem saat melihat darah atau menjalani prosedur medis tertentu yang melibatkan darah sehingga ia tak mampu berbuat apa-apa melihat kakaknya terluka.