Pelarian

Pelarian
Pelarian 1


__ADS_3

Kian mengedarkan pandangannya. Matanya menangkap sesosok pria yang dikenalnya. Sosok itu adalah Heru.


Heru berjalan cepat menuju Kian. Kedua tangan Heru mengepal sempurna. Kian berdiri bersiap siaga. Perasaannya tak enak. Dan benar saja, begitu sudah dekat, Heru melancarkan aksinya.


BUG.


Satu pukulan tangan Heru mendarat pada bagian kanan wajah Kian. Tak mau diam saja, Kian balas memukul area perut Heru. Pukulan Kian berhasil membuat Heru mundur beberapa langkah. Kian memasang kuda-kuda. Ia bersiap siaga. Namun badannya tiba-tiba ditarik dan tangannya digenggam erat. Kian jadi sulit bergerak. Sontak Kian menengok ke kanan dan kirinya. Beberapa orang ternyata memegangi tubuhnya. Hal yang sama juga terjadi pada Heru.


"Pergi Lo dari Nadine kalau Lo hanya bikin Nadine nggak bahagia!!!" Teriak Heru sembari berusaha melepaskan tangan orang-orang yang memegangnya erat. Setelah berhasil lepas, Heru pun meninggalkan warung makan tersebut. Orang-orang yang memegangi Kian pun otomatis melepaskan pegangan mereka saat melihat Heru sudah beranjak pergi.


Kian lalu merapikan bajunya. Lalu duduk di tempat semula. Ia memegang sudut bibirnya yang jadi sasaran Heru.


"Kamu nggak apa-apa, Bang? Bibirmu berdarah" Tanya Nadine. Tangannya tergesa-gesa mencari sesuatu di dalam tas kecilnya.


"Nah, sini, sini deketin wajah kamu" pinta Nadine. Kian menurut. Ia mendekatkan wajahnya pada Nadine. Nadine mulai membersihkan darah segar di sekitar bibir Kian. Kian tentu saja senang bukan kepalang. Ia pun menyunggingkan senyum.


"Diem, nggak?" Ketus Nadine. Kian lalu menahan senyumnya. Juga menahan rasa yang tiba-tiba membuncah.


'apa aku harus terluka gini baru kamu perhatiin aku, Nad?' batin Kian.


"Sudah" ujar Nadine. Kian memposisikan tubuhnya seperti semula.


"Koq bisa berantem sama mas Heru?" Tanya Nadine tanpa menatap Kian.


"Dia marah karena menurutnya aku nggak bisa bikin kamu bahagia" jawab Kian.


"Tapi aku pasti berusaha bikin kamu bahagia" lanjut Kian. Ia menatap Nadine lekat-lekat.


"Kalau begitu, batalkan rencana pernikahan kita" kata Nadine.


"Itu bikin aku bahagia" ungkap Nadine.


"Itu nggak bisa Nad, aku nggak mau orangtua kita kecewa, aku lebih memilih berusaha sekuat tenaga meraih hati kamu, aku mau berusaha membuat kamu bahagia, meskipun aku tahu, itu nggak akan mudah" jelas Kian. Mereka hening. Tak ada yang bersuara.


Hidangan yang mereka pesan pun tersaji. Mereka fokus menikmati makanan masing-masing.


"Sudah selesai? Ayo kita ke tempat..."


"Aku nggak bisa, kamu berangkat sendiri saja, yang mau nikah kan kamu, bukan aku" ujar Nadine. Ia lalu bangkit dari tempat duduknya.

__ADS_1


"Mau kemana, Nad, biar aku antar" pinta Kian. Ia juga turut berdiri lalu memegang tangan Nadine.


"Lepas, aku pergi sendiri" kata Nadine ketus sembari melepaskan tangannya dari genggaman Kian. Ia beranjak meninggalkan Kian, tanpa menoleh. Kian terpaku menatap kepergian Nadine.


Kian menghela nafas. Lama dan berkali-kali. Ia paham betul. Ini adalah resiko yang harus ia rasakan karena mengambil keputusan tetap menikahi Nadine, gadis yang ia cintai namun tidak mencintainya.


***


Nadine sudah tiba di alun-alun kota tempat tinggalnya. Ia mau mengikuti pemilihan panitia pelaksana pertunjukan seni anak-anak kelompok marjinal yang diinisiasi komunitas sosial yang Nadine ikuti. Pertunjukan seni ini bertujuan untuk mengumpulkan dana dari para penonton. Dana yang terkumpul selanjutnya dimanfaatkan untuk pendidikan ataupun pelatihan anak-anak kelompok marjinal.


Jauh sebelum lamaran, Nadine tidak berniat untuk terlibat secara langsung dalam kegiatan pertunjukan seni ini. Ia berniat untuk menjadi pendukung saja, menjadi bagian bantu-bantu saja. Namun, sejak lamaran tersebut, Nadine memutuskan untuk menjadi bagian penting dalam pertunjukkan tersebut. Tentu keputusan Nadine ini ada maksudnya. Apalagi kalau bukan untuk menghindari Kian, menghindari mengurusi pernikahannya, dan mengalihkan pikirannya yang suntuk bukan main.


Bagaimana Nadine tidak suntuk, ia dipaksa menikah dengan orang yang tidak ia cintai bahkan ia benci, hanya karena untuk berlari dari seseorang yang mengancam akan menyebarkan berita bahwa Nadine adalah perebut laki orang alias pelakor jika Nadine tidak berhenti menjalin hubungan dengan suami orang tersebut. Nadine tak habis pikir, bisa-bisanya, keluarganya lebih percaya orang tersebut ketimbang Nadine hanya karena orang tersebut membawa foto-foto saat Nadine bersama suami orang tersebut. Gila, memang.


'kenapa nggak dihadapi saja, daripada mencari pelarian, tidak menyelesaikan masalah, yang ada malah menimbulkan masalah baru' pikir Nadine kala itu.


Sayangnya, Nadine lupa dengan pendapatnya di atas. Buktinya, saat ini, ia pun tengah mencari pelarian. Ya, ia menjadikan keterlibatannya dalam pertunjukan seni para anak kaum marjinal sebagai PELARIANNYA akan pernikahan yang tidak diinginkannya.


Dan ya, pemilihan panitia pun sudah dilakukan. Hasilnya, Nadine menjadi ketua panitia pertunjukkan seni anak-anak kaum Marginal. Nadine menerimanya dengan tangan terbuka. Ia siap mencurahkan semua pikiran dan tenaganya untuk kesuksesan acara.


Hari-hari berikutnya, Nadine begitu sibuk mengurusi kebutuhan acara pertunjukan demi bisa berjalan lancar dan sukses. Ia pun menolak ajakan ibunya untuk mengurus pernikahannya.


"Nggak bisa, Bu, maaf ya, ibu pilih aja menurut selera ibu, Nadine ikut aja" kata Nadine.


"Ya nggak bisa gitu donk, Nad, ibu pilihin souvenir entong nasi, mau kamu?"


"Nggg...." Nadine berpikir sejenak.


"Ya jangan entong nasi juga sih, Bu" kata Nadine tak terima.


"Nah makanya, ayo..."


"Nggak apa-apa deh, terserah ibu aja, Nadine berangkat dulu ya, assalamu'alaikum" pamit Nadine. Lalu ia beranjak pergi meninggalkan ibunya yang masih termangu di pintu kamarnya.


Di lain hari, pun terjadi hal yang sama. Saat Ibu meminta bantuan Nadine untuk mengecat pagar rumah, lagi-lagi, Nadine menolaknya.


"Nad, bantuin Ibu ngecat bagian sini" kata ibu dengan tangan yang mulai memoles pagar rumah mereka.


"Nadine ada kegiatan, Bu, jadi maaf, lagian ngapain juga ibu ngecat sendiri. Pakai jasa tukang kan enak, Bu?" Saran Nadine.

__ADS_1


"Biar hemat, uangnya kan bisa dimasukkan ke dana pernikahan kamu"


"Nadine nggak jadi nikah aja ya, Bu, biar ibu nggak repot gini" Nadine masih berusaha membatalkan pernikahannya.


"Ya nggak bisa tho, Nad, undangan sudah disebar"


"Kan janur kuning belum melengkung, Bu, tenda birunya juga belum terpasang, jadi belum terlambat membatalkan pernikahan Nadine, ya Bu ya"


"Udah ah, nggak usah aneh-aneh, nih ngecat nih" kata Ibu sambil mengarahkan kuas cet ke wajah Nadine. Nadine menghindar sebisanya.


Deru mobil terdengar semakin dekat lalu berhenti di depan rumah. Ibu dan Nadine sudah tahu siapa empunya mobil tersebut. Siapa lagi kalau bukan Kian.


"Assalamu'alaikum , Bu, Nad"


"Wa'alaikumsalam" jawab ibu dan Nadine kompak.


"Ada apa Nak Kian? Mau ngasih apalagi ke ibu" kata ibu. Nadine sontak melirik ibunya.


"Oh ini Bu, saya mau ngantarkan ini" Kian menyodorkan amplop coklat pada ibu.


"Apa ini, Nak Kian?"


"Bukan apa-apa, Bu, cuma buat menambahkan sedikit kebutuhan dapur saat acara pernikahan, Bu" jelas Kian.


"Waaahhhh..." Ibu membuka amplopnya. Nadine sontak menyikut ibunya.


"Makasih banyak ya, ini banyak banget, nggak cuma buat kebutuhan dapur, tapi ini bis juga buat sewa tenda biru dan pasang janur kuning" goda ibu. Nadine mencebik.


"Sekalian mau minta izin nih ,Tante, saya mau mengajak Nadine ke rumah"


Deg


Nadine terkesima dengan ucapan Kian.


"Jangan jangan, jangan bertemu mama" batin Nadine. Ia amat berharap, Kian mengajaknya bukan untuk menemui mamanya. Entah kenapa sejak mengobrol dengan mama saat acara lamaran tersebut, Nadine menaruh rasa sungkan pada mama Kian.


"Mama ingin ketemu kamu, Nad" ungkap Kian.


'duh Mateng aku' kata Nadine

__ADS_1


__ADS_2