
Setelah sehari semalam, Kian dan Nadine berada di kamar, akhirnya kali ini mereka berdua keluar kamar untuk menikmati Bali.
Saat sore tiba, mereka kembali ke kamar untuk beristirahat dan tentu saja Kian beraksi lagi.
Keesokan harinya pun sama, mereka jalan-jalan lagi. Esok harinya pun sama, aktivitas mereka seperti itu lagi.
Kian memang merencanakan honeymoon selama seminggu. Demi bisa tanam benih. Juga biar puas, pikirnya. Eh nyatanya, ia tak pernah puas dengan Nadine. Istrinya itu benar-benar membuatnya candu.
Seperti sekarang, saat Nadine mengajaknya kembali, karena 2 hari lagi adalah jadwal mereka melakukan mediasi, Kian tak hendak pergi. Kalau boleh ia ingin di sini saja, menghabiskan waktu dengan istri, jalan-jalan, mengobrol, dan bercinta. Surga dunia, bukan? Yup.
Urusan pekerjaan di kampus ia serahkan sepenuhnya pada Heru. Tentu saja dengan imbalan uang. Si Heru oke-oke saja, mengingat dia memang membutuhkan uang untuk menstabilkan ekonominya kembali juga mempersiapkan dana untuk buah hatinya.
Tapi, Nadine si disiplin menolak keinginan Kian itu. Ia khawatir, jika ia tidak datang saat mediasi, Riani malah menganggapnya main-main dengan ancamannya. Nadine sendiri yakin, Riani memantau pergerakannya. Terakhir, Riani mengirimkan pesan kepada Nadine, soal rasa senangnya karena tahu surat gugat cerai Nadine pada Kian sudah ke pengadilan agama.
"Besok kita harus pulang ya, Mas" pinta Nadine. Malam itu mereka melakukan penyatuan lagi entah untuk yang keberapa kali.
"Pekerjaanku juga sudah banyak terbengkalai" imbuhnya. Nadine merapikan selimut yang menutupi bagian bawahnya.
"Nggak mau, Mas mau di sini sama kamu, nggak mau pulang, kita pulang malah pisah" Kian merengut. Ia yang sebelumnya tidur dalam posisi terlentang kini kembali memposisikan diri menghadap Nadine.
"Ya nggak boleh, gitu, donk Mas. Perpisahan ini demi kebaikan kamu, masa depan kamu" jelas Nadine.
"Masa depanku ya kamu, sayang" Kian menowel hidung istrinya yang tak terlalu mancung. Ia lalu mengeratkan pelukannya dan menyusupkan kepalanya ke dada Nadine, tempat favoritnya.
__ADS_1
"Udahlah, kita nggak usah pisah, ya. Lagipula sebentar lagi ada kian junior" Kian mengelus lembut perut istrinya.
"Iya ya, sampai lupa, Mas Kian nggak pernah pakai pengaman, kami melakukannya juga sudah berkali-kali, belum lagi aku dalam masa subur, Ya Allah lengkap. Trus kalau beneran aku hamil gimana?" pikir Nadine. Ia menggigit bibir bawahnya.
"Ah, ya udahlah, yang penting Mas Kian aman dulu, kalau toh aku hamil nanti, nggak masalah, aku kerja ini, insyaAllah bisa membiayai kehidupanku juga anakku kelak" pikirnya lagi.
Ya, Nadine memang benar-benar ingin menyelamatkan masa depan suaminya itu. Ia tidak bisa membayangkan jika karir Kian hancur karena fitnah dari Riani. Ada banyak tanggung jawab yang dipegang Kian, yakni ibu juga adiknya. Belum lagi ditambah dengan organisasi yang ia besarkan. Dah, bayangan Nadine sudah kemana-mana. Ia pun makin yakin untuk berpisah dengan Kian.
"Pokoknya besok kita pulang, Mas, aku nggak mau tahu. Kalau kamu nggak mau pulang, aku bisa pulang sendiri" Nadine mendorong tubuh Kian agar menjauh darinya. Nadine lalu membalikkan tubuhnya yang masih polos membelakangi Kian. Ia, pura-pura ngambek.
"Iya deh iyaaaa, kita pulang, tapi ada syaratnya"
"Syarat lagi, apa an?" Nadine mencebik. Suaminya ini benar-benar perhitungan.
"Hehe...lagi yuk, di sana" Kian menunjuk kolam renang privat yang tak jauh dari ranjang mereka. Nadine menatap Kian sayu. Ia lelah sudah.
"Di sini udah, di sana belum, ayolah, besok kita sudah pulang, anggap aja sebagai tambahan energi Mas sebelum pisah sama kamu"
"Abis itu selesai ya?" Pinta Nadine.
"Iya, selesai di sana, di sana belum" Kian menunjuk area kamar mandi.
"Ya ampuuuunnn, aku bisa pingsan, Mas"
__ADS_1
"Udahlah, ayok" Kian yang hanya mengenakan celana dalam lalu berdiri kemudian membopong tubuh Nadine yang masih polos ala bridal. Nadine pasrah. Iya, ia menganggap ini sebagai momen indah sebelum mereka benar-benar berpisah.
***
Begitu tiba di rumah mereka. Nadine lalu berbenah. Ia memasukkan pakaiannya ke dalam koper yang dulu ia bawa. Syukurnya, pakaian Nadine tak banyak di sana.
Sesekali, Nadine menghapus air mata yang keluar tanpa izin darinya. Ya, Nadine menangis. Siapa yang tidak sakit saat dipaksa berpisah dengan orang yang amat dicinta. Siapa yang tidak sedih, pernikahan yang baru saja membawa rona bahagia, terutama bagi Nadine, malah harus berhenti.
Namun, sesedih apapun, Nadine mencoba tegar demi suaminya tersayang. Apapun akan ia lakukan demi seseorang yang ia cinta. Nadine tengah dalam bucin mode on, tapi versi yang antimainstream.
Kian mendekati istrinya itu. Ia menghentikan pergerakan tangan Nadine. Ia menghadapkan istrinya itu padanya. Kemudian Kian menghapus sisa air mata yang nampak jelas di pipi Nadine.
"Jangan pergi, tetaplah di sini dulu, sampai akta cerai kita keluar" Kian lalu menarik tubuh Nadine ke dalam pelukannya.
Ingin, Nadine ingin tinggal bersama Kian. Tapi tidak mungkin. Kebersamaan mereka malah akan membuat Nadine makin susah melepaskan Kian.
"Nggak bisa, Mas, aku harus pergi." Nadine berdiri tegak. Tangannya menggenggam pegangan koper kuat-kuat.
"Sayang..." Kian menahan tangan Nadine.
"Lepas, Mas" Nadine menarik kasar tangannya agar terlepas dari genggaman tangan Kian.
"Besok, kamu nggak usah hadir di pengadilan agama, Mas. Agar kita bisa bercerai segera." Kata Nadine lagi.
__ADS_1
"Jaga dirimu baik-baik, aku pergi, assalamu'alaikum" pamit Nadine. Kian terperangah. Ia memegang dadanya yang tiba-tiba terasa sakit, sakit sekali. Sungguh, Kian tak menyangka, ditinggal pergi istri, terasa sesakit ini.
***