
Dan disinilah akhirnya Nadine berada di dalam mobil Kian yang tengah melaju menuju kampung halaman Nadine. Iya, Nadine menyetujui permintaan terakhir Kian untuk menemui orangtua Nadine. Setelah mewujudkan permintaan Kian maka selanjutnya Nadine terbebas dari Kian. Kian berjanji tidak akan mengganggu Nadine demi agar ia bisa fokus menyelesaikan tugas akhir.
Sepanjang jalan, Kian seringkali mencuri pandang ke Nadine yang sesekali melihat ke arah depan namun lebih sering menatap ke samping. Ia tidak menoleh ke arah Kian sama sekali. Tapi itu tak masalah bagi Kian. Nadine duduk disampingnya saja sudah cukup membuatnya bahagia.
Mereka lebih banyak diam. Sesekali Kian mengajaknya berbincang, hanya menanyakan, kamu sudah lapar? Atau mau makan apa? Mampir ke toilet umum nggak, nih? Atau cari masjid dulu, ya. Gitu. Parah banget emang si Nadine. Tapi Nadine emang seperti itu, susah menaruh hati, dan susah juga melepas pergi.
Kian memang begitu menyukai Nadine. Dan rasa sukanya makin menjadi setelah kenal Nadine. Ini adalah kali kedua Kian merasa sebahagia ini. Dulu pernah, namun gagal di tengah jalan hanya karena Kian telat melamar. Pengalaman ini ia jadikan pegangan agar tak jatuh di lubang yang sama.
Oleh sebab itu, Ia pun berinisiatif untuk melamar Nadine secepatnya. Tak perlu menunggu terlebih dahulu rasa cinta Nadine akan hadir untuk dirinya.
'Kelamaan. Keburu kabur si Nadine." Batinnya.
Tiba, di rumah Nadine, Kian dipersilakan untuk di ruang tamu. Sedangkan Nadine membuatkan Kian teh sembari memanggil ayahnya. Ayah Nadine pun sudah standby karena sebelum tiba, Nadine sudah mengatakan pada ayahnya akan kedatangan Kian.
Degupan jantung Kian begitu cepat. Jujur, ia nervous. Bagaimana tidak, karena ia datang untuk melamar. Takut ditolak? Pasti. Tapi ia siap akan risiko itu. Daripada tidak mencoba sama sekali, pikir Kian.
Kian segera berdiri begitu melihat Ayah Nadine memasuki ruang tamu. Ia ambil tangan ayah Nadine lalu menciumnya takzim.
"Silakan duduk" kata ayah Nadine.
"Terima kasih, Pak" ucap Kian.
"Berangkat ke sini jam berapa tadi?" Ayah Nadine basa-basi.
"Sekitar jam 7 an, Pak, dari kosnya Nadine."
"Cepet ya,"
__ADS_1
"Kami lewat tol baru tadi, Pak, jadi durasi perjalanan jadi lebih cepat" jelas Kian. Ayah Nadine manggut-manggut
"Nak Kian, ada perlu apa menemui Bapak? Kata Nadine ada yang mau kamu bicarakan ke Bapak?" Tanya ayah Nadine. Kian pun makin nervous. Tapi, dengan ucapan bismillah, Kian mengatakan maksud kedatangannya pada ayah Nadine.
"Iya, Pak. Mohon maaf sebelumnya kalau kedatangan saya mungkin mengganggu istirahat atau aktivitas Bapak"
"Oh nggak, nggak apa-apa."
"Alhamdulillah, baiklah, emmm....maksud saya ke sini ingin melamar Nadine, Pak." Kata Kian terus terang dan to the point. Ayah Nadine tersenyum mendengar ucapan Kian.
"Baik, Bapak tanya dulu ya, apa yang membuat kamu berani melamar Nadine?" tanya ayah Nadine. Kian mengerti maksud pertanyaan ayah Nadine. Jawaban yang dimau tentu bukan hanya karena Kian cinta Nadine, namun juga menyangkut materi.
"Enm...pertama, saya berani melamar Nadine karena saya suka Nadine, Pak. Kedua, saya yakin, insyaAllah, Nadine adalah yang terbaik bagi saya." Ungkap Kian. Ia menghela nafas sebentar.
"Ketiga, Alhamdulillah, secara ekonomi insyaAllah saya sudah mapan, Pak, saya sudah siap untuk menikah, insyaAllah saya bisa dan akan berusaha memenuhi kebutuhan Nadine, tidak membuat Nadine susah, dan akan berusaha membuat Nadine bahagia, insyaAllah." Lanjut Kian. Ia kembali mengambil udara untuk melanjutkan kalimatnya lagi.
'Hhhhhhh...legaaa' batin Kian.
"Alhamdulillah," ujar Ayah Nadine.
"Nak Kian kerja dimana?"
"Saya mengajar di kampus XXX, Pak"
"Ooo..dosen,"
"Iya, Pak, Alhamdulillah"
__ADS_1
"Bapak terserah Nadine, mau menerima atau menolak lamaran kamu, Bapak ikut keputusan Nadine, karena yang akan menjalaninya Nadine, bukan Bapak, kan?" Ucap ayah Nadine, sembari tertawa kecil.
"Saya cuma bisa memberi saran atau memberikan pertimbangan ke Nadine" lanjut ayah Nadine. Kian mengangguk-anggukan kepalanya, tanda paham dan setuju dengan apa yang dikatakan ayah Nadine. Bagi Kian, peran ayah Nadine dalam memutuskan menerima atau menolak lamarannya ini, sudah cukup. Karena ayah Nadine tidak bersifat memaksakan kehendak. Ini tentu bagus, mengingat Nadine adalah tipe anak yang tidak suka dipaksa. Jika dipaksa ia pasti akan menolak, atau ia menerima namun dijalani dengan setengah hati saja yang mungkin lama-kelamaan akan berujung pada pemberontakan. Kian paham betul dengan karakter Nadine.
"Oya, kamu dulu kuliah dimana? Ngajar mata kuliah apa di kampus..." Tanya ayah Nadine yang segera dijawab Kian. Lalu ayah Nadine kembali mengajukan pertanyaan ke Kian dan Kian pun menjawabnya tanpa ada yang ditutup-tutupi termasuk perihal keluarga Kian. Ya, Kian sedang diintrogasi oleh ayah Nadine. Wajar, tentu saja. Ayah Nadine ingin tahu secara detil mengenai pria yang ingin meminang anaknya.
Pembicaraan mereka pun berlanjut. Lama-lama, mereka tak lagi berbincang seputar melamar atau menikah, melainkan ke ranah politik dan sebagainya. Beberapa kali ayah Nadine tertawa lepas saat berbincang dengan Kian. Saking kerasnya, tawa ayah Nadine sampai terdengar oleh Nadine dan ibunya yang sedang berada di dapur.
Sebenarnya, Nadine penasaran dengan apa yang diperbincangkan oleh ayahnya dan Kian sehingga membuat ayahnya tertawa lepas seperti itu. Ayah Nadine memiliki karakter yang sama dengan Nadine. Kaku, dan tidak mudah akrab. Tapi dengan Kian, ayahnya bisa 'secair' ini. Maka dari itu Nadine amat penasaran. Ia ingin mendekati area ruang tamu untuk mencuri dengar. Namun sayangnya niatnya terhalang oleh ibunya.
"Eh mau kemana kamu?" Tanya ibu Nadine.
"Nggak, nggak kemana-mana" jawab Nadine.
"Seneng deh ibuk, Nad, kamu pinter nyarik mantu buat ibuk, ganteng, seperti pemeran utama pria di film duyung-duyung itu" kesan Ibu Nadine. Ia teringat akan film yang ia tonton setelah nonton filmnya ikan terbang.
"The legend of the blue sea, maksud ibuk?"
"Nah, itu, calon kamu mirip sama pemain utamanya, ganteng, ibu suka,"
"Mirip dilihat darimana sih, Buk? dari Hongkong?" Nadine tak terima.
"Ya, mirip, sama sama ganteng" kata ibu Nadine.
"Ibu setuju lho kamu nikah sama dia" lanjut ibu Nadine sembari memamerkan senyum sumringahnya.
"Kalau kamu gimana, Nad? Kamu pasti menerima lamaran Kian, kan?"
__ADS_1