Pelarian

Pelarian
Resepsi 1


__ADS_3

Resepsi


Nadine tak jua dapat memejamkan matanya. Ia pun mengakhiri rebahannya karena sudah tiba waktunya ia harus bersiap-siap menuju ke ballroom sebuah hotel ternama untuk melangsungkan resepsi pernikahannya dan Kian. Nadine lalu beranjak menuju kamarnya.


Di kamar, Nadine mendapati Kian yang tengah berdiri di depan kaca. Ia diminta mengecek tampilannya oleh MUA. Kian menganggukkan kepalanya, sebagai tanda bahwa ia sudah puas dengan tampilannya. Nadine pun sepakat, Kian sudah terlihat makin tampan.


"Eh mikir apa an cobak? Nggak, nggak, nggak ada ganteng-gantengnya tu laki-laki brengsek" batin Nadine. Buru-buru ia membantah penilaiannya pada Kian.


Ya, sampai momen ini, Nadine masih membenci Kian. Nadine masih tidak bisa melupakan bagaimana Kian sudah menciumnya. Nadine merasa dilecehkan. Nadine menganggap Kian adalah laki-laki br*ngs*k dan menyebalkan. Menyebalkan karena sudah membuat orangtuanya memaksanya untuk menikah dengan Kian demi menghindari fitnah yang dibuat oleh Ria, istri dari mantan kekasih Nadine.


"Argh" kesal Nadine begitu ia mengingat moment yang tidak menyenangkan dalam hidupnya.


"Sini, mbak Nadine, sekarang giliran kamu" pinta sang MUA.


Nadine menurut. Ia duduk di depan meja riasnya.


"Saya make up in dulu, ya. Setelah itu baru ke kostum mbak Nadine"


"Oke" jawab Nadine singkat.


Nadine diam-diam memperhatikan sosok Kian dari kaca riasnya. Kian memakai celana abu-abu, kemeja putih serta rompi yang berwarna senada dengan celananya. Jas berwarna senada dengan celananya tersampir di bahu Kian. Rambutnya tersisir rapi. Sebuah kacamata bertengger di hidungnya yang mancung. Tampan, tampan sekali. Baru kali ini Nadine melihat penampilan Kian seperti itu. Biasanya, ia mendapati Kian dengan kaos oblong juga jeans belel dan tidak rapi serapi saat ini.


Nadine kembali menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia berharap pikirannya tentang Kian jatuh berhamburan setelah ia menggerak-gerakkan kepalanya.


Kian menyadari Nadine tengah menatapnya. Ia berpura-pura tidak tahu dan memilih nampak asyik dengan gawainya. Padahal ia tengah menekan rasa salah tingkahnya. Siapa yang tidak salah tingkah dipandangi oleh gadis yang dicinta.


"Saya itu paling suka memakaikan make up pengantin baru" kata mbak MUA, memupus hening.

__ADS_1


"Kenapa emangnya, Kak?" tanya Nadine penasaran.


"Ya kaya' kamu gini, masih malu-malu kucing curi-curi pandang ke suami, lucu bikin saya gemes" Ungkap mbak MUA sembari tersenyum lebar.


Mata Nadine sempat menangkap basah Kian tersenyum lebar. Ia menyesal karena sudah mencuri-curi pandang pada laki-laki yang sudah menjadi suaminya itu. Pikir Nadine, Kian pasti mengira bahwa ia menyukainya.


"Dih, aku nggak bakal suka sama laki-laki brengsek kayak kamu" janji Nadine dalam hati.


Setelah ketahuan ia mencuri pandang, Nadine tidak menatap Kian lagi. Kepalanya lurus ke depan menatap wajahnya sendiri.


Giliran Kian yang mencuri-curi pandang pada Nadine. Gadis itu, sekarang, tak hanya manis melainkan juga cantik, cantik sekali. Andai saja Nadine juga memiliki perasaan yang sama dengan Kian, mungkin di moment seperti ini, Kian akan menggodanya, mencandainya, dan tidak ada hening mewarnai kebersamaan mereka. Namun sayang, itu hanya menjadi angan Kian. Kian paham itu. Ia sudah berjanji dalam hati bahwa ia akan bersabar sembari membuktikan kepada Nadine bahwa ia tidak seperti apa yang dipikirkan Nadine. Bahwa apa yang Kian lakukan di penginapan dulu murni khilaf bukan disengaja. Baru setelah ia berhasil mengubah penilaian Nadine terhadapnya, ia akan melanjutkan strategi berikutnya yakni membuat Nadine jatuh cinta padanya.


Nadine selesai di make-up, kemudian berlanjut pada memakai kostum. Sebelum itu terjadi, Nadine meminta Kian keluar dari kamarnya. Kian melakukan apa yang diminta Nadine. Ia keluar sembari membawa tas ranselnya juga koper kecil milik Nadine untuk selanjutnya ia letakkan di dalam mobilnya. Ya, rencana setelah prosesi resepsi pernikahan, mereka akan menginap di hotel tersebut.


Selesai. Nadine akhirnya keluar dari kamarnya. Ia disambut oleh ibunya. Ibu Nadine takjub dengan penampilan putrinya yang begitu anggun. Rambut Nadine digelung ke atas. Ia mengenakan dress berwarna putih dengan aksen renda di bagian bahu, lengan juga dadanya. Dress tersebut membalut tubuh Nadine begitu sempurna. Di tangan kanannya, Nadine memegang rangkaian bunga berwarna putih yang menambah cantik penampilan Nadine.


Kian yang semula berniat masuk ke dalam rumah untuk mengambil kotak kacamatanya yang tertinggal di nakas kamar Nadine, seketika lupa akan niatnya tersebut, karena ia mematung. Pikirannya seakan beku. Fokus perhatiannya hanya satu yakni Nadine. Matanya menatap Nadine nyaris tak berkedip. Iya, Kian terpesona dengan Nadine, istrinya. Mungkin jika tidak mendengar perintah ibu Nadine yang meminta mereka untuk segera berangkat ke lokasi resepsi, Kian akan tetap membeku.


"Aw" seru Nadine. Tangannya memegang bingkai pintu. Mukanya meringis. Ia seperti tengah kesakitan. Itulah yang ditangkap Kian. Buru-buru ia menghampiri istrinya, lalu memapah Nadine untuk duduk di kursi yang paling dekat dengan mereka. Kian lalu meluruskan kaki Nadine. Nadine sempat menolak namun Kian memaksa. Kian pun mulai memijat kaki Nadine.


"Coba digerakan pelan-pelan, sudah enakan belum?" Pinta Kian. Nadine menggerak-gerakkan kakinya dan ajaib, kakinya yang tadi terasa sakit karena hampir terjatuh sebab pakai heels, menjadi sudah enak-an.


"Masih bisa jalan? Kalau belum bisa, biar aku gendong" tawar Kian. Nadine sontak melotot. Ia lalu berdiri dan mulai berjalan perlahan menuju mobil Kian. Kian menyunggingkan senyum melihat tingkah Nadine.


"Maafin anak, Ibu, ya Nak" ucap Ibu Nadine yang ternyata masih mengekori Kian.


"Oh, iya, Bu, nggak apa-apa" jawab Kian seraya mengukir senyum.

__ADS_1


"Nadine emang gitu, awal-awalnya galak, lama-lama jinak, koq. Kamu yang sabar ya" pesan Ibu Nadine. Kian mengangguk mantab.


"Ya sudah ayo kita berangkat, mamamu sudah di sana, tadi telfon ibu" ajak ibu Nadine. Kian segera beranjak menuju mobilnya. Setelah kedua orangtua Nadine masuk ke dalam mobilnya, Kian pun melajukan mobilnya menuju lokasi resepsi.


***


Resepsi berlangsung dengan lancar. Kian tadi sempat mempersembahkan lagu untuk Nadine. Bertemankan gitar, Kian menyanyikan lagu 'Sempurna' karya Andra and the Backbone. Riuh suara di ballroom begitu Kian berdendang. Dan keriuhan makin menjadi manakala Kian memberikan setangkai bunga mawar putih kepada Nadine sebagai penutup performanya.


Nadine yang mendapat perlakuan semanis itu, sempat goyah, karena ia merona nan berbunga-bunga. Tapi buru-buru Nadine mencabut bunga-bunga yang tumbuh di hatinya. Tak mau, ia tak mau jatuh cinta pada Kian.


Setelah itu, prosesi resepsi sampai pada para tamu memberikan selamat pada pengantin. Satu-satu tamu undangan memberikan selamat pada Nadine juga Kian. Kian senang karena Nadine tak menekuk wajahnya seperti saat di akad tadi. Ia tersenyum, senyum, lagi, lagi, lagi, dan berhenti.


"Hai, Nad, selamat ya" ujar Heru, mantan kekasih Nadine.


***


Hai, Readers.


Makasih banyak sudah berkunjung ke sini. Mohon bantuan like, komen, dan rate-nya yak. Kalau berkenan, nge-vote juga boleh, senang sekali.


buat Authors,


makasih juga kunjungannya yak.


please, tinggalkan jejak agar aku bisa mengunjungimu kembali.


salam terlove,

__ADS_1


dari aku.


😊


__ADS_2