Pelarian

Pelarian
Bucin Sama Laki Orang?


__ADS_3

Sejak putus dengan Heru, ini adalah kali pertama Nadine merasa bahagia membaca pesan dari seseorang. Jika rejeki.


Saking senangnya, begitu selesai membaca pesan tersebut, ia pun segera membalas pesan itu yang isinya seperti di bawah ini.


From: Nadine


To: Bang Kian


Alhamdulillah, makasih banyak ya, Bang Kian. Nggak usah diantar ke sini, biar Nadine aja yang ke sana ambil bukunya sekalian ganti uang Bang Kian.


Ya, Kian adalah pengirim pesan yang berhasil membuat Nadine sumringah bahagia. Karena Kian memberi kabar bahwa ia sudah menemukan sekaligus membeli buku yang Nadine cari. Kian juga mengatakan akan mengantarkan buku Nadine selesai kerja dan rapat di kantor organisasi. Namun Nadine menolak. Ia tak ingin merepotkan Kian lagi. Nadine ingin ini adalah kali terakhir ia meminta tolong pada Kian.


Kian tentu merasa senang karena tak perlu menunggu waktu yang lama lagi untuk bisa bertemu dengan Nadine. Kalau boleh jujur, Kian pun sudah merindukan Nadine padahal baru saja bertemu beberapa hari yang lalu.


Setelah mengabarkan pada Kian bahwa Ia akan pergi mengambil buku ke tempat kerja Kian, Nadine lalu bersiap-siap, ia nampak terburu-buru memasukkan perlengkapan yang menurutnya perlu ia bawa. Tidak banyak, hanya sabun cuci muka, tisu, dompet, gawai, power Bank dan permen. Penampilan Nadine pun seadanya. Ia memakai kaos oblong dan jeans belel. Ia mengikat rambutnya yang panjang sebahu ala ekor kuda. Lalu ia mengenakan topi.


Saat Nadine tengah mengenakan sepatu ketsnya, Windi tiba-tiba melongokan kepalanya di pintu kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Nadine.

__ADS_1


"Elo mau kemana, Nad?" Tanya Windi.


"Ke kampus tempat Bang Kian ngajar" terang Nadine.


"Ciyeeew...makin merapat aja nih ceritanya." Goda Windi.


"Merapat apa an, gue mau ambil buku di Bang Kian, Bang Kian dapet buku yang aku mau."


"Gue ikut kalau gitu, tunggu ya." Tanpa menunggu persetujuan, Windi pun bergegas bersiap juga. Tak lama, ia pun siap berangkat lalu menggamit lengan Nadine.


"Ayo kita ketemu Bang Kian" seru Windi riang. Nadine tak peduli.


Sepanjang perjalanan mereka berbincang. Mulai dari saling curhat soal dosen pembimbing tugas akhir masing-masing, tingkah ajaib penghuni kos, sampai cerita soal gosip penampakan di kos yang katanya sering menyerupai penghuni kos. Hiiiiiii....


Beberapa kali Nadine terlihat melihat gawainya. Lalu memencet tombol-tombol abjad. Rupanya ia tengah membalas pesan.


"Siapa, Nad? Si kampret?" Tanya Windi sensi.

__ADS_1


"Iya, Mas Heru."


"Eh Nad, gue boleh tanya, nggak?"


"Bolehlah, asal jangan tanya berapa jarak antara elo dan Lee min ho."


"Ish, ya meskipun halu gue tau diri juga kali Nad." Windi tak terima.


"Gue tanya ya, elo kenapa sih nggak move on move on dari si kampret, padahal kan dia udah nyakitin elo, heran gue, elo yang **** atau gimana sih?" Windi nyerocos.


"Enak aja bilang gue ****." Nadine tak terima.


"La elu kayak masih cinta banget dan ngarepin si Kampret, apa yang kampret bilang elo turutin."


"Ya selama itu baik, gue bakal ngikutin apa yang disarankan Mas Heru. Kalau nggak baik yang nggak gue ikutin. Yakali Gue bucin sama laki orang."


"Gue juga lagi berusaha move on, cuma emang gue akuin susah banget move on dari Mas Heru." Lanjut Nadine.

__ADS_1


"Inget-inget aja kalau dia udah nyakitin elo dengan menikahi orang lain, itu pasti bakal bikin elo cepat lupa. Gue yakin." Saran Windi.


"Jujur ya, gue nggak sakit hati karena Mas Heru ninggalin gue nikah, gue malah salut sama dia."


__ADS_2