Pelarian

Pelarian
Terjebak


__ADS_3

 


Di atas pusara anaknya yang basah dan penuh taburan bunga Niah menangis dengan air mata yang berlinang, tanpa suara namun jelas dari gerakan tubuhnya yang terguncang menahan isakan tangis yang semakin membuatnya tak bisa bernafas, kepedihan kehilangan seseorang yang sangat dicintainya yang menjadi harapan hidupnya.


 Harapan satu-satunya yang membuatnya bisa tegar di luar dunia yang biasa ia jalani yang membuatnya bisa tetap tersenyum walau ia kehilangan semuanya. Kehilangan rumah, orang tua dan kehidupan yang serba kecukupan, karena Bintang lah ia masih bertahan menerima semua keadaan yang begitu berat yang harus ia jalani.


Bintang adalah harapan dan mimpinya, kini harapan dan mimpi itu telah tiada ia tak tau untuk apa lagi ia hidup sekarang, haruskah ia hidup tanpa harapan dan impian? Lalu disebut apakah hidup tanpa harapan dan impian itu? Pertanyaan itu terus bermain di kepalanya.


Rini duduk di dekat sahabatnya itu, mencoba menegarkan hati yang benar-benar rapuh dan sakit. “yang sabar yah…Bintang sudah tenang di sana” ucap Rini sambil memeluk bahu sahabatnya itu.


Tak ada balasan dari Niah yang ada hanya tetesan demi tetesan air mata yang terus berjatuhan membasahi kerudung putihnya. Niah tak sanggup mengucapkan sepatah katapun terlalu menyakitkan kenyataan yang ia hadapi bahkan lebih menyakitkan daripada pada saat ia kehilangan Reza.


Pulang dari pemakaman Niah mengurung diri di kamar selama berhari-hari, tubuhnya mulai kurus membuat Rini semakin khawatir “Niah…kamu harus bangkit, jangan menyiksa dirimu dengan berbuat seperti ini” ucap Rini menasehatinya.


 “Rin…kamu tidak akan pernah tau perasaanku…karena kamu tidak pernah mengalami kehilangan anak kan?” jawab Niah sambil menatap tajam ke arah Rini.


“Iya…aku memang tak pernah kehilangan anak Niah…tapi aku pernah kehilangan kedua orang tuaku secara bersamaan kemudian disusul kehilangan harta bendaku karena di rebut oleh tanteku sendiri” ucap Rini menunduk sedih, hatinya bergejolak mengingat peristiwa tragis yang menimpa ke dua orang tuanya.


“Maafkan aku Rin…aku tidak bermaksud untuk mengingatkanmu tentang itu, aku hanya sangat sedih dan tak tau untuk apa lagi aku hidup sekarang” ucap Niah sambil memegang tangan sahabatnya itu, ada perasaan bersalah di hatinya melihat Rini menangis mengingat kematian orang tuanya yang tragis.


 “Tidak apa-apa Niah…sekarang yang perlu kita pikirkan adalah bagaimana melanjutkan hidup kita sendiri dan berbahagia, tidak ada gunanya meratapi yang sudah pergi, toh dengan menangis tak akan membuat mereka kembali” ucap Rini. yah ucapan Rini ada benarnya juga menurut Niah, dengan menangis semua tidak akan berubah. Mereka berdua berpelukan larut dalam perasaan masing-masing.


Sore ini Niah memutuskan untuk kembali bekerja seperti biasa, ia harus bangkit dari keterpurukkannya, sebenarnya ia bisa saja kembali ke orang tuanya seperti nasehat Rini tapi hatinya enggan untuk melakukan itu, ia malu untuk kembali mengingat ia telah begitu mencoreng  nama baik keluarganya.

__ADS_1


Hari ini ia berangkat bersama Rini karena ada janji ketemuan dengan seseorang yang menjanjikan pekerjaan yang lebih baik dari pada di club.


Randi namanya , seorang pemuda dengan penampilan necis memakai jas hitam dengan celana kain yang serasi dengan jas hitam dan dasi merah maronnya. Tinggi badan ideal dengan berat badannya, wajahnya bersih, kulitnya putih  dengan cukur cepak bak artis korea. Pemuda inilah yang akan ditemui Niah dan Rini sore itu, mereka janjian di sebuah café yang cukup terkenal di kota itu.


 Randi melambaikan tangannya setelah melihat kedua wanita cantik yang ditunggunya telah tiba di pintu masuk café. Rini dan Niah menghampiri pemuda ganteng yang mengaku orang suruhan Ninis sahabat mereka saat di universitas.


Randi hampir tak berkedip beberapa detik menatap kedua wanita itu, hatinya bersorak memandang keduanya . Rini yang datang dengan longdress hitam selutut sangat serasi dengan tubuhnya yang tinggi dan langsing, kulit putih mulusnya terlihat dari kaki jenjangnya. Sementara Niah seperti biasa berpenampilan santai dengan kemeja kotak warna merah kombinasi abu-abu dipadu dengan celana jeans barel abu namun kecantikannya terpancar dari wajahnya yang lembut dengan rambut hitam panjang dan lurus hingga punggungnya, rambutnya di biarkan tergerai terkesan santai dan cuek sangat kontras dengan penampilan Rini yang girly, namun keduanya memiliki kecantikan yang menyihir seorang  Randi.


Mereka bersalaman setelah saling menyapa “Randi yah?”Tanya Rini setelah beberapa saat duduk di kursi café itu. “yes” jawaban ringkas Randi membuat Niah meliriknya sejenak. Ia  punya firasat kurang baik melihat laki-laki bergaya perlente itu.


“ aku ke sini atas suruhan Ninis cause dia tak sempat bertemu kalian di sini, so dia nyuruh aku untuk menjemput kalian” jawab lelaki itu dengan logat ke inggris-inggrisan membuat pinggang Niah seperti di gelitik, mau ketawa tapi takut juga. Sementara Rini yang duduk di samping Niah tak pernah mengakihkan pandangannya dari wajah Randi, tampaknya Rini tergoda oleh ketampanan Randi.


“So…apakah kalian bersedia ikut denganku?” Tanya Randi kembali , ada senyum aneh di sudut bibirnya. “iya” jawab Rini tanpa menunggu persetujuan Niah. Seketika Niah menepuk paha Rini “ tunggu dulu Rin, kita harus tau dulu pekerjaan apa yang akan diberikan Ninis pada kita” ucap Niah pelan membisiki Rini. “sudahlah…Ninis kan teman kita , yah…pastinya dia akan ngasih kita kerjaan yang bagus” ucap Rini membalas Niah.


“Yuk…berangkat sekarang, Ninis sudah menunggu” ucap Randi sambil berdiri menuju mobil Harvard putih yang terparkir di depan cafe. Rini secepat kilat menyambar tangan Niah untuk mengikuti langkah Randi, Niah terpaksa mengikutinya.


Hampir setengah jam Randi melajukan mobilnya, akhirnya ia berhenti di sebuah apartemen mewah yang katanya milik Ninis. “yuk…Ninis udah nunngu di lantai atas” ucap Randi. Rini dan Niah mengikuti Randi masuk ke kawasan apartemen itu kemudian masuk kedalam tangga lif apartemen itu , Niah melirik tangan Randi yang menekan tombol angka 27 , berarti mereka akan meuju lantai 27.


Sampai di lantai 27 lif berhenti , mereka mengikuti Randi masuk ke sebuah kamar apartemen, wangi lemon menyeruak masuk ke dalam rongga hidung mereka. Tapi terlihat kamar apartemen itu sepi seperti tak berpenghuni, walaupun terlihat sangat bersih dan mewah perasaan Niah kurang enak berada di sana.


“Kalian tunggu yah, sebentar lagi Ninis datang” ucap Randi kemudian meninggalkan mereka berdua. Suasana apartemen sangat legang diluar pintu berjaga dua pemuda yang ikut di dalam mobil tadi.


“Rin…persaanku  kok tidak enak yah, apa benar ini atas suruhan Ninis?” tanya Niah setelah mereka berdua duduk di sofa berwarna abu –abu yang sangat empuk. “santai aja kali, kita tunggu Ninis dulu” ucap Rini sambil membaringkan tubuhnya di kursi santai terbuat dari kayu berukir sangat antik yang berada di dekat sofa.

__ADS_1


Niah mengedarkan pandangnnya di seisi apartemen itu, ia meihat banyak foto-foto wanita seksi setengah telanjang terpajang di beberapa dinding apartemen. Bulu kuduk Niah merinding melihat foto-foto itu. Sedangkan Rini menikmati udara sejuk dari jendela apartemen yang berhadapan dengan pantai sambil memejamakan matanya. Jam dinding warna putih bulat yang terpajang berhadapan dengan sofa menunjukkan pukul delapan malam , artinya mereka sudah bebrapa jam di tempat itu tapi tak ada tanda-tanda kemunculan Ninis di tempat itu.


Niah mulai gelisah , perutnya juga sudah keroncongan menahan lapar “ Rin…aku lapar” sahut Niah melihat Rini dengan santainya memejamkan matanya di kursi itu. “Iya nih, aku juga lapar” ucap Rini membuka matanya.


Suara pintu terbuka mengalihkan pandangan mereka berdua ke arah suara, seorang wanita berpenampilan seksi hanya memakai gaun motif bunga mawar sebatas paha dan dada terbuka menghampiri mereka sambil terseyum bahagia. “hai …apa kabar kalian, pasti sudah lapar yah” Tanya wanita itu dengan senyum ceria. “Ninis mana?” Tanya Rini hampir bersamaan dengan Niah. “ ah..sabar, kalian makan dulu terus mandi dan ganti baju, aku akan membawa kalian bertemu degan Ninis” ucap wanita. Niah memperhatikan dandanan wanita itu sangat menor, bedak tebal dan lipstick merah menyala menghiasi wajah imutnya .


Niah dan Rini segera menikmati makanan yang di bawa wanita itu rasa lapar mereka membuatnya tidak banyak bertanya lagi. Selesai makan mereka berdua mandi.


“Nah…sudah pada wangi, sekarang ganti baju dan kita bertemu Ninis di bawah” ucap wanita itu lagi. Rini dan Niah saling berpandangan , mereka bertanya-tanya dalam hati “sesibuk itukah Ninis sehingga harus mengirim orang-orang aneh ini untuk menemuinya?. Rini juga sudah mulai merasa aneh. Apalagi melihat baju yang di bawa wanita itu adalah gaun yang sangat terbuka, Niah enggan memakainya,itu sangat kontras dengan apa yang sering di pakainya. Rini langsung memakai gaun merah sepaha dengan tali silang dibagian punggung yang hampir memperlihatkan semua bagian punggungnya. Bagi Rini tidak masalah karena ia biasa dengan pakaian terbuka saat bekerja jadi pelayan café, lain halnya dengan Niah yang sama sekali tidak suka pakaian seperti itu. Tapi wanita itu terus membujuknya untuk memakai pakaian itu, gaun warna hitam dengan sedikit hiasan permata di atas dada. Agak terbuka di atas dadanya tapi punggungnya tertutup tidak seperti yang di pakai Rini. Niah merasa sangat tidak nyaman.


Sampai di bawah di sebuah resto mewah Rini dan Niah di suruh menunggu di sebuah meja yang telah di pesan. “Tunggu yah, Ninis dalam perjalanan kemari, ayo silahkan di minum jus nya” ucap wanita yang sedari tadi mengantarnya dari apartemen.


Niah dan Rini terkejut saat terbangun dari tidurnya sudah berada di atas ranjang hotel. Niah gelagapan mencari ponselnya segera menghubungi Rini yang berada di kamar yang berbeda “Niah…kita di jebak” terdengar suara isakan dari ujung ponselnya, bagai sambaran petir di atas kepalanya Niah tertegun mencoba mengingat-ingat apa yang telah terjadi semalam.


bersambung


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2