Pelarian

Pelarian
Sakit


__ADS_3

Sakit


Nadine baru saja keluar dari kantor kliennya. Ia segera merogoh ranselnya. Sedari tadi, ia merasa hpnya bergetar berkali-kali.


Nadine membuka hpnya. Ada 3 pesan masuk dan ternyata dari pengirim yang sama yakni mertuanya. Pesan itu berisi berita soal Kian yang sedang sakit dan tengah berada di rumah Mama.


Teringat saat ia meminta bantuan suaminya untuk menjadi model dadakan. Waktu mengarahkan posisi tangan suaminya, Nadine sempat merasakan tangan Kian yang terasa hangat. Nadine menyesal ia abai dengan apa yang ia rasakan tadi.


Nadine menyalakan motornya. Ia mengarahkan laju motornya ke arah rumah mertuanya begitu cepat. Ia ingin cepat-cepat menemui Kian.


Tiba di rumah Mama, mertuanya, Nadine mengucapkan salam. Ia disambut oleh mertuanya. Nadine sontak mencium tangan mertuanya itu.


"Ma, mas Kian mana, Ma?" Tanya Nadine to the point. Ia benar-benar tak sabar ingin menemui suaminya.


"Ada di kamarnya, naik tangga, sebelah kanan, kamar pertama" tunjuk Mama.


"Makasih, Ma, Nadine ke kamar mas kian dulu, ya, Ma" pamit Nadine. Mama mengangguk. Lalu dengan setengah berlari Nadine bergegas menemui Kian.


Sementara itu, Mama menunjukkan ekspresi wajah lega setelah melihat tingkah laku Nadine. Mama senang karena Nadine tidak seperti dugaannya. Ya, Mama sempat berpikir bahwa Nadine tidak peduli dengan Kian.


Jika dibandingkan, tingkah laku Nadine pada Kian saat dilamar dan saat ini, berbeda jauh. Seingat mama, dulu Nadine terlihat tidak peduli pada Kian. Dan sekarang Nadine menunjukkan kepeduliannya pada Kian. Ia terlihat amat mengkhawatirkan kondisi Kian. Melihat hal ini, Mama yakin, Nadine sudah cinta dengan Kian.


Setelah Mama tidak lagi melihat tubuh Nadine. Mama pun beranjak dari tempat itu menuju dapur.


Nadine membuka pintu kamar Kian. Nampak Kian tengah tertidur. Ada kain yang menempel di keningnya.


Nadine menghampiri Kian. Ia sentuh kening Kian. Ternyata masih terasa panas.


Nadine mengecek kondisi kompres, ternyata sudah kering. Nadine pun membasahi kain kompres tersebut lalu meletakkannya kembali ke kening Kian.


Saat itu, Nadine benar-benar menjaga Kian. Ia tak hirau lagi dengan rasa lelah yang merasukinya. Ia juga mencoba bertahan dari kantuk yang ikut-ikutan datang. Meskipun dalam kondisi seperti itu, Nadine tetap berusaha menjaga Kian.


Nadine memegang tangan Kian. Lalu mengusapnya lembut kemudian menggenggam erat tangan itu.


Waktu berlalu, demam Kian sudah turun. Kepalanya tidak terasa pusing lagi. Kian hendak meletakkan kain kompresnya ke nakas. Namun, ia dikagetkan dengan sosok Nadine yang tengah tertidur sambil duduk di sampingnya.


Perlahan, Kian turun dari tempat tidurnya. Ia memandangi Nadine. Tangannya merapikan helaian rambut Nadine yang menutup wajahnya.


"Hai, Cantik. Makasih banyak, ya" kata Kian.


Lalu Kian mengecup kening Nadine. Sayangnya, kecupan itu kurang halus, sehingga membuat Nadine terbangun.


Kian yang melihat Nadine membuka matanya, diserang rasa gugup tiba-tiba.

__ADS_1


"Eh..Mas" sapa Nadine.


"Kamu mau kemana? Sudah enak an?" Tanya Nadine yang mendapati Kian akan turun dari tempat tidur.


"Sudah, Alhamdulillah" kata Kian sembari memulas senyum.


"Kamu pindah tidur di atas, gih, Mas mau pindah tidur di sana" Kian menunjuk sofa yang ada di kamarnya.


Saat hendak beranjak, Nadine menarik tangan Kian.


"Kita tidur di sini, Mas, berdua, ayo" Nadine menuntun Kian kembali di atas tempat tidur. Kini mereka sudah di atas tempat tidur berdua.


Nadine memiringkan tubuhnya. Ia memposisikan dirinya menghadap Kian. Sedangkan Kian dalam posisi telentang.


"Mas, mulai hari ini, mas jangan begadang lagi, ya" Nadine membuka percakapan.


"Kalaupun mau begadang untuk mengerjakan penelitian kamu, jangan begadang di luar, bang Heru ajak ke rumah aja, ngerjain di rumah" Nadine menjeda.


"Aku udah nggak punya perasaan sama bang Heru, jadi kamu nggak perlu khawatir soal itu" ungkap Nadine.


Ya, Nadine merasa Kian melakukan itu karena ia takut Nadine memiliki rasa pada Heru lagi.


"Baiklah" Kian menyetujui permintaan Nadine.


Ia ingin sekali memeluk istrinya itu. Lalu mengecup keningnya sebagai ungkapan terima kasih karena mau peduli padanya. Tapi Kian urung melakukannya. Lagi-lagi, ia takut tubuhnya meminta lebih.


Nadine mengusap pipi suaminya, sebentar. Setelah itu, ia meletakkan tangannya di atas perutnya. Nadine memposisikan tubuhnya telentang. Ia lalu mengarahkan pandangannya ke langit-langit kamar Kian. Seketika, ingatan Nadine mengarah pada percakapannya dengan Windi melalui hp. Nadine menggigit bibirnya.


"Oya, aku boleh tanya sesuatu, Mas?"


"Tanyalah"


Nadine nampak berpikir sejenak. Terlintas rasa ragu untuk menanyakan apa yang belakangan ini mendominasi pikirannya. Bagaimana tidak mendominasi, kalau ternyata ia mendapat kabar dari Windi sahabatnya yang mengatakan sudah beberapa kali Windi melihat Kian bersama seorang wanita. Wanita yang sama.


Nadine ingin tahu siapa gerangan wanita yang sering berdua dengan Kian. Ia tak ingin dibayangi dengan perasaan curiga pada suaminya.


"Apa? Kamu mau tanya apa?" Kata Kian seketika menarik Nadine dari pikirannya.


"Emmm...kemarin siang, Mas makan dimana?" Tanya Nadine. Windi melihat Kian makan di sebuah warung bakso bersama seorang wanita.


"Makan bakso, di warung bakso dekat kantor organisasi, kenapa?"


"Kamu makan bakso sama siapa, Mas?"

__ADS_1


"Sama temen organisasi"


"Cewek?"


"Iya, cewek"


"Mas sering makan sama dia?"


"Belakangan ini, ya, lumayan sering"


"Ooo..." Respon Nadine singkat.


Kian menaruh curiga. Karena sebelumnya Nadine tak pernah peduli soal dengan siapa Kian beraktivitas.


"Kamu tumben tanya-tanya itu, hem?" Gantian, sekarang, Kian yang memiringkan tubuhnya lalu menghadap ke Nadine.


"Ya biar aku nggak berpikiran negatif terus sama kamu, Mas, lebih baik aku tanyakan ke kamu"


"Oooo...kirain kamu cemburu"


"Ngarep"


Nadine jutek. Kian nyengir.


"Kamu tahu dari siapa?"


"Windi, Mas, dia nggak sengaja ketemu kamu beberapa kali dan selalu sama cewek yang sama" ungkap Nadine.


"Kata Windi, dia curiga kamu selingkuh karena nggak dapet belaian dari aku" Nadine menatap Kian. Yang ditatap tengah menatapnya. Akhirnya, Nadine memilih mengalihkan pandangannya dari Kian.


Tangan Kian merapikan rambut Nadine. Lalu beralih mengusap kepala Nadine. Nadine diam saja. Tak hendak protes sama sekali.


"Mas nggak mungkin selingkuh. Lawong Mas cinta banget sama kamu." Kian masih mengusap rambut Nadine.


"Makasih ya, Mas, makasih sudah mau menunggu, kamu nggak selingkuhin aku meskipun kamu kurang dibelai" Kata Nadine.


"Kamu sudah membuktikan ke aku, selama hampir 2 bulan ini, bahwa kamu bukan laki-laki brengsek" Nadine memiringkan tubuhnya. Kini, mereka saling berhadapan.


"Dan sepertinya, aku sudah mulai suka sama kamu, Mas" ungkap Nadine. Kian melongo seketika.


"Ah, kalau begitu, bolehkah kalau sekarang aku minta hakku sebagai suami" gumam Kian dalam hati.


"Jadi kalau Mas minta kamu sekarang, boleh nggak?"

__ADS_1


__ADS_2