Pelarian

Pelarian
Melihat Sendiri


__ADS_3

Setelah berpikir lagi, Nadine akhirnya memutuskan untuk tidak jadi pergi. Ia tak mau menghilang lagi. Ia tidak akan berlari lagi. Ia akan mencoba menghadapi. Sendiri.


Ya, untuk sementara, Nadine merasa ingin menghadapi masalah yang tengah menyapa rumah tangganya ini seorang diri saja. Ia tak ingin berbagi dulu.


Oleh sebab itu, saat adik iparnya berkunjung, ia berusaha menyembunyikan perasaannya. Ia berusaha terlihat baik-baik saja sampai adik iparnya itu pulang.


Tak dapat dipungkiri, ada rasa kecewa di hati Nadine. Ia tak menyangka bahwa akan secepat ini mendapat kecewa di rumah tangganya. Padahal baru saja ia menaruh percaya lalu mulai suka pada suaminya.


"Kenapa harus secepat ini terluka?" Gumam Nadine dalam hati.


Jika ia tahu akan mendapat lara, tentu ia tidak akan menaruh rasa. Namun, tak ada yang tahu masa berikutnya, kecuali Sang Maha Pencipta.


Nadine berusaha menepis pikiran yang tidak-tidak tentang suaminya setelah mendapatkan kiriman foto mesra suaminya dengan seorang wanita. Ia ingin melakukan hal itu sebelum mendapatkan penjelasan dari suaminya. Lalu setelah mendapatkan penjelasan, jika itu mengecewakan hatinya, ia akan lekas lekas pergi tanpa menunda bahkan memberi kesempatan lagi. Ia berusaha begitu.


Tak bisa. Itu, tak bisa. Semakin ia berusaha menekan pikirannya, semakin ia mengingat jelas foto-foto mesra Kian dengan wanita lain.


Malam tiba, pikiran Nadine masih diisi Kian, Kian, dan Kian. Ia lalu mengaktifkan hpnya. Seketika itu muncul banyak pesan dari Kian juga laporan panggilan masuk.


Nadine membuka dan membaca satu persatu pesan dari Kian. Matanya berkaca-kaca.


From: Kian


Honey, Mas Kangen.


Pesan itu masuk beberapa menit sebelum Nadine mendapatkan kiriman foto mesra Kian dengan wanita lain. Nadine membuka pesan berikutnya.


*From: Kian


Honey, lagi ngapain? Mas Rindu. Kamu rindu Mas, nggak? Ah kayaknya nggak. Tapi nggak apa-apa, yang penting kamu tahu, Mas kangen kamu.


From: Kian


Sayang, hpnya koq nggak aktif, Mas kangen.


From: Kian


Sayang*...


From: Kian


Honey


From: Kian


Nadine, istri Mas tersayang..

__ADS_1


From: Kian


Honey, kamu nggak apa-apa, kan?


From: Kian


Sayang, ada apa? Kamu kenapa? Mas hubungi kamu dari tadi nggak bisa-bisa.


From: Kian


Honey, ada apa?


From: Kian


Sayang, ingat ini baik-baik, Mas cinta kamu. Ingat, jangan pergi, jangan lari dari Mas lagi. Tunggu Mas pulang. Segera.


From: Kian


I love you, Honey


Air mata Nadine menderas. Hatinya sakit, juga perih. Layaknya diiris sembilu.


Ia menyandarkan tubuhnya dan kepalanya pada Headboard ranjangnya. Ia tatap langit-langit kamar demi agar air matanya tertahan tak jatuh ramai-ramai. Sayang, usahanya gagal, air matanya tetap mengalir berbulir-bulir.


Tiba-tiba, hp Nadine berbunyi. Sontak ia mengambil hp yang sebelumnya ia letakkan dipangkuannya. Ia pikir, itu adalah pesan dari Kian. Ternyata, pesan itu berasal dari nomor yang telah mengirimkan foto-foto mesra Kian.


Nadine menangis tergugu, sejadi-jadinya. Pilu, sudah pasti. Ia dekap lututnya kuat-kuat untuk meredam tangis yang hendak meluap-luap. Sakit, sakit sekali.


Kini, tak hanya hatinya yang terasa perih. Pun demikian dengan kepalanya. Terlalu banyak menangis menyebabkan kepalanya sakit.


Nadine menepis sakit fisiknya. Karena nyatanya masih lebih sakit psikisnya.


Nadine teringat sebuah alamat yang tercantum di bagian paling bawah. Nadine ingin membuktikan kebenarannya. Benarkah suaminya bermesra dengan wanita selainnya? Nadine ingin tahu. Nadine ingin melihatnya dengan matanya sendiri.


Sebentar lagi, pagi. Nadine memutuskan menunggu matahari sembari mengadu pada Sang Maha Cinta. DIA adalah sebaik-baiknya tempat mengadu berkeluh kesah.


Sebelum matahari benar-benar nampak, Nadine bergegas mencari kendaraan yang bisa mengantarkannya ke lokasi tujuan di aplikasi transportasi online. Bersyukur, di aplikasi tersebut, sudah ada pengemudi yang standby.


Nadine pun segera melakukan pemesanan. Tak peduli berapa tarif yang harus ia bayar mengingat jarak antara rumahnya dan alamat hotel yang diberikan oleh pengirim foto-foto bermesraan Kian, jauh. Yang terpenting baginya, ia bisa segera tiba di tempat tujuan.


Tiba di lokasi, Nadine bergegas masuk ke dalam hotel. Ia berjalan mengitari lantai satu. Namun tak ada kamar di sana. Lalu Nadine sedikit berlari menuju sebuah lift yang sempat ia lewati. Saat ia akan masuk ke dalam lift, sebuah tangan menariknya.


"Nad, ada apa?" Heru melihat dengan seksama wajah Nadine. Nampak matanya yang sembab serta hidungnya yang memerah.


"Tolong antar aku ke kamar nomor 100, Bang" pinta Nadine. Ia merasa butuh bantuan. Berkali-kali, ia gagal fokus memusatkan pikiran dan berpikir. Alhasil ia nampak seperti orang yang tengah kebingungan.

__ADS_1


Heru merasa ada yang tidak beres dengan Nadine juga Kian. Ia ingin menanyakannya. Namun, ia urungkan.


"Aku antar" Heru mengantar Nadine. Nadine mengekor Heru. Dadanya bergemuruh.


Setelah melalui 10 lantai, akhirnya Nadine dan Heru sampai di kamar Kian. Heru tak hendak membuka pintu kamar Kian. Karena ia terpikir pasti kamarnya Kian terkunci.


Dugaan Heru salah. Nyatanya, Nadine berhasil membuka pintu kamar Kian. Lalu terpampang lah pemandangan yang membuat Nadine hancur sehancur-hancurnya.


Kian tengah tidur di dalam pelukan seorang wanita. Posenya sama seperti foto yang dikirimkan pada Nadine.


Langkah Nadine mundur, lalu goyah, hingga akhirnya ia terjatuh duduk. Nadine menangis sejadi-jadinya. Cukup keras hingga berhasil membangunkan Kian.


Ya, Kian mengerjap-ngerjapkan matanya. Ia berusaha untuk bangun meskipun kepalanya masih terasa sedikit pusing. Namun, sebuah tangan yang melingkupinya, berhasil menghambat geraknya . Kian menyingkirkan tangan tersebut tanpa melihat pemiliknya. Ia mencari asal suara tangis. Ia seperti mengenal pemilik suara tangis tersebut. Mirip, mirip sekali dengan suara istrinya.


Kian kembali berusaha membuka matanya. Cepat, cepat, cepat, Kian mendapat Nadine tengah duduk bersimpuh di lantai.


"Sayang, kamu..."


Belum sempat Kian melanjutkan kalimatnya, Heru sudah memukul wajahnya.


"Nad, ayo pergi" ajak Heru. Nadine berusaha berdiri. Tapi kakinya melemah. Sadar akan hal itu, Heru memapah Nadine. Mereka berjalan meninggalkan Kian yang masih nampak terkejut dengan apa yang terjadi. Istrinya di bawa pergi oleh Heru, kawan sekaligus mantan kekasih Nadine.


"Kenapa dia menangis?"


Tapi, setelah Kian menyadari kondisinya yang nyaris polos. Kian tahu penyebab Nadine menangis seperti itu.


Kian bergegas turun dari ranjangnya. Namun, tangannya seketika ditarik oleh seseorang yang baru saja ia kabari keberadaannya.


"Mau kemana, Beb?" Tanya Riani pada Kian. Kian terkejut melihat kondisi Riani yang juga sama sepertinya, nyaris polos.


Seketika itu, Kian melepaskan tangannya dari Riani. Ia malah mencengkeram kedua bahu Riani. Keras kasar hingga membuat Riani meringis kesakitan.


"Apa mau Lo? Jawab?"


"Aku mau kamu kembali, Beb" jawab Riani.


"Aku masih cinta kamu" ungkapnya.


Kian semakin mengeraskan pegangannya di bahu Riani.


"Sakit, Yan, Sakit, lepas" pinta Riani.


Kian melepaskan Riani. Ia lalu bergegas memberesi pakaian dan barang-barangnya. Ia akan pulang.


"Kalau sampai terjadi apa-apa dengan Nadine, Lo rasakan akibatnya" ancam Kian. Riani beringsut. Bagaimana tidak, ekspresi Kian benar-benar menunjukkan kesungguhan nan menyeramkan. Kian pergi.

__ADS_1


***


__ADS_2