Pelarian

Pelarian
Hilang


__ADS_3

Karena sedang tidak ada kerjaan, Nadine pergi ke kos Windi. Ia merindukan sahabat se-iya sekata gembira juga merana.


Persahabatan mereka sudah terjalin sejak semester awal kuliah sampai saat ini. Wajar jika mereka bisa sedekat itu.


"Ciyeee...pengantin baru" sapa Windi begitu melihat kepala Nadine muncul di pintu kamarnya.


"Sini sini masuk gue pengin denger cerita soal malem pertama lo" Windi nyengir.


"Belum masuk kamar sudah ditagih cerita malam pertama. Somplak nih orang" sahut Nadine. Ia lalu mencari posisi enak di kamar Windi.


"Yakali elo mau cerita yang hot-hot gitu ke gue" kata Windi sambil tersenyum menggoda.


"Kalaupun gue udah malam pertama, gue nggak bakal cerita ke elo"


"Pelit Lo"


"Biarin"


"Etapi tunggu tunggu, elo berarti belum malam pertama donk?" tebak Windi setelah mencerna ucapan Nadine.


"Belum lah"


"Dosa Lo, Nad"


"Mas Kian mau koq" Nadine mengeluarkan lidahnya. Melet melet.


"Ya ampun bang Kian, kasian bener punya istri semprul gini" Windi menoyor kepala Nadine.


"Trus elo mau ngapain ke sini?"


"Andaikan Mas Kian nggak tahu rencana gue, mungkin hari ini gue udah berada di luar pulau"


"Ngapaiiiinnnn?"


"Kabur lah"


"Please deh, Nad, kalau elo ada masalah nggak kayak gitu juga jalan keluarnya"


"Justru gue males mikirin jalan keluar, makanya gue pengin kabur aja"


"Emang karena apa sih, Lo mau kabur segala kalau gue boleh tahu"


"Banyak hal"


"Apa-an? Kali aja gue bisa bantu cari solusinya" Tawan Windi.


"Nggak, elo nggak akan tahu solusi yang tepat, karena elo belum pernah ngerasain di posisi gue"

__ADS_1


"Oke oke, terserah elo lah, yang penting elo jangan kabur"


"Nggak bisa juga kayaknya mau kabur, Mas Kian pasti bakal tahu, kayak sekarang ini, dia paham gue punya keinginan untuk kabur sendirian. Entah gimana koq dia bisa paham dengan rencana gue padahal gue nggak bilang siapa-siapa" Nadine menghela nafas kasar.


"Syukur deh, Bang Kian ngerti rencana Lo. Trus sekarang rencana elo apa?"


"Rahasia, entar elo bilang ke Mas Kian lagi" kata Nadine yang sukses bikin Windi tersenyum lebar.


Ya, Nadine sudah menemukan cara untuk sekedar membuat dia lupa dengan masalah-masalah yang datang menghampirinya. Seperti biasa, ia akan mencari pelarian lagi. Pelarian yang sama, ia akan menenggelamkan diri dalam kesibukan. Rencana ini akan ia awali dengan mulai merangkai rencana aktivitas-aktivitas yang bisa ia lakukan.


Sementara itu, Kian yang sengaja pulang lebih cepat karena ingin mengajak Nadine jalan-jalan, nampak kaget mengetahui kondisi rumah yang sepi. Ia segera mengecek kamar tidur. Ia buka lemari baju Nadine, kondisinya masih penuh baju. Lalu ia mencari koper Nadine, masih ada. Kian lega, Nadine tak kabur kemana-mana. Ia hanya pergi tak jauh.


"Tapi kemana ni anak, handphonenya juga nggak aktif" ucap Kian. Ia lalu menghubungi Dika, adik Nadine, namun nihil, Nadine tidak ada di rumah.


Kian mengambil kunci motor. Ia segera melajukan motornya. Tujuan pertama ke komunitas sosial yang Nadine ikuti.


Jarak antara rumah dan lokasi komunitas itu berada, yakni alun-alun kota, tidaklah jauh. Kian segera memarkirkan motornya tanpa menatanya dengan rapi. Kian tak peduli dengan ekspresi wajah tukang parkir yang sewot. Ia ingin cepat-cepat menemukan Nadine.


Kian mengedarkan pandangannya sembari melangkahkan kaki. Matanya pun menangkap sekelompok anak-anak yang nampak asyik mendengarkan seseorang yang sedang bercerita. Kian paham, itu adalah komunitas yang Nadine ikuti.


Kian mendekati kumpulan tersebut. Ia menghampiri seseorang yang ia kenal, Totok, ketua komunitas sosial tersebut.


"Selamat sore, Pak Kian" sapa totok yang segera menyambut uluran tangan Kian. Mereka berjabat tangan.


"Sore, Mas Totok apa kabar?" Tanya Kian basa basi.


"Saya hanya mau tanya, apa tadi Nadine ke sini?"


"Ooo Nadine. Iya, Pak. Tadi Nadine ke sini tapi cuma sebentar."


"Dia bilang, nggak Mas, mau pergi kemana?"


"Waduh, nggak bilang apa-apa, Pak"


"Emmm...oke oke, kalau gitu saya boleh minta nomor handphone Mas Totok?"


"Boleh boleh, Pak, sebentar" Totok lalu menyebutkan angka-angka dengan lancar. Setelah itu, Kian berpamitan pada Totok dan beberapa orang yang sudah dikenal Kian.


"Apa ke panti asuhan ya? Ah aku coba ke sanalah" Kian kembali melajukan motornya.


Tiba di sana, Kian bertemu dengan Ibu Tini, pemilik panti. Beliau mengatakan Nadine sempat ke sini membawa bahan makanan saja. Jadi tidak berlama-lama. Sayangnya, Bu Tini tidak tahu kemana Nadine pergi.


Kian teringat dengan teman Nadine, Windi. Kian mencari nomor handphone Windi. Kian bersyukur karena ia masih menyimpan nomor Windi.


Halo Wind (Kian)


Iya Halo, Bang Kian. Ada perlu apa ya, Bang? (Windi)

__ADS_1


Ada Nadine, nggak? Sore gini dia belum pulang, handphonenya juga nggak aktif (Kian)


Tadi dia di sini, sih Bang, cuma sebentar abis itu katanya dia mau langsung pulang soalnya sudah sore (Windi)


Oh oke, makasih ya, Win (Kian)


Iya, Bang, sama-sama (Windi)


Kian lalu mematikan sambungan telfonnya. Ia kembali melajukan motornya. Kali ini ia arahkan menuju rumah.


Kian lega saat mendapati pintu depan terbuka lebar. Karena berarti Nadine ada di rumah.


Kian memasuki rumah dengan antusias. Ia mencari Nadine di ruang kerja, lalu kamar, dapur, hasilnya tak ada Nadine di sana. Terakhir, Kian berjalan menuju halaman belakang rumah.


"Hai, Sayang, kamu dari mana? Mas tadi cari kamu. Mas takut kamu pergi ninggalin, Mas" Ungkap Kian. Mendengar itu, spontan Nadine menoleh dan menatap Kian yang berjalan mendekat ke arahnya. Ia sedang duduk di sebuah kursi kayu.


"Jangan pergi, ya" ulang Kian.


"Tapi aku ingin pergi, Mas, aku.." Nadine menggantungkan kalimatnya. Ia menatap Kian lekat-lekat. Seakan tengah mencari sesuatu melalui tatapan mata Kian.


"Jangan pergi, beri Mas kesempatan, mas akan membuktikan bahwa Mas bukan laki-laki brengsek seperti anggapanmu, Mas akan berusaha membuatmu bahagia" Kian mengambil tangan Nadine lalu memegangnya erat.


"Beri Mas waktu setahun, kalau selama itu kamu belum bahagia dengan pernikahan ini, Mas akan mencoba ikhlas membiarkanmu pergi" Kian meneguk salivanya. Terasa sakit namun lebih sakit yang dirasa hatinya.


"Mau, ya?" Tanya Kian lagi. Dan Nadine menganggukkan kepalanya.


"Alhamdulillah, makasih ya, Mas tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang kamu beri" kata Kian. Ia hendak memeluk Nadine. Tapi Nadine menggelengkan kepalanya.


"Oiya...lupa" Kian nyengir.


"Eh...Mas punya kejutan, lho buat kamu. Tebak hayo kejutannya apa?"


"Apa? Martabak? Terang bulan? Bakso? Gado-gado? Apa Mas?" tebak Nadine. Entahlah Nadine tidak bisa berpikir jernih. Pikirannya seakan terhubung dengan kondisi perutnya yang memang tengah kelaparan.


"Kamu lapar ya, Sayang?" tanya Kian. Secepat kilat, Nadine mengangguk kalem. Kian gemas. Ingin meremasi pipi Nadine tapi tak bisa.


"Ya sudah, ayo kita makan dulu, Mas tadi beli ayam bakar madu, ayo" Kian menarik tangan Nadine. Nadine mengikuti langkah Kian. Iya, Nadine memutuskan untuk memberi Kian kesempatan untuk membuktikan bahwa ia bukan laki-laki ********. Itu dulu. Soal membuka hati, akan Nadine pikirkan lagi.


***


Nadine mah gitu, keras banget, kayak batu.


Semangat ya, Kian. Batu ditetesi air, lama-lama akan berlubang juga.


😊


Happy Reading, Yeayyy.

__ADS_1


__ADS_2