Pelarian

Pelarian
Menyusahkan


__ADS_3

"Heran deh gue, tu orang nggak paham-paham juga, gue hitung-hitung ini sudah kelima kalinya ke sini," omel Windi.


"Apa an sih, Win?" Tanya Nadine penasaran.


"Biasa, Nad, si kampret nongol lagi, nohdi depan" kata Windi.


"Duuhh, Bilangin gue nggak ada, Win, please," pinta Nadine.


"Udah, gue udah bilang gitu, dia bilang sih iya, tapi ya gitu, dia nggak pergi-pergi,"


"Gimana donk, jadwal gue ke panti nih sekarang," kata Nadine.


Iya, kali ini adalah jadwalnya pergi ke panti, sekedar memberi sedikit bahan makanan dan berbagi sedikit ilmu yang ia miliki. Nadine kadang mengajari membaca, berhitung, hingga bermain dengan adik-adik asuhnya. Melihat senyum mereka, seketika bahagia menyeruak di hati Nadine. Bagi Nadine, bersama mereka adalah candu.


"Minta tolong bang Kian gimana?" Tawar Windi.


"Nggak ada hubungannya kali sama bang Kian,"


"Yakali aja, disambung-sambungin gitu, hehe" Windi nyengir.


"Elo mah...Ya udah gue batalin dulu lah, besok aja, semoga Bang Heru besok nggak kesini lagi, etapi besok gue mulai nyicil pindahan ke kontrakan."


"Elo beneran mau pindah? Nggak usahlah, Nad. Gue kesepian donk kalau elo pindah," rayu Windi.


"Perut elo yang kesepian, karena nggak ada mie instan gue, hahaha"


"Ah elo,...Tapi gue serius nih, jangan pindah ya, di sini aja, sampai kita wisuda"


"Nggak ah, gue udah yakin pindah"


"Gara-gara orang-orang pada ngomongin elo ya, bilang elo pelakor,"

__ADS_1


"Itu juga, salah satu alasan gue pindah,"


"Mbok ya dicuekin aja gitulo, Nad, lagipula kalau elo pindah, entar orang-orang malah yakin kalau elo bener-bener pelakor, kepindahan elo malah membuktikan elo emang perebut laki orang,"


"Terserah deh, gue mau nyari suasana baru, suasana yang bikin gue nyaman, biar gue bisa fokus kerja, nggak mikirin nada-nada sumbang penghuni kos sini," jelas Nadine.


"Ya udah, entar gue kasih tahu bang Ki.., eh" Windi menutup mulutnya.


"Siapa? Bang Kian?" Tanya Nadine. Windi nyengir.


"Sejak kapan elo jadi informan, Bang Kian?" Selidik Nadine.


"Sudah lama," Windi nyengir.


"Pengkhianat Lo," Nadine merengut.


"Bang Kian baik, Nad, nih gue kasih tahu apa aja kebaikan bang Kian yak,"


"Nggak usah, buat apa? Biar gue suka sama dia, nggak, ilfeel gue," Nadine seketika teringat dengan kejadian saat ia dan Kian di penginapan. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, membuyarkan ingatan akan hal itu.


"Selama ini, yang ngasih camilan, makanan, nyewa novel, komik, hingga nyewa CD, traktir Lo nonton bioskop, dan sebagainya, itu bukan gue, Lia, atau oci, melainkan Bang Kian,"


"Maksud Lo? Gue nggak ngerti? Koq bisa dari Bang Kian?"


"Jadi Bang Kian minta bantuan gue, oci dan Lia buat ngejagain elo, biar elo tetap sehat, dan ngehibur elo kalau lagi gabut ngerjain tugas akhir,"


"Nggak mungkin,"


"Gue punya buktinya kalau elo nggak percaya, gimana? Mau gue tunjukin,"


"Nggak usah, gue percaya elo,"

__ADS_1


"Kalau elo pindah, gue nggak bisa lagi deh dapet gratisan dari Bang Kian." Windi sedih.


"Makanya Nad, Lo sama bang Kian aja, gue setuju banget" usul Windi. Namun langsung ditolak Nadine.


"Eh mau elo ajak kemana gue?" Tanya Windi yang tangannya ditarik Nadine.


"Temenin gue, nemuin Bang Heru," Nadine akhirnya memutuskan untuk menemui Heru dengan ditemani Windi. Sengaja, Nadine menjadikan Windi orang ketiga, demi mencegah fitnah terhadapnya.


"Nad," ucap Heru saat melihat Nadine didepannya. Sedangkan Windi, memilih untuk berdiri di balik pintu keluar kos. Ia akhirnya menolak untuk jadi orang ketiga alias setan. Windi merasa Nadine dan Heru butuh bicara berdua saja. Tapi, meskipun berada di balik pintu, Windi masih bisa mendengar jelas percakapan Nadine dan Heru.


"Tolong, berhenti, aku mohon"


"Nggak mau sebelum kamu ngasih aku kesempatan lagi," jelas Heru. Nadine tak merespon. Ia malah nampak berpikir keras. Tak lama, ia menghela nafasnya berkali-kali, setelah muncul sebuah ide untuk membuat Heru pergi.


"Baik, aku akan memberikan kamu kesempatan lagi, Bang. Tapi dengan syarat?"


"Apa?"


"Berbuat baiklah sama istri kamu, Bang, berusahalah untuk mencintai istrimu, jika nanti kamu sudah cinta dengan istrimu, barulah aku akan memberimu kesempatan lagi,"


Nadine berhenti sejenak.


"Tapi cukup kesempatan dalam hal berteman saja, tidak lebih dari itu."


"Nggak bisa, aku sudah menjatuhkan talak pada Ria." Nadine terkejut deghan apa yang diungkapkan Heru.


"Aku nggak mau, aku mau kamu kembali jadi kekasihku dan lalu kita akan menikah"


"Ngawur, sudahlah, ku mohon pergi, jangan datang lagi, aku lelah, aku lelah dengan masalah yang kamu buat, aku mau hidup tenang, nggak ada istri orang yang marah-marah ke aku, dan nggak ada yang ngatain aku perebut laki orang, kamu bikin aku susah," Kata Nadine. Heru tertunduk.


"Ku mohon, berhentilah membuatku menderita," pinta Nadine lagi. Namun tak ada jawaban dari Heru. Maka Nadine beranjak pergi. Ia masuk ke dalam kos meninggalkan Heru sendiri.

__ADS_1


Di kejauhan, tanpa mereka sadari, ada seseorang tengah fokus memperhatikan mereka berdua. Dan orang itu adalah RIA.


"Nggak kapok kapok juga tu Nadine mengganggu suamiku, awas ya, aku mau melakukan sesuatu, biar kamu tau rasa,"


__ADS_2