
"Selamat subuh, istriku tersayang" sapa Kian. Matanya terbuka sayu sambil menatap wajah Nadine yang berada tepat di atas wajahnya. Kian melingkarkan tangannya di pingganh Nadine.
"Cantik sekali" puji Kian lagi. Saat hendak merapatkan pelukannya, Nadine menarik diri untuk melepaskan dirinya dari pelukan Kian.
"Ish, apa an sih, jangan pegang-pegang" ketus Nadine.
"Gantian, kan tadi malam kamu peluk peluk Mas" goda Kian lagi. Tatapan matanya terlihat jenaka. Dan Nadine sadar akan hal itu. Ia pun melengos lalu menuju ke kamar mandi. Di sana, Nadine merutuki dirinya yang tidak bisa bergerak cepat menghindari perlakuan Kian seperti tadi. Seharusnya ia langsung sigap begitu ia merasa tangan Kian menariknya. Bukan malah mengikuti alur begitu saja.
"Ih kesel" kata Nadine.
Sementara itu, Kian tersenyum lebar melihat tingkah Nadine. Sesubuh ini bahkan ia sudah dibikin bahagia oleh gadis itu. Nikmat mana lagi yang mau ia dustakan. Tidak ada.
Kian tak peduli saat Nadine menunjukkan ekspresi kekesalannya. Bagi Kian, ini adalah salah satu strateginya untuk mendapatkan hati Nadine.
Selesai melaksanakan sholat, Kian menghampiri Nadine. Ia duduk di tepi kasur.
"Sayang, ada yang mau mas sampaikan ke kamu"
"Apa?" jawab Nadine sembari menggulir-gulir layar gawainya.
"Rumah mas masih direnovasi, sedikit lagi insyaAllah selesai, kita sementara tinggal di rumah Mama dulu, ya, nggak apa-apa, kan?"
"Di rumahku saja, Mas" usul Nadine. Ia tidak mau tinggal di rumah Mama Kian. Ada rasa sungkan yang besar terhadap Mama Kian.
"Ya sudah, ayo kita siap-siap pulang" ajak Kian. Ia memulai packing. Sedangkan Nadine masih asyik memainkan gawainya.
Setelah selesai mengemas pakaian dan beberapa barangnya, Kian berinisiatif untuk mengemas barang-barang Nadine juga. Satu-persatu barang-barang Nadine, ia masukkan ke dalam kantong kecil di koper Nadine. Setelah itu ia beralih melipat mukena, dress pengantin, dan baju ganti Nadine. Terakhir, saat akan melipat handuk, Kian tiba-tiba berhenti. Rasa malu melingkupinya. Bagaimana tidak, ini adalah kali pertama bagi Kian berhadapan dengan pakaian dalam wanita.
Saking bingung mencari cara untuk mengemas pakaian dalam Nadine tanpa dilingkupi rasa malu, Kian malah mondar mandir di pintu kamar mandi. Tingkah Kian ini berhasil menarik perhatian Nadine.
__ADS_1
"Ada apa, sih, Mas? Bolak balik kayak gasing"
"Eh oh ini, aku boleh mengemas barang-barangmu yang ada di kamar mandi, tidak? Sekalian aku beres-beres" Izin Kian.
"Ooo...Ya, terserah" jawab Nadine singkat. Ia kembali menekuni gawainya. Ia sedang mengedit beberapa foto produk pesanan kliennya. Namun, belum lama, tiba-tiba Nadine mengangkat wajahnya.
"BH sama celana dalamku, ya aamppuunn" batin Nadine.
Ia lalu beranjak ke kamar mandi. Dengan sigap ia menarik kaos Kian.
"Berhenti, Mas, jangan, biar aku kemas sendiri yang itu" pinta Nadine. Kian berbalik seraya menunjukkan sesuatu ditangannya.
"Ini maksud kamu?"
Pipi Nadine seketika memerah melihat pakaian dalamnya di tangan Kian. Ia segera merebutnya lalu memasukkan pakaian dalamnya ke dalam koper miliknya.
Nadine diserang jutaan rasa malu. Ia hanya menundukkan wajahnya, tak berani menatap Kian.
"Sudah selesai semuanya?" Tanya Kian yang dijawab anggukan kepala oleh Nadine.
"Ya sudah ayo kita pulang" ajak Kian. Ia mengambil ransel juga koper Nadine. Nadine mengikuti langkah Kian.
Akhirnya, mereka pun keluar dari hotel tersebut. Mereka lalu menuju ke rumah Nadine. Kian mau mengantarkan Nadine pulang dulu baru kemudian ia akan mengambil beberapa pakaian dan barangnya di rumah untuk selanjutnya ia bawa ke rumah Nadine.
Tiba di rumah, Nadine dan Kian disambut hangat ibunya.
"Eehhhh, pengantin baru, pagi-pagi udah di sini aja, atau jangan-jangan kalian belum tidur ya, saking asyiknya berdua-dua" goda ibu Nadine.
"Apa an sih, Bu?" Ketus Nadine sembari mencium tangan ibunya. Tak lupa ia mencium pipi kiri ibunya. Kemudian ia berlalu menuju kamarnya.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum, ibu, apa kabar?" Sapa Kian basa basi. Ia bingung mau mulai percakapan apa pada ibu mertuanya itu.
"Wa'alaikumsalam, baik, cuma kaki ibu aja ini agak pegel kemarin berdiri seharian" jelas ibu Nadine.
"Ke dokter ya, Bu, biar saya antar?" Ajak Kian.
"Duh duh duh, mantu ibuuu, baik bener" Ibu Nadine girang.
"Nggak usah, Nak Kian, ini gampang, nggak perlu ke dokter, biasanya Ibu tempelkan koyo cap cabe, sembuh" kata Ibu Nadine. Kian mengangguk-anggukan kepalanya.
"Ya udah, masuk gih, kalau mau sarapan langsung aja ke dapur ya, Ibu mau ke rumah Bu RT dulu" pamit Ibu Nadine.
"Baik, Bu" Kian segera menuju kamar Nadine. Begitu Kian membuka pintu, ia langsung terpana akan sebuah pemandangan indah dan baru pertama kali ia lihat.
***
Hai, Readers.
Makasih banyak sudah berkunjung ke sini. Mohon bantuan like, komen, dan rate-nya yak. Kalau berkenan, nge-vote juga boleh, senang sekali.
Buat Authors,
makasih juga kunjungannya yak.
please, tinggalkan jejak agar aku bisa mengunjungimu kembali.
salam terlove,
dari aku.
__ADS_1
😊